ISLAM DALAM MENGATASI
KEMISKINAN (2)
Lanjuatan....
![]() |
| Ilustrasi Gamabar: Republika.co.id |
Ustadz Dr. Yusuf Qardhawi
dalam bukunya Musykilatul Fakri Wa Kaifa ‘Aalajahal Islam menyebutkan
kiat-kiat Islam dalam mengatasi kemiskinan. Dalam buku itu, Dr. Yusuf Qardhawi
menyebutkan enam kiat yang harus dilakukan kaum muslimin untuk mengatasi
kemiskinan.
4. Dana Bantuan
Perbendaharaan Islam.
Disamping
menjelaskan hal itu, Dr. Yusuf Qardhawi juga menjelaskan bahwa mengatasi
kemiskinan dengan dana bantuan Islam yang berasal dari berbagai sumber yang
diperoleh baitul maal. Karena itu kekayaan-kekyaan umum pada suatu negara harus
diarahkan untuk mengatasi kemiskinan dan karenanya dia tidak boleh dikuasi oleh
satu atau sekelompok orang untuk kepentingan mereka. Disamping dari kekayaan
atau aset negara, dana bantuan perbendaharaan Islam juga bisa diperoleh dari
ghanimah (harta pampasan perang), fa’i (harta yang ditinggal musuh) dan
sebagainya.
Oleh karena itu,
negara dan lembaga-lembaga Islam harus mengupayakan dapat mengatasi kemiskinan
dengan berbagai cara dengan memanfaatkan potensi harta negara yang ada.
Karenanya suatu negara harus melakukan penghematan dan konsentrasi pada
mengatasi kemiskinan. Di negara kita, jumlah penduduk miskin dan yang hidup di
bawah garis kemiskinan masih sedemikian banyak dan itu tidak boleh dibiarkan
terus berlangsung tanpa ada upaya yang sungguh-sungguh.
5. Keharusan
Memenuhi Hak Selain Zakat.
Disamping zakat,
masih ada pengeluaran seorang muslim yang harus dilakukan dalam upaya mengatasi
kemiskinan dalam kaitannya dengan hubungan tertentu dengan sesama muslim,
misalnya;
pertama, hubungan bertetangga yang
apabila mereka miskin maka kita wajib membantunya, Rasulullah Saw bersabda:
Tidak patut dinamakan beriman, orang yang tidur malam
dalam keadaan kenyang sedang tetangga yang berada di sampingnya dalam keadaan
lapar, padahal ia mengetahuinya (HR. Thabrani dan Baihaqi).
Kedua, menunaikan ibadah qurban
pada hari raya Idul Adha yang dagingnya dibagikan kepada mereka yang miskin.
Ketiga, kafarat melanggar sumpah
sebagaimana firman Allah yang artinya:
Maka kafarahnya (tebusan bagi orang yang melanggar sumpah) adalah memberi makan
kepada sepuluh orang miskin dengan makanan yang biasa kamu berikan kepada
keluargamu atau memberi pakaian kepada mereka atau memerdekakan seorang budak
(QS 5:89).
Keempat, fidyah dengan memberi makan seorang miskin sebagai ganti puasa satu hari bagi mereka
yang tidak berpuasa dengan sebab sakit yang menahun, tua dan sebagainya.
Kelima, al hadyu atau berqurban karena pelanggaran dalam ibadah haji dan
sebagainya.
6. Shadaqah Suka
Rela Dan Kebajikan Individu.
Disamping
kewajiban-kewajiban dalam kaitan harta yang harus ditunaikan oleh seorang
muslim, untuk mengatasi kemiskinan, Islam juga memberikan rangsangan kepada
kaum muslimin untuk memiliki akhlak yang agung yang dalam hal ini adalah
dermawan dan murah hati sehingga pribadi yang memiliki tidak segan-segan untuk
mengeluarkan hartanya lebih dari yang diwajibkan kepadanya dalam konteks
shadaqah yang sifatnya suka rela sebagai kebajikan dirinya di jalan Allah Swt.
