KARAKTERISTIK ISLAM

Wandi Budiman | 5/16/2012 | 0 komentar

KARAKTERISTIK ISLAM; Terdapat beberapa karakteristik atau ciri khas yang terdapat didalam agama Islam yaitu:


I.    RABBANIYAH ( Ketuhanan)

Karakteristik pertama dari karakteristik umum bagi Islam adalah Rabbaniyah, artinya dinisbatkan kepada Allah. Yang dimaksud Rabbaniyah disini meliputi dua kriteria :

1. Rabbaniyah Ghoyah ( tujuan) dan Wijhah (sudut pandang)

2.Rabbaniyah mashdar (sumber hukum) dan manhaj (sistem)

1.   Rabbaniyah Ghoyah (Tujuan) dan Wijhah (sudut pandang)

Sebagai tujuan, Islam itu menjadikan tujuan akhir dan sasarannya jauh ke depan, yaitu dengan menjaga hubungan dengan Allah secara baik dan mencapai ridho-Nya. Dan tujuan ini merupakan tujuan utama Islam dan pada gilirannya merupakan tujuan akhir, sasaran, puncak cita-cita, usaha dan kerja keras manusia dalam kehidupan dimuka bumi. Sebagaimana firman Allah “ Hai manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja dengan sungguh-sungguh menuju Rabbmu, mak pasti kamu akan menemui-Nya. “ (QS. Al Insyiqaq :6).

Misalnya ada anjuran untuk berjihad dan perang melawan musuh sebagaimana yang telah dialamai oleh Rasulullah dana para sahabatnya waktu itu. Perintah ini tidak semata-mata bertujuan menghancurkan musuh tapi lebih dari itu yakni supaya tidak ada fitnah dan supaya agama ini semata-mata untuk Allah. (QS.8:39)

Pada intinya segala sesuatu yang ada dalam Islam semata-mata dimaksudkan  untuk menjadikan seseorang Ikhlash kepada Allah.  Karenanya ruh dan globalitas Islam adalah Tauhid.

Dampak Rabbaniyah Ghoyah dan Wijhah :

1.  Mengetahui tujuan keberadaan manusia : darimana asalnya, untuk apa hidup di dunia, dan akan kembali kepada siapa , dll.

2.  Al Ihtida’ (mendapat petunjuk) menuju fitrah. (QS. Rum:32)

3. Keselamatan diri dari tamazzuq (bercerai berai). (QS. Ali Imran:101; Az Zumar :29)

4. Membebaskan manusia dari ubudiyyah pada ego dan syahwat. (QS. Ali Imran : 135).

2.    Rabbaniyah Mashdar (sumber hukum)  dan Manhaj (sistem)

Bahwa manhaj (metode/sistem) yang ditetapkan oleh Islam guna mencapai sasaran dan tujuan itu adalah Manhaj Rabbani yang murni dan sumbernya adalah Wahyu Allah yang turun kepada Rasulullah SAW (QS.4:174 ; 16:89). Jadi sumber manhaj ini adalah datang dari Allah yang menginginkan Hidayah dan Nur bagi hamba-Nya.

Rasulullah sebagai Da’I Allah mempunyai tugas menyeru kepada manhaj ini dan menjelaskan perintah-perintah Allah kepada manusia.

Manhaj ini (Islam) merupakan manhaj yang paling sempurna diatas semua manhaj yang ada di dunia karena manhaj ini bersumber pada Kalimatullah, tidak mengalami peyimpangan, pergantian dan tidak bercampur aduk dengan spekulasi-spekulasi manusia baik dalam hal Aqidah, Ibadah,dan Akhlak.Risalah ini berbeda dengan risalah sebelum Muhammad SAW yang terbatas pada periode tertentu dan zaman yang terbatas. Sedangkan Rasulullah adalah Khatamun Nabiyyin (pamungkas sekalian para nabi) dimana risalahnya adalah risalah abadi yang ditakdirkan Allah akan tetap bertahan sampai kiamat nanti.

-   Risalah bagi totalitas manusia

Islam adalah  risalah bagi manusia dalam kapasitasnya sebagai makhluq yang sempurna. Islam sebagai risalah untuk manusia, mengatur dan mengarahkan  akal, ruh, fisik, kemauan dan naluri maupun instink. Karenanya tidak ada pemisahan dalam mengatur dan mengarahkan  potensi yang dimiliki manusia, karena manusia merupakan makhluq Allah  yang sempurna dan satu eksistensinya, dimana ruhnya tidak berpisah dari materi dan materinya tidak berpisah dari akalnya. Karenanya tujuan, sasaran dan jalanya harus satu juga. Dan inilah yang ditetapkan oleh Islam. Islam menjadikan tujuan manusia adalah Allah dan sasaranya adalah Akhirat. (QS. 39:29).

