RESENSI BUKU PENDIDIKAN ISLAM BERKARAKTER & BERADAB

Wandi Budiman | 11/09/2014 | 7 komentar

Dr. Adian Husaini memaparkan bahwa pendidikan karakter saja tidak cukup, tapi harus disertai pendidikan adab. Tanpa adab, manusia bisa berkarakter tapi tidak beradab. Buku ini memaparkan pendidikan karakter dan adab secara praktis dan mendasar, disertai dengan telaah tentang peran budaya ilmu dalam pembangunan peradaban Islam.

RESENSI BUKU PENDIDIKAN ISLAM MEMBENTUK MANUSIA BERKARAKTER & BERADAB

IDENTITAS BUKU

Judul Buku          : Pendidikan Islam Membentuk Manusia Berkarakter & Beradab
Pengarang : Dr. Adian Husaini
Peberbit     : Komunitas NuuN bekerjasama dengan program Pasca Sarjana Pendidikan dan Pemikiran Islam Universitas Ibnu Khaldun, Bogor
Tahun Terbit       : 2011
Kota Terbit          : Depok
Tebal          : vi + 225 halaman
ISBN          : 987-602-99152 - 1-1




PENDIDIKAN ISLAM MEMBENTUK MANUSIA

BERKARAKTER & BERADAB

Pendidikan karakter pada akhir-akhir menjadi wacana yang banyak dibicarakan orang, terutama dikalangan stake holder pendidikan Indonesia. Berawal dari banyaknya penyimpangan-penyimpangan yang dilakukan oleh beberapa kalangan masyarakat pendidikan seperti masalah kenakalan siswa, guru yang bermasalah dan masalah output dari lulusan pendidikan Indonesia yang belum sesuai dengan apa yang menjadi tujuan pendidikan. Sehingga para pakar pendidikan Indonesia menggagas pendidikan karakter di Indonesia dengan memaksimalkannya didalam kurikulum pembelajaran dan proses pendidikan yang dilaksanakan di sekolah-sekolah.

Namun sebenarnya, isu pendidikan karakter di dalam pendidikan Islam bukan sesuatu hal yang baru. Islam sangat menjunjung tinggi nilai-nilai karakter, bahkan memerintahkan umatnya untuk menjadikan karakter sebagai bagian terpenting dari kehidupannya, seperti nilai-nilai kejujuran, kebersihan, keberanian, kerja keras dan sebagainya. Akan tetapi, Islam meletakan karakter itu dalam bingkai dan landasan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah swt, tidak hanya sebagai sebuah nilai kemanusiaan atau sosial semata.

Ketika setiap orang menginginkan keadilan dan mengajak untuk berbuat adil, seorang muslim tidak hanya memandang adil tersebut sebagai sebuah kebaikan untuk dirinya dan orang lain, akan tetapi sikap adil merupakan perintah dari Allah swt yang harus dilaksanakan oleh setiap orang beriman.

Pendidikan Islam berdiri diatas asas nilai-nilai Islam yang terkandung dalam al-Qur’an dan sunnah Rasulullah sebagai pedoman pelaksanan dan pengembangan pendidikan. Asas pendidikan Islam berpandangan bahwa Islam merupakan agama satu-satunya agama yang diridhoi oleh Allah sebagai ajaran yang telah diturunkan Tuhan yang menguasai kehidupan alam semesta melalui Rasul-Nya Muhammad Saw. Inilah pondasi awal yang harus ditanamkan kepada generasi-genarasi bangsa dimasa yang akan datang.

Banyak orang memandang bahwa proses pendidikan di Indonesia selama ini masih belum berhasil bahkan bisa dikatakan gagal, gagal dalam membina peserta didik untuk menjadi orang yang berilmu dan berkarakter sehingga menghasilkan lulusan-lulusan yang hanya pintar dalam berdebat, mempunyi pikiran yang cerdas namun mental dan moralnya lemah. Kegagalan yang lain, contohnya  masih banyak guru-guru yang seharusnya menjadi teladan bagi peserta didiknya malah berperilaku tidak seperti seorang pendidik, pendidikan moral dan karakter hanya sebatas pengetahuan yang akan diujikan ketika ulangan sekolah serta masih banyak permasalahan lainnya. Hal diatas yang melatar belakangi gagasan penerapan pendidikan karakter disemua jenjang pendidikan di Indonesia oleh pemerintah melalui Kementrian Pendidikan Nasional.

Terlepas dari apa yang pemerintah gagas dan lakukan mengenai penerapan pendidikan karakter dalam proses pendidikan di Indonesia, namun sebagai seorang muslim pernahkah kita bertanya apakah karakter saja cukup dalam membangun generasi masa depan bangsa terutama generasi Muslim Indonesia?. Ketika kita melihat bahwa bangsa Cina maju sebagai hasil pendidikan karakter lalu apa bedanya orang komunis yang berkarakter dengan orang muslim yang berkarakter?. Orang komunis atau ateis, dapat menjadi pribadi yang jujur, pekerja keras, berani bertanggungjawab, mencintai kebersihan, dan sebagainya. Bahkan kabarnya, di Jepang jika ketinggalan barang di taksi, hampir pasti akan kembali.

