‘AMMAR BIN YASIR TOKOH PENGHUNI SURGA BAG(1)

Wandi Budiman | 5/14/2014 | 0 komentar


‘AMMAR BIN YASIR
SEORANG TOKOH PENGHUNI SURGA

Seandainya ada orang yang dilahirkan di Surga, lalu di­besarkan dalam haribaannya dan jadi dewasa, kemudian dibawa ke dunia untuk jadi hiasan dan nur cahaya, maka ‘Ammar ber­sama ibunya Sumayyah dan bapaknya Yasir, adalah beberapa orang di antara mereka ….


Tetapi kenapa kita mengatakan tadi “seandainya”, seolah-­olah itu hanya pengandaian belaka, padahal keluarga Yasir benar-benar penduduk Surga? Ketika Rasulullah saw. bersabda:

“Shabar wahai keluarga Yasir, tempat yang telah dijanjikan bagi kalian adalah Surga!”


kata-kata itu diucapkannya bukanlah hanya sebagai hiburan belaka, tetapi benar-benar mengakui kenyataan yang diketahui­nya dan menguatkan fakta yang dilihat dan disaksikannya ….

Yasir bin ‘Amir yakni ayahanda ‘Ammar, berangkat me­ninggalkan negerinya di Yaman guna mencari dan menemui salah seorang saudaranya …. Rupanya ia berkenan dan merasa cocok tinggal di Mekah. Bermukimlah ia di sana dan mengikat perjanjian persahabatan dengan Abu Hudzaifah ibnul Mughi­rah….

Abu Hudzaifah mengawinkannya dengan salah seorang sahayanya bernama Sumayyah binti Khayyath, dan dari per­kawinan yang penuh berkah ini, kedua suami isteri itu dikaruniai seorang putera bernama ‘Ammar ….

Keislaman mereka termasuk dalam golongan yang mula pertama, sebagai halnya orang shalih yang diberi petunjuk oleh Allah. Dan sebagai halnya orang-orang shalih yang termasuk dalam golongan yang mula pertama -masuk Islam, mereka cukup menderita karena siksa dan kekejaman Quraisy ….

Orang-orang Quraisy menjalankan siasat terhadap Kaum Muslimin sesuai suasana. Seandainya mereka ini golongan bangsa­wan dan berpengaruh, mereka hadapi dengan ancaman dan gertakan. Abu Jahal orang yang menggertaknya dengan ungkap­an: “Kamu berani meninggalkan agama nenek moyangmu pada­hal mereka lebih baik daripadamu! Akan kami uji sampai di mana ketabahanmu, akan kami jatuhkan kehormatanmu, akan kami rusak perniagaanmu dan akan kami musnahkan harta bendamu!” Dan setelah itu mereka lancarkan kepadanya perang urat syaraf yang amat sengit.

Dan sekiranya yang beriman itu dari kalangan penduduk Mekah yang rendah martabatnya dan yang miskin, atau dari golongan budak belian, maka mereka didera dan disulutnya dengan api bernyala.

Maka keluarga Yasir termasuk dalam golongan yang kedua ini . . . . Dan soal penyiksaan mereka, diserahkan kepada Bani Makhzum. Setiap hari Yasir, Sumayyah dan ‘Ammar dibawa ke padang pasir Mekah yang demikian panas, lalu didera dengan berbagai adzab dan siksa!

Penderitaan dan pengalaman Sumayyah dari siksaan ini amat ngeri dan menakutkan, tetapi tidak akan kita paparkan panjang lebar sekarang ini. Insya Allah pada kesempatan lain akan kita ceritakan pengurbanan dan keteguhan hati yang di­tunjukkan oleh Sumayyah bersama shahabat-shahabat dan kawan-kawan seperjuangannya di hari-hari yang bersejarah itu….

Cukuplah kita sebutkan sekarang tanpa berlebih-lebihan bahwa syahidah Sumayyah telah menunjukkan sikap dan pendirian tangguh, yang dari awal hingga akhirnya telah membukti­kan kepada kemanusiaan suatu kemuliaan yang tak pernah hapus dan kehormatan yang pamornya tak pernah luntur. Suatu sikap yang telah menjadikannya seorang bunda kandung bagi orang-orang Mu’min di setiap zaman, dan bagi para budiman di sepanjang masa ….

