SA’AD BIN ABI WAQQASH SINGA YANG MENYEMBUNYIKAN KUKUNYA BAG(2)

Wandi Budiman | 5/17/2014 | 0 komentar

SA’AD BIN ABI WAQQASH
SINGA YANG MENYEMBUNYIKAN KUKUNYA. Lanjutan....

Pesan dari Umar dilaksanakan oleh Sa’ad. Dikirimnya se­rombongan di antara shahabat-shahabatnya sebagai utusan kepada Rustum panglima tentara Persia untuk menyerunya iman kepada Allah dan Agama Islam.


Soal jawab di antara mereka dengan Panglima Persi itu berlangsung lama, dan akhirnya mereka tidak diperbolehkan lagi berbicara, karena salah seorang di antara mereka me­ngatakan:
“Sesungguhnya Allah telah memilih kami untuk membebas kan hamba-hamba-Nya yang dikehendaki-Nya dari pemujaan berhala kepada pengabdian terhadap Allah Yang Maha Esa, dari kesempitan dunia kepada keluasaannya, dan dari ke­dhaliman pihak penguasa kepada keadilan Islam …. Maka siapa-siapa yang bersedia menerima itu dari kami, kami terima pula kesediaannya dan kami biarkan mereka. Tetapi siapa yang memerangi kami, kami perangi pula mereka hingga kami mencapai apa yang telah dijanjikan Allah … ! ” “Apa janji yang telah dijanjikan Allah itu?” tanya Rustum. Jawab pembicara: “Surga bagi kami yang mati syahid, dan kemenangan bagi yang masih hidup . . .! “

Para utusan kembali kepada panglima pasukan Islam Sa’ad  dan menyampaikan bahwa tak ada pilihan lain daripada perang. Dan airmata Sa’ad berlinang-linang …. la berharap se­andainya saat pertempuran itu dapat diundurkan atau dimajukan sedikit waktu. Ketika itu ia sedang sakit parah hingga ia sulit untuk bergerak. Bisul-bisul bertonjolan di sekujur tubuhnya hingga ia tak dapat duduk, apalagi akan menaiki punggung kudanya dan menerjuni pertempuran yang sengit berkuah darah!

Seandainya saat pecah perang itu terjadi sebelum ia jatuh ia akan menunjukkan prestasi tinggi . . . . Adapun sekarang ini . . *. Tetapi tidak, Rasulullah saw. telah mengajarkan kepada mereka supaya tidak mengatakan “seandainya”, karena kata-­kata itu menunjukkan kelemahan, sedang orang Mu’min yang kuat tidak kehabisan akal dan tidak pernah lemah!

Ketika itu bangkitlah “singa yang menyembunyikan kuku­nya” itu, lalu berdiri di hadapan tentara menyampaikan pidato dengan tak lupa mengutip ayat mulia berikut ini:
Bis millahirrah ma nirrahim
Telah Kami cantumhan dalam Zabur setelah sebelumnya Kami catat dalam (Lauh Mahfudh) peringatan bahwa: Bumi itu diwarisi oleh hamba-hamba-Ku yang shalih – . – .
(Q.S. 21 al-Ambiya:105)

Setelah menyampaikan pidatonya Sa’ad melakukan shalat dhuhur bersama tentaranya, kemudian sambil menghadap ke­pada mereka, ia mengucapkan takbir empat kali: Allaahu Akbar , Allaahu Akbar . . . , Allaahu Akbar. . . , Allaahu Akbar ….

Alam pun gemuruh dan bergema dengan suara takbir, dan sambil mengulurkan tangannya kemuka bagai anak panah yang sedang melepas laju menunjuk ke arah musuh, Sa’ad berseru kepada anak buahnya: “Ayohlah maju dengan barkat dari Allah … !”

