ABU DZAR AL-GHIFARI (2) HABIS

Wandi Budiman | 4/01/2014 | 0 komentar


Dalam beberapa hari saja daerah Syria seakan berubah menjadi sel-sel lebah yang tiba-tiba menemukan ratu yang mereka ta’ati.  Dan seandainya Abu  Dzar memberikan  isyarat untuk berontak, pastilah api pemberontakan akan berkobar. Tetapi sebagai telah kita katakan tadi, niatnya hanya terbatas untuk membentuk suatu pendapat umum yang harus dihormati, dan agar ucapan-ucapannya menjadi buah bibir di tempat-tempat pertemuan, di masjid dan di jalan-jalan.

Bahaya terhadap perbedaan-perbedaan yang timbul itu mencapai puncaknya, ketika ia mengadakan dialog dengan Mu’awiyah di hadapan umum, di mana yang hadir menyampaikan kepada yang tidak hadir dan beritanya bagaikan terbang dibawa angin. Abu Dzar tampil sebagai orang yang paring jitu ucapannya sebagai telah dilukiskan oleh Nabi sebagai gurunya.

Dengan tidak merasa gentar dan tanpa tedeng aling-aling ditanyainya Mu’awiyah tentang kekayaannya sebelum menjadi wall negeri dan kekayaannya sekarang …. Mengenai rumah yang dihuninya di Mekah dulu, dan mahligai-mahligainya yang terdapat di Syria dewasa ini ….

Kemudian dihadapkannya pertanyaan kepada para shahabat yang duduk di sekelilingnya, yaitu yang ikut bersama Mu’awiyah ke Syria dan telah memiliki gedung-gedung serta tanah-tanah pertanian yang luas pula. Lain ia berseru kepada semua yang hadir:  “Apakah tuan-tuan yang sewaktu Quran  diturunkan kepada Rasulullah, ia berada di lingkungan tuan-tuan”. Jawaban pertanyaan itu diberikannya sendiri, katanya: “Benar, kepada tuan-tuanlah al-Quran diturunkan, dan tuan-tuanlah yang telah mengalami sendiri berbagai peperangan!”

Kemudian diulangi pertanyaannya: “Tidakkah tuan-tuan jumpai dalam al-Quran ayat ini”:

Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafqahhannya dijalan Allah, bahura mereka akan menerima sihsa yang pedih. Yhifu hetika emas dan perak dipanaskan dalam api neraka, lain diseterikahan he kening, ke pinggang dan kepunggung mereka  sambil dikatakan  : Nah, inilah dia yang kalian simpan untuk din kalian itu, maha rasailah akibatnya!” (Q.S. At Taubah:

Mu’awiyah memotong jalan pembicaraannya, katanya: “Ayat ini diturunkan kepadaAhlul Kitab!”, “tidak!”, seru Abu Dzar; “bahkan ia diturunkan kepada kita dan kepadamereka!”

Abu Dzar melanjutkan ucapannya, menasihati Mu’awiyah dan para anak-buahnya agarmelepaskan gedung, tanah serta harta kekayaan itu; dan tidak menyimpan untuk dirimasing-masing kecuali sekedar keperluan sehari-hari.

Berita tcntang Abu Dzar dan seal jawab ini tersebar dari mulut ke mulut, dari orangbanyak ke orang banyak. Semboyannya semakin nyaring terdengar di rumah-rumahdan di jalan jalan: “Sampaikan kepada para penumpuk harta akan seterika seterikaapi neraka!”

Mu’awiyah sadar akan adanya bahaya, ia cemas akan akibat ucapan tokoh ulung ini.Tetapi ia pun mengerti akan pengaruh dan kedudukannya, hingga tidak akanmelakukan hal-hal yang menyakitkannya. Hanya dengan segera ditulisnya suratkepada Khalifah Utsman r.a. mennaaaakin: “Abu Dzar telah merusakorang-orang diSyria!”

Sebagai Jawabannya Utsman mengirim surat meminta Abu Dzar datang ke Madinah.Kembali Abu Dzar berkemas-kemas menyingsingkan kaki celananya, lain berangkat keMadinah. Dan pada hari keberangkatannya itu, Syria menyaksikan saat-saat perpisahan dan ucapan selamat jalan dari khalayak ramai, suatu peristiwa yang luarbiasa yang belum pernah disaksikannya selama ini…!

