SISTEMATIKA FILSAFAT

Unknown | 10/04/2011 | 0 komentar

MAKALAH FILSAFAT ISLAM DAN UMUM (SISTEMATIKA FILSAFAT)
Makalah ini Disusun untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah Filsafat Islam dan Umum

Dosen Pembimbing : Drs. Amir Mahrudin. M.Pd.I
Disusun oleh : Wandi Budiman          :           F.1010297

PENDIDIKAN AGAMA ISLAM FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN DAN STUDI ISLAM UNIVERSITAS DJUANDA BOGOR 2011
  
BAB II PEMBAHASAN
A. Sistematika Filsafat
A.1. Pengertian Sistematika dan Filsafat
Secara bahasa kata sistematika filsafat berasal dari dua kata yaitu sistematiak dan filsafat.Sistematika atau struktur[1], dalam bahasa inggris Systematic adalah susunan[2], dalam kamus bahasa indonesia sistematika adalah susunan aturan ; pengetahuan mengenai sesuatu sistem. Sedangkan menurut kamus oxford systematic is based on order, following a fixed plan[3].
Sedangkan filsafat adalah pengetahuan dan penyelidikan dengan akan budi mengenai hakikat segala yang ada, sebab,  asal dan hukumnya[4]. Dalam bahasa inggris Philosohy is stydy of nature and the meaning of existence, how people should live.

A.2. Pengertian Sistematika Filsafat
sistematika filsafat adalah susunan aturan tentang filsafat yang telah disusun atau ditulis. Menurut Ahmad Tafsir (2009: 22) Hasil berpikir tentang segala sesuatu yang ada dan mungkin ada itu taditelah banyak sekali terkumpul, di dalam buku-buku tebal dan tipis.setelah disusun secar sistematis, ia dinamakan sistematika filsafat.
Karena objek filsafat sangat banyak sekali, hasil penelitian itu bertambah terus dan tidak dibuang, maka hasil pemikiran yang terkumpul dalam sisitematika filsafat menjadi banyak sekali. Karena banyaknya, jangankan mmempelajarinya, membaginyapun repot. Oleh karena itu tidak ada satupun yang berani mengaku akhli dalam filsafat;  paling banter ia akhli dalam logika, atau akhli dalam filsafat hukum, atau akhli dalam eksisitensialisme saja.

B. Cabang-Cabang Filsafat
Secara garis besar filsafat mempunyai tiga cabang besar, yaitu teori pengetahuan atau pemikiran filolsof tentang pengetahuan, teori hakikat atau pemikiran filsafat tentang hakikat dan teori nilai atau pemikiran filosof tentang nilai. Ringkasannya sebagai berikut:
1.                  Teori pengetahuan membicarakan cara memperoleh pengetahuan, disebut epistimologi.
2.                 Teori hakikat membicarakan pengetahuan itu sendiri, disebut ontologi.
3.                 Teori nilai membicarakan guna pengetahuan itu, disebut aksiologi.

B.1. Epistimologi
Epistemologi berasal dari kata yunani, episteme dan logos. Episteme biasa diartikan pengetahuan atau kebenaran, dan logos diartikan pikiran, kata atau teori. Epistemologi secara etimologi dapat diartikan teori pengetahuan yang benar.
Epistemologi membicarakan sumber pengetahuan, terjadinya pengetahuan, asal usul mulai pengetahuan, dan bagaimana cara memperoleh tentang pengetahan. Dalam bahasa inggris disebut epistemolgoy, yaitu cabang filsafat yang membahas tentang asal.
Ketika manusia baru lahir, ia tidak mempunyai ilmu pengetahuan sedikit pun. Tatkala ia sudah dewasa, pengetahuannya banyak sekali sementara kawanya yang seumur dengan dia meungkin mempunyai pengetahuan yang lebih banyak dari pada dia dalam bidang yang sama atau berbeda. Allah berfirman dalam Al-Qur’an Surat  An-Nahl [16] :78
وَاللَّهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالأبْصَارَ وَالأفْئِدَةَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ (٧٨)

”Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam Keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.” (Al-Qur’an Surat  An-Nahl [16] :78).