- Risalah bagi manusia dalam semua fase kehidupan.

Risalah Islam adalah hidayah Allah yang senantiasa menyertai manusia kemanapun menghadap dan berjalan dalam perkembangan-perkembangan hidupnya. Islam menyertai manusia semenjak masih bayi, kanak-kanak, remaja, dewasa dan sampai masa tua. Dalam semua periode ini, Islam telah menetapkan bagi manusia manhaj terbaik yang dicintai dan di ridhai oleh Allah.

Sehingg dalam Islam kita mendapatkan hukum-hukum yang berkaitan  dengan manusia ketika kecil, muda, dewasa dan masa tua. Tidak ada jenjang kehidupan manusia yang berlalu begitu saja, kecuali Islam mempunyai taujih (arahan) dan syari’at (tata cara/ketentuan) didalamnya (QS.2:233). Bahkan lebih dari itu, syari’at Islam menaruh kepedulian kepada manusia semenjak belum lahir sampai setelah meninggal dunia.

-  Risalah manusia dalam segala sektor kehidupan.

Diantara dimensi (makna) syumul dalam Islam adalah bahwa Islam merupakan risalah bagi manusia pada semua sektor kehidupan dan segala aktifitas kemanusiaannya. Maka Islam tidak pernah meninggalkan satu aspekpun dari aspek-aspek kehidupan manusia kecuali dia mempunyai sikap didalamnya. Pada intinya adalah Islam tidak akan membiarkan manusia berjalan sendiri tanpa hidayah dari Allah. Kemanapun dia melangkah  dan dalam aktifitas apapun  dia lakukan, apakah itu yang bersifat materiil ataupun spiritual, individu atau sosial, gagasan atau operasional, keagamaan atau politis.

II. SYUMULIYAH AJARAN ISLAM.

1.  Syumuliyatul Aqidah Al Islamiyyah.

-    Aqidah Islam bersifat syumul karena mampu mengintepretasikan  semua masalah-masalah dasar dalam kehidupan ini. Yakni masalah ketuhanan (uluhiyyah), alam semesta, manusia, nubuwwah (kenabian) dan akhirat.

-  Aqidah Islam tidak didasarkan pada instink/perasaan semata sebagaimana filsafat ketimuran dan aliran tasawuf. Aqidah Islam  juga tidak semata-mata berdasar rasio (akal pikiran), namun aqidah Islam berdasarkan pada pikiran dan perasaan atau akal dan hati nurani secara bersamaan karena keduanya adalah alat yang saling melengkapi untuk mengenal manusia dan mencapai kesadaran manusia.

-   Aqidah Islam syumul karena  tidak mengenal  pemilah-milahan. Harus diterima 100%. Maka kalau ada yang menerima 99% dan1% mengingkarinya maka tidak bisa dikatan sebagai seorang Muslim. (QS 4:150-151; 2:85).

2.  Syumuliayah Ibadah dalam Islam.

-   Dalam Islam ibadah itu melingkupi seluruh potensi yang ada dalam diri manusia. Potensi akal, fisik dan hati nurani. Dan selain itu ibadah dalam Islam jangkauannya menyentuh semua aspek  kehidupan. Tidak terbatas hanya pada syiar-syiar/ibadah ritual. Akan tetapi mencakup pula seleuruh gerak dan semua aktifitas yang bisa meningkatkan kualitas kehidupan dan membahagiakan manusia.

3.   Syumuliyah Akhlak dalam Islam.

-  Akhlak dalam Islam tidak pernah  meninggalkan satu aspekpun dari seluruh aspek kehidupan manusia, baik itu bersifat ruhani atau jasmani, keagamaan atau duniawi, intelektual atau instink, individual atau sosial kecuali Islam telah meletakkan dan menetapkan sistem (manhaj) yang sempurna untuk menuju pada keluhuran.

4.  Syumuliyah Syariat dalam Islam.

-   Syariat dalam Islam mengatur seluruh segi  dalam kehidupan, mulai dari individu, keluarga, sosial, sampai pada kenegaraan. Dimana seluruh segi kehidupan diatur dengan sempurna oleh syariat Islam baik itu berbentuk perintah atau larangan, atau berupa data dan informasi.