“Aku tidak memerlukan dunia tuan-tuan  ‘”

Demikianlah jawaban yang diberikan oleh Abu Dzar kepada Utsman setelah ia tiba di Madinah, yakni setelah berlangsung diskusi yang lama antara mereka. Dari pembicaraan dengan shahabatnya itu, dan berita-berita yang berdatangan kepadanya dari seluruh pelosok yang menyatakan dukungan sebagian besar rakyat terhadappendapat Abu Dzar, Utsman menyadari sepenuhnya bahaya gerakan ini dan kekuatannya. Dari itu ia mengambil keputusan akan membatasi langkahnya, yaitudengan menyuruh Abu Dzar tinggal di dekatnya di Madinah.

Keputusan itu disampaikan dan ditawarkan oleh Khalifah secara lunak lembut danbijaksana, katanya: “Tinggallah di sini di sampingku! Disediakan bagimu unta yanggemuk, yang akan mengantarkan susu pagi dan sore!” “Aku tak perlu akan duniatuan-tuan!”, ujar Abu Dzar.

Benar, ia tidak memerlukan dunia manusia…, karena ia termasuk golongan orang suciyang mencari kekayaan ruhani dan menjalani kehidupas untuk memberi dan bukan untuk menerima! Dimintanyalah kepada khalifah Utsman r.a. agar ia diberi idzin tinggaldi Rabadzah, maka diperkenankannya.

Dalam hangat-hangatnya gerakan revolusi itu Abu Dzar tetap memelihara amanat Allah dan Rasul-Nya, dan meresapkan sampai ke tulang sum-sumnya nasihat yangdiberikan oleh Nabi saw. agar tidak menggunakan senjata. Dan seolah-olah Rasulullahtelah melihat semua yang ghaib; terutama mengenai Abu Dzar dan masa depannya,maka disampaikannyalah nasihat amat berharga itu.

Oleh sebab itu Abu Dzar tak hendak menyembunyikan rasa terkejutnya mendengar sebagian orang yang gemar menyalakan fitnah, telah menggunakan ucapan dan da’wahnya untuk memenuhi keinginan dan siasat licik mereka. Pada suatu harisewaktu ia sedang berada di Rabadzah, datanglah perutusan dari Kufah memintanyauntuk mengibarkan bendera pemberontakan terhadap khalifah. Maka disemburnyamereka dengan kata-kata tegas sebagai berikut:

“Demi Allah, seandainya Utsman hendak menyalibku di tiang kayu yang tertinggi ataudi atas bukit sekalipun, tentulah saya dengar titahnya dan saya taati, saya bershabardan sadarkan diri, dan saya merasa bahwa demikian adalah yang sebaik-baiknyabagiku …!”
“Dan seandainya ia menyuruhku berkelana dari ujung ke ujung dunia, tentulah akansaya dengar dan taati, saya bershabar dan sadarkan diri, dan saya merasa bahwa demikian adalah yang sebaik-baiknya bagiku .. .!”
“Begitu pun jika ia meyuruhku pulang ke rumahku, tentulah akan saya dengar dantaati, saya bershabar dan sadarkan diri, dan saya merasa bahwa demikian adalah yang sebaik-baiknya bagiku .. .!”

Itulah dia seorang pahlawan yang tidak menginginkan sesuatu tujuan duniawi; dankarena itu Allah melimpahinya “pandangan tembus” hingga sekaii lagi ia melihatbahaya dan bencana yang tersembunyi di balik pemberontakan  bersenjata  makadijauhinya.

Sebagaimana ia telah meiihat apa akibatnya bila ia membisu dan tidak buka suarayang tidak lain dari bahaya dan bencana, maka dihindarinya pula. Lalu ditariklahsuaranya bukan pedangnya, menyerukan ucapan benar dan kata-kata tegas, tanpasuatu keinginan pun yang mendorong atau akibat yang akan menghalanginya.

