QEIS BIN SA’AD BIN ‘UBADAH

Unknown | 4/29/2014 | 0 komentar


QEIS BIN SA’AD BIN ‘UBADAH - KALAU TIDAKLAH KARENA ISLAM,MAKA IA LAH AHLI TIPU MUSLIHAT ARAB YANG PALING LIHAI … !

Walaupun usianya masih muda, orang-orang Anshar me­mandangnya seperti seorang pemimpin …. Mereka mengatakan: “Seandainya kami dapat membelikan janggut untuk Qeis dengan harta kami, niscaya akan kami lakukan”. Sebabnya is berwajah licin, tak ada suatu pun kekurangan dari sifat-sifat kepemimpin­annya yang lazim terdapat pada adat kebiasaan kaumnya, selain soal janggut yang oleh para pria dijadikan sebagai tanda ke­jantanan pada wajah-wajah mereka.

Nah, siapakah kiranya pemuda yang sangat dicintai kaumnya ini, sampai-sampai mereka siap mengurbankan harta untuk membelikan janggut yang akan menghiasi mukanya, sebagai penyempurnaan  bentuk luarnya bagi kebesaran hakiki dan kepemimpinan yang    tinggi yang sudah dimilikinya … ?

Itulah dia Qeis bin Sa’ad bin ‘Ubadah!

Berasal dari keluarga Arab yang paling dermawan dari turunan­nya yang mulia . . . . suatu keluarga yang Rasulullah saw. pernah berkata terhadapnya:

“Kedermawanan menjadi tabi’at anggota keluarga ini!”

Ia adalah seorang lihai yang banyak tipu muslihat, seorang Yang mahir, licin dan cerdik, dan orang yang terus terang mengatakan secara jujur tentang dirinya:

“Kalau bukan karena Islam, saya sanggup membikin tipu muslihat yang tidak dapat ditandingi oleh orang Arab mana pun!” Sebabnya, karena ia adalah seorang yang tinggi kecerdasannya, banyak akal dan encer otaknya.

Pada peristiwa Shiffin ia berdiri di fihak Ali menentang Mu’awiyah . . . . Maka duduklah ia merencanakan sendiri tipu muslihat yang mungkin akan membinasakan Mu’awiyah dan para pengikutnya di suatu hari atau pada suatu ketika kelak. Namun ketika ia menyaring macam-macam muslihat yang telah memeras kecerdasannya. Namun, ketika ia menyaring itu disadarinya bahwa itu adalah suatu muslihat jahat yang membahayakan. Maka teringatlah ia akan firman Allah swt.:

“Dan tipu days jahat itu akan hembali menimpa orangnya sendiri!”   (Q.S. 35 al-Fathir:43)

Maka ia pun segera bangkit, lalu membatalkan cara-cara tersebut sambil memohon ampun kepada Allah, serta mulutnya seakan-akan hendak mengatakan: “Demi Allah, seandainya Mu’awiyah dapat mengalahkan kita nanti, maka kemenangannya itu bukanlah karena kepintarannya, tetapi hanyalah karena keshalehan dan ketaqwaan kita . . . . “.

Sesungguhnya pemuda Anshar suku Khazraj ini, adalah dari suatu keluarga pemimpin besar, yang mewariskan sifat-sifat mulia dari seorang pemimpin besar kepada pemimpin besar pula . . . . Ia anak dari Sa’ad bin ‘Ubadah, seorang pemimpin Khazraj, yang akan kita temui riwayatnya di belakang kelak.

Sewaktu Sa’ad masuk Islam, ia membawa anaknya Qeis dan menyerahkannya kepada Rasul sambil berkata: “Inilah khadam anda ya Rasulallah!” Rasul dapat melihat pada diri Qeis segala tanda-tanda keutamaan dan ciri-ciri kebaikan . . .  Maka dirangkul dan didekatkannya ke dirinya dan senantiasalah Qeis menempati kedudukan di sisi Nabi ….

Anas, shahabat Rasulullah pernah mengatakan: “Kedudukan  Qeis bin Sa’ad di sisi Nabi, tak ubah seperti ajudan”.

