Dr. Adian Husaini memaparkan bahwa pendidikan karakter saja tidak cukup, tapi harus disertai pendidikan adab. Tanpa adab, manusia bisa berkarakter tapi tidak beradab. Buku ini memaparkan pendidikan karakter dan adab secara praktis dan mendasar, disertai dengan telaah tentang peran budaya ilmu dalam pembangunan peradaban Islam.

RESENSI BUKU PENDIDIKAN ISLAM MEMBENTUK MANUSIA BERKARAKTER & BERADAB

IDENTITAS BUKU

Judul Buku          : Pendidikan Islam Membentuk Manusia Berkarakter & Beradab
Pengarang : Dr. Adian Husaini
Peberbit     : Komunitas NuuN bekerjasama dengan program Pasca Sarjana Pendidikan dan Pemikiran Islam Universitas Ibnu Khaldun, Bogor
Tahun Terbit       : 2011
Kota Terbit          : Depok
Tebal          : vi + 225 halaman
ISBN          : 987-602-99152 - 1-1




Tahukah anda siapakah yang telah berjasa mengembanhkan fondasi dari pelajaran berhitung yang telah kita pelajari saat kita di bangku sekolah? Ya Jawabannya adalah al-Khawarizmi, dia adalah seorang ilmuwan muslim terkemuka yang telah membuka peradaban baru yang lebih baik untuk manusia.

Mari kita bahas lebih luas mengenai kehidupan al-Khawarizmi, Beliau mempunyai nama lengkap yaitu Muhammad bin Musa, sedangkan al-Khawarizmi didapatnya karena ia berasal dari Khawarizmi (sekarang ini berada diwilayah Ubzekistan). al-Khawarizmi menghabiskan waktu di kota kelahirannya hanya sebentar, karena pada masa masih kanak-kanak ia bersama orang tuanya pindah ke kota Bagdad.

MAKALAH KARAKTERISTIK PESERTA DIDIK DALAM PANDANGAN ISLAM

I. PENDAHULUAN
Pendidikan pada dasarnya merupakan interaksi antara pendidik dengan murid, untuk mencapai tujuan pendidikan, yang berlangsung dalam lingkungan tertentu. Interaksi ini disebut interaksi pendidikan, yaitu saling pengaruh antara pendidik dengan murid. Pengaruh peranan pendidik sangat besar, karena kedudukannya sebagai orang yang lebih dewasa, lebih pengalaman, lebih menguasai banyak nilai-nilai, pengetahuan, dan keterampilan. Peranan murid lebih banyak sebagai penerima pengaruh, sebagai pengikut, oleh itu disebutnya sebagai murid, atau terdidik. Seorang guru sebagai pendidik yaitu mendidik murid, baik yang berkenaan segi intelektual, sosial, maupun fisik motorik. Perbuatan guru memahami karakteristik murid yaitu di arahkan pada karakter murid pada pencapaian tujuan sekarang dan yang akan datang.

Seorang guru harus menguasai karakteristik murid karena guru merupakan contoh teladan kepada anak-anak dan remaja. Guru merupakan pendidik formal, karena latar belakang pendidikan, kepercayaan masyarakat kepadanya serta pengangkatannya sebagai pendidik. Sedangkan pendidik lainnya disebut pendidik informal. Guru harus menguasai karakteristik setiap individu murid supaya dapat memahami keseluruhan kepribadiannya dengan segala latar belakang dan interaksi dengan lingkungannya. Adapun yang disebut komponen asfek fisik atau jasmaniah dan psikis atau batiniah.


II. KARAKTERISTIK MURID
A. Pengertian Murid
Dalam pendidikan Islam murid atau murid dipandang sebagai anak yang sedang tumbuh dan berkembang baik secara fisik maupun psikologis. Hal ini mengandung makna bahwa untuk mengembangkan dan menumbuhkan murid tersebut haru seseuai dengan karakteristiknya yang dapat mengantarkan murid tersebut menjadi manusia yang matang baik secar fisik maupun psikologis.
Bicara masalah generasi muda, tidak akan pernah habis dibahas. Pemuda adalah sosok penuh gejolak, baik pisik maupun psikisnya serta selalu diwarnai dengan berbagai petualangan. Proses mereka menuju kedewasaan, penuh onk duri, kelokan, mendaki, dan menurun, hingga harus melewati ambang keselamatan dirinya dan kadang harus terjerembab kedalam jurang yang gelap. 