Abu Dzar telah mencurahkan segala tenaganya untuk melakukan perlawanan secaradamai dan menjauhkan diri dari segala godaan kehidupan dunia. Ia akan menghabiskan sisa umurnya untuk melakukan penyelidikan yang lebih dalam tentangharta dan kekuasaan, karena keduanya mempunyai daya tarik dan pangkal fitnahyang dikhawatirkan Abu Dzar terhadap kawan-kawannya yang telah memikul panji-panji Islam bersama Rasulullah saw dan yang harus tetap memikulnya untuk seterusnya.

Di samping itu kekuasaan dan harta merupakan urat nadi kehidupan bagi ummat danmasyarakat, hingga bila keduanya telah beres, maka nasib manusia pun akanmenghadapi bahaya besar.

Abu Dzar berkeinginan agar tak seorang pun di antara shahabat Rasul menjadi pejabat atau pengumpul harta, tetapi hendaklah mereka tetap menjadi pelopor kepada hidayah Allah dan pengabdi bagi-Nya. Ia telah mengenali benar tipu daya dunia dan harta ini, dan menyadari pula bahwa Abu Bakar dan Umar tak mungkin bangkit kembali. Telah pula didengarnya Nabi shallallahu alaihi wasalam memperingatkan shahabat-shahabatnya akan daya tarik dari jabatan ini dan dinasihatkannya:

” Ia merupakan amanat, dan di hari kiamat menyebabkan kehinaan dan penyesalan …, kecuali orang yang mengambilnya secara benar, dan menunaikan kewajiban yang dipikulkan kepadanya”

Demikian ketatnya Abu Dzar mengenai hal ini, sampai-sampai ia menjauhi saudara dan handai taulannya, jika tak boleh dikatakan memutuskan hubungan dengan mereka, disebabkan mereka telah menjadi pejabat yang dengan sendirinya memiliki harta dan berkecukupan.

Pada suatu hari ia ditemui oleh Abu Musa al-Asy’ari, dan demi dilihatnya Abu Dzar, maka dibentangkan kedua tangannya sambil berseru kegirangan dengan pertemuan itu. “Selamat wahai Abu Dzar …selamat wahai saudaraku!”; tetapi Abu Dzar bertiak, katanya: “Aku bukan saudaramu lagi! Kita bersaudara dulu sebelum kamu menjadi pejabat dan gubernur”

Demikian pula ketika pada suatu hari ia ditemui oleh Abu Hurairah yang memeluknya sambil mengucapkan selamat, Abu Dzar menolakkan dengan tangan, katanya: “Menyingkirlah daripadaku, bukankah kamu telah menjadi seorang pejabat; hingga terus-menerus mendirikan gedung, memelihara ternak dan mengusahakan pertanian!” Abu Hurairah menyanggah dengan gigih dan menolak semua desas-desus itu.

Yah, mungkin Abu Dzar bersikap keterlaluan dalam pandangannya terhadap harta dan kekuasaan. Tetspi ia mempunyai logika yang harus dikukuhkan dengan kebenaran dan keimanannya. Maka Abu Dzar berdiri dengan cita-cita dan karyanya, dengan fikiran dan perbuatannya, mengikuti pola yang telah dicontohkan bagi mereka oleh Rasulullah dan kedua shahabatnya Abu Bakar dan Umar …

Dan seandainya sebagian orang melihat, bahwa ukuran itu terlalu ideal yang tak mungkin dapat dicapai, tetapi Abu Dzar menyaksikannya sebagai contoh nyata; yang telah menggariskan jalan hidup dan usaha, terutama bagi pribadi yang hidup di masa Rasulullah; yakni yang melakukan shalat di belakangnya, berjihad bersamanya dan telah mengambil bai’at akan patuh dan mentaatinya.
Lagi pula, sebagaimana telah kita kemukakan, dengan penglihatannya yang tajam ia melihat bahwa harta dan kekuasaan itu mempunyai pengaruh menentukan terhadap nasib manusia.

Oleh sebab itu, setiap kebobrokan yang menimpa amanat tentang keadilan dan kekuasaan dalam seal harta, akan menimbulkan bahaya hebat yang harus segera disingkirkan!

