HUDZAIFAH IBNUL YAMAN SETERU KEMUNAFIKAN BAG(1)

Wandi Budiman | 5/11/2014 | 0 komentar


HUDZAIFAH IBNUL YAMAN
SETERU KEMUNAFIKAN, KAWAN KETERBUKAAN

Penduduk kota Madain berduyun-duyun keluar untuk nyambut kedatangan wali negeri mereka yang baru diangkat dipilih oleh Amirul Mu’minin Umar r.a


Mereka pergi menyambutnya, karena lamalah sudah hati mereka rindu untuk bertemu muka dengan shahabat Nabi yang mulia ini, yang telah banyak mereka dengar mengenai keshalihan ketaqwaannya . . . , begitu pula tentang jasa-jasanya dalam membebaskan tanah Irak ….

Ketika mereka sedang menunggu rombongan yang hendak datang, tiba-tiba muncullah di hadapan mereka seorang laki-laki dengan wajah berseri-seri. la mengendarai seekor keledai yang beralaskan kain usang, sedang kedua kakinya teruntai kebawah, kedua tangannya memegang roti serta garam sedang mulutnya sedang mengunyah …. !

Demi ia berada di tengah-tengah orang banyak dan mereka tahu bahwa orang itu tidak lain dari Hudzaifah ibnul Yaman, mereka jadi bingung dan hampir-hampir tak percaya …. ! Tetapi apa yang Akan diherankan … ?

Corak kepemimpinan bagaimana yang mereka nantikan sebagai pilihan Umar …. ?

Hal itu dapat difahami, karena baik di masa kerajaan Persi terkenal itu atau sebelumnya, tak pernah diketahui adanya kepemimpin semulia ini ….

Hudzaifah meneruskan perjalanan sedang orang-orang ber kerumun dan mengelilinginya… .

Dan ketika dilihat bahwa mereka menatapnya seolah-olah me­nunggu amanat, diperhatikannya air muka mereka, lalu katanya:
“Jauhilah oleh kalian tempat-tempat fitnah ….

Ujar mereka:
“Di manakah tempat-tempat fitnah itu wahai Abu Abdillah

Ujarnya:
“Pintu-rumah para pembesar ….

seorang di antara kalian masuk menemui mereka dan meng­iakan ucapan palsu serta
memuji perbuatan baik yang tak pernah mereka lakukan …. ! “

Suatu pernyataan yang luar biasa di samping sangat mena’jub­kan . .! Dari ucapan yang mereka dengar dari wali negeri Yang baru ini, orang-orang segera beroleh kesimpulan bahwa tak ada yang lebih dibencinya tentang apa Saja yang terdapat di dunia ini, begitu pun yang lebih hina dalam pandangan matanya daripada kemunafikan . . . . Dan pernyataan ini sekaligus me­rupakan ungkapan yang paling tepat terhadap kepribadian wali negeri baru ini, serta siatem yang akan ditempuhnya dalam pemerintahan …. Hudzaifah ibnu Yaman memasuki arena kehidupan ini dengan bekal tabi’at iatimewa. Di antara cirri-cirinya ialah anti kemunafikan, dan mampu melihat jejak dan gejalanya walau tersembunyi di tempat-tempat yang jauh sekali pun ….

Semenjak ia bersama saudaranya, Shafwan, menemani bapaknya menghadap Rasulullah saw. dan ketiganya memeluk Islam, sementara Islam menyebabkan wataknya sertambah terang dan cemerlang . . . , maka sungguh, ia menganutnya itu secara teguh dan suci, serta lurus dan gagah berani, dan dipandangn sifat pengecut, bohong dan kemunafikan sebagai sifat yan rendah dan hina ….

Ia terdidik di tangan Rasulullah saw. dengan kalbu terbuka tak ubah bagai cahaya shubuh, hingga tak suatu pun dari per­soalan hidupnya yang tersembunyi. Tak ada rahasia terpendam dalam lubuk hatinya . . . , seorang yang benar dan jujur, men­cintai orang-orang yang teguh membela kebenaran, sebaliknya mengutuk orang-orang yang berbelit-belit dan riya, orang-orang culas bermuka dua …. !