Rasulullah saw. tidak lupa mengunjungi tempat-tempat yang diketahuinya sebagai arena penyiksaan bagi keluarga Yasir. Ketika itu tidak suatu apa pun yang dimilikinya untuk menolak bahaya dan mempertahankan diri. Dan rupanya demikian itu sudah menjadi kehendak Allah … .

Maka Agama baru, yakni Agama Nabi Ibrahim yang suci murni, suatu Agama yang hendak dikibarkan panji-panjinya oleh Muhammad saw., bukanlah suatu gerakan perubahan secara vertikal dan horizontal, tetapi merupakan suatu tata cara hidup bagi manusia beriman. Dan manusia beriman ini haruslah me­miliki dan mewarisi bersama Agama itu sejarah lengkap dengan kepahlawanan, perjuangan dan pengurbanannya … .

Pengurbanan-pengurbanan mulia yang dahsyat ini tak ubah­nya dengan tumbal yang akan menjamin bagi Agama dan ‘aqidah keteguhan yang takkan lapuk . . . .! Ia juga menjadi contoh teladan yang akan mengisi hati orang-orang beriman dengan rasa simpati, kebanggaan dan kasih sayang …. Ia adalah menara yang akan menjadi pedoman bagi generasi-generasi mendatang untuk mencapai hakikat Agama, kebenaran dan kebesaran­nya….

Demikianlah, berlaku pula bagi Agama Islam, qurban dan pengurbanan ini. Makna ini telah dijelaskan oleh al-Quran kepada Kaum Muslimin bukan hanya pada satu atau dua ayat. FIrman Allah swt.:

Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan mengatakan: “Kami telah beriman”, padahal mereka belum lagi diuji?
(Q.S. 29 al-’Ankabut:2)

Apakah kalian mengira akan dapat masuk surga, padahal belum lagi terbukti bagi Allah orang-orang yang berjuang di antara kalian, begitu pun orang-orang yang ta bah ?
(Q.S. 3 Ali Imran: 142)

Sungguh, Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, hingga terbuktilah bagi Allah orang-orang yang benar dan terbukti pula orang-orang yang dusts.
(Q.S. 29 al-’Ankabut: 3)

Apakah kalian mengira akan dibiarkan begitu saja, padahal belum lagi terbukti bagi Allah orang-orang yang berjuang di antara kalian?
(Q.S. 9 Attaubat: 16)

Allah tiada hendak membiarkan orang-orang beriman dalam keadaan kalian sekarang ini, hingga dipisahkan­Nya mana-mana yang jelek daripada yang baik.
(Q.S. 3 Ali Imran: 179)

Dan mushibah yang telah menimpa kalian di saat ber­hadapannya dua pasukan, adalah dengan idzin Allah, yakni agar terbukti baginya orang-orang yang beriman!”
(Q.S. 3 Ali Imran: 166)

Memang, demikianlah al-Quran mendidik putera dan para pendukungnya bahwa pengurbanan merupakan essensi atau sari dari keimanan, dan bahwa kepahlawanan menghadapi ke­kejaman dan kekerasan dihadapi dengan kesabaran, keteguhan dan pantang mundur, hanyalah akan membentuk keutamaan iman yang cemerlang dan medgagumkan ….

Oleh sebab itu di kala sedang meletakkan dasarnya, me­mancangkan tiang-tiang dan mengemukakan model contohnya, hendaklah Agama Allah ini memperkukuh diri dengan pengur­banan  dan membersihkan jiwa dengan pengurbanan harta , maka terpilihlah untuk kepentingan mulia ini beberapa orang putera, para pemuka dan tokoh-tokoh utamanya untuk men­jadi ikutan sempurna dan teladan istimewa bagi orang-orang beriman yang menyusul kemudian!

Maka Sumayyah …. Yassir . . . , dan ‘Ammar dari golongan luar biasa yang beroleh barkah ini, adalah pilihan dari taqdir, yang dengan pengurbanan, ketekunan dan keuletan mereka itu, dapat memateri kebesaran dan keabadian Islam secara kuat dan kukuh ….

