HUBUNGAN PENDIDIKAN DAN PENGAJARAN

Unknown | 10/20/2011 | 0 komentar

MAKALAH ARTI, HAKIKAT DAN HUBUNGAN PENDIDIKAN DAN PENGAJARAN
Disusun untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah Psikologi Pendidikan Islam
Dosen Pembimbing : Dr.Hilmawati

Disusun oleh : -Asep Ahmad Rifai : F.1010008, Dani Nur Hidayat:F. 101052, M.Arif  : F. 1010114, Syukri Indra  :  F.1010172

PROGRAM STUDI KEPENDIDIKAN ISLAM FAKULTAS STUDI ISLAM (FASTI) UNIVERSITAS DJUANDA BOGOR 2011

BAB I PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
            Pada dasarnya setiap manusia memerlukan bimbingan agar mendapatkan pendidikan yang baik. Seperti menurut undang-undang RI no 20 tahun 2003 tentang system pendidikan nasional pada pasal I yaitu pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara. Hal ini diperlukan adanya pendidik professional yaitu guru disekolah-sekolah dasar dan menengah dan dosen di perguruan tinggi.

            Diantara pengetahuan-pengetahuan yang perlu dikuasai guru dan juga calon guru adalah pengetahuan psikologi terapan dengan pendekatan guru yang erat kaitannya dengan proses belajar dan mengajar dalam suasana zaman yang berbeda dan penuh tantangan seperti sekarang ini. Untuk memenuhi kebutuhan akan spikologi terapan dengan pendekatan baru. Psikologi pendidikan ini disusun dengan harapan dapat member kontribusi yang berarti dalam memantapkan kualitas potensi calon guru dan guru professional yang bertugas pada jenjang pendidikan dasar dan menengah.

B.     Rumusan Masalah
Makalah ini berisi tentang pembahasan psikologi pendidikan, arti pendidikan dan pengajaran, hakikat dan hubungan antara pendidikan dan pengajaran.

C.    Sistematika Pembahasan
Untuk memudahkan pembahasan, maka makalah ini dibagi ke dalam tiga bab, masing-masing bab terdiri atas beberapa sub bab.

Bab dua, pembahasan yang berisikan tentang psikologi pendidikan, arti penting psikologi pendidikan, dan hakikat dan hubungan antara pendidikan pengajaran.

BAB II PEMBAHASAN
1.MAKNA PENDIDIKAN DAN PENGAJARAN
1.A.MAKNA PENDIDIKAN
Akar kata pendidikan adalah “didik” atau “mendidik” yang secara harfiah artinya memelihara dan memberi latihan (Syah, 1999: 32). Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1997: 232), pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan (proses; perbuatan; cara mendidik). Senada dengan definisi ini adalah definisi yang disampaikan oleh Ralph W. Tyler, yang menyatakan bahwa pendidikan merupakan suatu proses mengubah pola perilaku manusia. Perilaku di sini dalam pengertian yang luas, yang meliputi pemikiran dan perasaan. Pendidikan dipandang dengan cara ini adalah ketika sebuah lembaga pendidikan menghendaki para peserta didik belajar secara mandiri untuk mengidentifikasi perubahan yang diperlukan dalam pola perilaku para peserta didik (Tyler, 1973: 6).

Pengertian yang sedikit berbeda adalah pendapat Umberto Sihombing (2002: 10) yang mendefinisikan pendidikan sebagai proses sosial dalam memanusiakan manusia melalui pembelajaran yang dilakukan secara sadar, baik secara terencana maupun tidak. Proses pendidikan bukan hanya apa yang disebut dengan transfer of knowledge, transfer of value, transfer of skills, namun totalitas kegiatan yang dapat memanusiakan manusia sehingga menjadi individu yang mampu mengembangkan dirinya dalam menghadapi dan memecahkan berbagai permasalahan dalam kehidupannya.

Ki Hajar Dewantoro –sebagaimana dikutip oleh Mahfud (2006: 33)– dalam kongres Taman Siswa I tahun 1930 mendefinisikan pendidikan sebagai daya upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti (kekuatan batin, karakter), pikiran (intelek), dan tubuh anak.  Ketiga hal tersebut tidak boleh dipisah-pisahkan satu sama lain. Hal ini dimaksudkan untuk memajukan kesempurnaan hidup, kehidupan dan penghidupan anak-anak didik. Oleh karena itu, fungsi pendidikan adalah untuk mengembangkan potensi peserta didik sehingga menjadi cakap dan kreatif sekaligus mampu bertanggungjawab dalam berinteraksi, membangun serta mengembangkan masyarakatnya (Muhaimin, 2003: 43).