Selagi Qeis memperlakukan orang-orang lain sebelum ia masuk Islam dengan segala kecerdikannya, mereka tak tahan akan kelihaiannya. Dan tak ada seorang pun di kota Madinah dan sekitarnya yang tidak memperhitungkan kelihaiannya ini secara hati-hati. Maka setelah ia memeluk Islam, Islam mengajarkan kepadanya untuk memperlakukan manusia dengan kejujuran, tidak dengan kelicikan. Ia adalah seorang anak muda yang banyak – amalnya untuk Islam, karena itu di kesampingkannya kelihaiannya, dan tidak hendak mengulangi lagi tindakan-tin­dakan liciknya masa silam. Setiap ia menghadapi suatu kejadian yang sukar, ia ingat kepada prakteknya yang lama, segera sadar­kan diri lalu diucapkannyalah kata-katanya yang bersayap:

“Kalau bukan karena Islam, akan kubuat tipu muslihat yang tidak dapat ditandingi oleh bangsa Arab . . .!”

Tak ada perangai lain pada dirinya yang lebih menonjol dari kecerdikannya kecuali kedermawanannya . . . . Dermawan dan pemurah bukanlah merupakan perangai baru bagi Qeis, karena ia adalah dari keluarga yang turun-temurun terkenal dermawan dan pemurah.

Bagi Qeis sebagai telah menjadi kebiasaan bagi orang-orang yang paling dermawan dan suka membantu di antara suku-suku Arab, ada petugas yang Bering berdiri di tempat ketinggian memanggil para tamu untuk makan Siang bersama mereka …. atau sengaja menyalakan api di malam hari untuk menjadi petunjuk bagi para musafir yang lewat. Orang-orang di zaman itu mengatakan: “Siapa yang ingin memakan lemak dan daging, silahkan mampir ke benteng perkampungan Dulaim bin Hari­tsah . . . !” Dulaim bin Haritsah adalah kakek kedua dari Qeis. Di rumah bangsawan inilah Qeis mendapat didikan kedermawan­an dan kepemurahan ….

Di suatu hari Umar dan Abu Bakar bercakap-cakap sekitar kedermawanan dan kepemurahan Qeis sambil. berkata: “Kalau kita biarkan terus pemuda ini dengan kepemurahannya, niscaya akan habis licin harta orang tuanya … !” Pembicaraan tentang anaknya itu, sampai kepada Sa’ad bin ‘Ubadah, maka serunya: “Siapa dapat membela diriku terhadap Abu Bakar dan Umar …?

Diajarnya anakku kikir dengan memperalat namaku … !”

Pada suatu hari pernah ia memberi pinjaman pada salah seorang kawannya yang kesukaran dengan jumlah besar . . . . Pada hari yang telah ditentukan guna melunasi utang, pergilah orang itu untuk membayarnya kepada Qeis. Ternyata Qeis tidak bersedia menerimanya, ia hanya berkata: “Kami tak hendak menerima kembali apa-apa yang telah kami berikan!”

Fithrah manusia mempunyai kebiasaan yang tak pernah berubah, dan sunnah (hukum) yang jarang berganti-ganti yaitu.: di mana terdapat kepemurahan, terdapat pula keberanian …. Benarlah . . – , sesungguhnya dermawan sejati dan keberanian sejati adalah dua saudara kembar yang tak pernah berpisah satu dari lainnya untuk selama-lamanya. Dan bila anda menemukan kedermawanan tanpa keberanian, ketahuilah bahwa yang anda temukan itu bukanlah sebenarnya kepemurahan …. tetapi suatu gejala kosong dan bohong dari gejala-gejala melagakkan diri dan membusungkan dada. Demikian pula bila bertemu keberanian yang tidak disertai kepemurahan, ketahuilah pula bahwa itu bukanlah keberanian sejati, ia tak lain serpihan dari berani membabi buta dan kecerobohan!

Maka tatkala Qeis bin Sa’ad memegang teguh kendali ke­pemurahan dengan tangan kanannya, ia pun memegang kuat tali keberanian dan kepeloporan dengan tangan kirinya. Seolah-­olah ialah yang dimaksud dengan ungkapan sya’ir:

“Apabila bendera kemuliaan telah dikibarkan. Maka segala kekejian berubah menjadi kebaikan”.