Masa muda merupakan masa kuat diantara dua masa lemah yaitu antara masa bayi dan masa tua renta. Allah swt telah menggambarkan dalam firmannya, dalam QS. Ar-Rum :54:
اللَّهُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ ضَعْفٍ ثُمَّ جَعَلَ مِنْ بَعْدِ ضَعْفٍ قُوَّةً ثُمَّ جَعَلَ مِنْ بَعْدِ قُوَّةٍ ضَعْفًا وَشَيْبَةً يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَهُوَ الْعَلِيمُ الْقَدِيرُ (٥٤)
Artinnya: “Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari Keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah Keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah yang Maha mengetahui lagi Maha Kuasa.”

Bila kita menengok lintasan sejarah Islam, kita akan menemukan bukti bahwa pusat perkembangan Islam diawal kebangkitan tidak lepas dari peran serta pemuda. Rupanya Rasulullah sangat memahami hal ini sehingga beliau tidak segan-segan untuk menugaskan para sahabat yang masih muda usianya untuk mengemban tugas amanah dakwah darinya. 

Cukuplah Mush’ab bin Umair dan Usama bin Zaid sebagai contoh pemuda yang mendapat tugas dakwah yang cukup berat dari Rasulullah saw. Melalui pemuda seperti inilah, Islam berhasil menyingkirkan segala macam kekuatan. Mereka adalah pemuda yang telah membuktikan pada masanya akan aktivitas mereka yang mengubah wajah dunia, lantas bagaimana dengan kita?

Perkataan Syaidina Ali yaitu Shubbanul yaum rijalul ghad yang berarti pemuda hari ini adalah pemimpin hari esok sangat melekat ditelinga kita. Ungkapan ini menggambarkan bahwa pemuda mendatang sangat bergantung pada kualitas binaan hari ini.

Kemudia apa sebenarnya fungsi generasi islam kaitannya dengan masa depan dirinya dan umat.
Setidaknya ada 3 (tiga) peran yang harus mereka ambil, diantaranya:
1.      Sebagai generasi penerus
Para pemudalah yang akan melanjutkan perjuangan Islam yang telah diritis oleh para pendahulunya. Sampai Allah swt menjanjikan sebuah kemenangan dalam firman QS.Ath-Thur [52] :21 .
وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَا أَلَتْنَاهُمْ مِنْ عَمَلِهِمْ مِنْ شَيْءٍ كُلُّ امْرِئٍ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ (٢١)
Artinya: dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.

2.    Sebagai generasi pengganti
Allah akan mengganti suatu kaum yang telah rusak dengan senbuah generasi pilihan. Allah berfirman dalam QS. Al-Maidah [5] :54.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا مَنْ يَرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لائِمٍ ذَلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ (٥٤)
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, Barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, Maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha mengetahui.”

Untuk itu perlu adanya pembinaan yang baik agar mampu melahirkan pemuda pilihan yang dimaksud. Sebagai para pemuda Islam juga harus terus berupaya agar menjadi generasi pilihan, sebab untuk memikul tanggung jawab umat di masa mendatang sangat membutuhkan orang-orang pilihan, dan hanya mereka yang mampu. Untuk itu, tidak mungkin terwujud jika tidak bersiap dari sekarang. 

3.    Sebagai generasi pembaharu (reformer)
Para pemuda Islam harus menjadi agent of change. Artinya mereka harus mengembalikan umat ini kepada ajaran yang murni yang disampaikan oleh Rasulullah saw dan mengaplikasikannya dalam kancah kehidupan modern ini. Pada masa mudanya, Nabi Ibrahim telah melakukan peran ini dengan baik saat harus menghadapi orang tuanya. Allah telah berfirman dan QS. Maryam [19]: 42.
إِذْ قَالَ لأبِيهِ يَا أَبَتِ لِمَ تَعْبُدُ مَا لا يَسْمَعُ وَلا يُبْصِرُ وَلا يُغْنِي عَنْكَ شَيْئًا
Artinya: “Ingatlah ketika ia berkata kepada bapaknya; "Wahai bapakku, mengapa kamu menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat dan tidak dapat menolong kamu sedikitpun?”

