Puasa Syawal kita tahu memiliki keutamaan yang besar. Sehingga tidak asing lagi bagi seorang muslim untuk mengerjakannya. Lalu bagimana dalil / nash tentang puasa 6 hari di bulan syawal itu kemudian bagaimana tata caranya mari kita simak artikel dibawah ini!!! 

 
Fadhilah / Keutamaan Puasa Syawal
TUJUAN HIDUP YANG MENGAGUMKAN

Selama tujuan hidup kita hanyalah Allah, dan selagi impian kita hanya mencapai keridhaan-Nya, pasti kita akan selalu bahagia dan pasti tidak akan gundah gulana.


Meski kita sakit bertahu-tahun, meski mengalami cobaan beruntun dan meski dicurigai banyak orang, tenang saja.

Ini dia, ‘Umar bin Abdul Aziz yang tetap tenang meski ditinggal mati tiga orang terkasihnya. Dia ditinggal mati anak lelaki tercintanya, salah satu pembantu terkasihnya,dan salah satu saudarnya. Dia tetap tenang.

Al-Fadhl bin ar-Rabi berkata;
“Aku belum pernah meliaht seorang pun yang mengalami nasib sepertimu, wahai Amirul Mukminin. Aku pun tidak pernah melihat seorang saudara sebaik saudaramu, aku pun tidak pernah melihat pembantu sebaik pembantumu atau anak lelaki sebaik anak lelakimu.” Dengan tenang ‘Umar bin Abdul Aziz menjawab, “Tidak usah begitu Demi Dzat yang menaqdirkan kematian mereka, Aku tidak suka da seseorang yang tidak menginginkan terjadi padahal sudah ditaqdirkan Allah.”  

Begitulah sikap ‘Umar bun Abdul Aziz, karena tujuannya hanyalah Allah, dan harapannya hanyalah mencapai keridhaannya.

Ini dia sosok yang lain, yaitu Shafia, bibi Rasulullah ketika diketahui bahwa Hamzah, saudaranya mati syahid pada perang Uhud dengan mayat yang tercabik-cabik.

Sahfia bergegas pergi kemedan perang untuk melihat mayat Hamzah. Akan tetapi Rasulullah mengutus Zubair, yaitu anak Shafia untuk membawa ibunya kembali pulang ke rumah agar tidak melihat mayat Hamzah yang buntung teling dan hidungnya, serta bagian perut yang tercabik-cabik. Dalam ketegaran seorang muslimah sejati, Shafia berkata lantang “mengapa Rasulullah melarangku, sedang dia telah memberitahuku kalau Hamzah saudaraku mati tercabik-cabik di jalan Allah? Sungguh, kita telah rela atas semua yang terjadi. Insya Allah aku akan menjaga diri dan bersabar.” Lalu dengan tenang Shafia meliaht mayat Hamzah, menyalatinya, kemudian kembali pulang dan memintakan ampun bagi Hamzah.

Ada sosok wanita lain disuku Dinar yang begitu tegar ketika ditinggal mati suami, ayah dan saudaranya dalam perang Uhud. Ketika diberitahukan kabar duka tersebut, dengan tenang dia bertanya, “Lantas, bagaimana keadaan Rasulullah?” Orang menjawab, “Baik. Alahmdulillah. Rasulullah selalu berbuat baik seperti yang engkau suka.” “Kalau begitu, biarkan aku melihat Rasulullah,” kata wanita itu. Setelah meliaht Rasulullah, di berkata, “Sungguh, setelah melihatmu, semua musibah terlihat kecil, wahai Rasulullah.”

Wanita tersebut menganggap enteng semua bencana dan derita. Sebab dia hidup hanya demi mencapai keridhaan Allah dan menaati pemimpin terkasihnya.
*******

ditukil dari Khalid 'Umar 'Abdurrahman ad-Dusuqi, Bawaits as-Surur, Maghfirah Pustaka Jakarta

Wallahu ‘alam [kisah inspiratif]
INILAH TUJUAN HIDUP SEORANG MUSLIM

Allahlah yang berhak dijadikan tujuan hidup dan diperjuangkan oleh kam muslimin. Setiap pagi dan petang, Rasulullah saw berdzikir:
“aku rela Allah menjadi Tuhan-ku, aku rela Islam menjadi agamaku dan aku rela Muhammad menjadi rasul dan utusan-Nya” (HR. Ahmad). 