Keberaniannya telah termashur pada semua medan tempur yang dialaminya beserta Rasulullah saw. selagi beliau masih hidup …. Dan kemasyhuran itu bersambung pada pertempuran­pertempuran yang diterjuninya sesudah Rasul meninggal dunia. Keberanian yang selalu berlandaskan kebenaran dan kejujuran sebagai ganti kelihaian dan kelicikan … dengan mempergunakan cara terbuka dan terus terang secara berhadap-hadapan, bukan dengan menyebarkan isyu dari belakang dan tidak pula dengan tipu muslihat busuk, tentu saja membebani dirinya dengan ke­sukaran dan kesulitan yang menekan. Semenjak Qeis membuang jauh kemampuannya yang luar biasa dalam berdiplomasi licik dan bersilat lidah curang, dan ia membawakan diri dengan perangai berani secara terbuka dan terus terang, maka ia merasa puas dengan pembawaan yang baru ini, dan bersedia memikul akibat dan kesukaran yang silih berganti dengan hati yang rela ….

sesungguhnya keberanian sejati memancar dari kepuasan pribadi orang itu sendiri . . . . Kepuasan ini bukan karena dorong­an hawa nafsu dan keuntungan tertentu, tetapi disebabkan oleh ketulusan diri pribadi dan kejujuran terhadap ke­benaran – - – .

Demikianlah, sewaktu timbul pertikaian di antara Ali dan Mu’awiyah, kits lihat Qeis bersunyi-sunyi memencilkan dirinya. Dan terus berusaha mencari kebenaran dari celah-celah kepuasan­nya itu. Hingga akhirnya demi dilihatnya kebenaran itu berada pada pihak Ali, bangkitlah ia dan tampil ke sampingnya dengan gagah berani, teguh hati dan berjuang secara mati-matian. Di medan perang Shiffin, Jamal dan Nahrawan, Qeis merupakan salah seorang pahlawannya yang berperang tanpa takut mati …. Dialah yang membawa bendera Anshar dengan meneriakkan:

“Bendera inilah bendera persatuan ….
Berjuang bersama Nabi dan Jibril pembawa bantuan.
Tiada gentar andaikan hanya Anshar pengibarnya.
Dan tiada orang lain menjadi pendukungnya”.

Dan sesungguhnya Qeis telah diangkat oleh Imam Ali sebagai gubernur Mesir . . . . Tapi sudah semenjak lama Mu’awiyah selalu mengincerkan matanya ke wilayah ini. la memandangnya sebagai permata berlian yang paling berharga pada suatu mahkota yang amat didambakannya . . . . Oleh karena itu tidak lama setelah Qeis memangku jabatan sebagai Kepala Daerah itu, hampir terbit gilanya karena takut Qeis akan menjadi halangan bagi cita-citanya terhadap Mesir sepanjang masa, bahkan sekalipun ia beroleh kemenangan nanti atas Imam Ali dengan ke­menangan yang menentukan ….

Begitulah Mu’awiyah berusaha dengan tipu daya dan mus­lihat yang tidak terbatas pada suatu corak saja, membangkitkan kemarahan yang tidak terbatas dari Imam Ali terhadap Qeis, sampai akhirnya Imam Ali memanggilnya dari Mesir ….

Di sini Qeis memperoleh kesempatan yang menguntungkan untuk mempergunakan kecerdasannya dengan berencana. la telah mengetahui berkat kecerdasannya bahwa Mu’awiyahlah yang memegang peranan dalam memfitnahnya, setelah ia gagal menarik Qeis ke pihaknya untuk memusuhi Imam Ali dan mempergunakan kepemimpinannya untuk membantunya.

Maka untuk mematahkan tipu daya tersebut, Qeis mem­perkuat sokongannya terhadap Ali dan terhadap kebenaran yang diwakili Ali. seorang pemimpin yang saat itu tempat tersangkut­nya kesetiaan dan kepercayaan teguh dari Qeis bin Sa’ad bin Tbadah . . . .

