Dalam beberapa
hari saja daerah Syria seakan berubah menjadi sel-sel lebah yang tiba-tiba
menemukan ratu yang mereka ta’ati. Dan seandainya Abu Dzar
memberikan isyarat untuk berontak, pastilah api pemberontakan akan
berkobar. Tetapi sebagai telah kita katakan tadi, niatnya hanya terbatas untuk
membentuk suatu pendapat umum yang harus dihormati, dan agar ucapan-ucapannya
menjadi buah bibir di tempat-tempat pertemuan, di masjid dan di jalan-jalan.
Bahaya terhadap
perbedaan-perbedaan yang timbul itu mencapai puncaknya, ketika ia mengadakan
dialog dengan Mu’awiyah di hadapan umum, di mana yang hadir menyampaikan kepada
yang tidak hadir dan beritanya bagaikan terbang dibawa angin. Abu Dzar tampil
sebagai orang yang paring jitu ucapannya sebagai telah dilukiskan oleh Nabi
sebagai gurunya.
Dengan tidak
merasa gentar dan tanpa tedeng aling-aling ditanyainya Mu’awiyah tentang
kekayaannya sebelum menjadi wall negeri dan kekayaannya sekarang …. Mengenai
rumah yang dihuninya di Mekah dulu, dan mahligai-mahligainya yang terdapat di
Syria dewasa ini ….
Kemudian
dihadapkannya pertanyaan kepada para shahabat yang duduk di sekelilingnya,
yaitu yang ikut bersama Mu’awiyah ke Syria dan telah memiliki gedung-gedung
serta tanah-tanah pertanian yang luas pula. Lain ia berseru kepada semua yang
hadir: “Apakah tuan-tuan yang sewaktu Quran diturunkan kepada Rasulullah,
ia berada di lingkungan tuan-tuan”. Jawaban pertanyaan itu diberikannya
sendiri, katanya: “Benar, kepada tuan-tuanlah al-Quran diturunkan, dan
tuan-tuanlah yang telah mengalami sendiri berbagai peperangan!”
Kemudian diulangi
pertanyaannya: “Tidakkah tuan-tuan jumpai dalam al-Quran ayat ini”:
Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan
tidak menafqahhannya dijalan Allah, bahura mereka akan
menerima sihsa yang pedih. Yhifu hetika emas dan
perak dipanaskan dalam api neraka, lain diseterikahan he kening,
ke pinggang dan kepunggung mereka – sambil dikatakan
: Nah, inilah dia yang kalian simpan untuk din
kalian itu, maha rasailah akibatnya!”
(Q.S. At Taubah:
Mu’awiyah memotong jalan pembicaraannya, katanya: “Ayat
ini diturunkan kepadaAhlul Kitab!”, “tidak!”, seru Abu Dzar;
“bahkan ia diturunkan kepada kita dan kepadamereka!”
Abu Dzar melanjutkan ucapannya, menasihati Mu’awiyah
dan para anak-buahnya agarmelepaskan gedung, tanah serta
harta kekayaan itu; dan tidak menyimpan untuk dirimasing-masing kecuali sekedar keperluan sehari-hari.
Berita tcntang Abu Dzar dan seal jawab ini tersebar dari
mulut ke mulut, dari orangbanyak ke orang banyak. Semboyannya semakin nyaring terdengar di rumah-rumahdan di jalan
jalan: “Sampaikan kepada para penumpuk
harta akan seterika seterikaapi neraka!”
Mu’awiyah sadar akan adanya bahaya, ia cemas akan akibat
ucapan tokoh ulung ini.Tetapi ia pun mengerti akan pengaruh
dan kedudukannya, hingga tidak akanmelakukan hal-hal yang
menyakitkannya. Hanya dengan segera ditulisnya suratkepada
Khalifah Utsman r.a. mennaaaakin: “Abu Dzar telah merusakorang-orang diSyria!”
Sebagai Jawabannya Utsman mengirim surat meminta Abu
Dzar datang ke Madinah.Kembali Abu Dzar berkemas-kemas
menyingsingkan kaki celananya, lain berangkat keMadinah. Dan
pada hari keberangkatannya itu, Syria menyaksikan saat-saat
perpisahan dan ucapan selamat jalan dari khalayak ramai, suatu
peristiwa yang luarbiasa yang belum pernah disaksikannya
selama ini…!