Ketiga peran ini memerlukan kesungguhan pembinaan dan kemauan yang kuat di dalam dada para remaja serta kepasrahan yang tinggi untuk mengibarkan kembali panji-panji Islam. Apalagi pada abad 21/14 hijriah ini telah dicanangkan oleh para ulama sebagai abad kebangkitan Islam, bahkan ulama besar Mesir , Dr. Yusuf Qardhawy, saat berkunjung ke Jakarta mengatakan “Insya Allah kejayaan yang pernah kita miliki seribu tahun yang lalu, akan dapat dikembalikan lagi, dan saya berharap Indonesia akan menjadi pemimpin kebangkitan Islam ini”.  [Buku Catatan untuk para pejuang: Mad Podja Sukarta]

Semoga bermanfaat [Pendidikan Islam] 
Wallahu 'Alam
HAKIKAT PENDIDIKAN

Pendidikan pada hakikatnya mempunyai jangkauan makna yang sangat luas, dalam rangka mencapai kesempurnaannya, memerlukan waktu dan tenaga yang tidak kecil. Dalam khazanah keagamaan dikenal dengan ungkapan minal mahd ilal lahd (dari buaian hingga liang lahad atau pendidikan seumur hidup), sebagaimana dikenal pula pernyataan ilmu kepada peserta didik: “Berilah aku seluruh yang engkau miliki, maka akan kuberikan kepadamu sebagaian yang aku punya.”
Yang pasti, ungkapan dan pernyataan itu belum sepenuhnya kita laksanakan. Hanya sedikit waktu yang disediakan oleh peserta didik dan kecil sekali dana dan tenaga yang diberikan oleh mereka yang memilikinya untuk pengembangan pendidikan. Bahkan diduga  keras, sebagian di antara kita, mengabaikan tigas-tugas kependidikan dan mersa bahwa sekolah sebagai satu-satunya sarana pendidikan. Padahal, sekolah – walaupun mampu melaksanakan tugasnya dengan baik – tidak akan mampu mendewasakan manusia, lebih-lebih untuk mencapai tujuan pendidikan. Hal ini akan semakin jauh dari tujuan jika upaya yang dilakukannya hanya terbatas pada pengajaran dan latihan.

Diduga keras pula, sebagaian diantara kita melupakan bahwa pendukung dan pelaksana pendidikan bukan hanya tenaga, dana, dan sarana yang disediakan pemerintah. Tetapi, lebih dari itu, juga yang tersedia dan disediakan oleh keluarga, masyarakat, dan peserta didik, baik secara sendiri-sendiri maupun bersama-sama. Di sisi lain, diduga keras pula bahwa sebagian tenaga kependidikan  tidak melakasanakan fungsinya secara baik. Yang saya maksud dengan tenaga kependidikan di sini adalah kita semua, bukan hanya guru dan dosen, karena kita semua seharusnya berfungsi sebagai pendidik.

Marilah kita ambil contoh sederhana menyangkut pelaksanaan pendidikan anak di kalangan keluarga. Pembentukan kepribadian anak bermula di sini dan sejak ia masih di buaian. “ketika itu, pikiran-pikiran pendidik, perasaan dan jiwanya dapat diserap oleh anak bagaikan pasir menyerap tetesan air,” demikian tulis Alexis Carrel.

Ummu Al-Fadhl bercerita: “Suatu ketika aku menimang-nimang seorang bayi. Rasul saw. kemudian mengambil bayi itu dan menggendongnya. Tiba-tiba sang bayi pipis membasahi pakaian Rasul. Segera saja kurenggut dengan keras bayi itu dari gendongan Rasul. Rasul saw. pun menegurku, “Air dapat membersihkan pakaianku. Tetapi apa yang dapat menjernihkan persaan sang bayi yang dikeruhkan oleh sikapmu yang kasar itu?”