Sepanjang hayatnya, dengan sekuat tenaga Abu Dzar memikul panji contoh utama dari Rasulullah dan kedua shahabatnya, menjadi penyangga dan sebagai orang terpercaya memeliharanya. Dan ia menjadi maha guru dalam-seni menghindarkan diri dari godaan jabatan dan harta kekayaan.

Pada suatu kali ditawarkan orang kepadanya:sebuah jabatan sebagai amir(pemimpin) di Irak, katanya: “Demi Allah, tuan-tuan takkan dapat memancingku dengan dunia tuan-tuan itu untuk selama-lamanya!”

Kali yang lain, seorang kawan ‘melihatnya memakai jubah usang, maka katanya: “Bukankah anda masih punya baju yang lain? Beberapa hari yang lewat saya lihat anda punya dua helai baju baru!”

Jawab Abu Dzar: ‘Wahai putera saudaraku! Kedua baju itu telah kuberikan kepada orang yang lehih membutuhkannya daripadaku!” Kata kawan itu pula: “Demi Allah! Anda juga membutuhkannya!” Menjawablah Abu Dzar: “Ampunilah ya Allah ! Kamu terlalu membesarkan dunia! Tidakkah kamu lihat burdah yang saya pakai ini? Dan saya punya satu lagi untuk shalat Jum’at. saya punya seekor kambing untuk diperah susunya, dan seekor keledai untuk ditunggangi! Ni’mat apa lagi yang lebih besar dari yang kita miliki ini …?”

Pada suatu hari ia duduk menyampaikan sebuah Hadits, katanya:

“Aku diberi wasiat oleh junjunganku dengan tujuh perkara: Disuruhnya  aku  agar  menyantuni  orang-orang miskin dan mendekatkan diri kepada mereka. Disuruhnya aku melihat hepada orang yang di dibawahku dan bukan kepada orang yang di atasku …. Disuruhnya aku agar tidak meminta sesuatu kepada oran lain ,… Disuruhnya aku agar menghubungkan tali shilaturahmi …. Disuruhnya aku mengatakan yang haq walaupun pahit Disuruhnya aku agar dalam menjalankan Agama Allah, tidak takut celaan orang. Dan disuruhnya agar memperbanyak menyebut: “Laa haula Walaa quwwata illaa billah“.

Sungguh, ia hidup menjalani wasiat itu, dan ditempanya corak hidupnya sesuai dengan wasiat itu, hingga ia pun menjadi hati nurani masyarakat dari ummat dan bangsanya. Berkata Imam Ali: “Tak seouang pun tinggal sekarang ini yang tidak memperdulikan celaan orang dalam menegakkan Agama Allah, kecuali Abu Dzar …!”

Hidupnya dibaktikan untuk menentang penyalahgunaan kekuasaan dan penumpukan harta! Untuk menjatuhkan yang salah dan menegakkan yang benar! Mengambil alih tanggung jawab untuk menyampaikan nasihat dan peringatan!

Mereka larang ia memberikan fatwa, tapi suaranya bertambah lantang, katanya kepada yang melarang itu:

“Demi Tuhan yang nyawaku berada di tangan-Nya!
Seandainya tuan-tuan menaruh pedang di atas pundakku, sedang menurut rasa hatiku masih ada kesempatan untuk menyampaikan ucapan Rasulullah yang kudengar daripadanya, pastilah akan kusampaikan juga sebelum tuan-tuan menebas batang leherku…!”

Wahai …. kenapa Kaum Muslimin tak hendak mendengarkan nasihat dan tutur katanya waktu itu …! Seandainya mereka dengarkan, pastilah fitnah yang berkobar dan berlarut-larut; yang menjerumuskan pemerintah dan masyarakat Islam pada bahaya, padam dan mati dalam kandungan..,

Sekarang Abu Dzar sedang menghadapi sakaratul maut di Rabadzah …, suatu tempat yang dipilihnya sebagai tempat kediaman setelah terjadi perbedaan pendapat dengan Utsman radhiallahuanhu. Nah, marilah kita mendapatkannya, untuk melepas kepergian orang besar ini, dan menyaksikan akhir kesudahan dari kehidupannya yang luar biasa!