Dalam Surat Lain Allah berfirman dalam Surat Al-Alaq [96]: 3-5
اقْرَأْ وَرَبُّكَ الأكْرَمُ (٣) الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ (٤) عَلَّمَ الإنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ (٥)

Artinya :
3. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah,
4. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam
5. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.
(Q.S Al-Alaq [96]: 3-5)
Bagaimana mereka itu masing-masing mendapatkan pengetahuan itu? Mengapa dapat juga berbeda tingkat akurasinya? Hal-hal semacam itu dibicarakan dalam epistimologi. 
Runer berpendarat bahwa epistemology is the branch of philosophy wich investigates the original structure, methods and validaty of knowledge. Epistimologi merupakan cabang filsafat yang meyelidiki asal mula, metode-metode dan sahnya pengetahuan[5].
Louis (1992: 76) mengatakan kadang-kadang akhli metafisika secara ironis didefinisikan sebagai orang buta didalam suatu kamar yang gelap, yang sedang mencari seekor kucing yang tidak terdapat di kamar itu. Sehubungan dengan itu akhli epistimologi merupakan orang yang ingin mengetahui bagaimana caranya orang buta tersebut menemukan kucing tersebut, atau apakah ahli metafisika itu mengetahui sesuatu.

Pengetahuan manusia dibagi menjadi tiga macam, yaitu :
1.  Pengetahuan sains
2.  Pengetahuan filsafat
3.  Pengetahuan mistis
Pengetahuan itu diperoleh manusia melalui berbagai cara dan dengan menggunakan berbagai alat. Ada beberapa aliran atau metode yang berbicara tentang cara memperoleh pengetahuan.

B.1.1. Metode – Metode untuk Memperoleh Pengetahuan
1. Empirisme
Berasal dari kata yunani Empeirikos yang berasal dari kata empiera, berarti pengalaman. Menurut metode atau aliran ini pengetahuan manusia diperoleh dari pengalaman inderawi. Manusia tahu es dingin karena ia menyentuhnya, garam asin karena ia men-cicipinya.
Pencetus atau bapak dari ajaran ini adalah seorang britania yang bernama John locke (1632-1704). Ia mengatakn bahwa pada waktu manusia dilahirkan  akalnya merupakan sejenis buku catatan yang masih kosong. Lantas pengalamanya mengisi jiwa yang kosong itu, lantas ia memiliki pengetahuan. Dalam teori ini pengalaman indra merupakan sumber pengetahuan yang benar. Teori ini disebut sebagai teori tabula rusa (meja lilin).
Disamping ada banyak kelemahan teori ini juga sangat bertentangan dengan ajaran Islam, karena menurut ajaran islam setiap anak yang lahir kedunia mempunyai fitah sebagaimana sabda Nabi Muhammad saw.
Artinya : ”Tiap bayi lahir dilahirkadengan sesuai dengan fitrahnya, maka ibu bapaknyalah yang menyebabkannya yahudi atau nasroni atau majusi”.(HR. Muslim)
Fitrah disini berarti islam, mentauhidkan Allah, kesanggupan atau predisposisi untuk menerima dan melakukan kebenaran, perasaan untuk beribadah kepada Allah, dan lain-lain.[6] Jadi tidak kosong seperti kertas putih yang belum tertulis apapun.
Menurut Ahmad Tafsir (2009: 24) kelemahan aliran ini cukup banyak diantaranya :
1.      Indera terbatas
2.      Indera menipu
3.      Objek yang menipu
4.      Indra dan objek sekaligus
Aliran lain yang mirip dengan empirisme adalah sensasionalisme yaitu rangsangan indera secara kasar.

2. Rasionalisme
Tanpa menolak besarnya manfaat pengalaman indera dalam kehidupan manusia, namun persepsi inderawi hanya digunakan untuk merangsang kerja akal. Jadi akal berada diatas pengalaman inderawi. Jelasnya aliran ini menyatakan bahwa akal adalah dasar kepastian pengetahuan[7]. Para penganut rasionalisme yakin bahwa kebenaran terletak pada ide kita, dan bukanya pada diri barang sesuatu.
Bapak aliran ini adalah Rene Descartes (1596-1650) menyatakan bahwa akal budi difahamkan sebagai :
1.      Jenis perantara khusus yang dengan perantara tersebut dapat dikenalkebenaran.
2.      Teknik deduktif yang dengan memakai teknik tersebut dapat ditemukan kebenaran-kebenaran.

3. Positivisme
Merupakan sistesis dari empirisme dan rasionalisme. Dengan mengambil titik tolak dari empirisme, namun harus dipertajam dengan eksperimen, yang mampu secara objektif menentukan validitas dan reliabilitas pengetahuan.
Tokoh aliran ini adalah August Compte (1798-1857), ia penganut empirisme. Ia berpendapat indra itu amat pentingdalam memperoleh pengetahuan, namun harus dipertjjam dengan alat bantu dan diperkuat dengan eksperimen. Kekeliruan indera akan dapat dikoreksi lewat eksperimen.


