IMAM BUKHARI GURU YANG RAMAH (810-870)

Wandi Budiman | 12/10/2014 | 0 komentar

IMAM BUKHARI GURU YANG RAMAH (810-870)

Al Bukhari atau lebih terkenal dengan sebutan Imam Bukhari, perangkum hadis-hadis Nabi yang dianggap paling otoritatif hingga saat ini. Hal ini karena bukunya bersama dengan buku karya Imam Muslim, terkenal memuat hadis-hadis yang memiliki tingkat validitas yang sangat tinggi. Bukunya diberi judul Shahih Bukhari (Shahih adalah klasifikasi dari suatu hadits yang otentik karena hadis itu memiliki kontinuitas mata rantai [isnad] yang terjaga, tidak bertentangan dengan penutur lain, dan tidak ada cacat yang tersembunyi didalamnya).


Kebiasaan berkutat diantara hadis-hadis memang telah melekat di keluarga Imam yang memiliki nama asli Muhammad bin Ismail ini. Ayahnya adalah ilmuwan hadis yang mempelajari hadis dari tokoh terkemuka seperti Malik bin Anas. Semenjak usia belia, Imam yang dilahirkan di kota bukhara ini telah diperkenalkan pula tentang studi hadis.

Otak yang cerdas telah membuat Imam Bukhari di usia belasan tahun telah berhasil mengahfal matan (ungkapan atau informasi nyata yang dinisbatkan kepada Nabi) hadis dan buku ulama sebelumnya. Tidak hanya itu, Imam Bukhari telah mengenal betul kisah hidup para perawi yang mengambil bagian dari penukilan sejumlah hadis. Data tanggal lahir, meninggal, temapt lahir, dan sebagainya.

Pada masa remaja itu pula ia diwariskan kekayaan yang lebih dari cukup dari orang tuanya, karena kebaikan hatinya beliau meminjamkan kekayaannya kepada beberapa orang hanya dengan jaminan persahabatan, sehingga ada orang yang enggan mengembalikan pinjaman yang diberikan kepada Imam Bukhari (ada kisah yang menyebutkan jumlah kekayaan yang tidak dibembalikan itu mencapai 25.000 dirham).

Kekayaan yang didapat pada usia muda itu tidak menyurutkan keinginan Imam Bukhari untuk terus menerus mempelajari hadis. Di usia enam belas tahun, beliau pergi menunaikan ibadah haji. Di kedua kota suci, mekkah dan madinah, Imam Bukhari gigih menghadiri perkuliahan yang diisi oleh para ulama atau ilmuwan terkemuka yang ada pada masa itu. Akhirnya, ia memutuskan untuk mengembara dan menetap di berbagai daerah di wilayah kekhalifahan untuk menimba ilmu hadis.

Dalam perjalanannya itu, Imam Bukhari mulai mendapat orang –orang yang ingin menjadi muridnya atau mempelajari ilmu-ilmu hadis yang telah dikuasai oleh Imam Bukhari. Di kalangan para muridnya ini, Imam Bukhari dikenal sebagai guru yang sangant ramah. Alkisah, seorang muridnya yang bernama Muhammad bin Abu Hatim yang mengetahui kebiasaan Imam Bukhari bangun di tengah malam untuk menulis catatan-catatan khusus pada hadis yang telah dipelajarainya. Ketika Muhammad bin Hatim bertanya kepada Imam Bukhari mengapa beliau tidak meminta dirinya saja yang melakukannya, maka Imam Bukhari menjawab bahwa beliau tidak ingin menggangu tidur muridnya.

Ketika Imam bukhari tiba di Bagdad, banyak ulama yang semangat untuk menguji kekuatan hafalan Imam Bukhari yang termasyhur. Walau pengujinya membolak-balik isnad dan matan dari berbagai macam hadis, tetapi Imam Bukhari dapat mengetahuinya dan menerangkan kepada mereka isnad yang mana yang tepat untuk matan hadis yang mereka bacakan dan tanyakan. Dalam mengeritik koleganya Imam Bukhari juga terkenal dalam tutur katanya yang sopan, halus, dan moderat. Pada usia tuanya, ia kembali ke kota kelahirannya dan meninggal disana.

Imam Bukhari memiliki beberapa syarat yang ditegaskannya untuk menetapkan apakah suatu hadis itu dapat dimasukan kedalam kategori shahih atau tidak. Diantaranya adalah perawi harus memiliki tingkat kriteria yang paling tinggi dalam hal watak pribadi, keilmuwan, dan standar akademis. Selain itu harus ada informasi positif tentnag para perawi yang menerangkan bahwa mereka saling bertemu muka dan  para murid belajar langsung dai syaikh hadisnya.

Sebenarnya selain Shahih Bukhari, beliau juga mengeluarkan beragam buku yang tidak membahas ilmu hadis secara spesifik diantaranya kitab At Tarikh al Kabir (Sejarah Besar) yang merupakan buku sejarah.

Sejumlah ilmuwan lain juga mengeluarkan buku Shahih seperti Ibnu Khuzaymah, Ibnu Hibban, Ibnu Sakan, dan Al Syarqi. Tetapi buku Shahih yang paling masyhur setelah Shahih Bukhari adalah Shahih Muslim, yang menyajikan kajian yang cukup mendetil. Pada bagian selanjutnya kita Insya Allah akan membahas mengenai Imam Muslim dengan Kitab Shahih Muslimnya. Wallahu ‘Alam...

[ILMUWAN MUSLIM@KawaniSmart]

Category: , ,

About wandibudiman.blogspot.com:
Blog ini merupakan blog yang dikelola oleh Wandi Budiman, seorang manusia lemah yang selalu mencari keridhaan dari Tuhannya (Allah swt). Terimaksih sudah berkunjung ke Blog ini Semoga apa yang sudah di posting di Blog ini menjadi Sesuatu yang bermanfaat.Amin..

0 komentar