Dengan menabahkan diri menanggung sakit yang diderita­nya, Sa’ad naik ke anjung rumah yang ditinggalinya dan yang diambilnya sebagai markas komandonya. Sambil telungkup di atas dadanya yang dialasi bantal sementara pintu anjung itu terbuka lebar . . . . Sedikit saja serangan dari orang-orang Persi ke rumah itu, akan menyebabkan panglima Muslimin jatuh ke tangan mereka, hidup atau mati Tetapi ia tidak gentar dan tidak merasa takut ….

Bisul-bisul pecah berletusan, tetapi ia tidak perduli, hanya terus berseru dan bertakbir serta mengeluarkan perintah kepada anak buahnya:
“Majulah ke kanan . . .”., dan kepada yang lain: “Tutup pertahanan sebelah kiri   awas di depanmu hai Mughirah ke belakang mereka hai Jarir           pukul hai Nu’man …. serbu hai Asy’ats . . , hantam hai Qa’qa’ majulah semua hai shahabat-shahabat Muhammad saw …

Suaranya yang berwibawa, penuh dengan kemauan dan semangat baja, menyebabkan masing-masing prajurit itu berubah menjadi kesatuan yang utuh. Maka berjatuhanlah tentara Persi, tak ubah bagai lalat-lalat yang berkaparan, dan rubuhlah bersama mereka keberhalaan dan pemujaan api!

Dan setelah melihat tewasnya panglima bestir dan prajurit ­prajurit pilihan mereka, sisa-sisa musuh tunggang-langgang melarikan diri. Mereka dikejar dan dihalau oleh tentara Islam sampai ke Nahawand lalu ke Mada-in. Ibu kota itu mereka masuki untuk merampas kursi singgasana dan mahkota Kisra yang menjadi lambang keberhalaan.

Di pertempuran Mada-in Sa’ad mencapai prestasi tinggi . . . . Pertempuran ini terjadi kira-kira dua setengah tahun setelah pertempuran Qadisiyah, sementara perang berlangsung secara keeil-keeilan antara Persi dan Kaum Muslimin. Akhirnya semua sisa tentara Persi ini berhimpun di kota-kota Mada-in saja, ber­siap-siap untuk menghadapi pertempuran terakhir dan menentu­kan….

Sa’ad menyadari bahwa situasi medan dan musim meng­untungkan pihak penentang Islam, karena antara pasukannya dan Madain terbentang sungai Tigris yang lebar, alirannya sangat deras karena sedang banjir meluap-luap.Walaupun demikian dengan teguh hati ia tetap memutuskan untuk memulai serangan umum itu pada waktu itu juga, dengan perhitungan bahwa mental pasukan musuh sedang menurun.

Nah, di antaranya peristiwa inilah yang membuktikan bahwa Sa’ad betul-betul sebagai dilukiskan oleh Abdurrahman bin ‘Auf, “singa yang menyembunyikan kukunya”. Keimanan sa’ad dan kepekatan hatinya akan tampak menonjol ketika menghadapi bahaya, hingga dapat mengatasi barang mustahil berkat keberanian yang luar biasa!

Demikianlah Sa’ad mengeluarkan perintah kepada pasukan­nya untuk menyeberangi sungai Tigris, dan disuruhnya me­nyelidiki yang dangkal dari sungai yang dapat dijadikan tempat penyeberangan ini. Dan akhirnya mereka menemukan tempat tersebut, walaupun untuk menyeberanginya tidak luput dari bahaya yang mengancam.

Sebelum tentara memulai penyeberangan, panglima besar Sa’ad menyadari pentingnya pengamanan pinggiran seberang sungai yang hendak dicapai, yakni daerah yang ada dalam ke­kuasaan dan pengawasan musuh.

Ketika itu disiapkannya dua kompi tentara: Pertama yang dinamakannya “kompi sapu jagat”, sebagai komandannya diangkatnya “Ashim bin ‘Amr. Dan yang kedua disebutnya “kompi gerak cepat”, sebagai pemimpinnya diangkatnya Qa’qa bin ‘Amr.