Ia bergaul dengan Rasullulah saw. dan sungguh, tak ada lagi tempat baik di mana bakat Hudzaifah ini tumbuh subur dan berkembang sebagai halnya di arena ini, yakni dalam pangku­an Agama Islam, di hadapan Rasulullah dan di tengah-tengah

golongan besar Kaum perintis dari shahabat-sahabat Rasulullah saw      Bakatnya ini benar-benar tumbuh menurut kenyataan …. hingga ia berhasil mencapai keahlian dalam membaca tabi’at dan airmuka seseorang. Dalam waktu selintas kilas, ia dapat menebak airmuka dan tanpa susah payah akan mampu menyelidiki rahasia-rahasia yang tersembunyi serta simpanan yang terpendam ….

Kemampuannya dalam hal ini telah sampai kepada apa yang diinginkannya, hingga Amirul Mu’minin Umar r.a. yang dikenal sebagai orang yang penuh dengan inspirasi seorang yang cerdas dan ahli, sering juga mengandalkan pendapat Hudzaifah, begitu pula ketajaman pandangannya dalam memilih tokoh dan mengenali mereka.

sungguh Hudzaifah telah dikaruniai fikiran jernih, menyebabkannya sampai pada suatu kesimpulan, bahwa dalam ke­hidupan ini sesuatu yang baik itu adalah yang jelas dan gamblang, yakni bagi orang yang betul-betul menginginkannya. sebaliknya Yang jelek ialah yang gelap atau samar-samar, dan karena itu orang Yang bijaksana hendaklah mempelajari sumber-sumber mejahatan ini dan kemungkinan-kemungkinannya ….

Demikianlah Hudzaifah r.a. terus-menerus mempelajari kejahatan dan orang-orang jahat, kemunafikan dan orang-orang munaafiq. Berkatalah ia:

“orang-orang menanyakan kepada Rasulullah saw. tentang kebaikan, tetapi saya menanyakan kepadanya tentang kejahatan, karena takut akan terlibat di dalamnya.

Pernah kusertanya: “Wahai Rasulullah, dulu kita berada dalam kejahiliyahan dan diliputi kejahatan, lalu Allah mendatangkan kepada kita kebaikan ini . . . , apakah di balik kebaikan ini ada kejahatan . . . ?””Ada”, ujarnya. “Kemudian apakah setelah kejahatan masih ada lagi kebaikan . . . ?” ‘tanyaku pula. “Memang, tetapi kabur dan bahaya – . . ” ‘ “Apa  bahaya itu … ?” “Yaitu segolongan ummat mengikuti sunnah bukan sunnahku, dan mengikuti petunjuk bukan petunjukku. Kenalilah mereka olehmu dan laranglah . .  “. “Kemudian setelah kebaikan tersebui masihkah ada lagi kejahatan .” tanyaku pula. “Masih ajar Nabi, “yakni para tukang seru di pintu neraka. Barangsiapa menyambut seruan mereka, akan mereka lemparkan ke dalam neraka … ! “

Lalu kutanyakan kepada Rasulullah: “Ya Rasulallah, apa yang harus saya perbuat bila saya menghadapi hal dernikian … ?”UjarRasulullah: “senantiasa mengikuti jama ah Kaum Muslimin dan pemimpin mereka … ! “

“Bagaimana kalau mereka tidak punya jama’ah dan tidak pula pemimpin … ? ” “Hendaklah kamu tinggalkan golong­an itu semua, walaupun kamu akan tinggal di rumpun kayu sampai kamu menemui ajal dalam keadaan demi­kian . ! “

Nah, tidakkah anda perhatikan ucapannya: “orang-orang menanyakan kepada Rasulullah saw. tentang kebaikan, tetapi saya menanyakan kepadanya tentang kejahatan , karena takut akan terlibat di dalamnya … ! “?

Hudzaifah ibnu Yaman menempuh kehidupan ini dengan mata terbuka dan hati waspada terhadap sumber-sumber fitnah dan liku-likunya demi menjaga diri dan memperingatkan manusia terhadap bahayanya. Dengan demikian ia menganaliasa kehidupan dunia ini dan mengkaji pribadi orang Serta meraba situasi . . . Semua masalah itu diolah dan digodok dalam akal pikirannya lalu dituangkan dalam ungkapan seorang filosof yang ‘aril dan bijaksana.

Berkatalah ia:
“Sesungguhnya Allah Ta’ala telah membangkitkan Muham­mad saw. Maka diserunya manusia dari kesesatan kepada kebenaran, dari kekafiran kepada keimanan. Lalu yang menerima mengamalkannyalah, hingga dengan kebenaran itu yang mati menjadi hidup         . , dan dengan kebatilan yang hidup menjadi mati .            Kemudian masa kenabian berlalu, dan datang masa kekhalifahan menurut jejak beliau . .    , dan setelah itu tiba zaman kerajaan yang durjana .

