KEPEMIMPINAN PIMPIN KEYAKINAN

Wandi Budiman | 3/28/2013 | 0 komentar

KEPEMIMPINAN PIMPIN KEYAKINAN

Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Kepemimpinan dalam Pendidikan Islam
Dosen Pembimbing : H. Hasan Basri Tanjung, MA
Disusun oleh : Wandi Budiman  -F.1010297 & Dani Nurhidayat -F.1010052
PROGRAM STUDI KEPENDIDIKAN ISLAM UNIVERSITAS DJUANDA BOGOR 2012


BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian Kepemimpinan Pimpin keyakinan
A.1. Pengertian Kepemimpinan
Kepemimpinan diartikan sebagai kemampuan seseorang sehingga ia memperoleh rasa hormat (respect), pengakuan (recognition), kepercayaan (trust), ketaatan (obedience), dan kesetiaan (loyalty) untuk memimpin kelompoknya dalam kehidupan bersama menuju cita-cita. Dalam Islam karena kepemimpinan erat kaitannya dengan pencapaian cita-cita maka kepemimpinan itu harus ada dalam tangan seorang pemimpin yang beriman. Firman Allah SWT dalam Al-Qur’an Surat Ali Imran ayat 28 :

 Artinya “Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa) Nya. Dan hanya kepada Allah kembali (mu).”

       Dalam kubik leadership kepemimpinan adalah kemampuan untuk menentukan kemana hidup akan kita arahkan, segala sesuatu yang ingin kita lakukan dalam hidup ini, dan jalan mana yang harus kita tempuh untuk mencapainya.

A.2. Pengertian Keyakinan
       Keyakinan (faith) dalam kubik leadership adalah seperangkat prinsip dan nilai sebesar apapun yang sekaligus menjadi misi suci kita.[1]

       Keyakinan itu seperti akar di sebuah pohon, selain menjadi pintu masuknya energy, akar juga mengokohkan keseluruhan pohon itu sendiri. Apabila pohon itu memiliki akar yang kuat, maka angin sebesar apapun tidak akan mampu merobohkan akar itu. Keyakinan dapat juga diibaratkan sebagai sebuah tongkat pengungkit yang akan melejitkan diri anda keatas, ketempat dimana berkumpulnya komponen-komponen sebuah kesuksesan.

       Jadi apabila seorang pemimpin memiliki keyakinan yang kuat dalam dirinya dan terhadapsuatu hal yang di pimpinnya, maka tidak akan mudah goyah meskipun cobaan dan ujian menerpa dirinya. Dia akan berdiri tegak dan konsisten terhadap apa yang menjadi tanggung jawabnya.

       Kepemimpinan pimpin keyakinan adalah segala sesuatu yang harus dimulai dengan keyakinan itu sendiri. Seperti yang dijelaskan sebelumnya bahwa keyakinan itu ibarat akar. Keyakinan itu memberikan kekuatan yang tumbuh dalam diri (jiwa) seseorang yang mana nantinya kekuatan itu akan memberikan pengaruhnya yang semakin luas dan besar sampaikewilayah fisik seseorang itu sendiri.

B. Tiga Prinsip Pemimpin dalam Kepemimpinan Keyakinan

Ada tiga prinsip yang harus diyakini, yaitu prinsip manusia, prinsip alam, dan prinsip Tuhan.

1.      Prinsip manusia : memahami pilihan-pilihan hidup serta membantu mengarahkan hidup untuk dapat meraih kesuksesan jangka panjang (dunia dan akhirat).

2.      Prinsip alam : melihat bagaimana alam ini bekerja dan bagaimana dapat memanfaatkan hukum alam yang ada untuk senantiasa menghadirkan keberuntungan dalam hidup.

3.      Prinsip Tuhan : melihat kaitan erat antara Tuhan dan makhluknya serta bagaimana mengakses energi Tuhan untuk memperoleh kekuatan tanpa batas.