4. Intuisionisme
Intuisi tidak sama dengan perasaan, namun merupakan hasil evolusi pemahaman yang tinggi yang hanya dimiliki manusia. Kemampuan ini yang dapat memahami kebenaran yang utuh, tetap dan unik.  Henri Bergson (1859-1941) merupaka tokoh dari aliran ini. Ia menganggap tidak hanya indera yang terbatas, akal juga terbatas.
Dengan memahami keterbatasan indera dan akal, Bergson mengembangkan satu kemampuan tingkat tinggiyang dimiliki manusia, yaitu intuisi. Pengembangan kemampuan ini memerlukan suatu usaha, kemampuan inilah yang dapat memahami kebenaran yang utuh, yang tetap dan unique.intuisi ini menangkap objek secara langsung tanpa melalui pemikiran.
Menurut ajaran Tashawwuf atau thariqah pada khususnya, manusia itu ditutupi oleh hal-hal dan yang material, dipengaruhi oleh nafsunya. Bila nafsu ini dapat dikendalikan, penghalang material disingkirkan maka kekuatan rasa itu mampu bekerja, laksana antena. Mampu menangkap objek-objek gaib.

B.2. Ontologi
Setelah membenahi cara memperoleh pengetahuan filosof mulai meghadapi objek-objeknya untuk memperoleh pengetahuan objek-objek itu dipirkan secara mendalam sampai pada hakekatnya inilah sebabnya bagian ini dinamakan teori hakekat ada yang menamakan bagian ontologi. Bidang pembicaraan teori hakikat luas sekali segala yang ada dan yang mungkin ada yang boleh juga mencakup pengetahuan dan nilai. Apa itu hakekat ? hakikat ialah realitas : realitas ialah ke-real-an; real artinya kenyataan yang sebenarnya ; jadi hakikat kenyataan yang sebenarnya kenyataan sebenarnya sesuatu, bukan keadaan sementara atau keadaan yang menipu , hukum keadaan yang berubah.
Objek telaah Ontologi tersebut adalah yang tidak terlihat pada satu perwujudan tertentu, yang membahas tentang yang ada secara universal, yaitu berusaha mencari inti yang dimuat setiap kenyataan yang meliputi segala realitas dalam semua bentuknya. Adanya segala sesuatu merupakan suatu segi dari kenyataan yang mengatasi semua perbedaan antara benda-benda dan makhluk hidup, antara jenis-jenis dan individu-individu. Diantara cabang – cabang hakikat adalah sebagai berikut :
1.                  Kosmologi membicarakan hakikat asal, hakikat susunan, hakikat berada, juga hakikat tujuan kosmos.
2.                 Antrofologi  membicarakan hakikat manusia.
3.                 Theodicea membahas mengenai hakikat tuhan
4.                 Theologia atau filsafat agama
5.                 Filsafat hokum
6.                 Filsafat pendidikan, Dll.

B.2.1. Aliran-Aliran Pemikiran dalam Ontologi
Dari pembahasannya memunculkan beberapa pandangan yang dikelompokkan dalam beberapa aliran berpikir, yaitu:

1. Materialisme
Aliran yang mengatakan bahwa hakikat dari segala sesuatu yang ada itu adalah materi. Sesuatu yang ada (yaitu materi) hanya mungkin lahir dari yang ada.

2. Idealisme (Spiritualisme)
Aliran ini menjawab kelemahan dari materialisme, yang mengatakan bahwa hakikat pengada itu justru rohani (spiritual). Rohani adalah dunia ide yang lebih hakiki dibanding materi.

3. Dualisme
Aliran ini ingin mempersatukan antara materi dan ide, yang berpendapat bahwa hakikat pengada (kenyataan) dalam alam semesta ini terdiri dari dua sumber tersebut, yaitu materi dan rohani.

4. Agnotisisme.
Aliran ini merupakan pendapat para filsuf yang mengambil sikap skeptis, yaitu ragu atas setiap jawaban yang mungkin benar dan mungkin pula tidak.