Pengertian-pengertian tersebut di atas mengandung sebuah pemahaman bahwa hakekat pendidikan adalah seperti apa yang dinyatakan oleh ahli psikologi pendidikan seperti Chaplin, Tardif, dan Reber, yaitu pengembangan potensi atau kemampuan manusia secara menyeluruh yang pelaksanaannya dilakukan dengan cara mengajarkan pelbagai pengetahuan dan kecakapan yang dibutuhkan oleh manusia itu sendiri (Syah, 1999: 35).

1.B. MAKNA PENGAJARAN

Mengenai istilah pengajaran, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1997: 14) berasal dari akar kata ajar, artinya petunjuk yang diberikan kepada orang supaya diketahui (diturut). Kata pengajaran sendiri dalam bahasa Arab disebut dengan ta’lim yang merupakan derivasi dari kata ‘allama yang berarti mengajar (Munawwir, 1984: 1036). Dalam Kamus Arab – Inggris susunan Elias & Elias, kata-kata tersebut berarti: to educate; to train; to teach; to instruct, yakni mendidik, melatih, dan mengajar (Syah, 1999: 33). Menurut Echols & Shadily (2003: 580) to teach berarti mengajarkan sesuatu kepada seseorang.

Pengajaran merupakan totalitas aktivitas belajar mengajar yang diawali dengan perencanaan dan diakhiri dengan evaluasi, yang kemudian diteruskan dengan follow up (tindak lanjut). Secara lebih jelas dapat dikatakan, pengajaran adalah kegiatan yang mencakup semua/meliputi seluruh kegiatan yang secara langsung dimaksudkan untuk mencapai tujuan-tujuan khusus pengajaran (menentukan entry-behavior peserta didik, menyusun rencana pelajaran, memberikan informasi, bertanya, menilai, dan seterusnya) (Rohani, 2004: 68)

Berdasarkan uraian tersebut di atas jelas sekali terdapat benang merah antara “pendidikan” dan “pengajaran”. Pendidikan merupakan konsep idealnya, sedangkan pengajaran merupakan konsep operasional dalam rangka pengembangan potensi atau kemampuan manusia dengan melakukan kegiatan mendidik, melatih atau mengajar. Kata mengajar di sini berarti memberi pelajaran.

Menurut Paul Suparno, sebagaimana dikutip oleh Muliawan (2005: 132), mengajar adalah suatu proses membantu seseorang untuk membentuk pengetahuannya sendiri. Mengajar bukanlah mentransfer pengetahuan dari orang yang sudah tahu (guru) kepada yang belum tahu (peserta didik), melainkan membantu seseorang agar dapat mengonstruksi sendiri pengetahuannya melalui kegiatannya terhadap fenomena dan obyek yang ingin diketahui.

Pengertian yang lain menyebutkan bahwa mengajar pada hakekatnya adalah suatu proses, yaitu proses mengatur, mengorganisasi lingkungan yang ada di sekitar peserta didik, sehingga dapat menumbuhkan dan mendorong peserta didik melakukan proses belajar. Pada tahap berikutnya adalah proses memberikan bimbingan dan bantuan kepada peserta didik dalam melakukan proses belajar (Fathurrohman & Sutikno, 2007: 9).

Berdasarkan arti-arti ini, maka pengajaran dipahami sebagai proses perbuatan, cara mengajar atau mengajarkan (Syah, 1999: 33). Mengajar di sini bukan hanya memindahkan pengetahuan dengan hafalan. Mengajar tidak direduksi menjadi mengajar saja, tetapi mengajar menjadi efektif jika peserta didik “belajar untuk belajar” (learn to learn) (Freire, 2002 : 27).

2.HAKIKAT DAN HUBUNGAN PENDIDIKAN DAN PENGAJARAN
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar secara aktif mengembangkan potensi dirinya. Pengertian ini secara inplisit menafikan atau menampik kehadiran orang dewasa sbagai satu-satunya orang yang yang berhak menjadi penyelenggara pendidikan atau menjadi guru/pendidik.

Konsep “orang dewasa” sebagai pendidik dan pengajar dalam dunia pendidikan modern ini memang semakin kabur, apalagi jika dikaitkan dengan pendidikan tinggi atau pendidikan kedinasan. Para peserta didik dalam institusi-institusi kependidikan tersebut dapat dikatakan terdiri atas orang-orang dewasas semua, bahkan sebagian di antaranya ada yang berusia setengah baya. Dalam keadaan demikian, tak bolehkah orang masih muda ( tetapi kemampuan memadai ) mendidik mereka yang pada umumnya lebih tua? Jawabnya, tentu saja tak ada masalah. Sebab yang lebih di pentingkan dalam dunia pendidikan dan pengajaran bukan soal usia, melainkan kemampuan psikologis yang memadai.