Demikianlah, tidak sedikit pun dirasakannya bahwa Imam Ali telah memecatnya dari Mesir …. Bagi Qeis, tak ada artinya wilayah kekuasaan, tak ada artinya pangkat kepemimpinan dan jabatan. Semuanya itu baginya hanyalah sekedar sarana guna mengabdikan diri bagi aqidah dan Agamanya . . . . Sekalipun jabatan Kepala Daerah di Mesir itu merupakan suatu jalan untuk mengabdikan diri kepada yang haq, namun kedudukan di dekat Imam Ali di medan laga adalah suatu jalan lain yang tak kurang penting dan menggairahkan ….

Keberanian Qeis mencapai puncak kejujurannya dan kema­tangannya sesudah syahidnya Ali dan dibai’atnya Hassan . . . Sesungguhnya Qeis memandang Hassan r.a. sebagai tokoh yang cocok menurut syari’at untuk jadi Imam (Kepala Negara), maka berjanji setialah ia kepadanya, dan berdiri di sampingnya sebagai pembela, tanpa memperdulikan bahaya yang akan menimpa.

Dan di kala Mu’awiyah memaksa mereka untuk menghunus pedang, bangkitlah Qeis memimpin lima ribu prajurit dari orang­-orang yang telah mencukur kepala mereka sebagai tanda ber­kabung atas wafatnya Ali. Hassan mengalah dan lebih suka membalut luka-luka Muslimin yang telah sedemikian parah, maka disuruhnya menghentikan perang yang telah menghabiskan nyawa dan harta itu, lalu berunding dengan Mu’awiyah dan kemudian bai’at kepadanya.

Di sinilah Qeis mulai merenungkan lagi masalah tersebut, maka menurut pendapatnya, sekalipun pendirian Hassan adalah benar, maka pasukan Qeis tetap menjadi tanggung jawabnya dan pilihan terakhir terletak atas hasil keputusan musyawarah. Maka semua mereka dikumpulkannya, lalu ia berpidato di hadapan mereka sambil berkata:

“Jika kalian menginginkan perang, aku akan tabah berjuang bersama kalian sampai salah satu di antara kita diambil maut lebih dulu! Tapi jika kalian memilih perdamaian maka aku akan mengambil langkah-langkah untuk itu . . . “.

Pasukan tentaranya memilih yang kedua maka dimintanya keamanan dari Mu’awiyah yang memberikannya dengan penuh sukacita, karena dilihatnya taqdir telah membebaskannya dari musuhnya yang terkuat, paling gigih serta berbahaya … !

Pada tahun 59 H. di kota Madinah al-Munawwarah, telah pulang ke Rahmatullah seorang pahlawan, yang dengan ke­islamannya dapat mengendalikan kecerdikan dan keahlian tipu muslihatnya serta menjadikannya obat penawar bisa.

Telah berpulang tokoh yang pernah berkata:
“Kalau tidaklah aku pernah mendengar Rasulullah, bersabda:
“Tipu daya dan muslihat licik itu di dalam neraka”
Niscaya akulah yang paling lihai di antara ummat ini …

Ia telah tiada dalam kedamaian, dengan meninggalkan nama harum sebagai seorang laki-laki yang jujur, terus terang, der­mawan dan berani ….

Benar . .. , ia telah berpulang dengan mewariskan pusaka nama baik seorang laki-laki yang terpercaya, baik tentang watak keislamannya maupun tentang tanggung jawab dan menepati janji…
******

ditukil dari Khalid Muh. Khalid, Karakteristik Perihidup Enam Puluh Sahabat Rasulullah. Diponegoro Bandung

Wallahu ‘Alam [Sahabat Nabi]

Category: ,

About wandibudiman.blogspot.com:
Blog ini merupakan blog yang dikelola oleh Wandi Budiman, seorang manusia lemah yang selalu mencari keridhaan dari Tuhannya (Allah swt). Terimaksih sudah berkunjung ke Blog ini Semoga apa yang sudah di posting di Blog ini menjadi Sesuatu yang bermanfaat.Amin..

0 komentar