B.1. Prinsip Manusia

Manusia adalah mahluk Tuhan yang paling sempurna, begitu sempurnanya sehimga kelebihan manusia melebihi mahluk lainnya, tuhan juga memberikan sebuah anugerah yang tidak diberikan–Nya kepada mahluk lain yaitu kebebasan berkehendak melalui akal fikiran. Melalui akal fikiran ina lah manusia dapat memilih apa yang baik dan apa yang tidak baik untuk dirinya, apa yang akan dilakukan, dan apa yang akan ditinggalkan.

Kebebasan berkehendak telah menghasilkan dorongan pada diri manusia untuk berbuat sesuatu, kebebasan berkehendak merupakan dasar motivasi manusia untuk melakukan sesuatu. Motivasi merupakan hal yang paling dasar yang dapat mendefinisikan kemanusian seseorang. Motivasi seseorang akan menuntun jalur kehidupannya ada beberapa prinsip esensial berkaitan dengan motivasi yang harus dipahami. Ketika kita salah merumuskan motivasi hidup, maka kita akan menempuh jalur yang salah oleh sebab iyu kita perlu nenpelajari dan memahami motivasi hidup ituh sendiri.

Secara umum ada dua faktor yang menondong manusia melakukan sesuatu, yaitu untuk mendapatkan kenikmatan (gaining pleasure) contohnya keinginan berprestasi, mendapatkan kesuksesan dalam kalir dan sebagnya. Factor berikutnya yaitu menghimmndari ketidaknyamanan (avaoiding pain) contohnya menghindari rasa malu, rasa takut, lingkungan yang buruk dan sebagainya.                                                                  Hezbeg menyatakan bahwa factor menghindari  ketidaknyamanan tidak bias dijadikan sebagai dasar dari motivasi seseorang. Walapun menghindari ketidak nyamanan dapat mendorong seseorang melakukan sesuatu, tapi dorongan itu akan segera hilang denganhilangnya ketidaknyamanan tersebut. Karna secara kodrati manusia ingin terus mendapatkan kenikmatan.

Banyak sekali hal-hal yang dapat menjadi motivasi kita melakukan sesuatu. Namun, semua itu dapat disederhanakan dapat cara pengelompokan ke dalam tiga kategori, yaitu : To Be, To Have, dan valensi.

To be adalah keinginan kita untuk menjadi, yang dikaitkan dengan peoses mengejar prestasi dengan memangfaatkan kelebihan-kelebihan yang kita miliki.

To Have adalah keinginan kita untuk memiliki sesuatu, yang diakitkan dengan proses benda-benda materi atau hasil akhir dari sebuah usaha, sebagai bentuk dorongan dari kresenangan duniawi.

Valensi adalah tingkat kualitas seseorang dalam mengarahkan hidupnya, yang dikaitkan dengan keseluruhan kapasitas yang ada dirinya.[2]                                                   Antara ketiga hal diatas saling berkaitan berkesinambungan. Apabila kita memiliki To Have namun tidak mempunyai Valensi dan To Be, maka kita akan menghalalkan semua cara. Bila kita memiliki To Be namun tidak mempunyai Valensi maka prestasi anda tidak memiliki pencapaian yang jelas. Dan bila kita memiliki Valensi namun tidak mempunya  To Be maka kemampuan diri anda tidak akan pernah terwujudkan sebagai prestasi.

B.2. Prinsip Alam
Alam bekerja menggunakan seperangkat hokum-hukum yang diciptakan Tuhan. Hukum itu diciptakan untuk menjaga keharmonisan alam semesta serta menjamin kesejahteraan mahlik-mahluk ciptaannya.

Hukum alam yang dimaksudkan disini adalah kekekalan energi (HKE). Energy ada disekitar kita walaupun tidak bisa dilihat dan dipegang. Didalam fisika disebutkan bahwa energy sebagai sebuah kemampuan untuk melekukan kerja. Energilah yang membuat alam berfungsi sebagaimana mestinya. Energi dapat mewujud seperti cahaya, panas, suara, listrik dll. Energi justru tersimpan didalam benda-benda terlihat seperti air, gunung, pepohonan, batu dan sebagainya. Pada dasarnya segala sesuatu dialam semesta mengandung energi.