Nabi saw. sadar bahwa perlakuan demikian dapt berbekas dalam jiwa sang bayi yang dapat menimbulkan rasa rendah diri yang dibawa hingga dewasa. Bukankah sebagian besar komplek kejiwaan dapat dikembalikan penyebabnya pada pengalaman negatif masa kanak-kanak?

Berapa banyakkah di antara kita yang memperlakukan anak atau peserta didik seperti perlakuan Ummu Al-Fadhl? Berapa banyak diantara kita yang tidak membantu terwujudnya iklim pendidikan yang sehat, baik dalam keluarga, sekolah, maupun masyarakat luas?. Wallahu ‘alam Semoga bermanfaat...[yang lagi sakit].

Dikutip dari M. Quraish Shihab. Lentera Al-Qur’an; Kisah dann Hikmah Kehidupan. 
Sejak kedatangannya, agama Islam telah menimbulkan banyak tatanan perubahan di dunia. Perubahan yang mencakup berbagai aspek kehidupan umat manusia, baik dalam tatanan masyarakat, kebudayaan, politik, sejarah, dan lain sebagainya. Perubahan tatanan ini kemudian ada yang menjadi tatanan baku dalam suatu kultur masyarakat, dan ada pula yang menjadi sebagai bahan kajian para ilmuwan bagi mengembangkannya sesuai dengan konteks tatanan masyarakat itu sendiri. Kajian-kajian yang dimaksud kemudian terus berkembang sedemikian rupa merujuk kepada berbagai aspek ilmu pengetahuan yang dikuasai oleh para ilmuwannya.

Selanjutnya, seperti diketahui dan apa yang telah terlihat dewasa ini, Islam berkembang sedemikian pesatnya ke berbagai penjuru dunia. Hal ini memungkinkan pada terjadinya berbagai perbedaan dalam memahami konsep-konsep dalam Islam antara suatu daerah dengan daerah yang lain. Konsep-konsep tersebut meliputi konsep ketuhanan (tauhid), hukum (syari’at), sosial kemasyarakatan (muamalah), dan konsep-konsep lain. Walaupun kajian Islam secara umum disandarkan pada Al-Qur’an dan Hadits, perbedaan-perbedaan tetap saja terjadi; yang diantaranya selain diakibatkan oleh beragamnya pemahaman yang ditafsirkan oleh para ilmuwan Islam, juga dipicu oleh kondisi wilayah (konteks tempat) tempat berkembangnya agama Islam.

Penulisan Makalah Paradigma Tauhid terhadap Antropologis ini, bertujuan antara lain sebagai berikut:

1.Untuk memenuhi tugas mata kuliah Tauhid world view pada program studi manajemen Kependidikan Islam universitas Djuanda Bogor.

2.Untuk menambah wawasan keilmuan mengenai Paradigma Tauhid terhadap Antropologis.

A. Definisi Antropologi

Antropologi adalah salah satu cabang ilmu pengetahuan sosial yang mempelajari tentang budaya masyarakat suatu etnis tertentu. Antropologi lahir atau muncul berawal dari ketertarikan orang-orang Eropa yang melihat ciri-ciri fisik, adat istiadat, budaya yang berbeda dari apa yang dikenal di Eropa. Terbentuklah ilmu antropologi dengan melalui beberapa fase. Antropologi lebih memusatkan pada penduduk yang merupakan masyarakat tunggal, tunggal dalam arti kesatuan masyarakat yang tinggal daerah yang sama, antropologi mirip seperti sosiologi tetapi pada sosiologi lebih menitik beratkan pada masyarakat dan kehidupan sosialnya.

Antropologi berasal dari bahasa Yunani; anthropos yang berarti manusia, dan logos yang berarti ilmu.  Secara definisi, menurut beberapa pakarnya pengertian antropologi dapat dimengerti sebagai ilmu yang mempelajari tentang keberadaan manusia, budaya masyarakatnya, dalam suatu territorial tertentu.

