PARADIGMA TAUHID TERHADAP ANTROPOLOGI

Wandi Budiman | 6/30/2013 | 0 komentar

Sejak kedatangannya, agama Islam telah menimbulkan banyak tatanan perubahan di dunia. Perubahan yang mencakup berbagai aspek kehidupan umat manusia, baik dalam tatanan masyarakat, kebudayaan, politik, sejarah, dan lain sebagainya. Perubahan tatanan ini kemudian ada yang menjadi tatanan baku dalam suatu kultur masyarakat, dan ada pula yang menjadi sebagai bahan kajian para ilmuwan bagi mengembangkannya sesuai dengan konteks tatanan masyarakat itu sendiri. Kajian-kajian yang dimaksud kemudian terus berkembang sedemikian rupa merujuk kepada berbagai aspek ilmu pengetahuan yang dikuasai oleh para ilmuwannya.

Selanjutnya, seperti diketahui dan apa yang telah terlihat dewasa ini, Islam berkembang sedemikian pesatnya ke berbagai penjuru dunia. Hal ini memungkinkan pada terjadinya berbagai perbedaan dalam memahami konsep-konsep dalam Islam antara suatu daerah dengan daerah yang lain. Konsep-konsep tersebut meliputi konsep ketuhanan (tauhid), hukum (syari’at), sosial kemasyarakatan (muamalah), dan konsep-konsep lain. Walaupun kajian Islam secara umum disandarkan pada Al-Qur’an dan Hadits, perbedaan-perbedaan tetap saja terjadi; yang diantaranya selain diakibatkan oleh beragamnya pemahaman yang ditafsirkan oleh para ilmuwan Islam, juga dipicu oleh kondisi wilayah (konteks tempat) tempat berkembangnya agama Islam.

Penulisan Makalah Paradigma Tauhid terhadap Antropologis ini, bertujuan antara lain sebagai berikut:

1.Untuk memenuhi tugas mata kuliah Tauhid world view pada program studi manajemen Kependidikan Islam universitas Djuanda Bogor.

2.Untuk menambah wawasan keilmuan mengenai Paradigma Tauhid terhadap Antropologis.

A. Definisi Antropologi

Antropologi adalah salah satu cabang ilmu pengetahuan sosial yang mempelajari tentang budaya masyarakat suatu etnis tertentu. Antropologi lahir atau muncul berawal dari ketertarikan orang-orang Eropa yang melihat ciri-ciri fisik, adat istiadat, budaya yang berbeda dari apa yang dikenal di Eropa. Terbentuklah ilmu antropologi dengan melalui beberapa fase. Antropologi lebih memusatkan pada penduduk yang merupakan masyarakat tunggal, tunggal dalam arti kesatuan masyarakat yang tinggal daerah yang sama, antropologi mirip seperti sosiologi tetapi pada sosiologi lebih menitik beratkan pada masyarakat dan kehidupan sosialnya.

Antropologi berasal dari bahasa Yunani; anthropos yang berarti manusia, dan logos yang berarti ilmu.  Secara definisi, menurut beberapa pakarnya pengertian antropologi dapat dimengerti sebagai ilmu yang mempelajari tentang keberadaan manusia, budaya masyarakatnya, dalam suatu territorial tertentu.

Lebih jelasnya, William A. Haviland mengemukakan bahwa antropologi merupakan studi tentang umat manusia, berusaha menyusun generalisasi yang bermanfaat tentang manusia dan perilakunya untuk memperoleh pengertian yang lengkap tentang keanekaragaman manusia. Menurut Koentjaraningrat, antropologi didefinisikan sebagai ilmu yang mempelajari umat manusia pada umumnya dengan mempelajari aneka warna, bentuk fisik masyarakat, serta kebudayaan yang dihasilkannya.