Telah kita katakan tadi bahwa Rasulullah saw. tiap hari berkunjung ke tempat disiksanya keluarga Yasir, mengagumi ketabahan dan kepahlawanannya . . . , sementara hatinya yang mulia bagaikan hancur karena santun dan belas kasihan menyaksikan mereka menerima siksa yang tak terderitakan lagi.

Pada suatu hari ketika Rasulullah saw. mengunjungi mereka, ‘Ammar memanggilnya, katanya:

“Wahai Rasulullah, adzab yang kami derita telah sampai ke puncak”.
Maka seru Rasulullah saw.:
“Shabarlah, wahai Abal Yaqdhan …. “Shabarlah, wahai keluarga Yasir ….
“Tempat yang dijanjikan bagi kalian ialah Surga …..

Siksaan yang dialami oleh ‘Ammar dilukiskan oleh kawan-wannya dalam beberapa riwayat. Berkata ‘Amax bin Hakam:
‘Ammar itu disiksa sampai-sampai ia tak menyadari apa Yang diucapkannya”.

Berkata pula ‘Ammar bin Maimun:
“Orang-orang musyrik membakar ‘Ammar bin Yasir dengan api. Maka Rasulullah saw. lewat di tempatnya lalu meme­gang kepalanya dengan tangan beliau, sambil bersabda:
“Hai api, jadilah kamu sejuk dingin di tubuh ‘Ammar, sebagaimana dulu kamu juga sejuk dingin di tubuh Ibrahim … “

Bagaimanapun juga, semua bencana itu tidaklah dapat menekan jiwa ‘Ammar, walau telah menekan punggung dan menguras tenaganya. Ia baru merasa dirinya benar-benar celaka, ketika pada suatu hari tukang-tukang cambuk dan para pen­deranya menghabiskan segala daya upaya dalam melampiaskan kedhaliman dan kekejiannya . . . . , semenjak hukuman bakar dengan besi panas, sampai disalib di atas pasir panas dengan ditindih batu laksana bara merah, bahkan sampai ditenggelam­kan ke dalam air hingga sesak nafasnya dan mengelupas kulit­nya yang penuh dengan luka.

Pada hari itu, ketika ia telah tak sadarkan diri lagi karena siksaan yang demikian berat, orang-orang itu mengatakan ke­padanya: “Pujalah olehmu tuhan-tuhan kami!”, lalu diajarkan mereka kepadanya kata-kata pujaan itu, sementara ia meng­ikutinya tanpa menyadari apa yang diucapkannya.

Ketika ia siuman sebentar akibat dihentikannya siksaan, ‘tiba-tiba ia sadar akan apa yang telah diucapkannya …. maka hilanglah akalnya dan terbayanglah di ruang matanya betapa besar kesalahan yang telah dilakukannya, suatu dosa besar Yang tak dapat ditebus dan diampuni lagi . . . , hingga beberapa saat dirasakannya siksaan orang-orang musyrik terhadap dirinya sebagai obat pembalur luka dan suatu keni’matan juga – - – -! Dan seandainya ia dibiarkan dalam perasaan itu agak beberapa jam saja, tak dapat tiada tentulah akan membawa ajalnya

Ammar dapat bertahan menanggungkan semua siksa yang ditimpakan atas tubuhnya, ialah karena jiwanya sedang berada ada kondisi puncak. Tetapi sekarang ini, demi disangkanya iwanya telah  menyerah kalah, maka dukacita dan sesal kecewa hampir saja menghabiskan tenaga dan melenyapkan nyawanya Tetapi iradat Allah Yang Maha Agung lagi Maha Tinggi telah memutuskan agar peristiwa yang mengharukan itu mendapat titik kesudahan yang amat luhur

Dan tangan wahyu yang penuh berkah itu pun terulurlah menjabat tangan ‘Ammar, bila menyampaikan ucapan selamat kepadanya: “Bangunlah hai pahlawan . . . .! Tak ada sesalan atasmu dan tak ada cacat …. !