Artinya, karakter yang bagus dapat dibentuk oleh setiap manusia tanpa memandang agamanya. Kemudian, dimana letak perbedaan antara Muslim dan non-Muslim yang berkarakter?  Bagi Muslim, dia dapat juga dan bahkan harus berkarakter mulia. Tepati, bagi Muslim, berkarakter saja tidak cukup. Bedanya antara Muslim dengan non-Muslim meskipun sama-sama berkarakter adalah terletak pada konsep adab. Bagi seorang muslim bukan hanya menjadi seorang yang berkarakter namun juga harus menjadi seorang yang berkarakter dan beradab.

Istilah adab dapat ditemukan dalam sejumlah hadits Rasulullah saw. misalnya bisa dilihat dari salah satu hadits yang diriwayatkan oleh Anas ra, Rasulullah bersabda: “Akrimuu auladakum, wa ahsinuu adabahum”– Muliakanlah anak-anakmu dan perbaikilah adab mereka. (HR Ibnu Majah). Adapun yang dimaksud dengan adab menurut syed Muhammad Naquib al-Attas adalah  pengenalan dan pengakuan akan hak keadaan sesuatu dan kedudukan seseorang. Manusia yang beradab terhadap orang lain akan paham bagaimana mengenali dan mengakui seseorang sesuai harkat dan martabatnya. Dengan adab pula seorang muslim akan dapat menempatkan karakter pada tempatnya, kapan dia harus jujur, kapan dia boleh berbohong, untuk apa dia bekerja dan belajar dengan keras. Dalam pandangan Islam, jika semua itu dilakukan untuk tujuan-tujuan pragmatis duniawi, maka tindakan itu termasuk kategori tidak beradab atau biadab.

Jadi setiap Muslim harus berusaha menjalani pendidikan karakter sekaligus menjadikan dirinya sebagai manusia beradab. Itulah hakekat dari tujuan pendidikan menurut Islam yaitu mencetak manusia yang baik (good man) atau pribadi ideal yaitu manusia yang berkarakter dan beradab.

Salah seorang ilmuwan besar Muslim yaitu Imam al-Ghazali mengemukakan bahwa, untuk meraih kemuliaan haruslah didasari dengan ilmu. Dengan ilmu, manusia tahu jaln yang; ia tahu bagaimana cara mendakinya; tahu bagaimana mengatasi halangan dan rintangan; dan tatkala suatu ketika dia tergelincir diapun tahu, bagaimana dia harus bangkit lagi, dan mendaki lagi menuju puncak taqwa dan bahagia. Kata-kata Imam al-Ghazali ini bisa mewakili betapa pentingnya ilmu bagi kita sebagai manusia. Tidak heran Islam begitu mendorong umatnya untuk tidak pernah berhenti dalam mencari ilmu sebagaimana telah termaktub dalam al-Qur’an dan al-Hadits.

Tradisi mencari ilmu dan melaksanakan pendidikan sudah dicontohkan oleh sahabat-sahabat Rasulullah terutama shabat yang terkenal dengan sebutan ahlu suffah, kemudian diikuti oleh para tabiin dan para ulama. Semangat mereka dalam mencari ilmu sudah banyak dikisahakan dalam buku-buku sejarah, bagaimana Imam Bukhari harus berjalan ribuan bahkan jutaan kilometer dan harus meninggalkan kampung halamannya ke negeri-negeri yang jauh untuk hanya mencari sebuah hadits Rasulullah saw. Imam Syafi’i sudah hapal al-Qur’an pada usia 7 tahun dan hapal kitab al-Muwattha’ karya Imam Malik pada usia 10 tahun. Prof. Wahbah az-Zuhaili penulis Tafsir al-Munir pernah ditanya, berapa jam beliau membaca dan menulis, beliau menjawab: Tidak kurang dari 16 jam sehari. Terus bagaimana dengan kita sekarang?.

Kegemilangan peradaban Islam pada masa-masa keemasannya dilatarbelakangi antara oleh sumber daya manusianya yang sangat menghormati ilmu. Bahkan ketika kita mengkaji salah satu bangsa termaju didunia yaitu Jepang, maka salah satu hal yang mengantarkan mereka menjadi bangsa yang besar adalah kegigihan orang-orang Jepang dalam mencari ilmu.