Dari beberapa definisi di atas, dapat dipahami bahwa antropologi adalah studi yang mempelajari manusia dalam semua aspek kehidupannya. Dimana dalam pemahaman umumnya antropologi mengkonsentrasikan dirinya secara keseluruhan untuk mempelajari manusia dalam aspek sosialnya. Yakni hubungannya dengan orang lain dalam sebuah tatanan masyarakat sehingga menghasilkan pemahaman terhadap hal-hal yang bersifat kebiasaan yang berlaku dalam masyarakat yang dimaksud.

Selanjutnya, diketahui bahwa yang menjadi tugas utama antropologi, studi tentang manusia adalah untuk memungkinkan kita memahami diri kita dengan memahami kebudayaan lain. Antropologi menyadarkan kita tentang kesatuan manusia secara esensial, dan karenanya membuat kita saling menghargai antara satu dengan yang lain.

Dilihat dari beberapa pengertian/definisi antropologi menurut para ahli diatas, bisa ditari kesimpulan sederhana mengenai pengertian/definisi antropologi secara umum, yaitu:  sebuah ilmu yang mempelajari manusia dari segi keanekaragaman fisik serta kebudayaan (cara-cara berprilaku, tradisi-tradisi, nilai-nilai) yang dihasilkan sehingga setiap manusia yang satu dengan yang lainnya berbeda-beda.

Dengan, demikain antropologi merupakan hal yang mempelajari seluk-beluk yang terjadi dalam kehidupan manusia.Dapat dilihat dari perkembang pada masa saat ini, yang merupakan salah dari fenomena- fenomena yang terjadi ditengah-tengah masyarakat sekarang ini.

B. Antropolgi Modern di Dunia Barat

Tulisan-tulisan para missionaris dan para petualang pada abad ke-18 dan 19, telah menjadi sumber tertulis yang amat penting tentang Afrika, Amerika Utara, daerah lautan tenang dan daerah-daerah lain di seluruh pelosok dunia. Materi-materi tertulis tersebut kemudian menjadi bahan dasar bagi karya-karya tulis pertama dalam ilmu antropologi di Barat pada paruh terakhir abad 19.

Sebelumnya, kajian tentang sistem hidup manusia dan sumber-sumber pembentukan sistem tersebut telah dilakukan oleh ilmuan Barat, namun hal itu lebih banya didasari oleh hipotesa-hidpotesa. Demikian juga halnya pada paruh pertama abad 18, ketika Hume, Adam Smith, Ferguson, Montesquieu, Condarcet dan ilmuan lain menulis tentang kelompok manusia primitif. Meskipun tulisan mereka cukup bagus, namun ia tidak dihasilkan dari exprimen dengan variabel-variabel yang dapat diukur, malah lebih banyak dipengaruhi oleh pilsafat yang mereka anut.

Pada penghujung abad 19 materi informasi yang besar tentang berbagai jenis manusia di seluruh dunia telah dapat dikumpulkan. Koleksi Sir James Frazer adalah yang paling terkenal dari sekian koleksi. Koleksinya tentang kepercayaan-kepercayaan dan ritus-ritus agama kemudian diterbitkan dalam beberapa seri dengan judul The Golden Bough 13. Materi-materi tersebut kemudian diperkaya oleh kajian-kajian yang terus dilakukan baik oleh missionaris maupun pegawai administrasi di negara-negara jajahan.

Pada permulaan abad 20, ilmuan antropologi lebih banyak mencurahkan perhatian untuk melakukan field research secara langsung tentang kelompok-kelompok manusia. Kecenderungana ini menguat setelah A.C. Haddon melakukan penelitian di Melanesia, Radcliffe Brown melakukan kajian atas masyarakat andaman serta Malinowski mengkaji masyarakat kepulauan Torobrind.

Setidaknya ada dua aliran dalam antropologi yang kemudian banyak mempengaruhi antropologi modern. Aliran pertama adalah aliran Inggris. Dengan memberi perhatin pada kajian tentang hakikat-hakikat, eksprimen, serta deskripsi yang amat teliti tentang objek kajian. Aliran ini dianut oleh banyak ilmuan Jerman dan Amerika. Dan aliran kedua adalah aliran Perancis, yang menggunakan metode holistic analytic intellectualism. 14) Namun demikian, menurut Akbar S. Ahmad, pakar-pakar antropologi sosial tetap saja hanya mencurahkan perhatian mereka pada sisi sosial kehidupan manusia. Atau hubungan antara sesama manusia dalam sebuah lingkungan masyarakat tempat mereka hidup. Sementara dimensi-dimensi lain yang demikian banyak tentang kehidupan sosial dan peradaban, mereka tinggalkan 15.

