Assalamu’aliakum warahmatullah wabarokatuh...
Kamus Lisanul 'Arab Karya Ibnu Manzhur

Tadi Pagi saya dapat tugas dari dosen Pembimbing untuk mencari Salah satu Kamus Arab Klasik yaitu KamusLisanul Arab Karya Ibnu Manzhur.  

Kitab/kamus ini merupakan salah satu kitab rujukan utama bagi pelajar muslim, untuk mencari istilah-istilah arab atau yang berhubungan dengan bahasa arab ataupun Islam.

Aduh saya pikir lumayan susah nih mencari kitab ini, karena yang pertama ini merupakan kitab klasik yang mungkin agak susah, terus yang kedua mungkin juga harganya mahal..he.he.

Setelah Keliling-keliling di mbah google akhirnya dapat menemukan kamus tersebut yang sudah berbentuk PDF yang bisa di Download. Jadi gak Perlu nyari ke Perpustakaan atau bahkan beli ke toko Buku yang lumayan sulit untuk mencarinya.

Dalam file downloadan ini, kamus ini dibagi menjadi dua bagi. Bagian pertama yaitu berisi tentang cover dan pendahuluan kitab yang berisi 26 Halaman. Sedangkan bagian kedua adalah isi dari kitab / Kamus Lisanul Arab berisi 4980 halaman.

Silahkan Download pada bagian part 1 dan part 2 dibawah ini:
a.  Part1  = [ Berukuran 872 Kb] 
b.  Part2 = [ Berukuran 222 Mb]
c.   Atau bisa berkunjung langsung ke websitenya www.waqfeya.com atau dengan Klik

Terimakasih Semoga Bermanfaat. Wallahu ‘Alam

Lima kemuliaan yang telah Allah berikan kepada Nabi Muhammad Rasulullah SAW.
Ilustrasi lafadz Nama Rasulullah Muhammad saw (Gambar: votreesprit.wordpress.com)
 اِن اللهَ تعالى اَكرَمَ نَبيهُ محمدًا ص. بخمسِ كَرَامَاتٍ: اَكرَمَهُ بَالاِسمِ وَالجِسمِ وَالعَطَاءِ وَالخَطَأِ وَالرِضَا. اَمَا الاِسْمِ فَنَادَاهُ باِالرِّسَالَةِ وَلَمْ يُنَادِهِ بِالِاسمِ كَمَا نَادَى جَمِيعَ الاَنْبِيَاءِ. واما الجِسمِ فَإِذَا دَعَا النَبِيّ ص. شَيْئًا فَأَجَبَ هُوَ بِنَفْسِهِ عَنهُ وَلَمْ يَفْعَلْ ذلِكَ لِسَائِرِ الاَنْبِيَاءِ. وَامّا العَطَاءُ فَأَعْطَاهُ بِلَاسُؤَالٍ . وَاَمَا الخَطَاءُ فَذَكَرَالعَفْوَ قَبْلَ ذَنْبِهِ . وَامّا الرِضَا فَلَمْ يَرَدَّ فِدْيَتَهُ وَلاَصَدَقَتَةُ وَلَانَفَقَتُهُ كَمَا رَدَهَا عَلَى سَائِرِالاَنْبِيَاءِ.
Artinya: “Sesungguhnya Allah memuliakan Nabi Muhammad SAW dengan lima karomah/kemuliaan. Yaitu, Allah telah memuliaan namanya, badannya, anugrahnya, kesalahannya, dan ridhanya. Kemuliaan yang telah Allah berikat terkait dengan namanya adalah beliau dipanggil Rasul bukan dipanggil namanya seperti pada Nabi-Nabi lain. Kemuliaan Allah pada badan Rasulullah adalah apabila beliau berdo’a memohon sesuatu maka dijawab oleh dirinya sendiri sesuatu hal yang tidak diperbuat Allah pada Nabi-nabi lain. Kemuliaan Allah dalam hal anugerahnya adalah belia diberi anugrah tanpa memohonnya, kemuliaan Allah pada kesalahannya adalah beliau telah diampuni dosanya sebelum melaksanakan dosa, dan kemuliaan Allah pada ridhanya adalah tidak ditolaknya fidyah, sedekah, maupun nafkah yang diberikan beliau rasulullah, suatu hal yang ditolak dari nabi sebelumnya.[1]

Jumhur ulama rahmatullahi ‘alaihim ajma’in berkata: ” Allah SWT memuliakan Nabi Muhammad SAW dengan lima kehormatan, yaitu :
1. Dlm hal nama;
2. Dlm hal tubuh;
3. Dlm hal pemberian;
4. Dlm hal kesalahan; dan
5. Dlm hal ridha.”