Karena Allah, karena Islam dan kerasulan Muhammad telah menjadi tujuan hidup. Rasulullah pun memperjuangkan itu dengan penuh pengorbanan. Lihatlah ketika Nabi bergegas menuju Tha’if untuk menyeru penduduk Tha’if agar beriman kepada Allah. Akan tetapi, mereka dan anak-anak kecil menghujaninya dengan batu-batu besar, hingga Nabi berkata kepada mereka, “Dengan kerikil saja,” tetapi mereka tidak peduli.

Akhirnya, Nabi bersembunyi di balik kebun yang jauh dari penglihatan mereka, beliau duduk dengan kaki berlumuran darah. Usahanya sudah mencapai puncak, beliau kemudian berdo’a kepada Allah;
Ya Allah, aku mengadu keoada-Mu perihal lemahnya kekuatanku, minimnya siasatku dan kerendahan diriku dihadapan manusia, wahai Zat Yang Maha Penyayang, Engkaulah Tuhan bagi kaum tertindas. Engkaulah tuhanku. Kepada siapa lagi Engkau menyerahkanku? Kepad orang asing yang menyerangku atau kepada kerabat dan orang-orang dekat yang menguasaiku? asal Engkau tidak marah kepadaku, aku tidak peduli dan tidak menghiraukannya.

Lihatlah juga keteguhan hati khabib bin Ubay yang ditawan dan disalib oleh orang kafir. Ketika hendak dibunuh dan disalib Khabib bersajak;

Aku tidak peduli
Asal mati sebagai muslim sejati
Sebab, dimana pun aku mati
Pasti di sisi Tuhanlah aku kembali
Tujuanku adalah Allah,
Sedang Dia telah rela terhadapku
Keinginanku adalah surga,
Sedang ia sudah dekat dari kedua pelupuk mataku
Karena itulah aku tidak peduli.

*******

ditukil dari Khalid 'Umar 'Abdurrahman ad-Dusuqi, Bawaits as-Surur, Maghfirah Pustaka Jakarta

Wallahu ‘alam [kisah inspiratif]

JIKA MENGINGINKAN WANITA SEPERTI FATIMAH, ENGKAU PUN HARUS MENJADI SEPERTI ALI!


Banyak sekali pemuda yang bertanya, bagaimana cara mendapatkan istri yang shalehah pada zaman sekarang ini, zaman dimana fitnah merajalela tak pernah terbayangkan sebelumnya oleh manusia. Fitnah ini digambarkan oleh Rasulullah saw dalam sabdanya;

“Orang yang duduk pada zaman itu lebih baik daripada orang yang berdiri, yang berdiri lebih baik daripada yang berjalan, dan yang berjalan lebih baik daripada yang berlari. Barangsiapa tercebur ke dalamnya, ia akan terus tenggelam di dalamya, dan barangsiapa mendapatkan tempat berlindung, hendaknya ia berlindung dengannya. [Hadits Muttafaq ‘alaih, riwayat Bukhari, al-Manaqib, no. 3602; Kitab al-Fitan, no. 7081; Muslim, Kitab al-Fitan wa Asyrath as-Sa’ah, no. 2886.].

Jadi, jawaban dari pertanyaan ini, seperti yang dikatakan oleh seorang ulama salaf, adalah jika engkau ingin mendapatkan wanita seperti fatimah, engkau pun harus menjadi seperti Ali. Sebesar ketaatanmu kepada Allahlah Dia akan memberimu istri yang dapat membantumu melaksanakan ajaran agamamu dan urusan duniamu. Apa yang dianjurkan kepada para pemuda juga dianjurkan kepada para gadis [Jika engkau ingin mendapatkan suami seperti Ali, engkau pun harus menjadi seperti Fatimah]. Karena itu Allah berfirman dalam QS. An-Nur: 26;

الْخَبِيثَاتُ لِلْخَبِيثِينَ وَالْخَبِيثُونَ لِلْخَبِيثَاتِ وَالطَّيِّبَاتُ لِلطَّيِّبِينَ وَالطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَاتِ أُولَئِكَ مُبَرَّءُونَ مِمَّا يَقُولُونَ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ
wanita-wanita yang tidak baik adalah untuk laki-laki yang tidak baik, dan laki-laki yang tidak baik adalah buat wanita-wanita yang tidak baik (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki- laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). bagi mereka ampunan dan rezki yang mulia (yaitu surga).