“Aku tidak memerlukan dunia tuan-tuan ‘”
Demikianlah jawaban yang diberikan oleh Abu Dzar kepada
Utsman setelah ia tiba di Madinah, yakni setelah berlangsung
diskusi yang lama antara mereka. Dari
pembicaraan dengan shahabatnya itu, dan berita-berita yang berdatangan kepadanya
dari seluruh pelosok yang menyatakan dukungan sebagian besar
rakyat terhadappendapat Abu Dzar, Utsman menyadari sepenuhnya bahaya gerakan ini dan
kekuatannya. Dari itu ia mengambil
keputusan akan membatasi langkahnya, yaitudengan menyuruh
Abu Dzar tinggal di dekatnya di Madinah.
Keputusan itu disampaikan dan ditawarkan oleh Khalifah
secara lunak lembut danbijaksana, katanya: “Tinggallah di
sini di sampingku! Disediakan bagimu unta yanggemuk, yang
akan mengantarkan susu pagi dan sore!” “Aku tak perlu akan
duniatuan-tuan!”, ujar Abu Dzar.
Benar, ia tidak memerlukan dunia manusia…, karena ia
termasuk golongan orang suciyang mencari kekayaan ruhani dan
menjalani kehidupas untuk memberi dan bukan
untuk menerima! Dimintanyalah kepada khalifah Utsman r.a. agar ia diberi
idzin tinggaldi Rabadzah, maka diperkenankannya.
Dalam hangat-hangatnya gerakan revolusi itu Abu Dzar
tetap memelihara amanat Allah dan Rasul-Nya, dan meresapkan
sampai ke tulang sum-sumnya nasihat yangdiberikan oleh Nabi
saw. agar tidak menggunakan senjata. Dan seolah-olah Rasulullahtelah melihat semua yang ghaib; terutama mengenai Abu
Dzar dan masa depannya,maka disampaikannyalah nasihat
amat berharga itu.
Oleh sebab itu Abu Dzar tak hendak menyembunyikan rasa
terkejutnya mendengar sebagian orang yang gemar menyalakan
fitnah, telah menggunakan ucapan dan da’wahnya
untuk memenuhi keinginan dan siasat licik mereka. Pada suatu harisewaktu
ia sedang berada di Rabadzah, datanglah perutusan dari Kufah
memintanyauntuk mengibarkan bendera pemberontakan terhadap khalifah. Maka disemburnyamereka dengan kata-kata
tegas sebagai berikut:
“Demi Allah, seandainya Utsman hendak menyalibku di
tiang kayu yang tertinggi ataudi atas bukit sekalipun,
tentulah saya dengar titahnya dan saya taati, saya bershabardan sadarkan diri, dan saya merasa bahwa demikian
adalah yang sebaik-baiknyabagiku …!”
“Dan seandainya ia menyuruhku berkelana dari ujung
ke ujung dunia, tentulah akansaya dengar dan taati,
saya bershabar dan sadarkan diri, dan saya merasa bahwa
demikian adalah yang sebaik-baiknya bagiku .. .!”
“Begitu pun jika ia meyuruhku pulang ke rumahku,
tentulah akan saya dengar dantaati, saya bershabar dan
sadarkan diri, dan saya merasa bahwa demikian adalah
yang sebaik-baiknya bagiku .. .!”
Itulah dia seorang pahlawan yang tidak menginginkan sesuatu
tujuan duniawi; dankarena itu Allah melimpahinya “pandangan
tembus” hingga sekaii lagi ia melihatbahaya dan bencana yang
tersembunyi di balik pemberontakan bersenjata makadijauhinya.
Sebagaimana ia telah meiihat apa akibatnya bila ia membisu dan
tidak buka suarayang tidak lain dari bahaya dan bencana, maka
dihindarinya pula. Lalu ditariklahsuaranya bukan pedangnya,
menyerukan ucapan benar dan kata-kata tegas, tanpasuatu
keinginan pun yang mendorong atau
akibat yang akan menghalanginya.
Abu Dzar telah mencurahkan segala tenaganya untuk melakukan perlawanan secaradamai dan menjauhkan diri dari
segala godaan kehidupan dunia. Ia akan
menghabiskan sisa umurnya untuk melakukan penyelidikan yang lebih dalam
tentangharta dan kekuasaan, karena keduanya mempunyai
daya tarik dan pangkal fitnahyang dikhawatirkan Abu Dzar
terhadap kawan-kawannya yang telah memikul panji-panji
Islam bersama Rasulullah saw dan yang harus tetap memikulnya untuk
seterusnya.
Di samping itu kekuasaan dan harta merupakan urat nadi
kehidupan bagi ummat danmasyarakat, hingga bila keduanya
telah beres, maka nasib manusia pun akanmenghadapi bahaya
besar.