Lebih jelasnya, William A. Haviland mengemukakan bahwa antropologi merupakan studi tentang umat manusia, berusaha menyusun generalisasi yang bermanfaat tentang manusia dan perilakunya untuk memperoleh pengertian yang lengkap tentang keanekaragaman manusia. Menurut Koentjaraningrat, antropologi didefinisikan sebagai ilmu yang mempelajari umat manusia pada umumnya dengan mempelajari aneka warna, bentuk fisik masyarakat, serta kebudayaan yang dihasilkannya.

Dari beberapa definisi di atas, dapat dipahami bahwa antropologi adalah studi yang mempelajari manusia dalam semua aspek kehidupannya. Dimana dalam pemahaman umumnya antropologi mengkonsentrasikan dirinya secara keseluruhan untuk mempelajari manusia dalam aspek sosialnya. Yakni hubungannya dengan orang lain dalam sebuah tatanan masyarakat sehingga menghasilkan pemahaman terhadap hal-hal yang bersifat kebiasaan yang berlaku dalam masyarakat yang dimaksud.

Selanjutnya, diketahui bahwa yang menjadi tugas utama antropologi, studi tentang manusia adalah untuk memungkinkan kita memahami diri kita dengan memahami kebudayaan lain. Antropologi menyadarkan kita tentang kesatuan manusia secara esensial, dan karenanya membuat kita saling menghargai antara satu dengan yang lain.

Dilihat dari beberapa pengertian/definisi antropologi menurut para ahli diatas, bisa ditari kesimpulan sederhana mengenai pengertian/definisi antropologi secara umum, yaitu:  sebuah ilmu yang mempelajari manusia dari segi keanekaragaman fisik serta kebudayaan (cara-cara berprilaku, tradisi-tradisi, nilai-nilai) yang dihasilkan sehingga setiap manusia yang satu dengan yang lainnya berbeda-beda.

Dengan, demikain antropologi merupakan hal yang mempelajari seluk-beluk yang terjadi dalam kehidupan manusia.Dapat dilihat dari perkembang pada masa saat ini, yang merupakan salah dari fenomena- fenomena yang terjadi ditengah-tengah masyarakat sekarang ini.

B. Antropolgi Modern di Dunia Barat

Tulisan-tulisan para missionaris dan para petualang pada abad ke-18 dan 19, telah menjadi sumber tertulis yang amat penting tentang Afrika, Amerika Utara, daerah lautan tenang dan daerah-daerah lain di seluruh pelosok dunia. Materi-materi tertulis tersebut kemudian menjadi bahan dasar bagi karya-karya tulis pertama dalam ilmu antropologi di Barat pada paruh terakhir abad 19.

Sebelumnya, kajian tentang sistem hidup manusia dan sumber-sumber pembentukan sistem tersebut telah dilakukan oleh ilmuan Barat, namun hal itu lebih banya didasari oleh hipotesa-hidpotesa. Demikian juga halnya pada paruh pertama abad 18, ketika Hume, Adam Smith, Ferguson, Montesquieu, Condarcet dan ilmuan lain menulis tentang kelompok manusia primitif. Meskipun tulisan mereka cukup bagus, namun ia tidak dihasilkan dari exprimen dengan variabel-variabel yang dapat diukur, malah lebih banyak dipengaruhi oleh pilsafat yang mereka anut.

Pada penghujung abad 19 materi informasi yang besar tentang berbagai jenis manusia di seluruh dunia telah dapat dikumpulkan. Koleksi Sir James Frazer adalah yang paling terkenal dari sekian koleksi. Koleksinya tentang kepercayaan-kepercayaan dan ritus-ritus agama kemudian diterbitkan dalam beberapa seri dengan judul The Golden Bough 13. Materi-materi tersebut kemudian diperkaya oleh kajian-kajian yang terus dilakukan baik oleh missionaris maupun pegawai administrasi di negara-negara jajahan.

Pada permulaan abad 20, ilmuan antropologi lebih banyak mencurahkan perhatian untuk melakukan field research secara langsung tentang kelompok-kelompok manusia. Kecenderungana ini menguat setelah A.C. Haddon melakukan penelitian di Melanesia, Radcliffe Brown melakukan kajian atas masyarakat andaman serta Malinowski mengkaji masyarakat kepulauan Torobrind.