Seorang perempuan kurus yang berkulit kemerah-merahan dan duduk dekatnya menangis. Perempuan itu adalah isterinya. Abu Dzar bertanya kepadanya: “Apa yang kamu tangiskan padahal maut itu pasti datang?” Jawabnya: “karena anda akan meninggal, padahal pada kita tak ada kain untuk kafanmu!”

Abu Dzar tersenyum dengan amat ramah — seperti halnya orang yang hendak merantau jauh — lain berkata kepada isterinya itu:

“Janganlah menangis! Pada suatu hari, ketika saya berada di sisi Rasulullah bersama beberapa orang shahabatnya, saya dengar beliau bersabda: “Pastilah ada salah seorang di antara kalian yang akan meninggal di padang pasir liar, yang akan disaksikan nanti oleh serombongan orang-orang beriman.. .!”

Semua yang ada di Majlis Rasulullah itu telah meninggal di kampung dan di hadapan jama’ah Kaum Mus~imin, tak ada lagi yang masih hidup di antara mereka kecuali daku…. Nab, inilah daku sekarang menghadapi maut di padang pasir, maka perhatikanlah olehmu jalan ….siapa tahu kalau-kalau rombongan orang-orang beriman itu sudah datang! Demi Allah saya tidak bohong, dan tidak pula dibohongi!”

Dan ruhnya pun kembali ke hadlirat Allah ….
Dan benarlah, tidak salah ….

Kafilah yang sedang berjalan cepat di padang sahara itu terdiri atas rombongan Kaum Mu’minin yang dipimpin oleh Abdullah bin Mas’ud, shahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasalam . Dan sebelum sampai ke tempat tujuan, Ibnu Mas’ud telah melihat sesosok tubuh; sesosok tubuh yang terbujur seperti tubuh mayat, sedang di sisinya seorang wanita tua dengan seorang anak, kedua-duanya menangis.

Dibelokkannya kekang kendaraan ke tempat itu, diikuti dari belakang oleh anggota rombongan. Dan demi pandangannya jatuh ke tubuh mayat, tampak olehnya wajah shahabatnya; saudaranya seagama dan saudaranya dalam membela Agama Allah, yakni Abu Dzar. Air matanya mengucur lebat, dan di hadapan tubuh mayat yang suci itu ia berkata:

“Benarlah ucapan Rasulullah ….
Anda berjalan sebatang kara ….
mati sebatang kara ….
dan dibangkitkan nanti sebatang kara … ! ”

Ibnu Mas’ud radhiallahu anhu pun duduklah, lalu diceritakan kepada para shahabatnya maksud dari pujian yang diucapkannya itu:
“Anda berjalan seorang diri, mati seorang diri dan dibangkitkan nanti seorang diri!”

Ucapan itu terjadi di waktu perang Tabuk tahun kesembilan Hijrah …. Rasulullah saw. telah menitahkan untuk maju memapak dan menghadang pasukan Romawi yang telah berkumpul di suatu tempat, telah slap perang akan menggempur ummat Islam.

Kebetulan waktu Nabi menyerukan Kaum Muslimin untuk berjihad itu, di saat musim susah dan panas terik. Tempat yang akan dituju jaraknya amat jauh, sedang musuh menakutkan pula. Sebagian Kaum Muslimin ada yang enggan ikut serta karena berbagai alasan.

Rasulullah dan para shahabatnya berangkatlah diikuti oleh sebahagian orang setengah terpaksa karena enggan. Dan bertambah jauh perjalanan mereka, bertambah pula kesulitan dan kesusahan yang diderita.

Bila ada orang yang tertinggal di belakang, mereka berkata:
“Wahai Rasulullah! si anu telah tertinggal”. Maka ujarnya:
“Biarkanlah! Andainya ia berguna, tentu akan disusulkan oleh Allah pada kalian. Dan andainya tidak, maka Allah telah membebaskan kalian daripadanya!”