Abu Dzar
berkeinginan agar tak seorang pun di antara shahabat Rasul menjadi pejabat atau
pengumpul harta, tetapi hendaklah mereka tetap menjadi pelopor kepada hidayah
Allah dan pengabdi bagi-Nya. Ia telah mengenali benar tipu daya dunia dan harta
ini, dan menyadari pula bahwa Abu Bakar dan Umar tak mungkin bangkit kembali.
Telah pula didengarnya Nabi shallallahu alaihi wasalam memperingatkan
shahabat-shahabatnya akan daya tarik dari jabatan ini dan dinasihatkannya:
” Ia merupakan
amanat, dan di hari kiamat menyebabkan kehinaan dan penyesalan …, kecuali orang
yang mengambilnya secara benar, dan menunaikan kewajiban yang dipikulkan
kepadanya”
Demikian ketatnya
Abu Dzar mengenai hal ini, sampai-sampai ia menjauhi saudara dan handai
taulannya, jika tak boleh dikatakan memutuskan hubungan dengan mereka,
disebabkan mereka telah menjadi pejabat yang dengan sendirinya memiliki harta
dan berkecukupan.
Pada suatu hari ia
ditemui oleh Abu Musa al-Asy’ari, dan demi dilihatnya Abu Dzar, maka
dibentangkan kedua tangannya sambil berseru kegirangan dengan pertemuan itu.
“Selamat wahai Abu Dzar …selamat wahai saudaraku!”; tetapi Abu Dzar bertiak,
katanya: “Aku bukan saudaramu lagi! Kita bersaudara dulu sebelum kamu menjadi
pejabat dan gubernur”
Demikian pula
ketika pada suatu hari ia ditemui oleh Abu Hurairah yang memeluknya sambil
mengucapkan selamat, Abu Dzar menolakkan dengan tangan, katanya: “Menyingkirlah
daripadaku, bukankah kamu telah menjadi seorang pejabat; hingga terus-menerus
mendirikan gedung, memelihara ternak dan mengusahakan pertanian!” Abu Hurairah
menyanggah dengan gigih dan menolak semua desas-desus itu.
Yah, mungkin Abu
Dzar bersikap keterlaluan dalam pandangannya terhadap harta dan kekuasaan.
Tetspi ia mempunyai logika yang harus dikukuhkan dengan kebenaran dan
keimanannya. Maka Abu Dzar berdiri dengan cita-cita dan karyanya, dengan
fikiran dan perbuatannya, mengikuti pola yang telah dicontohkan bagi mereka
oleh Rasulullah dan kedua shahabatnya Abu Bakar dan Umar …
Dan seandainya
sebagian orang melihat, bahwa ukuran itu terlalu ideal yang tak mungkin dapat
dicapai, tetapi Abu Dzar menyaksikannya sebagai contoh nyata; yang telah
menggariskan jalan hidup dan usaha, terutama bagi pribadi yang hidup di masa
Rasulullah; yakni yang melakukan shalat di belakangnya, berjihad bersamanya dan
telah mengambil bai’at akan patuh dan mentaatinya.
Lagi pula,
sebagaimana telah kita kemukakan, dengan penglihatannya yang tajam ia melihat
bahwa harta dan kekuasaan itu mempunyai pengaruh menentukan terhadap nasib
manusia.
Oleh sebab itu,
setiap kebobrokan yang menimpa amanat tentang keadilan dan kekuasaan dalam seal
harta, akan menimbulkan bahaya hebat yang harus segera disingkirkan!
Sepanjang hayatnya,
dengan sekuat tenaga Abu Dzar memikul panji contoh utama dari Rasulullah dan
kedua shahabatnya, menjadi penyangga dan sebagai orang terpercaya
memeliharanya. Dan ia menjadi maha guru dalam-seni menghindarkan diri dari
godaan jabatan dan harta kekayaan.
Pada suatu kali
ditawarkan orang kepadanya:sebuah jabatan sebagai amir(pemimpin) di Irak,
katanya: “Demi Allah, tuan-tuan takkan dapat memancingku dengan dunia tuan-tuan
itu untuk selama-lamanya!”
Kali yang lain,
seorang kawan ‘melihatnya memakai jubah usang, maka katanya: “Bukankah anda
masih punya baju yang lain? Beberapa hari yang lewat saya lihat anda punya dua
helai baju baru!”