Adapun tugas dari kedua kompi ini ialah menerjuni bahaya dan menetas jalan yang aman menuju pinggir sebelah musuh dan melindungi induk pasukan yang akan mengiringi mereka dari belakang. Dan mereka telah menunaikan tugas itu dengan kemahiran yang mena’jubkan .. .

Hingga siasat yang dilakukan Sa’ad ketika itu mencapai hasil yang mengagumkan bagi para  ahli sejarah, bahkan bagi diri Sa’ad bin Abi Waqqash sendiri ….

Salman al-Farisi, yakni teman dan kawan seperjuangannya dalam pertempuran itu, juga hampir-hampir tak percaya akan hasil yang telah dicapai. la menepukkan kedua belah tangannya karena ta’jub dan bangga, katanya:
“Agama Islam masih baru ….
Tetapi lautan telah dapat mereka taklukkan,
sebagai halnya daratan telah mereka kuasai ….
Demi Allah yang nyawa Salman berada dalam tangan Nya, pastilah mereka akan dapat keluar dengan selamat daripada­nya berbondong-bondong, sebagaimana mereka telah memasukinya berbondong ­bondong … !”

Dan benarlah apa yang dikatakannya itu ….
Sebagaimana mereka telah terjun ke dalam sungai gelombang demi gelombang, demikianlah pula mereka keluar dari dalamnya dan mencapai seberang sana gelombang demi gelombang pula. Tak seorang pun dari mereka kehilangan prajurit, bahkan tak sedikit pun tentara Persi yang mampu mengunjukkan giginya . .!

Mangkok tempat minumannya seorang prajurit jatuh ke dalam air. Maka ia tak ingin jadi satu-satunya orang yang ke­hilangan barang waktu penyeberangan itu. Kepada teman-teman­nya diserukannya agar menolongnya untuk menclapatkan barang itu kembali. Kebetulan suatu ombak besar melemparkan mang­kok itu ke dekat rombongan hingga dapat mereka pungut ….

Salah satu riwayat tentang sejarah melukiskan bagaimana dahsyatnya suasana ketika penyeberangan sungai Tigris itu, katanya:
“Sa’ad memerintahkan Kaum Muslimin agar membaca: Hasbunallaahu wa ni’mal wakiil — cukuplah bagi kita Allah, dan Dialah sebaik-baik pemimpin — Lalu dikerahkanlah kudanya menerjuni sungai yang diikuti oleh orang-orangnya, hingga tak seorang pun di antara anggota pasukan yang tinggal di belakang.

Maka berjalanlah mereka dalam air, tak ubah bagai berjalan di darat juga, hingga dari pinggir yang satu ke pinggir lainnya telah dipenuhi oleh prajurit, dan permukaan air tak kelihatan lagi disebabkan amat banyaknya anggota angkatan berkuda serta pasukan pejalan kaki. Orang-orang bercakap-cakap sesamanya ketika berada dalam air, seolah-olah mereka sedang bercakap-cakap di darat. Sebabnya tidak lain karena mereka merasa aman tenteram, serta percaya akan ketentuan Allah dan pertolongan-Nya, akan janji dan bantuan-Nya … ! “

Tatkala Sa’ad diangkat Umar sebagai amir wilayah Irak, ia mulai melakukan pembangunan dan perluasan kota. Kota Kufah diperbesar, dan diumumkanlah hukum Islam serta dilaksanakan di daerah yang luas dan lebar itu.

Pada suatu hari rakyat Kufah mengadukan Sa’ad sebagai wali negerinya kepada Amirul Mu’minin, rupanya mereka sedang dipengaruhi oleh tabi’at yang mudah dihasut, cepat resah, gelisah dan suka memberontak, hingga mereka mengemukakan tuduhan yang bukan-bukan dan mentertawakan. Kata mereka: “Sa’ad tidak baik shalatnya … ! “

Mendengar itu Sa’ad hanya tertawa terbahak-bahak, ujarnya:
“Demi Allah, yang saya lakukan hanyalah mengerjakan shalat bersama mereka sebagai shalat Rasulullah, yaitu memanjangkan dua raka’at yang mula-mula dan memen­dekkan dua raka’at yang akhir”.