Pertama dalam hal NAMA;
maksudnya beliau di panggil dgn sebutan Rosul dan tidak di panggil dengan namanya sebagaimana ketika Allah memanggil nabi-nabi yg lainnya, spti Adam, Nuh, Ibrahim, dsb. Allah telah berfirman:يأيها الرسول بلغ مآ أنزل إليك “wahai Rosul, sampaikanlah apa yang telah diturunkan kepadamu.” (al-maa’idah-67)

Kedua dalam hal TUBUH;
maksudnya ketika beliau berdo’a atau memohon sesuatu yang berkaitan dengan masalah tubuh, do’a beliau dikabulkan, sementara Allah tidak berbuat demikian terhadap nabi-nabi yg lain. Disebutkan dlm satu riwayat bhwa Nabi SAW berhasil mengembalikan mata Qatadah ke tempat semula yg tadinya keluar dan menggelantung di pipinya.

Ketiga dalam hal PEMBERIAN;
maksudnya adalah Allah memberikan sesuatu kepada beliau meskipun tanpa ada permintaan lebih dahulu. Allah tlah berfirman:إنآ أعطينك الكو ثر “sesungguhnya Kami telah memberikan ni’mat yg banyak kepadamu.” (al-kautsar 1)ولسوف يعطيك ربك فترضى “dan kelak Robbmu pasti memberikan karunia-Nya kepadmu, lalu (hati) kamu menjadi puas.” (adh-dhuha-5)

Keempat dalam KESALAHAN;
maksudnya adalah adanya pema’afan sebelum perbuatan dosanya beliau kerjakan. Sebagaiman Allah berkata:عفا الله عنك “Allah telah mema’afkanmu.” (at-taubah-43)

Kelima dalam hal RIDHA; maksudnya adalah fidyah, shadaqah, dan nafkah yang beliau keluarkan tidak ada yang di tolak oleh Allah, sementara Allah pernah menolak dari nabi-nabi yg lain. Disebutkan dalam satu riwayat bahwa beliau pernah menyembelih qurban untuk ummat beliau dan membayar kifarat untuk seseorang dari kalangan ummat beliau karena melakukan hubungan suami-istri pada siang Ramadan.[2]

[1] Syekh Nawawi al-Bantani. Terjemahan Nashoihul Ibad; Nasehat Penghuni Dunia. Terj. Aly  As’ad. (Kudus: Menara Kudus. 1983). hlm. 123-125.
[2] Syekh Nawawi al-Bantani. Nashoihul Ibad; Nasihat-Nasihat untuk Para Hamba menjadi Santun dan Bijak. Terj. Fuad Kauma. (Bandung: Irsyad Baitus Salam. 2012).hlm. 217-219.
Kitab Ajurrumiyah, semua santri pasti mengenalnya dan bahkan telah memepelajarinya. siapakah pengarang kitab yang walaupun kecil tapi sangat ppopuler ini. Beliau adalah Syeikh Abu abdillah Muhammad bin Muhammad bin dawud Ash Shanhaji. Nama lengkap beliau adalah Muhammad bin Muhammad bin Daud Ash Shanhanjy. Beliau lebih masyhur disebut dengan Ibnu Ajurrum, menurut pendapat lain dibaca dengan Ajarrum.

merupakan seorang ulama terkemuka yang terkenal dengan kitabnya matan Al Ajrumiyah, Ash Shanhaji merupakan nisbah kepada Kabilah Shanhajah di daerah Maghriby. Al Ajurrum merupakan bahasa Barbar yang berarti orang yang meninggalkan kemewahan dan memilih laku sufi (Al Faqir Ash Shufy). Namun Syeikh Muhammad bin Ahmad Al Ahdal, pengarang kitab Al Kawakib Ad duriyah mengatakan bahwa beliau tidak menemukan orang Barbar yang mengetahui arti kata Al Ajurrum, namun beliau menemukan satu kabilah dari suku Barbar yang benama Al Ajurrum. Beliau lahir di kota Fas, Maghriby pada tahun 672H/1273M, pada tahun kelahiran beliau, seorang pakar dalam ilmu nahu, ibnu Malik pengarang kitab Al Fiyah, wafat.