Jawab Abu Dzar:
‘Wahai putera saudaraku! Kedua baju itu telah kuberikan kepada orang yang lehih
membutuhkannya daripadaku!” Kata kawan itu pula: “Demi Allah! Anda juga
membutuhkannya!” Menjawablah Abu Dzar: “Ampunilah ya Allah ! Kamu terlalu
membesarkan dunia! Tidakkah kamu lihat burdah yang saya pakai ini? Dan saya
punya satu lagi untuk shalat Jum’at. saya punya seekor kambing untuk diperah
susunya, dan seekor keledai untuk ditunggangi! Ni’mat apa lagi yang lebih besar
dari yang kita miliki ini …?”
Pada suatu hari ia
duduk menyampaikan sebuah Hadits, katanya:
“Aku diberi wasiat oleh junjunganku dengan tujuh perkara: Disuruhnya
aku agar menyantuni orang-orang miskin dan mendekatkan diri
kepada mereka. Disuruhnya aku melihat hepada orang yang di dibawahku dan bukan
kepada orang yang di atasku …. Disuruhnya aku agar tidak meminta sesuatu kepada
oran lain ,… Disuruhnya aku agar menghubungkan tali shilaturahmi …. Disuruhnya
aku mengatakan yang haq walaupun pahit Disuruhnya aku agar dalam menjalankan
Agama Allah, tidak takut celaan orang. Dan disuruhnya agar memperbanyak
menyebut: “Laa haula Walaa quwwata illaa billah“.
Sungguh, ia hidup
menjalani wasiat itu, dan ditempanya corak hidupnya sesuai dengan wasiat itu,
hingga ia pun menjadi hati nurani masyarakat dari ummat dan bangsanya. Berkata
Imam Ali: “Tak seouang pun tinggal sekarang ini yang tidak memperdulikan celaan
orang dalam menegakkan Agama Allah, kecuali Abu Dzar …!”
Hidupnya
dibaktikan untuk menentang penyalahgunaan kekuasaan dan penumpukan harta! Untuk
menjatuhkan yang salah dan menegakkan yang benar! Mengambil alih tanggung jawab
untuk menyampaikan nasihat dan peringatan!
Mereka larang ia
memberikan fatwa, tapi suaranya bertambah lantang, katanya kepada yang melarang
itu:
“Demi Tuhan yang nyawaku berada di tangan-Nya!
Seandainya tuan-tuan menaruh pedang di atas pundakku, sedang menurut rasa
hatiku masih ada kesempatan untuk menyampaikan ucapan Rasulullah yang kudengar
daripadanya, pastilah akan kusampaikan juga sebelum tuan-tuan menebas batang
leherku…!”
Wahai …. kenapa
Kaum Muslimin tak hendak mendengarkan nasihat dan tutur katanya waktu itu …!
Seandainya mereka dengarkan, pastilah fitnah yang berkobar dan berlarut-larut;
yang menjerumuskan pemerintah dan masyarakat Islam pada bahaya, padam dan mati
dalam kandungan..,
Sekarang Abu Dzar
sedang menghadapi sakaratul maut di Rabadzah …, suatu tempat yang dipilihnya
sebagai tempat kediaman setelah terjadi perbedaan pendapat dengan Utsman
radhiallahuanhu. Nah, marilah kita mendapatkannya, untuk melepas kepergian
orang besar ini, dan menyaksikan akhir kesudahan dari kehidupannya yang luar
biasa!
Seorang perempuan
kurus yang berkulit kemerah-merahan dan duduk dekatnya menangis. Perempuan itu
adalah isterinya. Abu Dzar bertanya kepadanya: “Apa yang kamu tangiskan padahal
maut itu pasti datang?” Jawabnya: “karena anda akan meninggal, padahal pada
kita tak ada kain untuk kafanmu!”
Abu Dzar tersenyum
dengan amat ramah — seperti halnya orang yang hendak merantau jauh — lain
berkata kepada isterinya itu:
“Janganlah menangis! Pada suatu hari, ketika saya berada di sisi Rasulullah
bersama beberapa orang shahabatnya, saya dengar beliau bersabda: “Pastilah ada
salah seorang di antara kalian yang akan meninggal di padang pasir liar, yang
akan disaksikan nanti oleh serombongan orang-orang beriman.. .!”
Semua yang ada di Majlis Rasulullah itu telah meninggal di kampung dan di
hadapan jama’ah Kaum Mus~imin, tak ada lagi yang masih hidup di antara mereka
kecuali daku…. Nab, inilah daku sekarang menghadapi maut di padang pasir, maka
perhatikanlah olehmu jalan ….siapa tahu kalau-kalau rombongan orang-orang
beriman itu sudah datang! Demi Allah saya tidak bohong, dan tidak pula
dibohongi!”