Selama pendidik memiliki kemampuan psikologis kependidikan yang dapat di pertanggung jawabkan, meskipun usianya masih muda atau mungkin jauh lebih muda dari pada yang dididik, dia tetap berhak untuk diakui sebagai pendidik. Pada zaman sekarang ini cukup banyak asisten dosen dan dosen yang brilian berusia muda apalagi di perguruan tnggi yang terkemuka di Negara-negara maju. Mereka itu, walaupun relative masih muda, bahkan konon ada yang belum genap 20 tahun, penguasaannya ats materi dan metodologi sangat meyakinkan. Mereka bahkan mampu beerpenampilan lebih dewasa daripada para mahasiswa, yang relative lebih tua.

Para pendidik yang tugas utamanya mengajar, baik guru maupun dosen sebagaimana diisyaratkan  oleh undang-undang, tidak memerlukan syarat usia. Criteria yang membatasi usia tertentu untuk menjadi tenaga pengajar atau pendidik dalam psikkologi pendidikan masa kini hmpir atak pernah lagi disinggung-singgung. Tetapi hal ini tentu tidak berarti anak-anak atau remaja yang nyata-nyata tidak memenuhi syarat psikologis boleh menjadi pendidik atau guru.

Syarat psikologis yang lengkap, utuh dan menyeluruh bagi seorang calon guru untuk setiap jenjang pendidikan meliputi kompetensi profesionalisme keguruan, yakni kompetensi ranah cipta ( kognitif ); kompetensi ranah rasa ( afektif ); kopetensi ranah karsa ( psikomotor ).

Hakikat dan hubungan antara Pendidikan – pengajaran dibagi menjadi 2, yaitu;
1)      Ragam Arti Pendidikan dan Pengajaran.
Akar kata pendidikan adalah “didik” atau “mendidik” yang secara hafiah artinya memelihara dan memberi latihan. Sedangkan “Pendidikan”, seperti yang pernah penyusun singgung sebelum ini adalah tahapan – tahapan kegitan mengubah sikap dan prilaku seseorang atau sekelompok orang yang melalui upaya pengajaran danpelatihan.

            Dalam bahasa arab “Pendidikan disebut “tarbiyah” yang berarti proses persiapan dan pengasuhan manusia pada fase – fase awal kehidupan yakni pada tahap perkembangan masa baiyi dan kanak – kanak. Dan dalam bahas ainggris pendidikan disebut education, istilah education memiliki dua arti, yakni arti dari sudut orang yang menyelenggarakan pendidikan dan arti dari sudut orang yang di didik.

            Ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan pengajaran disebut fannual – taklim, yang dalam bahasa inggris diterjemahkan dengan kata Pedagogy dan Pedagogics yang artinya ilmu mengajar. Pedagogi dan pedagogic adalah dua kata yang sama artinya yakni pengetahuan, seni, prinsip, dan perbuatan pengajar. Perbedaan arti pedagogi dan pedagogik adalah kalau pedagogi sebagai pendidikan, dan pedagogik sebagai ilmu pengetahuan.

            Selanjutnya istilah pengajaran dalam bahasa inggris disebut instruction atau teaching. Akar kata instruction adalah memberi pengarahan agar melakukan sesuatu, mengajar agar melakukan sesuatu: member informasi.

2)      Hakikat Hubungan Pendidikan dengan Pengajaran
Hubungan pendidikan dan pengajaran cukup erat kaitannya karena menurut undang – undang nomor 2 tahun 1989 tentang system pendidikan nasional Bab 1 pasal 1, adalah usaha sadar yang dilakukan untuk menyiapkanpeserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran atau latihan agar peserta didik tersebut berperan dalamkehidupan masa depannya. Selain pengajaran dalam pendidikan juga diperlukan adanya bimbingan sebagaimana tersebut dalam kutipan dari UUSPN di muka. Bimbingan, seperti juga latihan adalah bagian penting yang ideal karena akan berdampak kebaikannya penanggulangan kesulitan belajar dan pelaksanaan rimedial teaching yang secara psikologis di diktis merupakan salah satu keharusan bagi guru.

            Berdasarkan uraian diatas, dan juga uraian mengenai ragam arti pendidikan dan pengajaran, jelas betapa eratnya hakikat hubungan antara pendidiakan dan pengajaran.

            Selain itu, ada juga pula beberapa macam peresepsi sumbang yang muncul dikalangna mahasiswa mengenaihakikat hubungan pendidikan dengan pengajaran, antara lain yang paling menonjol bahwa pendidikan itu:
1)      Jauh berbeda dangan pengajaran,
2)      Lebih penting dari pengajaran,
3)      Karena pengajaran hanya menanamkan  pengetahuan kedalam aspek kognitif (ranah cipta) dan sedikit  memberikan keterampilan psikomotor, sedangalan aspek efektif (ranah rasa) tak pernah tersentuh.