Diantara bentuk-bentuknya adalah waqaf dan hibah terhadap harta yang
dimilikinya seperti kendaraan, tanah, rumah dan sebagainya. Allah dan RasuNya
memberikan imbalan dan penghargaan yang sangat besar terhadap orang yang
bershadaqah sehingga hal itu termasuk pahala yang akan terus diperolehnya
meskipun dia telah meninggal dunia.
Akhirnya harus kita
sadari bahwa kemiskinan itu selalu menghantui kita sepanjang zaman, kemiskinan
bisa saja terjadi secara tiba-tiba terhadap orang yang kaya. Maka harus kita
ingat bahwa selagi kita kaya dan berkecukupun, kita harus ingat pada mereka
yang miskin dan kekurangan karena suatu ketika mungkin saja kita seperti
mereka. Wallahu A’lam (Sumber: Drs. Ahmad Yani)
ISLAM DALAM MENGATASI
KEMISKINAN (1)
Kemiskinan merupakan
sesuatu yang masih menghantui masyarakat kita, masih begitu banyak orang-orang
miskin yang berada di sekitar kita,
begitu juga dengan mereka yang masih hidup di bawah garis kemiskinan yang dalam
istilah Islam disebut dengan faqir. Satu berhasil kita atasi, muncul lagi penduduk fakir dan miskin yang
baru. Oleh karena itu kepedulian kita terhadap mereka yang fakir dan miskin
amat digugah oleh ajaran Islam.
![]() |
| Ilustrasi Gambar: Republika.co.id |
Islam amat
menekankan kepada kita semua untuk mampu mengatasi kemiskinan, kalau kita
teliti ajaran Islam, baik yang terdapat dalam Al-Qur’an maupun hadits-hasitd,
akan kita temukan petunjuk-petunjuk Allah Swt sebagaimana yang telah
dicontohkan oleh Rasul-Nya dalam mengatasi kemiskinan.
Ustadz Dr. Yusuf Qardhawi
dalam bukunya Musykilatul Fakri Wa Kaifa ‘Aalajahal Islam menyebutkan
kiat-kiat Islam dalam mengatasi kemiskinan. Dalam buku itu, Dr. Yusuf Qardhawi
menyebutkan enam kiat yang harus dilakukan kaum muslimin untuk mengatasi
kemiskinan.
1. Bekerja.
Bekerja merupakan
keharusan mutlak yang harus dilakukan oleh seorang muslim guna memperoleh rizki yang telah
disediakan Allah Swt, bahkan kalau perlu, seorang muslim berjalan ke berbagai
penjuru dunia ini dan meraih rizki yang halal, Allah berfirman yang artinya: Dialah yang menjadikan bumi itu mudah
bagimu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari
rizki-Nya (QS 67:15).
Di dalam buku itu,
Ustadz Yusuf Qardhawi menyatakan: “Bekerja adalah senjata utama untuk memerangi
kemiskinan, modal pokok dalam mencapai kekayaan dan faktor dominan dalam
menciptakan kemakmuran dunia”. Ini berarti seorang muslim harus memiliki ilmu
dan ketrampilan agar dia bisa bekerja dan membuka lapangan pekerjaan serta
menumbuhkan pada dirinya semangat untuk bekerja. Selanjutnya, manakala
seseorang mempekerjakan orang lain, maka dia harus memberikan upah atau
gajinya, bahkan kalau perlu sebelum keringatnya kering. Rasulullah Saw
menyebutkan keutamaan orang yang bekerja dengan sabdanya:
Barangsiapa yang menjadi payah pada sore hari karena
kerja tangannya, maka terampuni dosanya (HR. Thabrani).
2. Mencukupi
Keluarga Yang Lemah.
Pada dasarnya
mengatasi kemiskinan adalah dengan bekerja dan berusaha. Tapi pada masyarakat
kita begitu banyak orang yang tidak bisa bekerja, bukan karena mereka malas
bekerja dan berusaha, tapi karena mereka adalah orang-orang yang lebih yang
kebutuhannya harus dipenuhi oleh anggota keluarganya yang lain dan masyarakat
muslim. Mereka itu adalah janda yang ditinggal mati suaminya tanpa ditinggalkan
harta yang cukup, anak-anak kecil yang yatim sehingga mereka belum bisa
mandiri, orang-orang yang sudah lanjut usia, orang yang berpenyakit menahun,
orang yang cacat dan sebagainya.