Dan ruhnya pun kembali ke hadlirat Allah ….
Dan benarlah, tidak salah ….
Kafilah yang
sedang berjalan cepat di padang sahara itu terdiri atas rombongan Kaum Mu’minin
yang dipimpin oleh Abdullah bin Mas’ud, shahabat Rasulullah shallallahu alaihi
wasalam . Dan sebelum sampai ke tempat tujuan, Ibnu Mas’ud telah melihat
sesosok tubuh; sesosok tubuh yang terbujur seperti tubuh mayat, sedang di
sisinya seorang wanita tua dengan seorang anak, kedua-duanya menangis.
Dibelokkannya
kekang kendaraan ke tempat itu, diikuti dari belakang oleh anggota rombongan.
Dan demi pandangannya jatuh ke tubuh mayat, tampak olehnya wajah shahabatnya;
saudaranya seagama dan saudaranya dalam membela Agama Allah, yakni Abu Dzar.
Air matanya mengucur lebat, dan di hadapan tubuh mayat yang suci itu ia
berkata:
“Benarlah ucapan Rasulullah ….
Anda berjalan sebatang kara ….
mati sebatang kara ….
dan dibangkitkan nanti sebatang kara … ! ”
Ibnu Mas’ud
radhiallahu anhu pun duduklah, lalu diceritakan kepada para shahabatnya maksud
dari pujian yang diucapkannya itu:
“Anda berjalan
seorang diri, mati seorang diri dan dibangkitkan nanti seorang diri!”
Ucapan itu terjadi
di waktu perang Tabuk tahun kesembilan Hijrah …. Rasulullah saw. telah
menitahkan untuk maju memapak dan menghadang pasukan Romawi yang telah
berkumpul di suatu tempat, telah slap perang akan menggempur ummat Islam.
Kebetulan waktu
Nabi menyerukan Kaum Muslimin untuk berjihad itu, di saat musim susah dan panas
terik. Tempat yang akan dituju jaraknya amat jauh, sedang musuh menakutkan
pula. Sebagian Kaum Muslimin ada yang enggan ikut serta karena berbagai alasan.
Rasulullah dan
para shahabatnya berangkatlah diikuti oleh sebahagian orang setengah terpaksa
karena enggan. Dan bertambah jauh perjalanan mereka, bertambah pula kesulitan
dan kesusahan yang diderita.
Bila ada orang
yang tertinggal di belakang, mereka berkata:
“Wahai Rasulullah! si anu telah tertinggal”. Maka
ujarnya:
“Biarkanlah! Andainya ia berguna, tentu akan disusulkan oleh Allah pada kalian. Dan andainya tidak, maka Allah telah membebaskan kalian daripadanya!”
“Biarkanlah! Andainya ia berguna, tentu akan disusulkan oleh Allah pada kalian. Dan andainya tidak, maka Allah telah membebaskan kalian daripadanya!”
Pada suatu kali,
mereka melihat berkeliling, kiuanya tiada tampak oleh mereka Abu Dzar. Maka
kata mereka kepada Rasulullah saw.: “Abu Dzar telah tertinggal,
keledainya menyebabkan ia terlambat”. Rasulullah mengulangi jawabannya tadi.
Keledai Abu Dzar
memang telah amat lelah disebabkan lapar dan haus serta terik matahari, hingga
langkahnya menjadi gontai. Ada dicobanya dengan berbagai akal menghalaunya agar
berjalan cepat, tetapi kelelahan bagai merantai kakinya. Abu Dzar merasa bahwa
jika demikian ia akan ketinggalan jauh dari Kaum Muslimin hingga tak dapat
mengikuti jejak mereka. Maka ia pun turun dari punggung kendaraannya,
diambilnya barang-barang dan dipikul di atas punggungnya, lalu diteruskannya
perjalanan dengan berjalan kaki. Dipercepatlah langkahnya di tengah-tengah
padang pasir yang panas bagai menyala itu, agar dapat menyusul Rasulullah
shallallahu alaihi wasalam dan para shahabatnya.
Di waktu pagi,
ketika Kaum Muslimin telah menurunkan barang-barang mereka untuk beristirahat,
tiba-tiba salah seorang dari anggota rombongan melihat dari kejauhan debu naik
ke atas, sedang di belakangnya kelihatan sosok tubuh seorang laki-laki yang
mempercepat langkahnya.
