IMAM MUSLIM KUAT DAYA INGATNYA (820-870)

Wandi Budiman | 12/15/2014 | 0 komentar

IMAM MUSLIM KUAT DAYA INGATNYA (820-870)
Seperti yang telah disampaikan pada pembahasan mengenai Imam Bukhari, selain kitab Shahih Bukhari, terdapat juga kitab Shahih lain yang terkenal diantara beragam buku kumpulan hadis lainnya. Kitab Shahih tersebut adalah Kitab Shahih Muslim, yang ditulis oleh Imam Muslim.


Seperti halnya Imam Bukhari, Imam Muslim pun dilahirkan di daerah yang bahasa aslinya bukan bahasa Arab. Beliau dilahirkan di daerah Naysabur atau terletak di Negara Iran sekarang.

Layaknya pola pendidikan yang berkembang pada masa itu, pada masa kecilnya Imam Muslim telah mempelajari Al-Qur’an, bahasa Arab, dan tata bahasa sebelum mempelajari hadis. Sejak kanak-kanak beliau telah rajin mempelajari dan menuntut ilmu, hal ini didukung dengan daya ingatnya yang kuat dan ketekunannya yang mengagumkan. Konon, di usia 10 tahun, ia telah hafal al Qur’an dan ribuan Hadis beserta sanadnya.

Ada kemiripan antara Imam Muslim dengan Imam Bukhari. Keduanya pergi beribadah haji pada usia belasan tahun, tepatnya pada usia 16 tahun. Ditanah suci ia juga menuntut ilmu dari para ulama. Setelah kembali ke kampung halamannya, ia mulai kembali mengembara ke berbagai tempat, diantaranya Irak, Syiria, dan Mesir. Beliau meninggal dan dikuburkan di Nasrabad, yaitu daerah pinggiran dari kampung halamannya.

Salah satu guru beliau adalah Imam Bukhari. Mereka bersua pertama kali saat Imam Bukhari berkunjung ke Naysabur untuk memberikan ceramah atau perkuliahan. Semenjak itulah Imam Muslim benar-benar tepukau dengan keilmuwan yang dimiliki Imam Bukhari, sehingga saat bertemu dengan Imam Bukhari, ia mengatakan, “Izinkanlah aku bersujud mencium kakimu, wahai tokoh muhaddisin dan doktor hadis”.

Semenjak itulah Imam Muslim rajin mengikuti perkuliah yang diajarkan oleh Imam Bukhari. Namun sebenarnya, saat itu Imam Muslim pun sedang berguru kepada Dhuhali, yang ternyata memiliki perbedaan pendapat mengenai suatu permasahan teologi dengan Imam Bukhari. Perbedaan itu juga memicu Dhuhali meminta agar murid-muridnya tidak mengikuti pertemuan ilmiah dengan Imam Bukhari.

Permintaan itu ternyata tidak ditanggapi oleh Imam Muslim yang terus menerus mengikuti perkuliahan Imam Bukhari. Kabar itu pun samapai kepada Dhuhali. Akibanya, pada suatu saat padaa sesi pelajaran yang diberikan Dhuhali, diumumkan bahwa siapa saja yang mengikuti pendapat Imam Bukhari hendaknya meninggalkan perkuliahan yang diisi olehnya. Walaupun Dhuhali tidak menyebut Imam Muslim secara langsung, namun Imam Muslim dapat menangkap gelagat tersebut. Beliau lalu kembali ke rumah dan mengembalikan seluruh buku yang pernah ia salin dari perkuliahan Dhuhali. Secara jelas, Imam Mulis menujukan keberpihakannya pada pengajaran yang diberikan oleh Imam Bukhari.

Meskipun demikian, Imam Muslim bukanlah seorang plagiator atau penjiplak dari Imam Bukhari. Hal ini karena banyak pula hadis yang terdapat di kitab Shahihnya tidak terdapat pada kitab Shahih Bukhari. Selain itu terdapat pula beberapa perbedaan lainnya yang mendasar seperti dalam persyaratan mengenai perawi hadis. Imam Bukhari mengharuskan adanya informasi yang akurat bahwa antara perawi yang menerangkan dengan perawi yang diterangkan pernah saling bertemu muka. Sedangkan menurut Imam Muslim, tidak perlu sampai sejauh itu. Jika terdapat kemungkinan bahwa antarperawi yang hidup satu masa saling belajar-mengajar, tanpa adanya informasi yang pasti mengenai kapan pertemuan tersebut terjadi, maka hadisnya dapat diterima. 

Demikianlah kisah ringkas mengenai kehidupan salah satu ulama dan Ilmuwan besar Islam. Imam Muslim rahimahullah, Amin,,, Wallahu ‘Alam.

[Ilmuwan Muslim@ KawaniSmart]

Category: , ,

About wandibudiman.blogspot.com:
Blog ini merupakan blog yang dikelola oleh Wandi Budiman, seorang manusia lemah yang selalu mencari keridhaan dari Tuhannya (Allah swt). Terimaksih sudah berkunjung ke Blog ini Semoga apa yang sudah di posting di Blog ini menjadi Sesuatu yang bermanfaat.Amin..

0 komentar