Ketika Rasulullah saw. menemui shahabatnya itu didapati­ya ia sedang menangis, maka disapunyalah tangisnya itu dengan tangan beliau seraya sabdanya:

“Orang-orang kafir itu telah menyiksamu dan menengge­lamkanmu ke dalam air sampai kamu mengucapkan begini dan begitu …. ?

“Benar”, wahai Rasulullah “, ujar ‘Ammar sambil meratap. Maka sabda Rasulullah sambil tersenyum: “Jika mereka memaksamu lagi, tidak apa, ucapkanlah seperti apa yang kamu katakan tadi …. !”

Lalu dibacakan Rasullulah  kepadanya ayat mulia seperti ini:
Kecuali orang yang dipaksa, sedang hatinya tetap teguh dalam keimanan …. (Q.S. 16 an-Nahl: 106)

Kembalilah ‘Ammar diliputi oleh ketenangan dan dera yang menimpa tubuhnya bertubi-tubi tidak terasa sakit lagi, dan apa juga yang akan terjadi, terjadilah dan ‘a tidak akan peduli. jiwanya berbahagia, keimanannya di fihak yang menang! ucaapan yang dikeluarkan secara terpaksa itu dijamin bebas oleh Al-Qur’an , maka apa lagi yang akan dirisaukannya . . . ?

‘Ammar menghadapi cobaan dan siksaan itu dengan ketabahan luar biasa, hingga pendera-penderanya merasa lelah dan menjadi lemah, dan bertekuk lutut di hadapan tembok keimanan yang maka kukuh …. !

Setelah pindahnya Rasulullah saw. ke Medinah, Kaum Muslimin tinggal bersama beliau bermukim di sana, secepatnya masyarakat Islam terbentuk dan menyempurnakan barisannya.

Maka di tengah-tengah masyarakat Islam yang beriman ini ‘Ammar pun mendapatkan kedudukan yang tinggi …. Rasulullah saw. amat sayang kepadanya, dan beliau sering membanggakan keimanan dan ketaqwaan ‘Ammar kepada para shahabat.

Bersabda Rasulullah saw.:
“Diri ‘Ammar dipenuhi keimanan sampai ke tulang pung­gungnya …. ! “

Dan sewaktu terjadi selisih faham antara Khalid bin Walid dengan ‘Ammar, Rasulullah saw. bersabda:
“Siapa yang memusuhi ‘Ammar, maka ia akan dimusuhi Allah, dan siapa yang membenci ‘Ammar, maka ia akan dibenci Allah!”

Maka tak ada pilihan bagi Khalid bin Walid pahlawan Islam itu selain segera mendatangi ‘Ammar untuk mengakui kekhilafannya dan meminta ma’af …. !

Suatu peristiwa terjadi pula ketika Rasulullah saw. bersama para shahabat mendirikan mesjid di Madinah, yakni tiada lama setelah kepindahannya ke sana. Imam Ali karamallahu wajhah menggubah sebuah bait sya’ir yang didendangkan berulang-ulang diikuti oleh Kaum Muslimin yang sedang bekerja itu, dan baitnya adalah sebagai berikut:

“Orang yang memakmurkan mesjid nilainya tidak sama . bekerja sambil duduk di sini berdiri di sana … Sedang pemalas lari menghindar tertidur di sana . . .

Kebetulan waktu itu ‘Ammar sedang bekerja di salah satu sisi bangunan. la juga turut berdendang, mengulang-ulangnya dengan nada tinggi …. Salah seorang kawan menyangka bahwa ‘Ammar bermaksud dengan nyanyian itu hendak menonjolkan dirinya, hingga di antara mereka terjadi pertengkaran dan keluar kata­-kata yang menunjukkan kemarahan. Mendengar itu Rasulullah murka, sabdanya:

“Apa maksud mereka terhadap ‘Ammar
Diserunya mereka ke Surga, tapi mereka hendak meng­ajaknya ke neraka …. !
Sungguh, ‘Ammar adalah biji mataku sendiri ….