“Wahai Rasulullah!”
kata orang yang melihat itu, ” itu ada seorang laki-laki berjalan seorang
diri!” Ujar Rasulullah shallallahu alaihi wasalam :
“Mudah-mudahan
orang itu Abu Dzar…!” Mereka melanjutkan pembicaraan sambil menunggu pendatang
itu selesai menempuh jarak yang memisahkan mereka, di saat mana mereka akan
mengetahui siapa dia.
Musafir mulia itu
mendekati mereka secara lambat, langkahnya bagai disentakkan dari pasir lembut
yang membara, sementara beban di punggung bagai menggantungi tubuhnya. Namun ia
tetap gembira penuh harapan, karena
berhasil menyusul kafilah yang dilingkungi barkah, dan tidak ketinggalan
dari Rasulullah saw. dan saudara-saudaranya seperjuangan. Setelah ia sampai
dekat rombongan, seorang berseru: “Wahai Rasulullah! demi Allah ia Abu Dzar”.
Sementara itu Abu Dzar menujukan langkahnya ke arah Rasulullah. Dan demi
Rasulullah melihatnya, tersungginglah senyuman di kedua bibir beliau, sebuah
senyuman yang penuh santun dan belas kasihan sabdanya:
“Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada Abu Dzar.. .!
la berjalan sebatang kara ….
Meninggal sebatang hara….
Dan dibangkitkan nanti sebatang kara … .!”
Setelah berlalu
masa dua puluh tahun atau lebih dari hari yang kita sebutkan tadi, Abu Dzar
wafat di padang pasir Rabadzah sebatang kara …,setelah sebatang kara pula ia
menempuh hidup yang luar biasa yang tak seorangpun dapat menyamainya. Dan dalam
lembaran sejarah, ia muncul sebatang kara – yakni orang satu-satunya – baik
dalam keagungan zuhud maupun keluhuran cita…, dan kemudian di sisi Allah ia akan
dibangkitkan nanti sebagai tokoh satu-satunya pula, karena dengan tumpukan
jasa-jasanya yang tidak terpemadai banyaknya, tak ada lowongan bagi orang lain
untuk berdampingan…! ....Wallahu 'Alam. Ke ABU DZAR AL-GHIFARI (1)
Sumber:
Khalid Muh. Khalid. 2006. Karakteristik Enam Puluh Sahabat Rasulullah. Terj. Mahyuddin Syaf.dkk. Bandung: Diponogoro. h. 75-100
ABU DZAR AL-GHIFARI [Tokoh
Gerakan Hidup Sederhana]
Ia datang ke Mekah
terhuyung-huyung letih tetapi matanya bersinar bahagia….. Memang, sulitnya
perjalanan dan panasnya telah menyengat badannya dengan rasa sakit
udarapadangpasir dan lelah, tetapi tujuan yang hendak dicapainya telah
meringankan penderitaan dan meniupkan semangat serta rasa gembira dalam
jiwanya.
Ia memasuki
kotadengan menyamar seolah-olah ia seorang yang hendak melakukan thawaf
keliling berhala-berhala besar di Ka’bah atau seolah-olah musafir yang sesat
dalam perjalanan atau lebih tepat orang yang telah menempuh
jarak amat jauh, yang merlukan istirahat dan manambah perbekalan.
Padahal seandainya
orang-orang Mekah mengetahui babwa kedatangannya itu untuk menemui Muhammad
shallallahu alaihi wasalam dan mendengar keterangannya, pastilah mereka akan
membunuhnya!
Tetapi ia tak
perduli akan dibunuh asal saja setelah melintasipadangpasir luas, ia dapat
menjumpai laki-laki yang dicarinya dan menyatakan iman kepadanya. Kebenaran dan
da’wah yang diberikan Muhammad shallallahu alaihi wasalam dapat memuaskan
hatinya.
Ia terus melangkah
sambil memasang telinga, dan setiap didengarnya orang
memperkatakan Muhammad shallallahu alaihi wasalam , ia pun mendekat dan
menyimak dengan hati-hati; hingga dari cerita yang tersebar di sana-sini,
diperolehnya petunjuk yang dapat menunjukkan tempat persembunyian Muhammad
shallallahu alaihi wasalam , dan mempertemukannya dengan beliau.
Di pagi suatu hari
ia pergi ke tempat itu, didapatinya Muhammad shallallahu alaihi wasalam sedang
duduk seorang diri. Didekatinya Rasulullah, katanya: “Selamat pagi wahai kawan
sebangsa!” “Alaikum salam, wahai shahabat”, ujar Rasulullah.
