KURIKULUM DAN TEORI BELAJAR

Wandi Budiman | 5/20/2013 | 0 komentar


KURIKULUM DAN TEORI BELAJAR
Disusun untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah Pengembangan Kurikulum Pendidikan Islam

Dosen Pengampu :Dr. Amir Mahrudin, M.Pd.I

Disusun oleh : Wandi Budiman :    F.1010297 

PROGRAM STUDI KEPENDIDIKAN ISLAM FAKULTAS STUDI ISLAM  UNIVERSITAS DJUANDA BOGOR 2012

A.Latar Belakang

Pendidikan sebagai baigian dari sistem sosial tidak terlepas juga dari hal tertentu. Pendidikan merupakan kegiatan yang melibatkan berbagai komponen yang berkaitan erat satu sama lainnya; di mana proses pendidikan dipahami sebagai interaksi antara komponen yang satu dengan yang lainnya guna mencapai tujuan pendidikan. Perpadoan ke-harmonisan dan keseimbangan serta interaksi unsur-unsur esensial pendidikan, pada tahap operasional dipandang sebagai faktor yang sangat menentukan keberhasilan pendidikan. Diantara hal yang perlu diperhatikan untuk menujang dan merelisasikan tujuan pendidikan adalah pengembanan kurikulum pendidikan. Pengembangan kurikulum merupakan bagian yang esensial dalam keseluruhan kegaitan pendidikan.

B. Tujuan Penulisan
 Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagi berikut:
 1. Untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah pengembangan kurikulum pendidikanIslam.
 2. Untuk memperdalam wawasan keilmuan mengenai kurikulum dan teori belajar.


PEMBAHASAN
A. Pengertian Kurikulum dan Teori Belajar
A.1. Pengertian Kurikulum

Secara etimologis, kurikulum berasal dari bahasa Yunani, yaitu curir yang artinya pelari dan curere yang berarti tempat berpacu. Jadi istilah kurikulum berasal dari dunia olah raga pada zaman Romawi Kuno di Yunani, yang mengandung pengertian suatu jarak yang harus ditempuh oleh pelari dari garis start sampai garis finish.[1]

Zakiah Daradjat berpendapat bahwa kurikulum sebagai suatu program yang direncanakan dalam bidang pendidikan dan dilaksanakan untuk mencapai sejumlah tujuan pendidikan tertentu.[2]

Menurut Abdul Qadir Yusuf dalam kitabnya At Tarbiyah wal Mujtama’ mendefinisikan kurikulum yaitu:

المنهج في التربية  الحد يثة با نه مجمو عة خبرات وتجا رب تعلم الا طفال تحت ارشا د المدرسة

Kurikulum  adalah sejumlah informasi dan pengalaman yang dijadikan dasar dalam proses belajar mengajar siswa dibawah koordinasi sekolah.[3]

A.2. Pengertian Teori Belajar

Menurut kamus besar bahasa Indonesia (KBBI) teori adalah pendapat yg didasarkan pada penelitian dan penemuan, didukung oleh data dan argumentasi; penyelidikan eksperimental yang mampu menghasilkan fakta berdasarkan ilmu pasti, logika, metodologi, argumentasi.

Menurut (Snelbecker, 1974 dalam Dahar, 1988: 5) Teori adalah sejumlah proposisi yang terintegrasi secara sintaktik dan yang digunakan untuk memprediksi dan menjelaskan peristiwa-peristiwa yang diamati. Proposisi yang terintegrasi secara sintaktik, artinya, kumpulan proposisi ini mengikuti aturan-aturan tertentu yang dapat menghubungkan secara logis proposisi yang satu dengan proposisi lainnya dan juga pada data yang diamati

Pendapat lainya tentang teori adalah Teori adalah serangkaian variabel, definisi/ dalil yang saling berhubungan yang menghadirkan sebuah pandangan sistematis mengenai suatu fenomena dengan menentukan hubungan antar variabel, dengan maksud menjelaskan fenomena alamiah.

Sedangkan belajar Menurut KBBI adalah berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu; berubah tingkah laku atau tanggapan yg disebabkan oleh pengalaman.

Pendapat lainya mengatakan bahwa belajar adalah segenap rangkaian kegiatan atau aktivitas yang dilakukan secara sadar oleh seseorang dan mengakibatkan perubahan dalam dirinya berupa penambahan pengetahuan atau kemahiran berdasarkan alat indera dan pengalamannya.  Sehingga, setelah belajar peserta didik harus ada perubahan tingkah laku yang positif dalam arti memiliki kecakapan baru serta wawasan pengetahuannya bertambah.

Jadi teori belajar adalah sebuah gagasan atau ide tentang proses belajar yang bertujuan untuk menigkatkan kualitas hasil dari kegiatan belajar mengajar.

Bruner mengemukakan bahwa teori pembelajaran adalah preskriptif dan deskriptif. Preskriptif karena tujuan utama teori pembelajaran adalah menetapkan metode pembelajaran yang optimal, sedangkan deskriptif karena tujuan utama teori belajar adalah menjelaskan proses belajar.

B. Macam – Macam Teori Belajar

Ada tiga kategori utama atau kerangka filosofis mengenai teori-teori belajar, yaitu: teori belajar behaviorisme,  teori belajar kognitivisme, dan  teori belajar konstruktivisme.

Teori belajar behaviorisme hanya berfokus pada aspek objektif diamati pembelajaran. Teori kognitif melihat melampaui perilaku untuk menjelaskan pembelajaran berbasis otak. Dan pandangan konstruktivisme belajar sebagai sebuah proses di mana pelajar aktif membangun atau membangun ide-ide baru atau konsep.