Pada suatu kali, mereka melihat berkeliling, kiuanya tiada tampak oleh mereka Abu Dzar. Maka kata mereka kepada Rasulullah saw.:  “Abu Dzar telah tertinggal, keledainya menyebabkan ia terlambat”. Rasulullah mengulangi jawabannya tadi.

Keledai Abu Dzar memang telah amat lelah disebabkan lapar dan haus serta terik matahari, hingga langkahnya menjadi gontai. Ada dicobanya dengan berbagai akal menghalaunya agar berjalan cepat, tetapi kelelahan bagai merantai kakinya. Abu Dzar merasa bahwa jika demikian ia akan ketinggalan jauh dari Kaum Muslimin hingga tak dapat mengikuti jejak mereka. Maka ia pun turun dari punggung kendaraannya, diambilnya barang-barang dan dipikul di atas punggungnya, lalu diteruskannya perjalanan dengan berjalan kaki. Dipercepatlah langkahnya di tengah-tengah padang pasir yang panas bagai menyala itu, agar dapat menyusul Rasulullah shallallahu alaihi wasalam  dan para shahabatnya.

Di waktu pagi, ketika Kaum Muslimin telah menurunkan barang-barang mereka untuk beristirahat, tiba-tiba salah seorang dari anggota rombongan melihat dari kejauhan debu naik ke atas, sedang di belakangnya kelihatan sosok tubuh seorang laki-laki yang mempercepat langkahnya.
“Wahai Rasulullah!” kata orang yang melihat itu, ” itu ada seorang laki-laki berjalan seorang diri!” Ujar Rasulullah shallallahu alaihi wasalam :

“Mudah-mudahan orang itu Abu Dzar…!” Mereka melanjutkan pembicaraan sambil menunggu pendatang itu selesai menempuh jarak yang memisahkan mereka, di saat mana mereka akan mengetahui siapa dia.

Musafir mulia itu mendekati mereka secara lambat, langkahnya bagai disentakkan dari pasir lembut yang membara, sementara beban di punggung bagai menggantungi tubuhnya. Namun ia  tetap  gembira  penuh  harapan,  karena  berhasil  menyusul kafilah yang dilingkungi barkah, dan tidak ketinggalan dari Rasulullah saw. dan saudara-saudaranya seperjuangan. Setelah ia sampai dekat rombongan, seorang berseru: “Wahai Rasulullah! demi Allah ia Abu Dzar”. Sementara itu Abu Dzar menujukan langkahnya ke arah Rasulullah. Dan demi Rasulullah melihatnya, tersungginglah senyuman di kedua bibir beliau, sebuah senyuman yang penuh santun dan belas kasihan sabdanya:

“Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada Abu Dzar.. .!
la berjalan sebatang kara ….
Meninggal sebatang hara….
Dan dibangkitkan nanti sebatang kara … .!”

Setelah berlalu masa dua puluh tahun atau lebih dari hari yang kita sebutkan tadi, Abu Dzar wafat di padang pasir Rabadzah sebatang kara …,setelah sebatang kara pula ia menempuh hidup yang luar biasa yang tak seorangpun dapat menyamainya. Dan dalam lembaran sejarah, ia muncul sebatang kara – yakni orang satu-satunya – baik dalam keagungan zuhud maupun keluhuran cita…, dan kemudian di sisi Allah ia akan dibangkitkan nanti sebagai tokoh satu-satunya pula, karena dengan tumpukan jasa-jasanya yang tidak terpemadai banyaknya, tak ada lowongan bagi orang lain untuk berdampingan…! ....Wallahu 'Alam.   Ke ABU DZAR AL-GHIFARI (1)

Sumber:
Khalid Muh. Khalid. 2006. Karakteristik Enam Puluh Sahabat Rasulullah. Terj. Mahyuddin Syaf.dkk. Bandung: Diponogoro. h. 75-100

Category: ,

About wandibudiman.blogspot.com:
Blog ini merupakan blog yang dikelola oleh Wandi Budiman, seorang manusia lemah yang selalu mencari keridhaan dari Tuhannya (Allah swt). Terimaksih sudah berkunjung ke Blog ini Semoga apa yang sudah di posting di Blog ini menjadi Sesuatu yang bermanfaat.Amin..

0 komentar