URGENSI AHKLAQ ISLAM BAGI MANUSIA

Wandi Budiman | 1/17/2014 | 0 komentar


URGENSI AHKLAQ ISLAM BAGI MANUSIA
Akhlaq Rasulullah adalah Al-Qur'an (Gambar: hasmi.org)
Manusia adalah mahkluk yang berkembang. Dalam perkembangannya, ada manusia yang tetap dalam kesucian (fitrah) dirinya, tapi amat banyak yang kemudia mengotori jiwanya . Manusia yang tetap menjaga fitrahnya adalah mereka yang hidup sesuai dengan Ahklaq Islam. Karena itu ahklaq Islam punya arti penting bagi mereka.

Ahklaq adalah peraturan Allah yang bersumberkan Al-Qur'an dan Sunnah Rasul, baik peraturan yang menyangkut hubungan dengan Khlaiq (Allah) maupun mahkluk (yang diciptakan Allah).

Denggan demikian, ahklaq mengandung sisi-sisi persesuaian antara mahkluk (dalam hal ini manusia) dengan Khlaiq (Allah), tegasnya akhlak adalah peraturan tentang bagaimana agar manusia disuakai oleh Allah SWT.
           
Mengapa Manusia Diatur ?
Pertanyaan ini sering diajukan manusia sambil menyatakan bukankah manusia dilengkapi dengan akal dan dengan akal itu manusia dapat membedakan antara yang baik dengan yang buruk.

Argumentasi itu dengan mudah bisa dibantah, kenyataan menunjukan bahwa, manusia tidak bisa membedakan segala sesuatu apakah itu baik atau buruk tampa diberi tahu oleh Allah. Allah menurunkan aturan berupa ajaran Islam kepada manusia dengan banyak maksud.

1. Menjaga Martabat Manusia
Manusia pada mulanya adalah makhluk yang mulia, tapi banyak yang kemudian dikembalikan Allah ketempat yang hina (neraka), karena tidak mampu memelihara kemuliaannya. Allah berfirman : 


لَقَدْ خَلَقْنَا الإنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ (٤) ثُمَّ رَدَدْنَاهُ أَسْفَلَ سَافِلِينَ (٥) إِلا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ فَلَهُمْ أَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُونٍ (٦)

 
"Sungguh Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka). Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, maka bagi mereka pahala yang tida putus-putusnya"(QS. At-Tin [95]; 4-6)

2. Mengatur Ketertiban Hubungan Manusia
Ternyata kita saksikan manusia saling berselisih dan bermusuhan, itu karena tidak mau berpedoman pada Al Kitab yang Allah turunkan. Allah berfirman : 

كَانَ النَّاسُ أُمَّةً وَاحِدَةً فَبَعَثَ اللَّهُ النَّبِيِّينَ مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ وَأَنْزَلَ مَعَهُمُ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ لِيَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ فِيمَا اخْتَلَفُوا فِيهِ .....
 

Manusia itu adalah umat yang satu. (Setelah timbul perselisihan), maka Allah mengutus para Nabi, sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan. Dan Allah menurunkan bersama mereka kitab dengan benar. Untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara mereka berselisihkan....” (QS. 2 : 213)

3. Mengendalikan Hawa Nafsu
Manusia diberi akal dan mafsu, tapi sering kali manusia lebih memperturutkan hawa nafsu karena tertipu oleh godaan syaithan. Agar manusia dapat mengendalikan nadsunya, Allah menurunkan seperangkat aturan untuk manusia. Allah berfirman :  

هُوَ الَّذِي جَعَلَكُمْ خَلائِفَ فِي الأرْضِ فَمَنْ كَفَرَ فَعَلَيْهِ كُفْرُهُ وَلا يَزِيدُ الْكَافِرِينَ كُفْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ إِلا مَقْتًا وَلا يَزِيدُ الْكَافِرِينَ كُفْرُهُمْ إِلا خَسَارًا
   
"Maka apabila orang yang dijadikan (syaithan) menggangap baik pekerjaannya yang buruk, lalu dia meyakini pekerjaan itu baik, (sama dengan orang yang tidak ditipu oleh syaithan)? Maka sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki Nya"(QS. 35 : 8).

4. Menjaga Martabat Khalifah
Manusia adalah khalifah fil ardhi, karena itu manusia harus diberi petunjuk dan bila petunjuk Allah diabaikan, martabatnya sebagai khalifah Allah tidak bisa dipertahankan. Allah berfirman : 

أَفَمَنْ زُيِّنَ لَهُ سُوءُ عَمَلِهِ فَرَآهُ حَسَنًا فَإِنَّ اللَّهَ يُضِلُّ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ فَلا تَذْهَبْ نَفْسُكَ عَلَيْهِمْ حَسَرَاتٍ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ بِمَا يَصْنَعُونَ 
Dialah yang menjadikan kamu khalifah-khalifah di muka bumi. Barang siapa yang kafir maka (akibatnya) kekafirannya menimpa dirinya sendiri. Dan kekafiran orang-orang yang kafir itu tidak lain hanyalah akan menambah kemurkaan pada sisi Tuhannya dan kekafiran orang-orang yang kafir itu tidak lain hanyalah akan menambah kerugian mereka belaka" (QS. 35 : 39)

5. Menjaga Martabat Dai
Da'i adalah orang yang menda'wahkan Islam, predikat ini dapat dipertahankan dengan mulia bila sang da'i dapat mendahului pelaksanaan ajaran Islam. Karena itu Allah memperingkatkan dalam firman Nya : 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لا تَفْعَلُونَ (٢) كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لا تَفْعَلُونَ   

Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat (kerjakan). Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan”  (QS. 61: 2-3)

6. Pertanggung Jawaban di Akhirat
Apa yang dilakukan manusia di dunia, harus mampu di pertanggung jawabkannya, untuk itu manusia harus diberikan pedoman keselamatan hidup di dunia, hingga ia meraih kemuliaan di akhirat. Allah berfirman :


فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ (٧) وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ (٨)

"Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan) nya. Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat di akhirat (balasan) nya pula"(QS. 99 : 7-8). Wallahu 'Alam [Berbagai Sumber]

Category: ,

About wandibudiman.blogspot.com:
Blog ini merupakan blog yang dikelola oleh Wandi Budiman, seorang manusia lemah yang selalu mencari keridhaan dari Tuhannya (Allah swt). Terimaksih sudah berkunjung ke Blog ini Semoga apa yang sudah di posting di Blog ini menjadi Sesuatu yang bermanfaat.Amin..

0 komentar