MAKALAH KAPITA SELEKTA ISLAMIYYAH

Wandi Budiman | 6/03/2013 | 0 komentar

Pada kesempatan ini saya akan share makalah kapita selekta pendidikan Islam atau kapita selekta Islamiyah tentang "Pendidikan dalam Perspektif Islam". apa dan bagaimana pendidikan menurut Islam? inilah sedikit pembahasannya.

Pendidikan dalam Perspektif Islam
A. Pengertian Pendidikan Islam
A.1. Pengertian Pendidikan

Pendidikan berasal dari kata didik yang berarti pelihara dan latih[1] dengan penambahan awalan “pe” dan akhiran “an”, mengandung arti “ perbuatan, hal, cara”. Istilah pendidikan semula berasal dari bahasa Yunani, yaitu paedagogie yang berarti bimbingan yang diberikan kepada anak. Istilah ini kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa inggris dengan Education yang berarti  prosess of teaching, training and learning[2]. Dalam bahasa arab istilah ini sering diterjemahkan dengan tarbiyah[3] yang berarti pendidikan, pengasuhan dan pemeliharaan.[4]

Secara terminologi pendidikan berarti proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dl usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan; proses, cara, perbuatan mendidik.[5] Dalam UU Tentang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003 Perdidikan diartikan sebagai usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.[6]

Sedangkan Jhon Dewey sebagaimana yang dikutip oleh Arifin memandang pendidikan sebagai proses pembentukan kemampuan dasar yang fundamental, baik yang menyangkut daya pikir (intelektual) maupun daya perasaan (Emosional), menuju ke arah tabiat manusia dan manusia biasa.[7]

Dengan demikian pendidikan adalah segala usaha yang dilakukan oleh seorang pendidik untuk mengembangkan potensi peserta didik baik potensi jasmani dan potensi rohaninya ke arah yang utama.

A.2. Pengertian Pendidikan Islam

Penambahan kata “islam” setelah kata “pendidikan” mengandung arti bahwa Islam menjadi nilai yang di anut, dipakai, dipergunakan dan warna yang akan menjadikan nilai tersebut sebagai landasan fundamental dalam  menjalankan setiap kegiatan pendidikan.

Hasil Rumusan Seminar Nasional Islam se-Indonesia di Cipayung, Bogor tanggal 7-11 Mei 1960, memberikan pengertian tentang pendidikan Islam yaitu sebagai bimbingan terhadap pertumbuhan rohani dan jasmani menurut ajaran islam dengan hikmah mengarahkan, mengajarkan, melatih, mengasuh dan mengawasi berlakunya semua ajaran islam.[8]

Hasil Kongres Islam Internasional II tentang Pendidikan Islam, melalui seminar tentang konsepsi dan kurikulum pendidikan Islam di Islamabad, tanggal 15-20 Maret 1980, Menyatakan bahwa Pendidikan Islam ditujukan untuk mencapai keseimbangan pertumbuhan pribadi manusia secara menyeluruh melalui latihan-latihan kejiwaan, akal pikiran,  kecerdasan, perasaan dan pancaindra.[9]

Salah satu pandangan modern dari seorang ilmuwan muslim, pakar pendidikan Islam Dr. Muhammad S. A. Ibrahim (Bangladesh) mengungkapkan pengertian pendidikan Islam sebagaimana yang dikutip oleh Arifin yaitu, Islamic Education is true sense of the term, is a system of Education which enable a man to lead his life according to the islamic ideology, so that he may easily mould his life in accordance with tents of islam. And thus peace and prosperity may prevail in his own life as well as in the whole World. These islamic scheme of Education is, of necessity an all embracing system, for islam encomphasses the entire gamut of muslem life. It can justly be said that all branches of learning which are not islamic are include d in the islamic Education. The scope of islamic Education has been changing at different Time. In view of the demands of the age and the Development of science and Technology, its scope has also widened.[10]

Dari pengertian diatas tentang pendidikan islam maka jelaslah bahwa pendidikan Islam merupakan rangkaian usaha dalam membimbing dan mengarahkan potensi hidup manusia (dalam hal ini peserta didik) berupa kemampuan – kemampuan dasar dan kemampuan belajar, sehingga terjadilah perubahan di dalam kehidupan kepribadian manusia dalam hubungannya dengan kehidupan sosial dan kehidupan alam sekitar dengan didasari nilai-nilai Islami, yaitu nilai-nilai syariah dan akhlakul karimah.