Ayat ini menunjukkan kesucian 'Aisyah r.a. dan Shafwan dari segala tuduhan yang ditujukan kepada mereka. Rasulullah adalah orang yang paling baik Maka pastilah wanita yang baik pula yang menjadi istri beliau.

Semakin dekat manusia dengan Allah, Allah akan membawakan untuknya seorang istri salehah [suami saleh] sesuai dengan kesalehan pribadinya. Oleh sebab itu, setiap kedekatan itu akan mencapai titik akhirnya di surga, di mana Allah menganugrahkannya bidadari-bidadari yang elok.

Ditukil dari Syaikh Mahmud al-Mashri. Az-Zawwj al-Islami as-Sa’id (Bekal Pernikahan)


Orang yang hidup mengekang diri dengan satu gaya atau model hidup, sudah tentu akan dilanda kejenuhan. Itu terjadi, karena jiwa manusia pada dasarnya cenderung mudah jenuh. Tabiat dasar setiap manusia adalah tidak senang berada dalam satu keadaan yang sama. Dan karena itu pula, maka Allah menciptakan banyak warna dan bentuk untuk suatu tempat, zaman, makanan, minuman, dan makhluk-makhluk ciptaan-Nya. Ada malam ada siang, ada dataran tinggi ada dataran rendah, ada putih ada hitam, ada panas ada dingin, dan ada manis ada kecut. 
Warnai Hidupmu
Keberagaman dan perbedaan ini seringkali disebut Allah dalam beberapa firman-Nya. Diantaranya Allah menyebutkan bahwa,
ثُمَّ كُلِي مِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ فَاسْلُكِي سُبُلَ رَبِّكِ ذُلُلا يَخْرُجُ مِنْ بُطُونِهَا شَرَابٌ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ فِيهِ شِفَاءٌ لِلنَّاسِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَةً لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ
“Kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). dari perut lebah itu ke luar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan.” (QS. An-Nahl: 69).

وَفِي الأرْضِ قِطَعٌ مُتَجَاوِرَاتٌ وَجَنَّاتٌ مِنْ أَعْنَابٍ وَزَرْعٌ وَنَخِيلٌ صِنْوَانٌ وَغَيْرُ صِنْوَانٍ يُسْقَى بِمَاءٍ وَاحِدٍ وَنُفَضِّلُ بَعْضَهَا عَلَى بَعْضٍ فِي الأكُلِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَعْقِلُونَ
“Dan di bumi ini terdapat bagian-bagian yang berdampingan, dan kebun-kebun anggur, tanaman-tanaman dan pohon korma yang bercabang dan yang tidak bercabang, disirami dengan air yang sama. Kami melebihkan sebahagian tanam-tanaman itu atas sebahagian yang lain tentang rasanya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berfikir.”  (QS. Ar-Ra'd: 4)

وَهُمْ يَصْطَرِخُونَ فِيهَا رَبَّنَا أَخْرِجْنَا نَعْمَلْ صَالِحًا غَيْرَ الَّذِي كُنَّا نَعْمَلُ أَوَلَمْ نُعَمِّرْكُمْ مَا يَتَذَكَّرُ فِيهِ مَنْ تَذَكَّرَ وَجَاءَكُمُ النَّذِيرُ فَذُوقُوا فَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ نَصِيرٍ
“Dan mereka berteriak di dalam neraka itu : "Ya Tuhan Kami, keluarkanlah Kami niscaya Kami akan mengerjakan amal yang saleh berlainan dengan yang telah Kami kerjakan". dan Apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berfikir bagi orang yang mau berfikir, dan (apakah tidak) datang kepada kamu pemberi peringatan? Maka rasakanlah (azab Kami) dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolongpun”.  (QS. Fathir: 37)

إِنْ يَمْسَسْكُمْ قَرْحٌ فَقَدْ مَسَّ الْقَوْمَ قَرْحٌ مِثْلُهُ وَتِلْكَ الأيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ وَلِيَعْلَمَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَيَتَّخِذَ مِنْكُمْ شُهَدَاءَ وَاللَّهُ لا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ
“ Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, Maka Sesungguhnya kaum (kafir) itupun (pada perang Badar) mendapat luka yang serupa. dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada'. dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim.” (QS. Ali 'Imran: 140)