Seperti disinggung sebelumnya, timbulnya antropologi modern tidak terlepas dari kepentingan kolonialisme. Ketika Napoleon menjajah Mesir, ia membawa serta sebanyak 150 ahli ilmu pengetahuan, sebagian dari mereka adalah ahli sosiologi dan antropologi. Dari tangan mereka kemudian diawali kajian-kajian antropologis terhadap negara-negara jajahan di Asia, Afrika dan negara-negara sekitar lautan teduh. Bukanlah sebuah kebetulan jika pakar-pakar antropologi Inggris yang paling terkemuka pasca perang dunia I dan II adalah mantan pegawai di negara-negara jajahan Inggris. Seperti Evan Pritchard, Leach dan Nadel. Bahkan yang terakhir, menggunakan kekuasaannya sebagai pejabat administrasi kolonial dalam penelitian antropologisnya dengan memerintahkan polisi kolonial untuk mengumpulkan penduduk sebagai objek questioner yang ia buat.

Pengaruh pemikiran orientalis terhadap kajian antropologi dalam menatap dunia Timur juga cukup besar. Sehingga tak jarang tatapan yang dihasilkan oleh suatu kajian terhadap masyarakat Timur tampak buram. Dalam buku Orientalism, W.E. Said berkata tentang masyarakat Timur : bangsa Timur adalah bangsa yang tidak logis, mereka terbelakang serta kekanak-kanakan, dan mereka berbeda dengan kita. Sementara bangsa Eropa adalah bangsa yang stabil, bermoral tinggi, matang, dan tidak mempunyai kekurangan 16. Banyak orientalis, dalam melihat Islam, lebih senang menyebutnya sebagai kaum Muhammedanisme. Hal itu tampak pada judul buku H.A.R.Gibb Muhammedanism 17, dan Gustave E. von Grunebaum Muhammadan Festival 18. Dan Oxford Dictionary tetap menggunakan terma ini meskipun telah ditentang oleh umat Islam. Hingga saat ini, pengaruh orientalis terhadap antropologi tak kunjung menurun. Malah orientalis seperti A. J. Arbery, H.A.R. Gibb, Lewis, von Grunebaum dan M. Watt telah turut menyusun konsep-konsep metodologis bagi banyak kajian antropologi 19. Pengaruh ini tampak jelas pada banyak antropolog. M. E. Meeker, misalnya, dalam bukunya Literature and Violence in North Arabia 20 menulis tentang bangsa Arab (Islam): Peradaban Baduwi di bagian Utara Jazirah Arabiyyah mempunyai pemikiran bahwa kekerasan adalah pokok kehidupan politik. Dan dalam melihat keluarga, barang dan hubungan sosial, mereka cenderung melihatnya dalam kerangka yang dibatasi oleh kekerasan. Sikap seperti itu tidak aneh, karena Meeker banyak mengambil materi kajiannya dari Doughty yang amat membenci Islam.Demikian pula P. Jeffrey, ketika mengadakan kajian tentang wanita muslimah di Delhi, memberikan judul buku hasil kajiannya itu Frogs in a Well—kodok-kodok di dalam sumur 21. Pertanyaan yang timbul kemudian adalah: Apakah Islam tidak mempunyai konsep antropologi, sehingga bisa menjadi alternatif antropologi Barat itu?. Kalaupun ada, apakah hal itu pernah diwujudkan dalam sebuah konsep keilmuan yang utuh?.