B. Tujuan Pendidikan Islam

Dr. Syed Sajjad Husain dan Dr. Syed Ali Asraf mengemukakan pendapat tentang tujuan dari pendidikan Islam sebagaimana dikutip oleh Bawani, Tujuan pendidikan muslim adalah menciftakan manusia yang baik dan berbudi luhur, yang menyembah Allah  dalam pengertian yang benar dari istilah itu, membangun struktur kehidupan duniawinya sesuai dengan syariah dan melaksanakannya untuk menunjang imannya.[11] Secara rincinya tujuan pendidikan islam adalah sebagai berikut[12]:

1.      Hasanat di Dunia dan di Akhirat

Tujuan pendidikan islam tersebut bisa dilihat dari hadits Rasulullah saw, yang artinya:

“menceritakan kepada kami ZubairIbnu Harb, menceritakan kepada kami Ismail yakni ibn Ulaiyyat dari Abdul Aziz dan dia adalah Ibn Shuhaib ia berkata  Qatadat bertanya kepada Anas “ Do’a apakah yang paling sering digunakan Rasulullah saw?” Anas Menjawab, “ Kebanyakan do’a Nabi adalah, Allahuma atina fi al-dunya Hasan, wa fi al-akhirati hasanat, waqina adzab al-nar,” (HR. Muslim) 

Allah berfiraman dalam QS. Al-baqarah ayat 201:

وِمِنْهُم مَّن يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Artinya: “Dan di antara mereka ada orang yang bendoa: "Ya Tuhan Kami, berilah Kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah Kami dari siksa neraka”(QS. Al-baqarah: 201)

Nas al-Quran dan hadits diatas menunjukan salah satu tujuan pendidikan islam adalah meraih kebahagiaan dunia dan akhirat.

2.      ‘Ubudiyyat kepada Allah

Sudah seharusnya bagi Orang Muslim mejadikan tujuan dari segala sesuatu yang dilakukannya adalah untu beribadah kepada Allah, karena Allah adalah sang pencifta yang Alam semesta. Begitu pula dengan pedidikan Islam, pendidikan juga harus diarahkan agar menfokuskan tujuan kepada pembinaan manusia menjadi hamba Allah set yang saleh. Di dalam Al-Qur’an Surat al-Anam ayat 162 Allah berfirman:

قُلۡ اِنَّ صَلَاتِىۡ وَنُسُكِىۡ وَ مَحۡيَاىَ وَمَمَاتِىۡ لِلّٰهِ رَبِّ الۡعٰلَمِيۡنَۙ 

Artinya: “Katakanlah: Sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” (QS.Al-Anam : 162)

Juga dalam QS. Adz-Dzariyaat ayat 56 Allah berfirman:

  وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ.

Artinya: “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku” (QS. Adz-Dzariyaat : 56)

3.      Pemimpin yang bertanggung jawab

Pendidikan Islam bertujuan untuk mendidik peserta didik yang memiliki kualifikasi pemimpin yang baik sebagi  tujuan pendidikan Islam karena dasar ayat yang dugunakan sebagi landasan adalah QS  al-Baqarah ayat 30:

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً ۖ

Artinya: “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: "Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." (QS. Al-Baqarah : 30)

Rasulullah saw bersabda, yang Artinya:

“ Dari Umar ra berkata bahwasanya Rasulullah saw bersabda, “ kalian semunya adalah pemimpin (Pemelihara, pendidik) dan bertanggung jawab terhadap apa yang dipimpinnya............” (HR. Muslim)

Berdasarkan Nas di atas hendaknya setiap muslim mempunyai kesadaran bahwa dirinya adalah pemimpin dan harus bertanggung jawab atas kepemimpinanya. Untuk membentuk pemimpin yang bertanggung jawab maka dibutuhkan pendidikan yang memiliki tujuan pendidikannya untuk membentuk generasi pemimpin yang amanah, berkualitas dan mumpuni.