Syahdan, Bani Israel pernah merasa bosan dengan makanan paling baik mereka dan mengeluh pada Allah,

وَإِذْ قُلْتُمْ يَا مُوسَى لَنْ نَصْبِرَ عَلَى طَعَامٍ وَاحِدٍ فَادْعُ لَنَا رَبَّكَ يُخْرِجْ لَنَا مِمَّا تُنْبِتُ الأرْضُ مِنْ بَقْلِهَا وَقِثَّائِهَا وَفُومِهَا وَعَدَسِهَا وَبَصَلِهَا قَالَ أَتَسْتَبْدِلُونَ الَّذِي هُوَ أَدْنَى بِالَّذِي هُوَ خَيْرٌ اهْبِطُوا مِصْرًا فَإِنَّ لَكُمْ مَا سَأَلْتُمْ وَضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ وَالْمَسْكَنَةُ وَبَاءُوا بِغَضَبٍ مِنَ اللَّهِ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ كَانُوا يَكْفُرُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ وَيَقْتُلُونَ النَّبِيِّينَ بِغَيْرِ الْحَقِّ ذَلِكَ بِمَا عَصَوْا وَكَانُوا يَعْتَدُونَ
“Dan (ingatlah), ketika kamu berkata: "Hai Musa, Kami tidak bisa sabar (tahan) dengan satu macam makanan saja. sebab itu mohonkanlah untuk Kami kepada Tuhanmu, agar Dia mengeluarkan bagi Kami dari apa yang ditumbuhkan bumi, Yaitu sayur-mayurnya, ketimunnya, bawang putihnya, kacang adasnya, dan bawang merahnya". Musa berkata: "Maukah kamu mengambil yang rendah sebagai pengganti yang lebih baik ? Pergilah kamu ke suatu kota, pasti kamu memperoleh apa yang kamu minta". lalu ditimpahkanlah kepada mereka nista dan kehinaan, serta mereka mendapat kemurkaan dari Allah. hal itu (terjadi) karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh Para Nabi yang memang tidak dibenarkan. demikian itu (terjadi) karena mereka selalu berbuat durhaka dan melampaui batas.” (QS. Al-Baqarah: 61)

Al-Makmun kadang kala membaca sambil duduk, sesekali dengan berdiri, dan pada saat yang lain sambil berjalan. Dan karena itu pula ia pernah berkata, "Jiwa manusia itu sungguh sering kali jenuh."

الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
“ (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan Kami, Tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, Maka peliharalah Kami dari siksa neraka.” (QS. Ali 'Imran: 191)

Ayat ini mengisyaratkan bahwa dalam beribadah pun manusia akan merasa jenuh. Oleh karena itu, maka Allah pun memberikan banyak pilihan bentuk dan cara beribadah kepada para hamba-Nya. Sebagaimana kita ketahui, Allah telah menetapkan pelbagai amalan hati, amalan lisan, amalan badan, dan ada amalan harta. Kita juga tidak hanya diwajibkan shalat, tetapi juga membayar zakat, menjalankan puasa, menunaikan haji dan ikut berjihad. Bahkan, dalam shalat pun kita tak hanya disuruh berdiri saja, tetapi juga ruku', berdiri, sujud, dan duduk.

Semua ini mengisyaratkan bahwa siapapun yang menginginkan kepuasan, semangat yang selalu baru dan produktivitas, maka ia harus pandai membagi waktu kapan ia harus bekerja, merenung dan mencari hiburan. Dalam hal ini membacapun, kita harus variasi; kapan harus membaca al-Qur’an. Tafsir, sirah Rasulullah, hadits, fikih, sejarah, sastra dan ilmu pengetahuan umum. Demikian juga dalam menjalankan kegiatan rutin harian, harus dapat menentukan kapan waktu untuk beribadah, mencari hiburan, mengunjungi  relasi, menerima tamu, berlahraga, dan berkreasi. Dengan begitu, niscaya jiwa akan selalu mersa segar. Wallahu 'Alam...,

Sumber: Dr. Aidh al-Qarni. 2004. La Tahzan; Jangan Bersedih!. Terj. Samson Rahman; Penyunting Syamsuddin TU dan Anis Maftukhin. Jakarta: Qibti Press. h. 78-80.