Sebagai mahluk ciptaan Allah swt, manusia pasti terikat HKE. Semua energi semua energi yang masuk kedalam tubuh, akan kita salurkan dalam bentuk yang beda-beda. Namun energy yang keluar dan yang masuk jumlahnya sama.

Apabila kita mengeluarkan energi positif, maka kita akan memperoleh energi positif kembali. Begitupun sebaliknya, apabila kita mengeluarkan energi negative maka kita akan memperoleh energi positip kembali. Apabila kita berbuat baik kepada orang lain, maka kita juga akan mendapatkan kebaikan dan apabila kita berbuat tidak baik maka itu juga akan mendapatkan ba;asan yang serupa.

Firman Allah SWT dalam QS. Al-Zalzalah ayat 7-8 :

Artinya : 7. Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya. 8. dan Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya pula.

HKE menjamin bahwa tidak ada energi didunia ini yang sia-sia. Kita akan mendapatkan hasil usaha yang sama dengan jumlah usaha yang sama kita lakukan. Perbanyaklah mengeluarkan energi positif dan jauhi energi yang negetif, maka kita akan menjadi orang paling beruntung di dunia.

B.3. Prinsip Tuhan

Tuhan adalah Zat yang Maha Esa. Dengan keunggulan-Nya Ia memiliki sifat-sifat dan kekuatan yang maha Dahsyat. Salah satu kedahsyatan-Nya adalah ketika Ia memformilasi energi ciptaan-Nya menjadi mahluk yang berbeda dengan diri-Nya sebagai energi sang pencipta. Begitu berbeda, sehingga akal pikiran manusia tidak mampu memahami secara utuh sifat ke Mahaan-Nya bahkan sekedar untuk membayangkan.

 Firman Allah SWT dalam QS. Ar-Ra’d ayat 2

Artinya : Allah-lah yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas 'Arasy, dan menundukkan matahari dan bulan. masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan. Allah mengatur urusan (makhluk-Nya), menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya), supaya kamu meyakini Pertemuan (mu) dengan Tuhanmu.

Allah SWT memiliki 99 nama. Dimana ke-99 nama tersebut merupakan symbol dari sifat-sifatnya. Sebagai pencipta, Allah menciptakan makhluk yang sama sekali berbeda dengan-Nya. Khusus bagi manusia, Allah memberikan keistimewaan dengan ditiupkan ruh Allah kepadanya. Keistimewaan tersebut tentu saja tidak mengakibatkan manusia menjadi sama dengan Allah SWT. Namun dibanding makhluk-makhluk lain, manusia memiliki kelebihan dengan diberinya kemampuan untuk meneladani sifat-sifat Allah.

Yang dimaksud dengan prinsip Tuhan adalah sebuah eksistensi dan prinsip-prinsip yang hanya dimiliki oleh Allah, dan kita sebagai makhluk-Nya harus berupaya untuk meneladaninya . Eksistensi Allah ini disebutkan dalam istilah agama dengan Nama/Sifat-sifat Allah. Dan yang pasti,Nama/Sifat Allah ini semuanya positif,tidak ada nama/sifat Allah yang berkonotasi negatif. Allah memiliki sifat Maha Pengasih dan Penyayang, maka kita sebagai manusia punya kewajiban untuk menjadi penebar rasa kasih sayang dari Allah tersebut. Jika Allah memiliki sifat Maha Pengampun,maka kita berkewajiban untuk bisa memberi maaf kepada orang lain. Jika Allah memiliki sifat Maha Pemberi rizqi, maka kita sebagai hamba-Nya berkewajiban untuk banyak memberi kepada orang lain yang membutuhkan.