III.  AL WASTHIYYAH (Moderat)

Karakteristik yang lain dari beberapa karakteristik yang menonjol dalam Islam, ialah Al-wasthiyyah (moderat) atau dengan ungkapan yang lain at-tawazun (keseimbangan). Adapun yang dimaksud dengan Al-wasthiyyah atau at-tawazun  ini adalah keseimbangan diantara dua jalan atau dua arah yang saling berhadapan atau bertentangan, dimana salah satu dari dua jalan tadi tidak bisa berpengaruh dengan sendirinya dan mengabaikan yang lain. Juga salah satu dari dua arah tersebut tidak dapat mengambil hak lebih banyak dan melampaui yang lain.

Contoh dari dua arah yang saling bertetangan adalah : ruhiyah (spiritualisme) dengan maddiyah (materialisme), fardiyah (individualisme) dengan jama’iyah (kolektif), waqi’iyah (kontekstual) dengan mitsaliyyah (idealisme), Tsabat (konsisten) dengan taghayyur (perubahan) dan lain sebagainya.

Kegagalan Manusia Menciptakan Sistem yang Tawazun (seimbang)

Ini adalah sesuatu yang jauh dari kemampuan manusia dengan akalnya yang terbatas dan ilmu yang sedikit. Ditambah lagi dengan kecenderungan  yang membawa implikasi tersendiri, baik kecenderungan individual, keluarga, kesukuan, atau ras yang besar kemungkinan dapat mengalahkan akal sehatnya, disadari atau tidak.

Oleh karena itu, setiap sistem atau manhaj buatan manusia, baik hasil dari perseorangan atau kolektif, tidak mungkin lepas dari kekurangan atau justru terlalu berlebihan. Hal ini dapat dibuktikan melalui rentangan sejarah dan realitas yang ada.

Fenomena Tawazun di seluruh Alam Raya.

Kita amati apa yang ada di alam raya ini, maka kita akan menjumpai siang dan malam. Gelap dan terang, panas dan dingin, air dan darat dan berbagai macam  gas yang semuannya itu dengan kadar dan mizan serta perhitungan yang sangat rapi. Tidak mungkin satu akan melampaui yang lainnya dan tidak akan keluar pula dari gari ukuran yang telah ditentukan untuknya.

Demikian pula matahari, bintang, bulan, dan seluruh gugusan tata surya diangkasa raya. Semuanya beredar digaris edarnya masing-masing, tidak bebenturan  dengan yang lain atau keluar dari daerah lintasanya. (QS.54:49; 67:3; 36:40; 55:5-7). Dan juga termasuk susunan yang membentuk tubuh manusia secara utuh. Kesemua fenomena alam tersebut diatur dengan prinsip tawazun.

Fenomena Al Wasthiyyah dalam Islam.

1.  Al Wasthiyyah dalam Ideologi

-   Islam bukan agama yang dianut oleh kaum khurafat ( yang berlebihan dalam keyakinan sehingga mempercayai segala sesuatu dan beriman kepadanya tanpa hujjah) dan bukan pula kaum maddiyyin (yang mengingkari sama sekali segala sesuatu yang tidak terjangkau oleh indra).

Karenanya Islam mengajak untuk beriman dan berkeyakinan, jika hal yang diyakini itu memiliki dalil yang qath’I dan hujjah yang kuat.

-   Islam adalah agama yang bukan dianut kaum atheis (tidak percaya adanya tuhan) dan kaum politheis (percaya banyak tuhan). Karenanya Islam mengajak beriman kepada Tuhan Yang Satu, yang tiada sekutu bagi-Nya (QS. 112:1-6). Maka meng-ilahkan Tuhan-tuhan selain Allah adalah bentuk kesyirikan, kezaliman dan kesesatan yang nyata.

- Islam adalah agama yang bukan dianut oleh kaum yang menuhankan manusia, memberinya karakteristik rububiyyah, bahkan mengkultus individukan dirinya, berhukum dan berbuat sekehendak hatinya dan bukan pula sebagaimana  kaum yang menempatkan manusia sebagai budak belian dari sisi ekonomi maupun sosial keagamaan. Tetapi manusia dalam pandangan Islam adalah makhluk mukallaf (mempunyai amanat) yang bertanggung jawab, pemimpin alam raya, hamba Allah yang mampu mengubah apa yang ada disekelilingnya dengan kadar kemampuannya untuk mengubah dirinya (beradaptasi) (QS.13:11).