Keharusan anggota
keluarga yang lain untuk mencukupi kebutuhan anggota keluarganya yang lemah
adalah sebagaimana yang difirmankan Allah yang artinya: Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada
orang miskin dan orang yang dalam perjalanan; dan janganlah kamu
menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu
adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan adalah sangat ingkar kepada Tuhannya
(QS 17:26-27).
3. Zakat
Zakat merupakan
kewajiban yang harus ditunaikan oleh kaum muslimin. Kewajiban zakat sama kedudukannya
dengan kewajiban shalat, karenanya dalam banyak ayat dan hadits perintah shalat
dirangkai dengan perintah zakat yang berarti seorang muslim tidak sempurna
keislamannya tanpa menunaikan keduanya, diantara ayat tersebut adalah firman
Allah yang artinya: Dan dirikanlah
shalat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah beserta orang-orang yang ruku (QS 2:43).
Karena zakat
merupakan upaya untuk mengatasi kemiskinan, maka sedapat mungkin dana zakat itu
tidak hanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan yang sifatnya konsumtif, karena
dengan demikian para fakir dan miskin nantinya hanya menggantungkan harapannya
kepada zakat, maka dana zakat itu bisa saja untuk biaya pendidikan bagi
orang-orang yang miskin dan modal usaha yang hendak mereka kembangkan.
Meskipun demikian,
kebutuhan awal yang sifatnya konsumtif tetap harus dipenuhi, apalagi bagi
mereka yang memang sudah sulit dikembangkan untuk bisa usaha sendiri, misalnya
mereka yang lanjut usia, orang yang berpenyakit menahun, orang yang cacat dan
sebagainya.
Karena zakat
sedemikian penting dan menjadi salah satu pilar di dalam Islam, maka mereka
yang tidak menunaikan zakat bukan hanya tidak sempurna keislamannya, tapi juga
tidak termasuk ke dalam kelompok mu’min yang beruntung (QS 23:1-4), tidak
termasuk muhsinin atau orang yang baik (QS 31:3-4), tidak termasuk orang yang
melakukan kebajikan dan ketaqwaan (QS 2:177), tidak bisa dibedakan dengan
orang-orang yang musyrik (QS 41:6), tidak memperoleh rahmat Allah (QS 7:156),
tidak berhak memperoleh pertolongan Allah (QS 22:41) dan sebagainya.
Oleh karena itu bila
seorang muslim telah menunaikan zakat dengan hati yang ikhlas, maka dia akan
digolongkan ke dalam kelompok orang yang bersaudara dalam Islam, Allah
berfirman yang artinya: Jika mereka
bertaubat, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, maka (mereka itu) adalah
saudara-saudaramu seagama. Dan Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi kaum yangt
mengetahui (QS 9:11).
NeXt ISLAM DALAM MENGATASI KEMISKINAN (2)
STRATEGI SYAITAN MENGGODA MANUSIA
![]() |
| Ilustrasi Gamabar |
Sebagaimana kita ketahui, syaitan telah divonis oleh
Allah Swt untuk masuk ke dalam neraka. Namun kesombongan membuat syaitan bukan
meminta maaf kepada Allah agar dibebaskan dari neraka tapi malah menantang
dengan keinginan untuk menggoda dan menyesatkan manusia guna menemaninya di
dalam neraka. Bahkan syaitan telah bertekad untuk menggoda dan menyesatkan
manusia dengan berbagai cara. Tekad syaitan dalam menyesatkan manusia
diceritakan oleh Allah di dalam Al-Qur’an, salah satunya adalah sebagaimana
yang difirmankan Allah:
قَالَ فَبِمَا
أَغْوَيْتَنِي لأقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ (١٦) ثُمَّ
لآتِيَنَّهُمْ مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ
وَعَنْ شَمَائِلِهِمْ وَلا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ (١٧)
Iblis
berkata:: “karena Engkau telah menyesatkan aku, maka aku akan menghadang mereka
di jalan-Mu yang lurus, kemudian akan kudatangi mereka dari depan dan dari
belakan, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan akan Kau dapati kebanyakan mereka
tidak bersyukur (QS 7:16-17).