Ayah beliau, Muhammad bin Daud adalah seorang ulama di kampung beliau yang memenuhi kehidupan keluarganya dengan berniaga dan menjilid buku-buku. Mulanya Al Ajurrum belajar Ilmu Nahu di Fas, kemudian ia berangkat ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji. Ketika perjalanan ke Kairo, ia menyempatkan diri belajar ilmu Nahu kepada Syeikh Abu Hayyan salah seorang pakar dalam ilmu Nahu dari Andalusia pengarang kitab Al Bahrul Muhith hingga mendapatkan ijazah dari Syeikh Abu Hayyan. Beliau menyusun kitab Matan Al Ajrumiyah pada tahun 719 H/1319 M, sekitar empat tahun sebelum wafatnya. Al Maktum yang sezaman dengannya setelah memuji Ibnu Al Ajurrum didalam kitabnya Tazkirahnya, ia menyebutkan bahwa pada saat ia menulis kitabnya ini Ibnu Ajurrum masih hidup. Ar ra`i dan Al haj menyebutkan bahwa Ibnu Ajurrum menulis kitab Nahunya dihadapan ka`bah. As Shayuthy dalam kitabnya Bughyatul Wu`ah menerangkan bahwa Al Makudy dan Ar Ra`i dan para ulama lainnya mengakui kepakaran beliau dalam bidang nahu selain itu beliau juga seorang yang shaleh dan banyak barakah. Selain kitab Ajurrumiyah, beliau memiliki beberapa karangan lainnya tentang faraidh, sastra dan Tak basah oleh air.

Ada satu kisah istimewa yang meyelimuti pengarangan kitab nahu Ajrumioyah tersebut, Syeihk Al Hamidi meriwayatkan setelah menulis kitab Al Ajurrumiyahnya , Ibnu Ajurrum membuang kitabnya tersebut ke laut sambil berkata: ”kalau memang kitab ini kutulis ikhlash karena Allah, niscaya ia tidak akan basah.” Ternyata kitab tersebut kembali kepantai tanpa badah sedikit pun. Dalam riwayat yang lain disebutkan, ketika Ibnu Ajurrum telah rampung menulis dengan menggunakan botol tinta, ia berniat meletakkan kitabnya tersebut di dalam air sambil berkata dalam hati “Ya Allah, jika saja karyaku ini akan bermanfaat jadikanlah tinta yang aku pakai untuk menulis ini tidak akan luntur”. Ternyata dengan kuasa Allah tinta tersebut tidak luntur sedikitpun. Dalam riwayat lain disebutkan ketika merampungkan karya tulisnya ini beliau bermaksud menenggelamkan kitab beliau ini kedalam air yang mengalir. Jika kitab tersebut terbawa arus maka berarti kitab tersebut kurang manfaat sedangkan bila ia tetap tidak terbawa arus maka ia akan tetap dikaji orang dan akan besar manfaannya. Sambil meletakkan kitab tersebut kedalam air berliau berujar: “jurru Miyah, jurru Miyah” (mengalirlah wahai air). Anehnya setelah diletakkan dalam air kitab tersebut tetap bertahan tidak terbawa oleh arus. Subhanallah.