2.  Al Wasthiyyah Islam dalam Ibadat dan Syiar-syiar Agama.

-  Islam dalam hal ibadat dan syiar-syiarnya adalah bukan sebagaimana agama-agama dan sekte-sekte lainnya yang menghilangkan sisi Rabbaniyah dari jaringan filsafat dan kewajiban-kewajibannya. Seperti agama budha yang membatasi kewajiban-kewajiban  agamanya pada sisi moralitas kemanusiaan semata. Dan bukan pula sebagaimana agama-agama yang menuntut pengikutnya untuk ber-tafarugh (konsentrasi) hanya untuk beribadat dan menjauhi kehidupan, seperti sistem kependetaan dalam agama kristen.

-  Islam mewajibkan kepada kaum muslimin untuk menjalankan syiar-syiar tertentu dalam keseharian seperti sholat, atau secara periodik setahun sekali seperti puasa di bulan Ramadhan, atau sekali seumur hidup seperti ibadat haji. Ini dilakukan agar senantiasa  berhubungan dengan Allah dan tidak terputus dari jalinan ridha-Nya. Kemudian selain itu, (Islam) menyuruh ummatnya untuk selalu berusaha dan produktif, berjalan dimuka bumi (mencari penghidupan), dan makan dari anugerah rezeki Allah.

3.  Al Wasthiyyah Islam dalam Sistem Akhlaq

-  Manusia dalam pandangan Islam adalah makhluk yang mempunyai akal, syahwat atau instink kebinatangan dan mempunyai pula spiritulalitas kemalaikatan. Ia diberi petunjuk pada dua jalan dan dengan dan dengan nurani fithrahnya, ia akan meniti satu diantara dua jalan tadi. Maka adakalanya ia bersyukur (ber-Islam) dan adakalanya kufur (menentang Islam). Manusia mempunyai kesiapan untuk berbuat jahat dan juga untuk bertaqwa. Oleh karena itu, tugasnya adalah untuk berjihad dan riyadhah melawan nafsunya agar dia dapat mensucikan dirinya. (QS.91:7-9)

-  Islam dalam persepsinya tentang kehidupan bukanlah sebagaimana mereka-mereka yang mengingkari adanya akhirat dan menganggap dunia ini segala-galanya, dunia adalah awal dan akhir (QS.6:29).

Karena itulah, akhirnya mereka tenggelam  dalam syahwat dan menyembah materi. Mereka mengabaikan  sama sekali akan tujuan  yang menjadi sasaran hidupnya. Yang mereka utamakan adalah keuntungan individu keduniaan yang fana (sementara). Islam bukan pula sebagaimana mereka-mereka yang menolak kehidupan ini, mengabaikan keberadaanya, bahkan mengasumsikan kehidupan dunia ini sebagai bentuk kejahatan yang harus dimusnahkan serta dihindari. Sehingga akhirnya mereka mengharamkan perhiasan duniawi serta mengharuskan diri mereka untuk uzlah (bermeditasi dan menyingkir) dari kehidupan, tidak mau memakmurkan  bumi dan berproduksi di dalamnya.

Islam adalah mengakui adanya dua sisi kehidupan dan mengkombinasikan kebaikan dari kedua sisi tersebut. Islam menjadikan dunia sebagai ladang bagi kehidupan akhirat dan menganggap bahwa memakmurkan  bumi adalah ibadat serta sebagai realisasi pelaksanaan risalah kemanusiaan. Islam mengingkari para agamawan yang keterlaluan sampai mengharamkan segala bentuk perhiasan dan rezeki yang baik. Sebagimana ia juga mengingkari mereka-mereka yang tenggelam dalam kemewahan dan syahwat. (QS. 47:12; 7:31-32; 3:148; 2:201)

Maraji’ : Al-Khashooish Al-Ammah Li Al-Islam, DR. Yusuf Qardhawi, Penerbit : Beirut :Muassasah Al-Risalah, 1404/1983

Category: ,

About wandibudiman.blogspot.com:
Blog ini merupakan blog yang dikelola oleh Wandi Budiman, seorang manusia lemah yang selalu mencari keridhaan dari Tuhannya (Allah swt). Terimaksih sudah berkunjung ke Blog ini Semoga apa yang sudah di posting di Blog ini menjadi Sesuatu yang bermanfaat.Amin..

0 komentar