Jika Rasulullah saw. telah menyatakan kesayangannya terhadap seorang Muslim demikian rupa, pastilah keimanan orang itu, kecintaan dan jasanya terhadap Islam, kebesaran jiwa dan ke­tulusan hati serta keluhuran budinya telah mencapai batas dan puncak kesempurnaan …. !

Demikian halnya ‘Ammar ….

Berkat ni’mat dan petunjuk-Nya, Allah telah memberikan kepada ‘Ammar ganjaran setimpal, dan menilai takaran kebaikannya secara penuh. Hingga disebabkan tingkatan petunjuk dan ke­yakinan yang telah dicapainya, maka Rasulullah menyatakan kesucian imannya dan mengangkat dirinya sebagai contoh teladan bagi para shahabat, sabdanya:

“Contoh dan ikutilah setelah kematianku nanti Abu Bakar dan Umar . . . , dan ambillah pula hiclayah yang dipakai ‘Ammar untuk jadi bimbingan!”

Mengenai perawakannya, para ahli riwayat melukiskannya sebagai berikut:
la adalah seorang yang bertubuh tinggi dengan bahunya yang bidang dan matanya yang biru …. seorang yang amat pendiam dan tak suka banyak bicara ….

Nah, bagaimanakah kiranya garis kehidupan raksasa pendiam yang bermata biru dan berdada lebar, serta tubuhnya penuh dengan bekas-bekas siksaan kejam, dan di waktu yang bersamaan jiwanya telah ditempa dengan ketabahan yang amat mengagum­kan dan kebesaran yang luar biasa . . . ? Bagaimanakah jalan kehidupan yang ditempuh oleh pengikut yang jujur dan Mu’min yang tulus serta pejuang yang berani mati ini.

Sungguh telah diterjuninya bersama Rasulullah sebagai gurunya semua perjuangan bersenjata, baik Badar, Uhud, Khan­daq, Tabuk . . . pendeknya semua tanpa kecuali …. Dan tatkala Rasulullah telah mendahuluinya ke ar Rafiqul A’la, maka raksasa ini tidaklah berhenti, tetapi melanjutkan perjuangannya terus ­menerus ….
Di kala Kaum Muslimin berhadap-hadapan dengan kaum Perri dan Romawi, begitu juga ketika menghadapi pasukan kaum murtad, ‘Ammar selalu berada di barisan pertama . . . , sebagai seorang prajurit yang gagah perkasa dengan tebasan pedangnya yang tak pernah meleset, ia sebagai seorang Mu’min yang shalih dan mulia tidak satu pun yang dapat menghalanginya dalam mencapai ridla Allah.

Dan tatkala Amirul Mu’minin Umar memilih calon-calon wali negeri secara cermat dan hati-hati bagi Kaum Muslimin, maka matanya tetap tertuju dan tak hendak beralih dari ‘Ammar bin Yasir …. Ia segera menemuinya dan mengangkatnya sebagai wali negeri Kufah dengan Ibnu Mas’ud sebagai Bendaharanya. Dan kepada penduduknya Umar menulis sepucuk Surat berita gembira dengan diangkatnya wali negeri baru itu, katanya:

“Saya kirim kepada tuan-tuan ‘Ammar bin Yasir sebagai ‘Amir, dan Ibnu Mas’ud sebagai Bendahara dan Wazir … Kedua mereka adalah orang-orang pilihan, dari golongan shahabat Muhammad saw, dan termasuk pahlawan-pahlawan Badar. . . .!”

Dalam melaksanakan pemerintahan, ‘Ammar melakukan suatu sistim yang rupanya tidak dapat diikuti oleh orang-orang yang rakus akan dunia, hingga mereka mengadakan atau hampir mengadakan persekongkolan terhadap dirinya …. Pangkat dan jabatannya itu tidak menambah kecuali keshalihan, zuhud dan kerendahan hatinya. Salah seorang yang hidup semasa dengannya di Kufah, yaitu Ibnu Abil Hudzail, bercerita:

“Saya lihat ‘Ammar bin Yasir sewaktu menjadi ‘Amir di Kufah, membeli sayuran di pasar lalu mengikatnya dengan tali dan memikulnya di atas punggung, dan membawanya pulang . . . .”.