B.1. Teori belajar Behaviorisme

Teori behavioristik adalah sebuah teori yang dicetuskan oleh Gage dan Berliner tentang perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman. Teori ini lalu berkembang menjadi aliran psikologi belajar yang berpengaruh terhadap arah pengembangan teori dan praktik pendidikan dan pembelajaran yang dikenal sebagai aliran behavioristik. Aliran ini menekankan pada terbentuknya perilaku yang tampak sebagai hasil belajar.

Teori behavioristik dengan model hubungan stimulus-responnya, mendudukkan orang yang belajar sebagai individu yang pasif. Respon atau perilaku tertentu dengan menggunakan metode pelatihan atau pembiasaan semata. Munculnya perilaku akan semakin kuat bila diberikan penguatan dan akan menghilang bila dikenai hukuman.

B.2. Teori  Belajar kognitivisme

Teori belajar kognitif mulai berkembang pada abad terakhir sebagai protes terhadap teori perilaku yang yang telah berkembang sebelumnya. Model kognitif ini memiliki perspektif bahwa para peserta didik memproses infromasi dan pelajaran melalui upayanya mengorganisir, menyimpan, dan kemudian menemukan hubungan antara pengetahuan yang baru dengan pengetahuan yang telah ada. Model ini menekankan pada bagaimana informasi diproses.

Peneliti yang mengembangkan teori kognitif  ini adalah Ausubel, Bruner, dan Gagne. Dari ketiga peneliti ini, masing-masing memiliki penekanan yang berbeda. Ausubel menekankan pada apsek pengelolaan (organizer) yang memiliki pengaruh utama terhadap belajar.Bruner bekerja pada pengelompokkan atau penyediaan bentuk konsep sebagai suatu jawaban atas bagaimana peserta didik memperoleh informasi dari lingkungan.

3. Teori Belajar Konstruktivisme

Kontruksi berarti bersifat membangun, dalam konteks filsafat pendidikan dapat diartikan Konstruktivisme adalah suatu upaya membangun tata susunan hidup yang berbudaya modern.

Konstruktivisme merupakan landasan berfikir (filosofi) pembelajaran konstektual yaitu bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas dan tidak sekonyong-konyong.

Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta-fakta, konsep, atau kaidah yang siap untuk diambil dan diingat. Manusia harus mengkontruksi pengetahuan itu dan memberi makna melalui pengalaman nyata.

Dengan teori konstruktivisme siswa dapat berfikir untuk menyelesaikan masalah, mencari idea dan membuat keputusan. Siswa akan lebih paham karena mereka terlibat langsung dalam mebina pengetahuan baru, mereka akan lebih pahamdan mampu mengapliklasikannya dalam semua situasi. Selian itu siswa terlibat secara langsung dengan aktif, mereka akan ingat lebih lama semua konsep.

Sedangkan, perkembangan kognitif itu sendiri merupakan proses berkesinambungan tentang keadaan ketidakseimbangan dan keadaan keseimbangan. Tahap perkembangan kognitif siswa dapat dipahami bahwa pada tahap tertentu cara maupun kemampuan siswa mengkonstruksi ilmu berbedabeda berdasarkan kematangan intelektual siswa (Dahar dikutip Hamzah 2006:4).Berkaitan dengan siswa dan lingkungan belajarnya menurut pandangan konstruktivisme terbagi atas beberapa bagian yaitu :

1.                  Siswa tidak dipandang sebagai sesuatu yang pasif melainkan memiliki tujuan,

2.                  Belajar mempertimbangkan seoptimal mungkin proses keterlibatan siswa

3.                  Pengetahuan bukan sesuatu yang datang dari luar melainkan dikontruksi personal

4.                  Pembelajaran melibatkan pengaturan situasi kelas.[4]

Daftar Bacaan:

1.Daradjat, Zakiah.dkk. 2011. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Aksara

2. Ramayulis. 2010. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta : Kalam Mulia

3. Makalah Penerapan Kurikulum Berasaskan Tauhid di Universitas Djuanda  oleh Dr. Endin Mujahidin, M.Si pada Seminar dan Loka Karya Tauhid World View Universitas Djuanda “Kurikulum Berasaskan Tauhid” tanggal 20 Januari 2012 di Universitas Djuanda Bogor.

4. Hernawan, Asep Hery. dkk. 2007. Pengembangan Kurikulum dan pembelajaran. Jakarta : Universitas Terbuka


[1] Prof. Dr. Ramayulis. Ilmu Pendidikan Islam (jakarta:2010) hal150
[2] Dr. Zakiah darajat.dkk. IlmuPendidikan islam (jakarta : 2011) hal 122
[3] Disampaikan oleh Dr. Endin Mujihidin “Penerapan kurikulum Berbasis Tauhid di Universitas Djuanda” dalam seminar dan loka karya tauhid world view “ kurikulum berasaskan tauhi” di Universitas Djuanda Bogor pada tanggal 20 januari 2012
[4] Alim Sumarno, M.Pd

Category: ,

About wandibudiman.blogspot.com:
Blog ini merupakan blog yang dikelola oleh Wandi Budiman, seorang manusia lemah yang selalu mencari keridhaan dari Tuhannya (Allah swt). Terimaksih sudah berkunjung ke Blog ini Semoga apa yang sudah di posting di Blog ini menjadi Sesuatu yang bermanfaat.Amin..

0 komentar