ABU HANIFAH – PEMERHATI QIYAS (700-767)

Wandi Budiman | 12/01/2014 | 0 komentar

ABU HANIFAH – PEMERHATI QIYAS (700-767)
Abu Hanifah merupakan salah satu dari empat Imam Mazhab. Beliau merupakan tokoh ketiga dari Imam mazhab yang empat. Jalan Mazhabnya, beliau terkenal sebagai tokoh yang mementingkan penggunaan Qiyas (analogi-perumpamaan) dalam mengambil suatu keputusan. Karena ajarannya menggunakan qiyas dalam skala luas, tidak mengherankan bila ada yang menyebut sekolah yang didirikannya sebagai “Sekolah Pemerhati Qiyas”.


Makna dari qiyas itu sendiri adalah membandingkan suatu masalah kepada apa yang pernah terjadi dengan menggunakan analisis yang lebih tepat terutama denganmengambil contoh yang terdekat. Misalnya beras atau jagung dapat diperbandingkan dengan gandum, jika alasannya karena semua hal tersebut termasuk bahan pokok yang mengenyangkan. Contoh dapat berlaku kepada mereka yang harus mengeluarkan zakat fitrah dengan mempergunakan makanan-makanan tersebut yang menjadi makanan pokoknya setiap hari.

Ada teori yang menjelaskan mengapa Abu Hanifah lebih cenderung menggunakan qiyas. Hal ini karena pada saat itu telah banyak beredar hadits-hadits palsu yang dipolitisasi untuk kepentingan penguasa, sehingga seakan-akan melegitimasi penguasa yang ada pada saat itu. Dengan menggunakan qiyas, maka masyarakat yang saat itu sedang dalam keadaan bingung dengan adanya hadits palsu yang bertentangan satu sama lain, akan lebih dapat menerima suatu alasan yang didasari pada analogi yang rasional dan logis.

Kufah adalah kota kelahiran Abu Hanifah, pada saat ia dilahirkan, kota Bagdad sama sekali belum ada. Pada masa mudanya beliau dikabarkan berprofesi sebagai seorang pedagang kain yang sukses.

Ada tiga pendapat mengenai wafatnya Abu Hanifah. Pertama, ia meninggal di penjara karena menolak ketetapan Khalifah Al Manshur yang mengangkatnya menjadi Qadhi (hakim) di pemerintahannya. Kedua, ia meninggal di penjara karena dituduh terlibat dalam gerakan Basyrah pada tahun 760. Ketiga, beliau meninggal tidak dipenjara maupun terindikasi menentang kebijakan yang dikeluarkan Khalifah pada saat itu.

Abu Hanifah sendiri tidak memiliki tulkisan yang langsung dikarang oleh dirinya. Pemikiran-pemikirannya sendiri dapat kita telaah diantaranya dari kitab al Kharaj yang ditulis oleh salah seorang murid setianya yaitu Abu Yusuf yang meninggal sekitar dua dekade setelah meniggalnya Abu Hanifah.

Semoga Beliau mendapatkan Rahmat serta kenikamtan disisi Allah SWT dan bisa menjadi suatu pencerahan dan motivasi untuk generasi muda Muslim dalam memperluas cakrawala keilmuan.

(ILMUWAN MUSLIM # KawaniBlog)

Category: , , ,

About wandibudiman.blogspot.com:
Blog ini merupakan blog yang dikelola oleh Wandi Budiman, seorang manusia lemah yang selalu mencari keridhaan dari Tuhannya (Allah swt). Terimaksih sudah berkunjung ke Blog ini Semoga apa yang sudah di posting di Blog ini menjadi Sesuatu yang bermanfaat.Amin..

0 komentar