C. Menemukan Antropologi Islam

Jika antropologi modern lahir di tangan ilmuan Barat, terutama kalangan missionaris dan pegawai administrasi kolonial, itu tidak berarti bahwa antropologi adalah karya mutlak ilmuan Barat. Sejarah ilmu pengetahuan justru mengukir dengan tinta emas bahwa ilmuan Islamlah yang telah membangun dan menyusun konstruksi ilmu antropologi dan ilmu-ilmu sosial lainnya. Tercatat nama-nama Ibn Khaldun, al Biruni, Ibn Bathuthah, al Mas'udi, al Idrisi, Ibnu Zubair serta Raghib al Ashfahani yang menulis kitab Tafshil 'n Nasyatain wa Tahshil 's Sa'adatain. Pada era modern ini, terdapat beberapa ilmuan Islam yang telah melakukan kajian antropologis, seperti Dr. Bintu Syathi, 'Abbas Mahmud al 'Aqqad, Dr. Aminah Nushair, Abdul Mun'im Allam, Muhammad Khadar, Dr. Zaki Isma'il, Dr. Akbar S. Ahmad, Kurshid Ahmad, Muhammad Iqbal, Sayyid Quthb, Muhammad Quthb, Abul Wafa at-taftazani, Al 'Ajami dan ilmuan lainnya 22.

Karya Ibn Khaldun, dengan teori-teori dan materi ilmiahnya, telah mendahului dan mengungguli karya-karya ilmuan Barat seperti Karl Mark, Max Weber, Vilfredo Pareto, Ernest Gellner dan ilmuan Barat lainnya.Teori pendulum swing Gellner, tipologi kepemimpinan (typologi of leadership) yang ditulis Weber, serta teori Pareto tentang sirkulasi kepemimpinan (circulation of elites) dalam masyarakat Islam, semua itu tak lebih dari modifikasi atas teori-teori dan pemikiran yang telah digagas oleh Ibn Khaldun. Meskipun amat disayangkan, usaha Ibn Khaldun tersebut tidak dilanjutkan oleh ilmuan pasca Ibn Khaldun.

Menurut Akbar S. Ahmad, dari sekian ilmuan Islam yang telah mencurahkan pemikiran mereka dalam bidang antropologi tersebut, al Biruni berhak menyandang gelar Bapak antropologi. Tentang alasan pemilihan al Biruni sebagai Bapak antropologi dijelaskan dengan terperinci oleh Akbar S. Ahmad dalam tulisannya: Al-Biruni: The First Anthropologist 23. Al Biruni, menurut Akbar lagi, adalah ilmuan antropologi sejati dengan ukuran karakteristik yang paling tinggi sekalipun. Dan buku yang ditulis al Biruni tentang India yang berjudul Kitab Al Hind, terus menjadi salah satu referensi yang paling penting tentang Asia Selatan. Dengan demikian, dapat ditarik kesimpulan bahwa antropologi dan ilmu-ilmu sosial lainnya, adalah ilmu-ilmu yang lahir di tangan ilmuan muslim sekitar seribu tahun sebelum ilmuan Barat mempelajari ilmu-ilmu itu. Maka ketika umat Islam kembali mempelajari ilmu-ilmu tersebut, yang dilakukannya adalah semacam “menemukan kembali” apa yang sebelumnya dimiliki .

D. Paradigma Tauhid terhadap Antropologis dalam Pendekatan Mengkaji Islam

Mengaitkan definisi antropologi secara umum dengan kajian keislaman suatu tatanan masyarakat, maka pendekatan antropologis di sini dapat dipahami lebih jelas seperti apa yang diungkapkan Abudin Nata, bahwa; pendekatan antropologi dalam memahami agama dapat diartikan sebagai salah satu upaya memahami agama dengan cara melihat wujud praktek keagamaan yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat. Melalui pendekatan ini agama nampak akrab dan dekat dengan masalah-masalah yang dihadapi manusia dan berupaya menjelaskan dan memberikan jawabannya. Dengan kata lain cara-cara yang digunakan dalam disiplin ilmu antropologi dalam melihat suatu masalah digunakan pula untuk memahami agama.