Kata Abu Dzar: “Bacakanlah kepadaku hasil gubahan anda!” “Ia bukan sya’ir
hingga dapat digubah, tetapi adalah Quran yang mulia!”, Ujar Rasulullah. “Bacakanlah
oleh Rasulullah, sedang Abu Dzar mendengarkan dengan penuh perhatian, hingga
tidak berselang lama iapun berseru: “Asyhadu alla ilaha illallah wa asyhadu
anna Muhammadan ‘abduhu wa rasuluh”.
Anda dari mana,
saudara sebangsa?”, tanya rasulullah. “Dari Ghitar”, ujarnya. Maka terbukalah
senyum lebar di kedua bibir Rasulullah, sementara wajahnja diliputi rasa kagum
dan ta’jub. Abu dzar tersenyum pula, karena ia mengetahui rasa terpendam di
balik rasa kagum Rasulullah demi mendengar bahwa orang yang telah mengaku Islam
di hadapannya secara terus terang itu, seorang laki-laki dari Ghifar.
Ghifar adalah
suatu kabilah atau suku yang tak ada taranya dalam soal menempuh jarak. Mereka
jadi tamsil perbandingan dalam melakukan perjalanan yang luar biasa. Malam yang
kelam dan gelap gulita tak jadi soal bagi mereka, dan celakalah orang yang
kesasar atau jatuh ke tangan kaum Ghifar di waktu malam!
Sekarang, dikala
agama Islam yang baru saja lahir dan berjalan sembunyi-sembunyi, mungkinkah ada
diantara orang-orang Ghifar itu seorang yang sengaja datang untuk masuk Islam?
Berkatalah Abu Dzar dalam menceritakan sendiri kisah itu: “Maka pandangan
Rasulullah pun turun naik, tak putus ta’jub memikirkan tabi’at orang-orang
Ghifar, lalu sabdanya :
” Sesungguhnya Allah memberi petunjuk kepada yang disukainya…!
Benar, Allah
menunjuki,siapa yang Ia kehendaki ! Abu dzar salah seorang yang,
dikehendaki Allah beroleh petunjuk , orang yang dipilihNya akan mendapat
kebaikan.
Dan memang, Abu
Dzar ini seorang yang tajam pengamatannya tentang kebenaran. Menurut riwayat,
ia termasuk salah seorang yang menentang pemujaan berhala di zaman jahiliyah,
mempunyai kepercayaan akan Ketuhanan serta iman kepada Tuhan Yang Maha Esa lagi
Perkasa, maka iapun menyiapkan bekal dan segera mengayunkan langkahnya.
*****
Abu Dzar telah
masuk Islam tanpa ditunda-tunda lagi….! urutannya dikalangan Muslimin adalah
yang kelima atau keenam. Jadi ia telah memeluk agam itu pada hari-hari pertama,
bahkan pada saat-saat pertama agama Islam, hingga keIslamannya termasuk dalam
barisan terdepan.
Ketika ia masuk
Islam, Rasulullah masih menyampaikan da’wahnya secara berbisik-bisik.
Dibisikkannya kepada Abu Dzar begitupun kepadalimaorang lainya yang telah iman
kepadanya. Dan bagi Abu Dzar, tak ada yang dapat dilakukannya sekarang selain
memendam keimanan itu dalam dada, lalu meninggalkankotaMekah secara diam-diam
dan kembali kepada kaumnya.
Tetapi Abu Dzar
yang nama aslinya Jundub bin Janadah, seorang radikal dan revolusioner. Telah
menjadi watak dan tabi’atnya menentang kebathilan dimanapun ia berada. Dan
sekarang kebathilan itu berada dihadapannya serta disaksikannya dengan kedua
matanya sendiri….Batu-batu yang ditembok, yang dibentuk oleh para pemujanya,
disembah oleh orang-orang yang menundukkan kepala dan merendahkan akal mereka,
dan diseru mereka dengan ucapan yang muluk : Inilah kami , kami datang demi
mengikuti titahmu!
memang, ia melihat
Rasulullah memilih cara bisik-bisik pada hari-hari tersebut, tetapi tidak dapat
tidak harus ada suatu teriakan keras yang akan dikumandangkan pemberontak ulung
ini sebelum ia pergi. Baru saja masuk Islam, ia telah menghadapkan pertanyaan
kepada Rasulullah:
“Wahai Rasulullah, apa yang saya kerjakan menurut anda?” “Kembalillah
kepada kaummu sampai ada perintahku nanti!”, ujar Rasulullah. “Demi Tuhan yang
menguasai nyawaku”, kata Abu Dzar pula, “saya takkan kembali sebelum
meneriakkan Islam dalam masjid!”