            Persepsi – persepsi ini yang ada dalam pengalaman belajar mahasiswa, karena kesaksian mereka terhadap kenyataan yang tampak dilapangan. Namun apapun alasannya, mengubah peresepsi yang kurang selaras dangan perinsip – perinsip psikologi pendidikan itu ternyat tidak gampang. Dan memberi latihan diperlukan adanya ajaran, tuntunan, dan pimpinan mengenai akhlak dan berdasarkan pikiran. Menurut kamus besar Bahasa Indonesia, pendidikan adalah proses penubahan sikap dan tingka laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui uapaya pengajaran dan pelatihan.

            Dalam pengertian yang agak luas, pendidikan dapat diartikan sebagi sebuah proses dengan metode – metode tertentu sehingga orang mempeoleh pengetahuan, pemahaman dan cara tingka laku yang sesuai dengan kebutuhan. Dan dalam pengertian luas pendidikan adalah seluruh tahapan pengembangan kemempuan – kemampuan dan perilaku - perilaku manusia dan juga proses penggunaan hampir seluruh pengalaman kehidupan.

            Dalam defenisi yang panjang ini terdapat dua kata kunci yang menurut hemat penyusun perlu disoroti yaitu kedewasaan “dan tanggung jawab moril”. Kedewasaan ini diartikan sebagai kondisi yang sudah akil baliq atau sudah berusia cukup tua. Dan tanggung jawab moril ini juga diartikan sebagai segala perbuatan yang dilakukan secara moral dan mampu bertanggung jawab segala perbuatannya. Karena tanggung jawab moral itu bersifat nisbi (dapat begi atau begitu). Karena perlu pembatasan yang tegas, apakah moral kemasyarakatan, moral hokum, atau moral keagamaan.

3.  Definisi Piskologi Pendidikan.
            Piskologi pendidikan menurut sebagian ahli adalah subdisiplin piskologi, bukan piskologi itu sendiri. Karena mereka menganggap piskologi pendidikan tidak memiliki tiori, konsep, dan tiori sendiri.

            Sebuah subdisiplin ilmu piskologi yang berkaitan dengan teori dan masalah kependidikan yang berguna dalam hal – hal sebagian berikut

1.      Penerapan prinsip – prinsip belajar dalam kelas
2.      Pengembangan dan pembaruan kurikulum
3.      Ujian dan evaluasi bakat dan kemampuan
4.      Soialisasi proses – proses dan inntraksi proses – proses tersebut dengan pendaya gunaan ranah kognitif
5.      Penyelenggaraan pendidikan keguruan.

BAB III SIMPULAN
pendidikan adalah pengembangan potensi atau kemampuan manusia secara menyeluruh yang pelaksanaannya dilakukan dengan cara mengajarkan pelbagai pengetahuan dan kecakapan yang dibutuhkan oleh manusia itu sendiri

maka pengajaran dipahami sebagai proses perbuatan, cara mengajar atau mengajarkan. Mengajar di sini bukan hanya memindahkan pengetahuan dengan hafalan. Mengajar tidak direduksi menjadi mengajar saja, tetapi mengajar menjadi efektif jika peserta didik “belajar untuk belajar” (learn to learn)                                                                                                                           

Pendidikan merupakan konsep idealnya, sedangkan pengajaran merupakan konsep operasional dalam rangka pengembangan potensi atau kemampuan manusia dengan melakukan kegiatan mendidik, melatih atau mengajar. Dan berfungsi sebagai alat pencetak sumber day amanusia (SDM) dan sama-sama bertujuan menciptakan SDM yang berkualitas.

DAFTAR PUSTAKA
Syah, Muhibbin, 1999, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru, Cet. IV Bandung: Remaja Rosdakarya
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1997, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Ed. II, Cet. IX, Jakarta: Balai Pustaka
Al-Qardhawi, Yususf.1989. Metode dan etika Pengembangan Ilmu. Perspektif sunnah, Terjemahan Marzuki, Haji Kamaluddin A. Cetakan Pertama, Bandung:Rosda.
Arifin, H.M.1978. Hubungan Timbal Balik Pendidikan Agama di Lingkungan sekolah dan Keluarga.Cetakan ke-4. Jakarta:Bulan Bintang.

Category:

About wandibudiman.blogspot.com:
Blog ini merupakan blog yang dikelola oleh Wandi Budiman, seorang manusia lemah yang selalu mencari keridhaan dari Tuhannya (Allah swt). Terimaksih sudah berkunjung ke Blog ini Semoga apa yang sudah di posting di Blog ini menjadi Sesuatu yang bermanfaat.Amin..

0 komentar