Setidaknya ada dua aliran dalam antropologi yang kemudian banyak mempengaruhi antropologi modern. Aliran pertama adalah aliran Inggris. Dengan memberi perhatin pada kajian tentang hakikat-hakikat, eksprimen, serta deskripsi yang amat teliti tentang objek kajian. Aliran ini dianut oleh banyak ilmuan Jerman dan Amerika. Dan aliran kedua adalah aliran Perancis, yang menggunakan metode holistic analytic intellectualism. 14) Namun demikian, menurut Akbar S. Ahmad, pakar-pakar antropologi sosial tetap saja hanya mencurahkan perhatian mereka pada sisi sosial kehidupan manusia. Atau hubungan antara sesama manusia dalam sebuah lingkungan masyarakat tempat mereka hidup. Sementara dimensi-dimensi lain yang demikian banyak tentang kehidupan sosial dan peradaban, mereka tinggalkan 15.

Seperti disinggung sebelumnya, timbulnya antropologi modern tidak terlepas dari kepentingan kolonialisme. Ketika Napoleon menjajah Mesir, ia membawa serta sebanyak 150 ahli ilmu pengetahuan, sebagian dari mereka adalah ahli sosiologi dan antropologi. Dari tangan mereka kemudian diawali kajian-kajian antropologis terhadap negara-negara jajahan di Asia, Afrika dan negara-negara sekitar lautan teduh. Bukanlah sebuah kebetulan jika pakar-pakar antropologi Inggris yang paling terkemuka pasca perang dunia I dan II adalah mantan pegawai di negara-negara jajahan Inggris. Seperti Evan Pritchard, Leach dan Nadel. Bahkan yang terakhir, menggunakan kekuasaannya sebagai pejabat administrasi kolonial dalam penelitian antropologisnya dengan memerintahkan polisi kolonial untuk mengumpulkan penduduk sebagai objek questioner yang ia buat.

Pengaruh pemikiran orientalis terhadap kajian antropologi dalam menatap dunia Timur juga cukup besar. Sehingga tak jarang tatapan yang dihasilkan oleh suatu kajian terhadap masyarakat Timur tampak buram. Dalam buku Orientalism, W.E. Said berkata tentang masyarakat Timur : bangsa Timur adalah bangsa yang tidak logis, mereka terbelakang serta kekanak-kanakan, dan mereka berbeda dengan kita. Sementara bangsa Eropa adalah bangsa yang stabil, bermoral tinggi, matang, dan tidak mempunyai kekurangan 16. Banyak orientalis, dalam melihat Islam, lebih senang menyebutnya sebagai kaum Muhammedanisme. Hal itu tampak pada judul buku H.A.R.Gibb Muhammedanism 17, dan Gustave E. von Grunebaum Muhammadan Festival 18. Dan Oxford Dictionary tetap menggunakan terma ini meskipun telah ditentang oleh umat Islam. Hingga saat ini, pengaruh orientalis terhadap antropologi tak kunjung menurun. Malah orientalis seperti A. J. Arbery, H.A.R. Gibb, Lewis, von Grunebaum dan M. Watt telah turut menyusun konsep-konsep metodologis bagi banyak kajian antropologi 19. Pengaruh ini tampak jelas pada banyak antropolog. M. E. Meeker, misalnya, dalam bukunya Literature and Violence in North Arabia 20 menulis tentang bangsa Arab (Islam): Peradaban Baduwi di bagian Utara Jazirah Arabiyyah mempunyai pemikiran bahwa kekerasan adalah pokok kehidupan politik. Dan dalam melihat keluarga, barang dan hubungan sosial, mereka cenderung melihatnya dalam kerangka yang dibatasi oleh kekerasan. Sikap seperti itu tidak aneh, karena Meeker banyak mengambil materi kajiannya dari Doughty yang amat membenci Islam.Demikian pula P. Jeffrey, ketika mengadakan kajian tentang wanita muslimah di Delhi, memberikan judul buku hasil kajiannya itu Frogs in a Well—kodok-kodok di dalam sumur 21. Pertanyaan yang timbul kemudian adalah: Apakah Islam tidak mempunyai konsep antropologi, sehingga bisa menjadi alternatif antropologi Barat itu?. Kalaupun ada, apakah hal itu pernah diwujudkan dalam sebuah konsep keilmuan yang utuh?.

