MENURUT AYAH, APA YANG HEBAT DARI AKU ???

Wandi Budiman | 5/01/2014 | 0 komentar


MENURUT AYAH, APA YANG HEBAT DARI AKU ???

Ayah mengapa kadang-kadang seseorang begitu sulit mewujudkan mimpi-mimpinya? Mengapa anak-anak ayah yang lain menjadi orang yang berpestasi dan berhasil sementara aku  hanya menjadi pelajar biasa dengan nilai-nilai yang tidak terlalu baik? Aku juga ingin membahagiakan ayah dan ibu seperti apa yang dilakukan Kirana, juara lomba ini dan itu. Tapi, mengapa aku tak bisa melakukannya?” tanya Kautsar pada ayahnya.


“Tidak ada yang sulit selama kita mengetahui potensi terbaik yang kita miliki, Kautsar. Kemudian kita serius untuk mengasah dan mengolahnya supaya menjadi lebih baik lagi. Lagi dan lagi. Maksud ayah, kita harus berusaha. Lalu bersabar dengan setiap prosesnya.”

Kautsar mencerna apa yang dikatakan ayahnya. Di senja yang gerimis itu angin berhembus perlahan. Genangan air bekas hujan terserak basah. Ada bangku tembok dibawah rerimbunan bunga bougenville di taman belakang rumah mereka. Kautsar dan ayahnya duduk berdampingan – menghabiskan waktu berdua di halaman belakang rumah mereka. Daun-daun bersigesek, bergetar perlahan dibelai angin senja.

“Aku selalu sulit menemukan apa yang baik dari ku, Ayah. Mengapa seseorang bisa sulit menemukan yang hebat dari dirinya sementara ia sedang begitu iri pada orang lain yang selalu beruntung dalam hidup mereka?”

Ayah tersenyum saat wajah Kautsar tampak mulai murung dan putus asa. Kautsar menopang dagunya dengan kedua tangannya.

“Pada suatu hari, disuatu masa, seorang bangsawan Prancis yang tinggal di kota Paris mengumumkan kepada semua orang bahwa dia begitu membenci menara Eiffel. Tetapi anehnya, setiap hari saat makan siang dan makan malam, dia selalu memilih tempat di sebuah restoran tepat dibawah menara Eiffel. Sahabat, kolega, dan keluarganya tentu saja bertanya-tanya, bukankah dia sangat membenci menara Eiffel?”

Kautsar tampak serius memperhatikan cerita Ayahnya, “Menurutmu, Kautsar, mengapa bangsawan itu selalu makan siang dan makan malam di restoran yang tepat berada dibawah menara Eiffel?”

Kautsar tampak berpikir serius, “Mungkin karena di sana ada makanan favoritnya?” tebaknya.

Ayahnya menggeleng dengan wajah senyum.

Kautsar tampak berpikir sekali lagi, “Mungkin karena suasana di restoran itu begitu indah dan nyaman?”

Ayahnya sekali lagi menggeleng.

“Aku tidak tahu.” Kautsar akhirnya menyerah.

Ayahnya menahan senyumnya, kemudian menarik napas panjang sebelum meneruskan ceritanya, “Kau tahu, Kautsar, mengapa bangsawan itu memilih tempat yang justru paling dekat dengan menara Eiffel, tepat di bawahnya? Karena itulah satu-satunya tempat di paris di mana menara Eiffel tak tampak!”

Kautsar tersenyum lebar, “Ah, ya! Mengapa tak terpikirkan?” katanya.

“Ya mengapa tak terpikirkan?” kata ayahnya sambil tersenyum, “Mengapa tak terpikirkan bahwa kita begitu sulit menemukan kemampuan terbaik dari diri kita karena kita terlalu sering berada dibawahnya? Kadang-kadang kita terus-menerus bersembunyi tepat dibawah diri kita, sehingga tak mampu melihat siapa diri kita sebenarnya.”

Kautsar mengangguk-angguk. “Ayah beritahu aku bagaimana caranya keluar dari dalam diri kita aga bisa melihat hal hebat dari diri kita yang selama ini tak terlihat?”

“Mungkin kau bisa menanyakan pada orang lain, apa yang kalian pikir hebat dariku? Dengan terlebih dahulu menunjukan sebanyak mungkin apa saja yang kau bisa lakukan. Jangan diam saja. Lakukan apa saja yang kamu bisa. Buat semua orang tahu.pada gilirannya, semua orang dan dunia, akan memberitahumu apa yang paling hebat darimu!”

Kautsar tampak begitu bergairah, matanya berbinar, “Menurut ayah, apa yang hebat dari aku?”

Ayahnya menahan tawa. Kautsar jadi cemberut. Lalu ayahnya menepuk-tepuk pundak Kautsar, “Setahu ayah, kamu selalu hebat dalam olah raga. Kamu hebat ketika menggiring bola dan membuat gol. Ayah melihatmu saat pertandingan sepak bola dua bulan lalu. Kamu juga hebat dalam olah raga lainnya, basket misalnya. Bukankah kamu selalu terpilih menjadi pemain inti tim basket sekolah?”

“Olah raga kadang dipandang sebelah mata, Ayah.”

“Tidak kalau kamu menunjukan prestasi yang luar biasa. Dan siapa bilang kamu tidak bisa melakukannya? Sekarang teruslah berlatih. Kau tahu Michael Jordan berlatih lima jam sehari sebelum menjadi megabintang NBA. Maradona berlatih lima hari dalam seminggu sebelum dia dikenal sebagai legenda sepakbola. Seperti mereka, yang mesti kau lakukan adalah menunjukan apapun yang terbaik yang kamu bisa.”

Kautsar mengangguk-angguk. “Mulai sekarang, aku tak akan ragu lagi bercita-cita menjadi seorang atlet hebat, Ayah! Aku pikir ayah dan ibu akan bangga kalau aku berprestasi dalam pelajaran, ternyata selama ini aku keliru.”

Ayahnya tersenyum. “Tidak, anakku. Ayah dan ibu bangga saat kau bisa mengejar dan mewujudkan impianmu. Sebab pada saat kau berusaha mewujudkan impian dan cita citamu sendiri, kamu tengah terus-menerus belajar untuk menjadi dewasa. Pada prinsipnya, semua perjalan mewujudkan impian, selalu adalah proses menuju kedewasaan, Kautsar.”
*******
Dari bukunya Fahd Djibran, Bondan Prakoso & Fade2Black. Hidup Berawal dari Mimpi.

Semoga Bermanfaat [Kisah Inspiratif]

Category: ,

About wandibudiman.blogspot.com:
Blog ini merupakan blog yang dikelola oleh Wandi Budiman, seorang manusia lemah yang selalu mencari keridhaan dari Tuhannya (Allah swt). Terimaksih sudah berkunjung ke Blog ini Semoga apa yang sudah di posting di Blog ini menjadi Sesuatu yang bermanfaat.Amin..

0 komentar