B.3. Aksiologi
Menurut kamus bahasa Indonesia aksiologi adalah kegunaan ilmu pengetahun bagi kehidupan manusia. Menurut Kattsoff (1992: 327) Aksiologi adalah ilmu pengetahuan yang menyelidiki hakikat nilai, pada umumnya ditinjau dari sudut kefilsafahan.
Teori nilai mencakup dua cabang filsafat yang terkenal yaitu etika dan estetika. Yang pertama membicarakan hal baik-buruk perbuatan manusia, dan yang kedua membicarakan indah tidak indah pada seni, baik seni yang dibuat oleh manusia maupun seni yang dibuat oleh bukan manusia.
Kegunaan filsafat dalam rumusan itu terlalu umum sehingga sulit dipahami. berikut ini dicoba menjelaskan kegunaan filsafat hampir ditingkat teknis operasional. Untuk mengetahui kegunaan filsafat atau untuk apa filsafat itu digunakan atau apa sih guna filsafat itu, kita dapat memulainya dengan melihat filsafat sebagai tiga hal yaitu sebagai berikut :
1.      Filsafat sebagai kumpulan teori
Jika kita hendak ikut membentu dunia atau hendak mendukung suatu ide yang membentuk dunia atau hendak menentangsuatu system kebudayaan atau sisitem ekonomi atau politik, maka kita sebaiknya terlebih dahulu mempelajari teori-teori filsafatnya. Contohnya filsafat pendidikan,  politik, ekonomi dan lain-lain. Inilah kegunaan mempelajari teori-teori filsafat.
2.      Filsafat sebagai pandangan hidup (philosophy of life)
Filsafat sebagai pandangan hidup fungsinya mirip dengan agama. Jika dalam islam dikatakan bahwa agama Islam itu adalah al-shirat al-mustaqim (jalan kehidupan) maka filsafat sebagai filsafat hidup demikian juga halnya. Ia menjadi pedoman. Isinya berupa ajaran dan ajaran itu dilaksanakan dalam kehidupan.
3.      Filsafat sebagai metode pemesahan masalah.
Sesuai dengan sifat filsafat, ia menyelesaikan masalah secara mendalam dan universal. Penyelesaian masalah secara mendalam artinya ia menyelesaikan masalah dengan pertama-tama mencari penyebab yang paling awal munculnya masalah. Universal artinya melihat masalah dengan hubungan seluas-luasnya.
BAB III
PENUTUP Simpulan
Dari uraian diatas dapat kita simpulkan bahwa, hasil berpikir tentang segala sesuatu yang ada dan mungkin ada itu tadi telah banyak sekali terkumpul, di dalam buku-buku tebal dan tipis.setelah disusun secar sistematis, dinamakan sistematika filsafat.
Secara garis besar filsafat mempunyai tiga cabang besar, yaitu teori pengetahuan atau pemikiran filolsof tentang pengetahuan, teori hakikat atau pemikiran filsafat tentang hakikat dan teori nilai atau pemikiran filosof tentang nilai. Ringkasannya sebagai berikut:
1.      Teori pengetahuan membicarakan cara memperoleh pengetahuan, disebut epistimologi.
2.      Teori hakikat membicarakan pengetahuan itu sendiri, disebut ontologi.
3.      Teori nilai membicarakan guna pengetahuan itu, disebut aksiologi.

B. Saran
Alhamdulillah, makalah sisitematika ini bisa diselesaikan, walaupun masih banyak kekurangan baik dalam pembahasan maupun tulisan. Penulis berharap. Bagi  mahasiswa semoga bisa belajar dengan sungguh – sungguh, mendalam dan universal, mengenai hal apasaja baik masalah dunia maupun akhirat, karena tidak ada dikotomi didalam atau sekulerisme islam. Dan tentunya juga harus bersungguh – sungguh didalam mempelajari sistematika filsafat ini. Semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua. Amin.





[1] Ahmad Tafsir. Filsafat Umum; Akal dan Hati sejak Theles sampai Capra. Jakarta. Remaja Rosdkarya. 2009. cet. Ke17   hal. 22
[2] Echoles, jhon M and Hassan sadily. An English-Indonesian Dictionary. Jakarta. PT. Gramedia Pustaka Utama. 2005. Cet 26. Hal 575 
[3] Oxford learner’s pocket dictionary; Third edition. Oxford University Press. 2009..cet. ke 11 Hal.438
[4] Dimas Setiawan. Kamus Praktis Modern Bahasa Indonesia. Jakarta. Bintang Indonesia. Hal 126
[5] Kattsoff , Louis O. Pengantar Filsafat. Terjemahan. Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya. Cet. Ke 5. Hal 76

[6] Umar, Bukhari. Imu  Pendidikan Islam. 2010 Cet. Ke 1 hal 70-71
[7] Ahmad Tafsir. Filsafat Umum; Akal dan Hati sejak Theles sampai Capra. Jakarta. Remaja Rosdkarya. 2009. cet. Ke17   hal. 25

DAFTAR PUSTAKA

Tafsir,  Ahmad.  2009.  Filsafat Umum akal dan Hati Sejak Thales Sampai Capra. Bandung: PT Remaja Rosdakarya
Kattsoff ,  Louis O. 1992.  Pengantar Filsafat. Terjemahan. Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya

Category:

About wandibudiman.blogspot.com:
Blog ini merupakan blog yang dikelola oleh Wandi Budiman, seorang manusia lemah yang selalu mencari keridhaan dari Tuhannya (Allah swt). Terimaksih sudah berkunjung ke Blog ini Semoga apa yang sudah di posting di Blog ini menjadi Sesuatu yang bermanfaat.Amin..

0 komentar