C. Menemukan Antropologi Islam

Jika antropologi modern lahir di tangan ilmuan Barat, terutama kalangan missionaris dan pegawai administrasi kolonial, itu tidak berarti bahwa antropologi adalah karya mutlak ilmuan Barat. Sejarah ilmu pengetahuan justru mengukir dengan tinta emas bahwa ilmuan Islamlah yang telah membangun dan menyusun konstruksi ilmu antropologi dan ilmu-ilmu sosial lainnya. Tercatat nama-nama Ibn Khaldun, al Biruni, Ibn Bathuthah, al Mas'udi, al Idrisi, Ibnu Zubair serta Raghib al Ashfahani yang menulis kitab Tafshil 'n Nasyatain wa Tahshil 's Sa'adatain. Pada era modern ini, terdapat beberapa ilmuan Islam yang telah melakukan kajian antropologis, seperti Dr. Bintu Syathi, 'Abbas Mahmud al 'Aqqad, Dr. Aminah Nushair, Abdul Mun'im Allam, Muhammad Khadar, Dr. Zaki Isma'il, Dr. Akbar S. Ahmad, Kurshid Ahmad, Muhammad Iqbal, Sayyid Quthb, Muhammad Quthb, Abul Wafa at-taftazani, Al 'Ajami dan ilmuan lainnya 22.

Karya Ibn Khaldun, dengan teori-teori dan materi ilmiahnya, telah mendahului dan mengungguli karya-karya ilmuan Barat seperti Karl Mark, Max Weber, Vilfredo Pareto, Ernest Gellner dan ilmuan Barat lainnya.Teori pendulum swing Gellner, tipologi kepemimpinan (typologi of leadership) yang ditulis Weber, serta teori Pareto tentang sirkulasi kepemimpinan (circulation of elites) dalam masyarakat Islam, semua itu tak lebih dari modifikasi atas teori-teori dan pemikiran yang telah digagas oleh Ibn Khaldun. Meskipun amat disayangkan, usaha Ibn Khaldun tersebut tidak dilanjutkan oleh ilmuan pasca Ibn Khaldun.

Menurut Akbar S. Ahmad, dari sekian ilmuan Islam yang telah mencurahkan pemikiran mereka dalam bidang antropologi tersebut, al Biruni berhak menyandang gelar Bapak antropologi. Tentang alasan pemilihan al Biruni sebagai Bapak antropologi dijelaskan dengan terperinci oleh Akbar S. Ahmad dalam tulisannya: Al-Biruni: The First Anthropologist 23. Al Biruni, menurut Akbar lagi, adalah ilmuan antropologi sejati dengan ukuran karakteristik yang paling tinggi sekalipun. Dan buku yang ditulis al Biruni tentang India yang berjudul Kitab Al Hind, terus menjadi salah satu referensi yang paling penting tentang Asia Selatan. Dengan demikian, dapat ditarik kesimpulan bahwa antropologi dan ilmu-ilmu sosial lainnya, adalah ilmu-ilmu yang lahir di tangan ilmuan muslim sekitar seribu tahun sebelum ilmuan Barat mempelajari ilmu-ilmu itu. Maka ketika umat Islam kembali mempelajari ilmu-ilmu tersebut, yang dilakukannya adalah semacam “menemukan kembali” apa yang sebelumnya dimiliki .