Ketika kita menebarkan dan meneladani pancaran dari sifat-sifat Allah tersebut, maka seolah-olah kita sedang menjadi gardu bagi tersebarnya cahaya Allah di muka bumi ini. Tugas dan kewajiban kita sebagai hamba Allah, berkaitan dengan prinsip-prinsip Tuhan tersebutadalah dengan berusaha sekuat tenaga untuk mampu menjadi gardu penebar cahaya Ilahi di dunia ini. Tentu saja ketika kita mampu menjadi gardu penebar energi dari Allah di muka bumi, maka akan banyak keuntungan yang kita peroleh, diantaranya : [3]

Pertama, Kita akan memperoleh kesuksesan (Harta, Tahta, Kata, Cinta) di tingkatan yang lebih baik. Ketika kita mengeluarkan energi positif (kebaikan), maka kita akan memperoleh hasil yang positif pula. Apalagi ketika kita melakukan itu dengan penuh kesadaran sebagai gardu Epos (Energi Positif) Allah SWT, maka bobot kesuksesan yang diraih akan menjadi berlipat ganda. Harta, Tahta, Kata, dan Cinta sebagai symbol kesuksesan pun akan memiliki kualitas dan bobot yang berbeda ketika kita menjadi Gardu Epos Allah SWT.

Kedua, Dengan menjadi gardu epos Allah, pejalanan hidup kita akan terjaga. Kesadaran diri sebagai gardu Epos Allah, akan membawa kita untuk berhati-hati sehingga tidak salah jalan melakukan hal-hal yang bisa mencelakakan diri kita dan orang lain. Diri kita akan lebih terjaga dari perbuatan kotor, musibah, kecelakaan, dan akibat-akibat jelek lainnya.

Ketiga, Dengan menjadi gardu epos Allah, kita akan dipenuhi keberuntungan. Apabila kita senantiasa mencari dan menjadi gardu epos, maka kita akanmemiliki tabungan epos yang melimpah. Oleh sebab itu hidup kita akan dipenuhi oleh berbagai keberuntungan, hidup terasa lebih ringan, bahagia, dan menjadi lebih dekat dengan Tuhan.

Keempat,  Dengan menjadi gardu epos,kita akan mampu menembus semua keterbatasa. Kekuatan utama seorang gardu epos adalah tujuan hidupnya yang mulia. Tujuan ini lahir dari nuraninya sebagai hasil dari “percakapannya” dengan Allah SWT. Tujuan inilah yang memberinya kekuatan untuk menciptakan prestasi-prestasi besar.

Prinsip Tuhan adalah sebuah eksistensi dan prinsip-prinsip yang hanya di miliki-Nya. Prinsip-prinsip itu adalah :

a.       Tuhan Maha Eternal

Tuhan adalah sang pencipta energi, Dzat ajali atau Dzat Eternal yang tidak memiliki permulaan. Eksistansi nya tidak disebabkan oleh segala sesuatu apapun yang kita ketahui. Hal ini karena terjadi-Nya tidak sama energi cptaan-Nya dan energi-Nya tidak bergantung kepada energi ciptaan-Nya.

b.      Tuhan Maha Positif

Energi Tuhan Selalu positif, energi-Nya hanya memancarkan yang positif saja, tidak pernah memancarkan kemubaziran, kesia-siaan, apalagi energi negetif. Energi kemuliaan-Nya hanya memencarkan kemuliaan saja. Tuhan memeng menciptakan unsure-unsur negative dalam jagat raya ini, namun Tuhan tidak memiliki kontribusi sedikitpun atas perbuatan jahat atau keluarnya energi positif dari mahluk-Nya.

c.       Tuhan Maha Sumber

Sebagai sumber energi bagi mahluk-Nya, Tuhan menciptakan proses antara, sehingga Allah berperan sebagai sumber dari segala sumber.

Sumber energi yang pertama di berikan kepada mahluk-Nya adalahg ketika Tuhan menghadiahkan energi melalui permulaan terciptanya jagat raya. Energi dalam jagat raya tersebut diturunkan melalui system yang tidak akan pernah ada penyimpangan.

Sumber energi kedua yang di berikan keapada manusia berbentuk ilmu bagi akal pikiran, dan hidayah bagi qolbu mamusia. Energi berbentuk ilmu dan hidayah ini bukan merupakan energi yang baru yang dimasukan ke alam, melainkan energi yang sudah ada di ala mini yang di konversikan menjadi ilmu dan hidayah. Jika Tuhan menurunkan energi yang baru maka energi itu akan merusak pendistribusian sumber energi yang pertama.