Sa’ad dipanggil Umar ke Madinah untuk menghadap. Sa’ad tidak marah, bahkan segera dipenuhi panggilan itu secepatnya. Setelah beberapa lama, Umar bermaksud untuk mengembali­kannya ke Kufah, tapi sambil tertawa Sa’ad menjawab:
‘Apakah anda hendak mengembalikan saya kepada kaum yang menuduh bahwa shalat saya tidak baik … ?

Demikianlah ia memilih tinggal di Madinah.
Ketika Amirul Mu’minin dicederai orang, dipilihnyalah enam orang di antara shahabat-shahabat Rasulullah saw. yang akan mengurus soal pemilihan khalifah baru, dengan mengemuka­kan alasan bahwa keenam orang yang dipilihnya itu adalah terdiri dari orang-orang yang diridlai Rasulullah saw. sewaktu beliau hendak berpulang ke rahmatullah. Maka di antara shahabat yang berenam itu terdapatlah Sa’ad bin Abi Waqqash. Bahkan dari kalimat-kalimat Umar yang akhir terdapat kesan bahwa seandainya ia hendak memilih salah seorang di antara mereka, maka pilihannya akan jatuh pada Sa’ad ….

sewaktu memberi wasiat dan mengucapkan selamat per­pisahan dengan shahabat-shahabatnya, Umar berkata: “Jika khalifah dijabat oleh Sa’ad, demikianlah sebaiknya . . .! Dan seandainya dijabat oleh lainnya, hendaklah ia menjadikan Sa’ad sebagai pendampingnya … !”

Sa’ad mencapai usia lanjut . . . dan tibalah saat terjadinya fitnah besar, dan Sa’ad tak hendak mencampurinya, bahkan kepada keluarga dan putera-puteranya dipesankan agar tidak menyampaikan suatu berita pun mengenai hal itu kepadanya.

Pada suatu ketika perhatian orang sama-sama tertuju ke­padanya, dan anak saudaranya yang bernama Hasyim bin ‘Utbah bin Abi Waqqash datang mendapatkannya, seraya berkata: “Paman, di sini telah siap seratus ribu bilah pedang, yang meng­anggap bahwa pamanlah yang lebih berhak mengenai urusan khilafah ini!”

Ujar Sa’ad:
“Dari seratus ribu bilah pedang itu saya inginkan sebilah pedang saja . I . , jika saya tebaskan kepada orang Mu’min maka takkan mempan sedikit pun juga, tetapi bila saya pancungkan kepada orang kafir pastilah putus batang lehernya … !”

Mendengar jawaban itu anak saudaranya maklum akan maksudnya dan membiarkannya dalam sikap damai dan tak hendak bercampur tangan.
Dan tatkala akhirnya khilafah itu jatuh ke tangan Mu’awiyah dan kendali kekuasaan tergenggam dalam tangannya, ditanyakan kepada Sa’ad:
“Kenapa anda tidak ikut berperang di pihak kami?”
Ujarnya: “Saya sedang lewat di suatu tempat yang dilanda taufan berkabut gelap. Maka kataku: Hai saudara …. hai saudaraku! Lalu saya hentikan kendaraan menunggu jalan terang kembali …”

Kata Mu’awiyah: “Bukankah dalam al-Quran tak ada: Hai saudara, hai saudara! Hanya firman Allah Ta’ala:
Jika di antara orang-orang Mu’min ada dua golongan yang berbunuhan, maka damaikanlah mereka! Seandainya salah satu di antara kedua golongan itu berbuat aniaya kepada yang lain, maka perangilah yang berbuat aniaya itu sampai mereka kembali kepada perintah Allah. . .!
(Q.S.49 al-Hujurat:9)
Maka anda bukanlah di pihak yang aniaya terhadap pihak yang benar, dan bukan pula di pihak yang benar terhadap golongan yang aniaya … !”