D. Paradigma Tauhid terhadap Antropologis dalam Pendekatan Mengkaji Islam

Mengaitkan definisi antropologi secara umum dengan kajian keislaman suatu tatanan masyarakat, maka pendekatan antropologis di sini dapat dipahami lebih jelas seperti apa yang diungkapkan Abudin Nata, bahwa; pendekatan antropologi dalam memahami agama dapat diartikan sebagai salah satu upaya memahami agama dengan cara melihat wujud praktek keagamaan yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat. Melalui pendekatan ini agama nampak akrab dan dekat dengan masalah-masalah yang dihadapi manusia dan berupaya menjelaskan dan memberikan jawabannya. Dengan kata lain cara-cara yang digunakan dalam disiplin ilmu antropologi dalam melihat suatu masalah digunakan pula untuk memahami agama.

Apa yang dijelaskan dalam paparan Abudin Nata di atas tentang makna pendekatan antropologis dalam memahami agama dapat ditemui bahwa yang melatarbelakangi pendekatan ini adalah pertumbuhan agama dalam suatu masyarakat merujuk pada konteks praktek agamanya dalam kehidupan sehari-hari. Dan secara terperinci Amin Abdullah mengungkapkan dalam artikelnya, bahwa yang melatarbelakangi pendekatan antropologis tersebut adalah melihat kepada beberapa hal. Dimana hal-hal tersebut dapat dipahami sebagaimana yang terlihat dalam kutipan berikut:

“Bahwa dalam memahami agama selalu mencakup dua entitas yang tidak dapat dipisahkan tetapi dapat dibedakan, yaitu normativitas (teks, ajaran, belief, dogma) dan juga  historisitas, yaitu praktik dan pelaksanaan ajaran, teks, belief, dogma tersebut dalam kehidupan konkrit di lapangan, seperti di lingkungan kehidupan komunitas, masyarakat pedesaan (rural) atau perkotaan (urban), situasi konteks politik, jaman yang berbeda, tingkat pendidikan yang berbeda dan begitu seterusnya. Pendekatan antropologi terhadap entitas keberagamaan dan entitas keislaman adalah ibarat pembuatan peta. Pendekatan antropologi bersikap deskriptif, melukiskan apa adanya dari realitas yang ada, dan bukannya normative, dalam arti tidak ada keinginan dari si pembuat peta untuk mencoret, menutup atau tidak menggambar atau menampilkan alur jalan yang dianggap kira-kira tidak enak atau berbahaya untuk dilalui. Pendekatan antropologi harus bersikap jujur, apa adanya, tanpa ada muatan interes-interes atau kepentingan tertentu (golongan, ras, etnis, gender, minoritas-mayoritas) untuk tidak membuat peta (keagamaan manusia) apa adanya.

Jadi dapat ditarik pengertian bahwa pendekatan antropologis dalam memahami agama dilatarbelakangi dari cakupan agama melalui sisi historisitas yang terdapat lingkupan bahasan di dalamnya yang meliputi praktik dan pelaksanaan ajaran agama dalam kehidupan nyata di masyarakat. Pelaksanaan ajaran ini sesuai dengan konteks lingkungannya, masa, tingkat pendidikan, dan konteks-konteks lain yang sedang berlaku dalam masyarakat tersebut. Dan dalam hal ini praktek dan pelaksanaan agama adalah khusus tertuju pada ajaran Islam. Dimana ajaran Islam yang dimaksud merupakan ajaran yang telah dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan kata lain yaitu Islam yang telah demikian melembaga dalam kehidupan suatu masyarakat, suku, kelompok atau lebih besar lagi suatu bangsa, sehingga ia telah terinstitusional dalam kehidupan organisasi, budaya, politik dan agama itu sendiri.

Berdasarkan pemahaman-pemahaman yang tersebut di atas menunjukkan bahwa pendekatan antropologis dalam memahami agama, khususnya Islam dalam konteks kemasyarakatannya adalah salah satu pendekatan cukup signifikan ketika seseorang ingin memahami Islam yang berlaku dalam sebuah tatanan kehidupan masyarakat. Sehingga dalam konteks lain, ketika terdapat perbedaan-perbedaan pelaksanaan ajaran Islam antara suatu kelompok, suku, organisasi, dengan kelompok yang lain; ini dapat dipahami lebih lanjut dan detail sebab-musababnya melalui pendekatan yang salah satunya adalah pendekatan antropologis ini. Wallahu A'lam