Di antara manusia ada yang menentang, baik dengan hati maupun dengan tangan Serta lisannya maka merekalah yang benar-benar menerima yang haq

Dan di antara mereka ada yang menentang dengan hati dan lisannya tanpa mengikutsertakan tangannya, maka golongan ini telah meninggalkan suatu cabang dari yang haq . . . . Dan ada pula yang menentang dengan hatinya semata, tanpa mengikutsertakan tangan dan lisannya, maka golongan ini telah meninggalkan dua cabang dari yang haq . . . . Dan ada pula yang tidak menentang, baik dengan hati maupun dengan tangan serta lisannya, maka golongan ini adalah mayat-mayat bernyawa . . . .! “

Ia juga berbicara tentang hati, dan mengenai kehidupannya yang beroleh petunjuk dan yang sesat, katanya:

“Hati itu ada empat macam:.
Hati yang tertutup, itulah dia hati orang kafir ….
Hati yang dua muka, itulah dia hati orang munafiq
Hati yang suci bersih, di sans ada pelita yang menyala, itulah dia hati orang yang beriman ….
Dan hati yang beriai keimanan dan kemunafikan. Tamsil keimanan itu adalah laksana sebatang kayu yang dihidupi air yang bersih, sedang kemunafikan itu tak ubahnya bagai bisul yang diairi darah dan nanah. Maka mana di antara keduanya yang lebih kuat, itulah yang menang …. ! “

Pengalaman Hudzaifah yang luas tentang kejahatan dan ketekunannya untuk melawan dan menentangnya, menyebab­kan lidah dan kata-katanya menjadi tajam dan pedas. Hal ini diakuinya kepada kita secara ksatria, katanya:

“Saya datang menemui Rasulullah saw., kataku Padanya: Wahai Rasulullah, lidahku agak tajam terhadap keluargaku, dan saya khawatir kalau-kalau hal itu akan menyebabkan saya masuk neraka . . . . Maka u.jar Rasulullah saw.: lenapa kamu tidak beristighfar . . .? Sungguh, saya ber­istiqfar kepada Allah tiap hari serutus kali … “

Nah, inilah dia Hudzaifah musuh kemunafikan dan shahabat  keterbukaan . . . . Dan tokoh semacam ini pastilah imannya teguh dan kecintaannya mendalam. Demikianlah pula halnya Hudzaifah, dalam keimanan dan kecintaannya ….

Disaksikannya bapaknya yang telah beragama Islam tewas di perang Uhud dan di tangan srikandi Islam sendiri, yang Welakukan kekhilafan karena menyangkanya sebagai orang musyrik ….

Hudzaifah melihat dari jauh pedang sedang dihunjamkan kepada ayahnya, ia berteriak:”ayahku … ayahku …. jangan ia ayahku………………………. Tetapi qadla Allah telah tiba

Dan ketika Kaum Muslimin mengetahui hal itu, merekapun diliputi suasana duka dan sama-sama membisu. Tetapi ~sambil memandangi mereka dengan sikap kasih sayang dan penuh pengampunan, katanya:
“Semoga Allah mengampuni tuan-tuan, Ia adalah sebai-k­baik Penyayang … ! “

Kemudian dengan pedang terhunus ia maju ke daerah tempat  berkecamuknya pertempuran dan membaktikan tenaga serta menunaikan tugas kewajibannya ….

Akhirnya peperangan pun usailah dan berita tersebut sampai ketelinga Rasulullah saw. Maka disuruhnya membayar diyat terbunuhnya ayahanda Hudzaifah (Husail bin Yabir) yang terrnyata ditolak oleh Hudzaifah ini dan disuruh membagikannya kepada Kaum Muslimin. Hal itu menambah sayang dan tingginya penilaian Rasulullah terhadap dirinya ….
******


Category: ,

About wandibudiman.blogspot.com:
Blog ini merupakan blog yang dikelola oleh Wandi Budiman, seorang manusia lemah yang selalu mencari keridhaan dari Tuhannya (Allah swt). Terimaksih sudah berkunjung ke Blog ini Semoga apa yang sudah di posting di Blog ini menjadi Sesuatu yang bermanfaat.Amin..

0 komentar