Ibnu Ajurrum, dalam ilmu nahu merupakan penganut mazhab Nahu Kufah, beliau menyebutkan kasrah dan penggantinya dengan istilah Khafadh, sedangkan ahli Bashrah menyebutnya dengan istilah jar,Ibnu Ajurrum berpendapat bahwa fiil amr itu dijazamkan. Ini adalah pendapat Mazhab Kufah. Adapun mazhab Bashrah berpendapat bahwa fiil amar itu mabni `ala as sukun. Ia juga menggolongkan kata kaifama termasuk jawazim, sebagaimana pendapat ahli Kufah. Adapun Ahli Basharah berpendapat kaifama bukanlah `amel Jawazem. Selain itu Ibnu Ajurrum juga menggunakan istilah Asmaul Khamsah, yang terdiri dari dzu, fuk, hamu, abu, akhu, sedangkan Ahli Bashrah menyebutnya dengan istilah Asmaus Sittah dengan menamahkan Hanu. Kitab Al AJarrumiyah merupakan pegangan wajib bagi para pemula ilmu nahu, kitab ini merupakan kurikulum wajib dan dihafal oleh para santri-santri di setiap pesantren di Indonesia dan Negara-negara lainnya.

Banyak ulama yang menaruh perhatian yang besar tentang kitab ini, sehingga muncullah kitab-kitab yang menjadi pensyarah dan hasyiah dari kitab Ajurrumiyah ini. Diantara syarahnya antara lain:

1. Al Mustaqil bil Mafhum fi Syarh Alfadh Al Ajurrum, karangan Abu Abdillah Muhammad bin Muhammad Al maliki(w 853 H/1449 M)
2. At Tuhfatus Saniyah bi syarh Al Muqaddimah Al Ajurrumiyah, karya Syeikh Muhammad Muhyiddin Abdul hamid.
3. Al Kharidah Al bahiyah fi i`rabi Al fadh Al Ajurrumiyah karya Al `ujami.
4. Mukhatshar jiddan karya Syeikh sayyid Ahmad Zaini Dahlan, yang kemudian di beri komentar (hasyiah) oleh seorang ulama Indonesia, KH. Muhammad Ma`shum bin Salim As Samarany dengan kitabnya tasywiqul Khalan.
5.  Al Kafrawi fi i`rabi alfadhi al Ajurrumiyah. Karya Syeikh Al Kafrawy
6. Al `ismawi kaya Syeikh Al `ismawi
7. Syarah Syeikh Khaled yang kemudian di beri komentar oleh Syeikh Abi An Naja.
8. Syarah Muqaddimah Al Ajurrumiyah karya seorang gembong Wahaby Arab Saudi, Syeikh Ustaimin.
9. Khulasah Syarah Ibnu `ajibah `ala matan Ajurrumiyah Syeikh Abdul Qadir Al Kauhairy.
10. Nur As Sajiyah fi hill Alfadh Ajurrumiyah, karangan Syeikh Ahmad Khatib Syarbaini.
11. Taqrirat Al bahiyyah `ala matan Ajurrumiyah karangan Syeikh Qadhi Muhammad Risyad Al Baity As Saqqaf.
12. Al Futuhat Al Qayyumiyah fi hill wafki ma`any wa mabany matan Ajurrumiyah, karangan Syeikh Muhammad Amin Al harrary.
13. Ad Durar Al bahiyyah fi i`rab Amstilah Ajurrumiyah wa fakk ma`any karangan Syeikh Muhammad Amin Al harrary.
14. Al bakurah Al janiyyah min Quthaf i`rab Ajurrumiyah karya Syeikh Muhammad Amin Al harrary.
15. Syarah Ajurrumiyyah fi ilmi arabiyah karangan Syiekh Ali Abdullah Abdurrahman As Sanhury.
16. Syarah Al Halawy karangan Syeikh Al Halawy. Selain disyarah kitab ini juga pernah di gubah menjadi sebuah nadham oleh Al `Imrithy yang disyarah oleh beberapa ulama lainnya.

Ibnu Ajurrum wafat dikota Fas, kota kelahirannya pada hari senin 10 shafar 723 H/2 Maret 1332 M. beliau dimakamkan persis berdampingan dengan makam Syeikh Abbas Ahmad At Tijany, pendiri thariqah At Tijany. Tiadak jauh dari makam beliau juga terdapat makam Al Aqadhi Abu Bakar Muhammad bin Abdullah Al Ma`arify dan sejumlah tokoh ulama Maroko lainnya.

Untuk Mendownload Matan dan Terjemahan Kitab Ajjurumiyah silahkan klik DISINI