Sa’ad menjawab sebagai berikut:
“Saya tak hendak memerangi seorang laki-laki — maksudnya Ali — yang mengenai dirinya Rasulullah pernah bersabda:
Engkau di sampingku, tak ubahnya seperti kedudukan Harun di samping Musa, tetapi (engkau bukan Nabi) tak ada lagi Nabi sesudahku!”

Suatu hari pada tahun 54 H, yakni ketika usia Sa’ad telah lebih dari 80 tahun . . . , ia sedang berada di rumahnya di ‘Aqiq, sedang bersiap-siap hendak menemui Allah Ta’ala ….

Saatnya yang akhir itu diceritakan puteranya kepada kita sebagai berikut:
“Kepala bapakku berada di pangkuanku ketika ia hendak meninggal itu. Aku menangis, maka katanya: Kenapa kamu menangis wahai anakku . . . ? Sungguh Allah tiada akan menghukumku . . . , dan sesungguhnya aku termasuk salah seorang penduduk surga … !”

Kekebalan imannya tak tergoyahkan oleh apapun juga, bahkan tidak oleh goncangan maut dan kengeriannya! Bukankah Rasulullah saw. telah menyampaikan kabar gembira kepadanya sedang ia iman dan percaya penuh akan kebenaran Rasulullah saw. itu! Jadi apa yang akan ditakutkannya lagi … ?

“Sungguh, Allah tiada akan menyiksaku dan Sungguh aku termasuk penduduk surga …

Hanya ia hendak menemui Allah dengan membawa kenang-­kenangan yang paling manis dan mengharukan, yang telah menghubungkan dengan Agamanya dan mempertemukan dengan Rasul-Nya …. Itulah sebabnya ia memberi isyarat ke arah peti simpanannya, yang ketika mereka buka dan keluarkan isinya, ternyata sehelai kain tua yang telah usang dan lapuk. Disuruh­lah keluarganya mengafani mayatnya nanti dengan kain itu, katanya:

“Telah kuhadapi orang-orang musyrik waktu perang Badar dengan memakai kain itu dan telah kusimpan ia sekian lama untuk keperluan seperti pada hari ini … ! “

Memang, kain usang yang telah lapuk itu tak dapat dianggap sebagai kain biasa! Ia adalah panji-panji yang senantiasa berkibar di puncak kehidupan tinggi dan panjang yang dilalui pemiliknya dengan Lulus dan bariman serta gagah berani … !

Dan sosok tubuh dari salah seorang yang terakhir meninggal di antara orang-orang Muhajirin ini dipikul di atas pundak orang­orang yang membawanya ke Madinah, untuk ditempatkan dengan aman di dekat sekelompok tokoh-tokoh suci dari pars shahabat yang telah mendahuluinya menemui Allah, dan jasad­jasad mereka yang dipenuhi rasa rindu itu mendapatkan tempat­nya di bumi dan tanah Baqi’.

Selamat jalan wahai Sa’ad …
Selamat jalan wahai pahlawan Qadisiyah, pembebas Madain dan pemadam api pujaan di Persi untuk selama-lamanya … !

*******
ditukil dari Khalid Muh. Khalid, Karakteristik Perihidup Enam Puluh Sahabat Rasulullah. Diponegoro Bandung

Wallahu ‘Alam [Sahabat Nabi]

Category: ,

About wandibudiman.blogspot.com:
Blog ini merupakan blog yang dikelola oleh Wandi Budiman, seorang manusia lemah yang selalu mencari keridhaan dari Tuhannya (Allah swt). Terimaksih sudah berkunjung ke Blog ini Semoga apa yang sudah di posting di Blog ini menjadi Sesuatu yang bermanfaat.Amin..

0 komentar