Agar kita tidak
terjebak dalam strategi godaan syaitan, maka kita perlu memahami apa yang
dimaksud oleh syaitan sebagaimana terdapat di dalam ayat di atas. Ibnu Abbas ra
seperti yang dikutif oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyebutkan bahwa yang
dimaksud dari depan adalah meragukan tentang akhirat, dari belakang adalah
merangsang kepada cinta dunia, dari kanan meragukan perintah agama dan dari
kiri merangsang untuk berbuat maksiat. Dari penjelasan ayat ini, kita bisa
mengambil kesimpulan bahwa, dalam mengajak ke neraka, syaitan berusaha dengan
melakukan empat strategi.
Pertama adalah menanamkan keraguaan tentang
kehidupan akhirat yang merupakan tempat kembalinya seluruh manusia. Sebagai
manusia yang dicipta oleh Allah untuk beribadah, maka kebahagiaan di akhirat
merupakan dambaan, namun mencapainya justeru harus diusahakan dalam kehidupan
di dunia ini, karena itu syaitan berusaha semaksimal mungkin agar manusia hidup
untuk kenikmatan di dunia ini saja. Akibatnya
manusia tidak memiliki persiapan untuk menghadapi hari akhirat, padahal bahagia
dan tidaknya seseorang dalam kehidupan akhirat sangat tergantung pada
persiapannya di dunia ini dengan amal shaleh yang banyak. Bahkan akhirat yang
merupakan pertanggungjawaban manusia atas amalnya tidak disadarinya sehinga
kehidupan di dunia ini dilakukan tidak sebagaimana mestinya.
Oleh
karena itu, salah satu yang harus kita sadari adalah bahwa dunia ini adalah
tempat untuk bercocok tanam yang panennya di akhirat, sedangkan kehidupan
akhirat merupakan pertanggungjawaban dan hasil dari kehidupan di dunia ini. Itu
pula sebabnya adanya kehidupan akhirat merupakan sesuatu yang harus kita yakini
adanya, tak ada sedikitpun keraguan kita pada kehidupan akhirat. Adapun orang
yang tidak percaya akan kehidupan akhirat, maka ganjaran yang akan diterimanya
adalah azab yang pedih sebagaimana firman Allah:
Dan sesungguhnya
orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat, Kami sediakan bagi
mereka azab yang pedih (QS 17:10).
Karena
begitu penting kedudukan iman kepada akhirat, maka syaitan berusaha menyesatkan
manusia dari depan dengan menanamkan keraguan terhadap adanya kehidupan akhirat
itu, syaitanpun telah berhasil dalam menjalankan misi dengan adanya orang yang mengatakan:
Kehidupan ini tidak lain
hanyalah kehidupan kita di dunia ini saja, kita mati dan kita hidup dan
sekali-kali tidak akan dibangkitkan lagi (QS 23:37).
Kedua dalam menyesatkan manusia adalah menggodanya dari
belakang dengan menumbuhkan rasa terlalu cinta terhadap dunia. Ini merupakan
salah satu penyakit terbesar dari manusia termasuk umat Islam, bahkan hal ini
bisa menghilangkan kekuatan umat. Umat yang tercabik-cabik dan menjadi sasaran
empuk musuh-musuhnya bukanlah karena umat itu lemah dan tak punya potensi, tapi
sebenarnya umat ini kuat namun menjadi lemah karena terlalu cinta pada dunia.
Terlalu cinta pada dunia mengakibatkan dunia ini tidak dijadikan sarana menuju
akhirat, tapi malah menjadi tujuan hidupnya, akibat selanjutnya adalah sebagai
apapun dia, maka yang ingin dicapai adalah kenikmatan duniawi; harta
semata-mata untuk kenikmatan duniawi diri dan keluarganya, begitu juga dengan
ilmu, bahkan jabatan tidak digunakan untuk menegakkan kebenaran, malah
tragisnya jabatan itu justeru digunakan untuk menegakkan atau melindungi
kebathilan, dari sini tidak sedikit orang yang akhirnya menghalalkan segala
cara dalam mencapai tujuannya, karena baginya kenikmatan duniawi merupakan
sesuatu yang harus didapat meskipun dengan menghalalkan segala cara, baginya
bukan soal benar dan salah, tapi yang penting adalah kenikmatan yang bisa
dirasakan.