Kemudian bagaimana Islam memandang seorang ulama?. Islam memempatkan ulama pada posisi yang sentral, bahkan ulama disebut oleh Rasulullah saw, sebagai pewaris dari Nabi dengan warisannya adalah ilmu. Selain untuk mengajarkan kembali ilmu yang telah dimiliknya, ulama juga mempunyai peranan sebagai kontrol sosial baik masyarakat ataupun penguasa. Para ulama di masa lalu juga sering mendapat ujian hidup yang berat, banyak dari mereka yang yang mendapat penyiksaan dari masyarakat bahkan dari penguasa yang tidak sesuai dengan pemikirannya. Keteguhan dan ketinggian ilmu para ulama itulah yang berjasa besar dalam menjaga kemurnian agama Islam yang kita warisi dewasa ini.

Islam sebagai sebuah asas pendidikan telah berhasil membentuk pribadi pribadi teladan dalam sejarah dan menjadi panutan umat dinatarnya adalah Imam Abu Hanifah, Imam Syafi’i, Mohammad Natsir, Pangeran Diponegoro dan masih banyak yang lainnya. Namun terkadang sejarah mengenai seorang tokoh harus ditelusuri lebih jauh, contohnya adalah bagaimana kita sebagai seorang muslim membuat pendidikan sejarah sesuai dengan faktanya, dari kasus penokohan R.A. Kartini yang menuai protes dari sebagian sejarahwan yang melakukan penelitian bahwa R.A. Kartini merupakan tokoh buatan dari pemerintahan Belanda atau kasus-kasus lainnya yang mendiskreditkan Islam. Sehingga perlu rasanya untuk dilakukan Islamisasi di berbagai cabang ilmu contohnya adalah Islamisasi pendidikan Sejarah.

Satu hal yang lain yang menjadi tantangan bagi pendidikan Islam masa kini adalah liberalisasi pendidikan Islam. Liberalisasi pada dasarnya adalah memisahkan antara kepentingan dunia dengan agama,  memisahkan antara pendidikan dengan agama, negara dengan agama dan sebagainya.

Dewasa ini banyak dosen-dosen yang berada di dalam perguruan tinggi Islam yang lebih mengagung-agungkan kaum orientalis yang merupakan kaum liberalis, mereka sangat bangga mengadopsi metode Islam ala orientalis. Bahkan mereka yang menghancuran Islam dari dalam dan selalu mengkritik dan menjatuhkan Islam. Ironisnya para kader orientalis kini telah menjadi penguasa besar di berbagai kampus. Ada yang menjadi rektor, professor, dekan, dan dosen yang menentukan kurikulum dan jabatan di kampus.

Inilah salah satu tantangan terberat yang sedang dan akan dihadapi umat Islam Indonesia dan juga umat Islam di berbagai belahan dunia yang lain. Para tokoh Islam telah berjuang sekuat tenaga untuk mendirikan perguruan-perguruan tinggi Islam dengan tujuan mulia. Tentu merupakan suatu musibah besar jika kampus-kampus ini kemudian dibajak oleh para orientalis untuk mencetak kader-kader yang aktif meruntuhkan bangunan Islam. Padahal, pada pasal 2, Perpre No 11 tahun 1960, tentang pembentukan IAIN disebutkan, bahwa tujuan pembentukan IAIN adalah: “IAIN tersebut bermaksud untuk memberi pengadjaran tinggi dan mendjadi pusat untuk memperkembangkan dan memperdalam ilmu pengetahuan tentang Agama Islam.”

Sudah saatnya seluruh jajaran pejabat, pengelola dan pelaksana pendidikan Islam melakukan intropeksi yang serius dan berani melaukan terobosan besar agar studi Islam menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Kita perlu menegaskan kembali bahwa tujuan utama dari Pendidikan Islam ialah untuk mencetak manusia-manusia yang baik. Jika orang itu memiliki kecerdasan tinggi, maka seharusnya dia diarahkan menjadi ulama atau cendikiwan yang baik. Jika kualitas intelektual anak didik itu pas-pasan, maka harus diarahkan menjadi pekerja yang baik. Dia biasa menjadi pedagang kaki lima yang baik, tukang las yang baik, teknisi komputer yang baik, ataupun petugas kebersihan yang baik. Dunia hanyalah panggung sandiwara, setiap manusia diberikan peran oleh Allah sesuai potensi yang dimilikinya. Di akhirat, semua akan mempertanggungjawabkan seluruh amanah yang diterimanya. wallahu ‘alam. [@KaWani-2014]

Category: , , ,

About wandibudiman.blogspot.com:
Blog ini merupakan blog yang dikelola oleh Wandi Budiman, seorang manusia lemah yang selalu mencari keridhaan dari Tuhannya (Allah swt). Terimaksih sudah berkunjung ke Blog ini Semoga apa yang sudah di posting di Blog ini menjadi Sesuatu yang bermanfaat.Amin..

7 komentar

  1. Buku ini bisa menjadi rujukan bagi setiap orang terutama yang lebih mendalami tentang Pendidikan

  2. wandibudiman says:

    Peran serta pemuda sangat dibutuhkan dalam membangun negeri ini

  3. Kek says:

    memang seharusnya begitu