Sumber energi yang ketiga adalah pengampunan atas kesalahan perbuatan manusia artinya Allah SWT Maha pengampun dan selalu menerima taubat manusia. Dengan adanya pengampunan, maka tabungan energi negative kita tidak dicairkan, tetapi energi itu ditahan pencairannya sampai terkumpul. Tabungan energi positif yang akan dapat menyeimbangkan tabungan energi negatifnya.

d.      Tuhan Maha Melimpah atau Kaya

Energi Tuhan tidak memiliki stigma yang berprasangka buruk terhadap manusia. Semua akan di bagikan sebanyak yang manusia inginkan dan mampu menampungnya. Seorang Nabi mendapatkan curahan enrgi-Nya lebih banyak karena mereka sanggup menampungnya. Seandainya seluruh mahluk berlomba-lomba mendapatkan curaahan energi-Nya, maka tidaklah akan pernah habis, bahkan tidak berkurang sehingga tidak menyebabkan berkurangnya kemaha perkasaan-Nya.

       Makna filosofi dari keempat prinsip Tuhan tersebut dapat di uraikan sebagai berikut :

Karena Tuhan bersifat eternal (azali) maka Allah-lah satu-satunya yang sanggup berkehendak untuk memilih hanya yang positif bagi diri-Nya dan apa yang dipancarkan-Nya. Itulah yang Allah lakukan kepada seluruh mahluk-Nya. Allah terus menerus menjadi sumber yang melimpah tiada henti. Hanya saja sumber energi positif-Nya di salurkan melui proses, melelui gardu-gardu perantara agar kita sanggup menerimanya, sekaligus menjadi system yang memberikan kepastian.

       Manusia menjadi mahluk Tuhan yang sempurna karena manusia memilki unsur Tuhan dalam dirinya, tapi sifat Tuhan tidak mungkin di miliki oleh hambanya.

 Firman Allah SWT dalam QS. Shaad ayat 72 :

Artinya : Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya roh (ciptaan)Ku; Maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadaNya".

       Unsure Tuhan inilah yang memungkunkan kita untuk dapat secara aktif mengakses energi positif yang sangat besar, untuk kemudian mendistribusikannya kelingkungan sekitar kita. Jadi, bagi manusia yang ingin mendapatkan kemuliaan dan kebaikan  sebanyak mungkin dari Tuhan maka jadilah gardu epos-Nya. Inilah intisari dari implementasi prinsip Tuhan untuk manusia.

        Jika kita mampu menyadari peran diri kita sebagai gardu epos Tuhan, maka otomatis kita akan cenderung mendekat kepada kebaikan. Manusia yang paling mulia adalah manusia yang paling memberikan manfaat kepada sesama atau orang lain. Selanjutnya berarti manusia perlu berusaha menjadi sumber energi bagi manusia lain dengan menjadi sumber energi bagi orang lain.

       Jadi, manusia yang mulia adalah manusia yang mampu menjadi gardu epos Tuhan. Mereka memiliki kapasitas akal dan qolbu yang begitu besar sehingga mampu mengakses energi Tuhan, untuk nkemudia didistribusikan ke orang-orang disekitarnya. Mereka adalah orang yang prestasinya selangit, namun pada saat yang sama memiliki kemanfaatan yang tinggi untuk lingkungannya.

[1] Farid Poniman, Indrawan dan jamil Azzaini.Kubik leadership; solusi esensial meraih sukses dan Hidup Mulia (Jakarta: PR Gramedia. 2009) hlm. 6
[2] Kubik leader ship hal 39-40                                            
[3] Farid Poniman Nogroho,Jamil Azzaini. Kubik Leadership. Solusi Esensial Meraih Sukses dan Kemuliaan Hidup. Hikmah Jaman Baru. Cet ke-1, 2005

Category: , ,

About wandibudiman.blogspot.com:
Blog ini merupakan blog yang dikelola oleh Wandi Budiman, seorang manusia lemah yang selalu mencari keridhaan dari Tuhannya (Allah swt). Terimaksih sudah berkunjung ke Blog ini Semoga apa yang sudah di posting di Blog ini menjadi Sesuatu yang bermanfaat.Amin..

0 komentar