4.       Pengembangan Potensi

Kelebihan manusia dari makhluk yang lainnya adalah multipotensi dan multidimensi manusia. Dimensi manusia terdiri dari dimensi jasamani dan rohani. Dalam struktur jasmani dan ruhani itu, Allah memberikan seperangkat kemampuan dasar yang memiliki kecenderungan berkembang. Dalam pandangan islam kemampuan dasar itu disebut Fitrah dalam bahasa Indonesia disebut potensi. Allah berfirman dalam QS. Ar-Rum ayat 30 dan QS.Al-anam ayat 78:

  فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

Artinya: “Maka hadapkanlah wajahmu dengan Lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”(QS. Ar-Rum: 30)

وَاللَّهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ ۙ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Artinya: “Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam Keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.” (QS. An-Nahl : 78)

C. Kurikulum Pendidikan Islam

Kurikulum merupakan salah satu unsur terpenting dalam pendidikan islam. Dengan adanya kurikulum proses pendidikan dan pembelajaran akan terarah dan sesuai dengan tujuan pendidikan. dalam perkembangannya tentu ada perbedaan antara kurikulum pendidikan umum dengan pendidikan islam, baik dari muatan isi dan sebagainya. Maka kurikulum pendidikan menurut An-Nahlawi sebagimana yang dikutip oleh Rasyidin  harus pula memenuhi kriteria diantaranya sebagai berikut[13]:

1.      Sistem dan perkembangan kurikulum hendaknya selaras dengan fitrah insani sehingga memiliki peluang untuk mensicukanya, dan menjaganya dari penyimpangan serta menyelamatkannya.

2.      Kurikulum hendaknya diarahkan untuk mencapai tujuan akhir pendidikan Islam, yaitu ikhlas, taat dan beribadah kepada Allah, disamping merealisasikan tujuan aspek psikis,fisik, sosial, budaya maupun intelektual.

3.      Pertahapan serta pengkhususan kurikulum hendaknya memperhatikan periodesasi perkembangan peserta didik

4.      Kurikulum pendidikan harus memelihara kebutuhan nyata kehidupan masyarakat secara islami.

5.      Kurikulum pendidikan islam hendaknya tidak bertentangan dengan nilai-nilai islam.

6.      Kurikulum hendaknya bersifat realistik

7.      Kurikulum hendaknya bersifat luwes

8.      Kurikulum hendaknya efektif dalam arti beisikan nilai edukatif yang dapat membentuk sikap islami dalam kepribadian anak.

9.      Kurikulum harus memperhatikan aspek-aspek tingkah laku amalia Islami.

Kurikulum pendidikan Islam adalah pencerminan Islami yang dihasilkan dari pemikiran kefilsafatan dalam seluruh aktivitas dan kegiatan kependidikan dalam prakteknya. Konsep inilah yang membedakan kurikulum pendidikan Islam dengan kurikulum pendidikan pada umumnya. Menurut Al- Syaebany, Ciri-ciri kurikulum pendidikan Islam itu adalah[14] :

1.      Mementingkan tujuan agama dan akhlak dalam berbagai hal seperti tujuan dan kandungan, kaedah, alat dan tekniknya.

2.      Memperluas perhatian dan kandungan hingga mencakup perhatian, pengembangan serta bimbingan terhadap segala aspek pribadi pelajar dari segi intelektual, psikologi, sosial, dan spiritual.

3.      Adanya keseimbangan antara kandungan kurikulum dan pengalaman serta kegiatan pengajaran.

4.      Menekankan konsep menyeluruh dan keseimbangan pada kandungannya.

5.      Keterkaitan antara kurikulum pendidikan islam dengan minat, bakat, kemampuan, dan perbedaan individual antara siswa.

D. Pendidikan Seumur Hidup

Pendidikan merupakan suatu proses pembentukan kepribadian manusia. Sebagai suatu proses, pendidikan tidak hanya berlangsung pada suatu saat saja. Akan tetapi harus berlangsung secara berkelanjutan. Dari sinilah muncul istilah pendidikan seumur hidup (life long education) atau pendidikan terus menerus (continuing education).

Konsep pendidikan seumur hidup, sebenarnya sudah sejak lama dipikirkan oleh para pakar pendidikan dari zaman kezaman. Apalagi bagi umat islam, jauh sebelum orang-orang barat mengangkatnya, Islam sudah mengenal pendidikan seumur hidup, sebagai mana dinyatakan oleh hadits Nabi SAW yang berbunyi :

                                                                                           اطلب العلم من المهد الى اللحد

Artinya: tuntutlah ilmu dari buaian sampai meninggal dunia.

Lepas dari sahih atau tidaknya pendapat tersebut, namun itu memberikan masukan yang cukup berharga bagi pendidikan. Di samping itu, pendapat ini tidak bertentangan dengan ajaran al-qur’an dan hadits.[15]

Dalam GBHN dinyatakan bahwa ”pendidikan berlangsung seumur hidup dan dilaksanakan didalam lingkungan rumah tangga, sekolah, dan masyarakat. Karena itu, pendidikan adalah tanggung jawab bersama antara keluarga, masyarakat, dan pemerintah ”.