Apa yang dijelaskan dalam paparan Abudin Nata di atas tentang makna pendekatan antropologis dalam memahami agama dapat ditemui bahwa yang melatarbelakangi pendekatan ini adalah pertumbuhan agama dalam suatu masyarakat merujuk pada konteks praktek agamanya dalam kehidupan sehari-hari. Dan secara terperinci Amin Abdullah mengungkapkan dalam artikelnya, bahwa yang melatarbelakangi pendekatan antropologis tersebut adalah melihat kepada beberapa hal. Dimana hal-hal tersebut dapat dipahami sebagaimana yang terlihat dalam kutipan berikut:

“Bahwa dalam memahami agama selalu mencakup dua entitas yang tidak dapat dipisahkan tetapi dapat dibedakan, yaitu normativitas (teks, ajaran, belief, dogma) dan juga  historisitas, yaitu praktik dan pelaksanaan ajaran, teks, belief, dogma tersebut dalam kehidupan konkrit di lapangan, seperti di lingkungan kehidupan komunitas, masyarakat pedesaan (rural) atau perkotaan (urban), situasi konteks politik, jaman yang berbeda, tingkat pendidikan yang berbeda dan begitu seterusnya. Pendekatan antropologi terhadap entitas keberagamaan dan entitas keislaman adalah ibarat pembuatan peta. Pendekatan antropologi bersikap deskriptif, melukiskan apa adanya dari realitas yang ada, dan bukannya normative, dalam arti tidak ada keinginan dari si pembuat peta untuk mencoret, menutup atau tidak menggambar atau menampilkan alur jalan yang dianggap kira-kira tidak enak atau berbahaya untuk dilalui. Pendekatan antropologi harus bersikap jujur, apa adanya, tanpa ada muatan interes-interes atau kepentingan tertentu (golongan, ras, etnis, gender, minoritas-mayoritas) untuk tidak membuat peta (keagamaan manusia) apa adanya.

Jadi dapat ditarik pengertian bahwa pendekatan antropologis dalam memahami agama dilatarbelakangi dari cakupan agama melalui sisi historisitas yang terdapat lingkupan bahasan di dalamnya yang meliputi praktik dan pelaksanaan ajaran agama dalam kehidupan nyata di masyarakat. Pelaksanaan ajaran ini sesuai dengan konteks lingkungannya, masa, tingkat pendidikan, dan konteks-konteks lain yang sedang berlaku dalam masyarakat tersebut. Dan dalam hal ini praktek dan pelaksanaan agama adalah khusus tertuju pada ajaran Islam. Dimana ajaran Islam yang dimaksud merupakan ajaran yang telah dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan kata lain yaitu Islam yang telah demikian melembaga dalam kehidupan suatu masyarakat, suku, kelompok atau lebih besar lagi suatu bangsa, sehingga ia telah terinstitusional dalam kehidupan organisasi, budaya, politik dan agama itu sendiri.

Berdasarkan pemahaman-pemahaman yang tersebut di atas menunjukkan bahwa pendekatan antropologis dalam memahami agama, khususnya Islam dalam konteks kemasyarakatannya adalah salah satu pendekatan cukup signifikan ketika seseorang ingin memahami Islam yang berlaku dalam sebuah tatanan kehidupan masyarakat. Sehingga dalam konteks lain, ketika terdapat perbedaan-perbedaan pelaksanaan ajaran Islam antara suatu kelompok, suku, organisasi, dengan kelompok yang lain; ini dapat dipahami lebih lanjut dan detail sebab-musababnya melalui pendekatan yang salah satunya adalah pendekatan antropologis ini. Wallahu A'lam

Category: ,

About wandibudiman.blogspot.com:
Blog ini merupakan blog yang dikelola oleh Wandi Budiman, seorang manusia lemah yang selalu mencari keridhaan dari Tuhannya (Allah swt). Terimaksih sudah berkunjung ke Blog ini Semoga apa yang sudah di posting di Blog ini menjadi Sesuatu yang bermanfaat.Amin..

0 komentar