Dan salah seorang awam  berkata kepadanya sewaktu ia menjadi Amir di Kufah : “ hai orang yang telinganya  terpotong! “, menghinanya dengan telinga yang putus ketika menghadapi orang-orang murtad di pertempuran Yamamah, tetapi jawaban Amir yang memegang tampuk kekuasaan itu tidak lebih dari:

“Yang kamu cela itu adalah telingaku yang terbaik …. Karena ia ditimpa kecelakaan waktu perang fi sabilil­lah…. “.

Memang telinganya putus dalam perang sabil di Yamamah
. , yakni salah satu di antara hari-hari gemilang bagi ‘Ammar
. . . Raksasa ini maju bagaikan angin topan dan menyerbu ,barisan tentara Musailamatul Kadzab sehingga melumpuhkan  kekuatan musuh ….

Ketika dilihatnya gerakan Muslimin mengendor segera dibangkitkannya semangat mereka dengan seruannya yang gemuruh, hingga mereka kembali maju menerjang bagaikan anak  panah yang lepas dari busurnya ….

Abdullah bin Umar r.a. menceritakan peristiwa itu sebagai berikut:
“Waktu perang Yamamah saya lihat ‘Ammar sedang berada di atas sebuah batu karang. Ia berdiri sambil berseru: “Hai Kaum Muslimin, apakah tuan-tuan hendak lari dari Surga … ?Inilah saya ‘Ammar bin, Yasir, kemarilah tuan tuan …. !”

Ketika saya melihat dan memperhatikannya, kiranya sebelah telinganya telah putus beruntai-untai, sedang ia berperang dengan amat sengitnya  . . .”

Wahai, barangsiapa yang masih meragukan kebesaran Mu­hammad saw., seorang Rasul yang benar dan guru yang sem­purna, baiklah ia berdiri sejenak di hadapan contoh-contoh yang telah ditunjukkan oleh para pengikut dan shahabatnya, lalu bertanya kepada dirinya: “Siapakah yang akan mampu me­ngemukakan teladan dan contoh luhur ini kalau bukan seorang Rasul mulia dan maka guru utama?”

Jika mereka menerjuni suatu perjuangan di jalan Allah, pastilah mereka akan maju ke depan bagaikan orang yang hendak mencari maut dan bukan merebut kemenangan …. !

Jika mereka para khalifah dan hakim-hakim pengadilan, maka mereka takkan keberatan memerahkan susu untuk wanita janda tua atau mengadon tepung roti untuk anak-anak yatim, sebagai dilakukan oleh Abu Bakar dan Umar …. !

Dan jika mereka para pembesar, maka mereka takkan malu dan merasa segan untuk memikul makanan yang dhkat dengan tali di atas punggung mereka, seperti kita saksikan pada ‘Ammar; atau menyerahkan gaji yang menjadi haknya lalu pergi menjalin daun kurma untuk kantong atau bakul sebagai yang diperbuat olen Salman …. !

Wahai, marilah kita tekurkan kening dan tundukkan kepala kita, sebagai ta’dhim dan penghormatan kepada Agama yang telah mengajari mereka semua, dan kepada Rasulullah yang telah mendidik mereka …. dan sebelum Agama serta Rasulullah itu, terutama kepada Allah yang Maha tinggi dan Maha Agung, yang telah memilih mereka untuk semua ini, serta menjadikan mereka sebagai pelopor dan sebaik-baik ummat yang pernah dilahirkan sebagai teladan bagi seluruh manusia.....!
*******
ditukil dari Khalid Muh. Khalid, Karakteristik Perihidup Enam Puluh Sahabat Rasulullah. Diponegoro Bandung


Category: ,

About wandibudiman.blogspot.com:
Blog ini merupakan blog yang dikelola oleh Wandi Budiman, seorang manusia lemah yang selalu mencari keridhaan dari Tuhannya (Allah swt). Terimaksih sudah berkunjung ke Blog ini Semoga apa yang sudah di posting di Blog ini menjadi Sesuatu yang bermanfaat.Amin..

0 komentar