Di dalam UU Nomor 2 Tahun 1989, penegasan tentang pendidikan seumur hidup, dikemukakan dalam Pasal 10 Ayat (1) yang berbunyi : “penyelenggaraan pendidikan dilaksanakan melalui dua jalur, yaitu pendidikan luar sekolah dalam hal ini termasuk di dalamnya pendidikan keluarga, sebagaimana dijelaskan pada ayat (4), yaitu : “pendidikan keluarga merupakan bagian dari jalur pendidikan luar sekolah yang diselenggarakan dalam keluarga dan yang memberikan agama, nilai budaya, nilai moral dan keterampilan”.

Mengenai pendidikan seumur hidup Adul Ghani ‘Abud dalam kitabnya Fi al-Tarbiyah al-Islamiyah memberikan komentar, pengabdian kepada Allah yang menjadi tujuan terakhir pendidikan Islam, limit waktunya adalah sepanjang hayat manusia. Sulit ditentukan apakah seseorang telah menjadi pengabdi yang sempurna lewat proses pendidikan atau belum. Bahkan sesungguhnya profil manusia pengabdi yang ideal itu, semakin didekati semakin jauh posisinya. Atas dasar inilah diantara lain Islam mewajibkan setiap muslim untuk melibatkan diri dalam aktivitas pendidikan sepanjang hidupnya secara terus menerus.[16]

Dari penjelasan di atas jelaslah Pendidikan Islam  mengajarkan kepada manusia untuk terus menuntut ilmu dan belajar sebagai bentuk pengabdian kepada sang pencifta Allah swt.

oleh Wandi Budiman

pada Mata Kuliah Kapita Selekta Islamiyah (Dr.H. Syamsuddin Ali Nasution, MA)

Program Studi manajemen Pendidikan Islam Universitas Djuanda Bogor

Sumber Bacaan:

[1] Departemen Pendidikan Nasional. Kamus Besar Bahasa Indonesia. (Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama. 2008).  Hal 326
[2] Oxford University. Oxford Learner’s Pocket Dictionary. Forth edition. (New York: Oxford University Press. 2011) hal 143
[3] A.W. Munawwir. Kamus Al-Munawwir Arab-Indonesia Terlengkap. (Surabaya: Pustaka Progressif, 1997). hal, 470
[4] Ramayulis. Ilmu Pendidikan Islam. (Jakarta: Kalam Mulia, 2010). Hal, 13
[5] Departemen Pendidikan Nasional. op. cit. Hal, 326
[6] Undang-Undang  Tentang  Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 tahun 2003 Pasal 1 ayat 1
[7] Prof. H. Muzayyin Arifin, M.Ed. Filsafat Pendidikan Islam. (Jakarta: Bumi Aksara, 2003), hal 3
[8] Prof. H. Muzayyin Arifin, M.Ed. op.cit. hal, 15
[9] Ibid. Hal, 16
[10] Prof. H. Muzayyin Arifin, M.Ed. Kapita Selekta Pendidikan Islam. (Jakarta: Bumi Aksara, 2003), hal 3
[11] Imam Bawani. Tradisionalisme dalam Pendidikan Islam. (Surabaya: al-Ikhlas. 1993). hal, 67
[12] Prof.Dr. H. Samsul Nizar, MA dan Dr. Zaenal Efendi Hasibuan, MA. Hadis Tarbawi; membangun kerangka pendidikan ideal pespektif Rasulullah. (Jakarta:Kalam Mulia.2011). hal, 12-19
[13] Dr. Al-Rasyidin, MA dan Dr. H. Samsul Nizar, MA. Pendekatan Historis, Teoritis dan Praktis Filsafat Penddidikan Islam. (Jakarta: Ciputat Press.2005), hal.59-60
[14] Ibid.hal. 61-62
[15] Ramayulis. Ilmu Pendidikan Islam. (Jakarta: Kalam Mulia, 2010), hal.301
[16] Imam Bawani. Tradisionalisme dalam Pendidikan Islam. (Surabaya: al-Ikhlas. 1993). hal, 68

Category: ,

About wandibudiman.blogspot.com:
Blog ini merupakan blog yang dikelola oleh Wandi Budiman, seorang manusia lemah yang selalu mencari keridhaan dari Tuhannya (Allah swt). Terimaksih sudah berkunjung ke Blog ini Semoga apa yang sudah di posting di Blog ini menjadi Sesuatu yang bermanfaat.Amin..

0 komentar