Keberhasilan
syaitan dalam menggoda manusia dari belakang akan menghasilkan penyesalan yang
amat dalam meskipun penyesalan itu sudah tidak ada gunanya lagi sebagaimana
yang dikemukakan Allah dalam firman-Nya:
Dan pada hari itu (kiamat)
diperlihatkan neraka jahannam; dan pada hari itu ingatlah manusia akan tetapi
tidak berguna lagi mengingat itu baginya. Dia berkata: “alangkah baiknya
sekiranya dulu aku mengerjakan (amal shaleh) untuk hidupku ini”. Maka pada hari
itu tidak ada yang menyiksa seperti siksa-Nya, dan tiada seorangpun yang
mengikat seperti ikatan-Nya (QS 89:23-26).
Ketiga yang merupakan strategi
syaitan dalam menyesatkan manusia adalah menggoda dari sebelah kanan manusia,
yakni menanamkan keraguan terhadap perintah agama. Islam sebagai agama Allah
yang benar merupakan sesuatu yang tidak boleh kita ragukan sedikitpun
kebenarannya. Keyakinan yang utuh pada kebenaran Islam sebagai agama akan
membuat kita selalu menjadikan ajaran Islam sebagai tuntunan dalam hidup ini,
sebagai apapun kita dan dalam keadaan bagaimanapun juga. Sebagai pemimpin
keluarga, kita akan mengarahkan anggota keluarga terhindar dari neraka dan
masuk ke dalam syurga sehingga kita akan membentuk anggota keluarga untuk taat
terhadap ketentuan Islam.
Dalam
upaya menyesatkan manusia, syaitan selalu berusaha menanamkan keraguan terhadap
kebenaran Islam, keberhasilan syaitan dalam menggoda manusia dari kanannya
mengakibatkan manusia menjadikan kehidupan agama sebagai persoalan sepele saja,
bahkan agama dengan segala hukum-hukum yang terkandung di dalamnya akhirnya
dianggap sebagai permainan saja, padahal ini merupakan sesuatu yang sangat
terlarang, Allah berfirman:
Janganlah kamu jadikan hukum-hukum
Allah permainan, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu dan apa yang telah
diturunkan Allah kepadamu yaitu Al kitab dan Al hikmah, Allah memberi
pengajaran kepadamu dengan apa yang diturunkan-Nya itu. Dan bertaqwalah kepada
Allah serta ketahuilah bahwasanya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu (QS
2:231).
Keempat dari strategi syaitan adalah
menyesatkan manusia dari belakangnya, yakni dengan merangsang manusia untuk
berbuat maksiat. sehingga kemaksiatan dan dosa dianggap sebagai sesuatu yang
menyenangkan, indah, menguntungkan dan membahagiakan,
Keberhasilan
syaitan dalam menyesatkan manusia boleh sudah nampak, buktinya; begitu banyak
manusia yang jalan hidupnya adalah kemaksiatan dan dosa mulai dari dusta,
korupsi, manipulasi, pengrusakan, perampasan hak-hak asasi, pemerkosaan,
perzinahan, pembunuhan, penganiayaan dan sebagainya. Oleh karena itu, Allah Swt
mengajukan pertanyaan yang tidak perlu kita jawab karena Allah sebenarnya telah
memberikan jawaban yang jelas dari pertanyaan-Nya tentang orang yang disesatkan
oleh syaitan, Allah berfirman:
Maka apakah orang yang
dijadikan (syaitan) menganggap baik pekerjaannya yang buruk lalu dia meyakini pekerjaan itu baik (sama
dengan orang yang tidak ditipu oleh syaitan)?. Maka sesungguhnya Allah
menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya
(QS 35:8).
Akhirnya menjadi
keharusan kita semua untuk berlindung kepada Allah Swt dari segala godaan
syaitan yang berusaha menyesatkan kita dengan segala cara, apalagi syaitan
sudah mendapat bantuan begitu besar dari manusia yang telah berhasil
disesatkannya untuk menyesatkan manusia lain dari jalan Allah yang benar. Wallahu
A’lam.