Bukankah telah
saya katakan kepada kalian…..?
Jiwa yang radikal
dan revolusioner! Apakah Abu Dzar pada saat terbukanya alam baru secara
gamblang, yang jelas terlukis pada Rasulullah yang diimaninya, sertada’wah yang
uraiannya disampaikan dengan lisannya…, apakah pada saat seperti itu ia mampu
kembali kepada keluarganya dalam keadaan membisu seribu bahasa ? Sunguh, hal
itu diluar kesanggupan dan kemampuannya!
Abu Dzar pergi
menuju masjidil haram dan menyerukan dengan sekeras-kerasnya suaranya: “Asyhadu
Alla ilaaha illallah, wa asyhadu anna Muhammadar rasulullah”. Setahu kita,
teriakan ini merupakan teriakan pertama tentang Agama Islam yang menentang
kesombongan orang-orang Quraisy dan memekakkan telinga mereka…., diserukan oleh
seorang perantau asing yang diMekkah tidak mempunyai bangsa, sanak keluarga
maupun pembela. Dan sebagai akibatnya, ia mendapat perlakuan dari mereka yang sebetulnya
telah dimaklumi akan ditemuinya…. Orang-orang musyrik mengepung dan memukulnya
hingga rubuh.
Berita mengenai
peristiwa yang dialami Abu Dzar itu akhirnya sampai juga kepada paman Nabi,
Abbas. Ia segera mendatangi tempat terjadinya peristiwa tersebut, tapi
dirasanya ia tidak dapat melepaskan Abu Dzar dari cengkeraman mereka kecuali
dengan menggunakan diplomasi halus, maka katanya kepada mereka : “Wahai kaum
Quraisy! Anda semua adalah bangsa pedagang yang mau tak mau akan lewat
dikampung Bani Ghifar. Dan orang ini salah seorang warganya, bila ia bertindak
akan dapat menghasut kaumnya untuk merampok kafilah-kafilahmu nanti!” merekapun
sama menyadari hal itu, lalu pergi meniggalkannya.
Tetapi Abu Dzar
yang telah mengenyam manisnya penderitaan dalam membela Agama Allah, tak hendak
meninggalkan Mekkah sebelum beroleh tambahan dari darma baktinya.
Demikianlah pada
hari berikutnya, tampak olehnya dua orang wanita sedang thawaf keliling
berhala-berhala Usaf dan Na-ilah sambil memohon padanya. Abu Dzar segera
berdiri menghadangnya, lalu dihadapan mereka berhala-berhala itu dihina
sejadi-jadinya.
Kedua wanita itu
memekik berteriak, hingga orang-orang gempar dan berdatangan laksana belalang,
lalu menghujani Abu Dzar dengan pukulan hingga tak sadarkan diri. Ketika ia
siuman, maka yang diserunya tiada lain hanyalah “bahwa tiada Tuhan yang haq
diibadahi melainkan Allah, dan bahwa Muhammad itu utusan Allah”.
Maklumlah sudah
Rasulullah shallallahu alaihi wasalam akan watak dan tabi’at murid barunya yang
ulung ini serta keberaniannya yang menakjubkan dalam melawan kebathilan. Hanya
sayang saatnya belum lagi tiba, maka diulanginyalah perintah agar dia pulang,
sampai bila telah didengarnya nanti Islam lahir terang-terangan ia dapat
kembali dan turut mengambil bagian dalam percaturan dan aneka peristiwanya……
******
Abu Dzar kembali
mendapatkan keluarga serta kaumnya dan menetapkan kepada mereka tentang Nabi
yang baru diutus Allah, -yang menyeru agar mengabdi kepada Allah Yang Maha Esa
dan membimbing mereka supaya berakhlaq mulia. Seorang demi seorang kaumnya
masuk Islam; Bahkan usahanya tidak terbatas pada kaumnya
semata, tapi dilanjutkannya pada,suku lain – yaitu suku Aslam:-di tengah-tengah
mereka: dipancarkan cahaya islam…..
Hari-hari
berlalu mengikuti peredaran , Rasulullah telah hijrah ke Madinah dan
menetap disanabersama Kaum Muslimin. Pada suatu hari, suatu barisan panjang
yang, terdiri atas para pengendara dan pejalan kaki menuju pinggiran kota,
meninggalkan kepulan debu belakang mereka, Kalau bukanlah bunyi suara takbir
mereka yang gemuruh tentulah yang melihat akan menyangka mereka itu suatu
pasukan tentara musyrik yang hendak menyerang kota.
Rombongan besar
itu semakin dekat….. lalu masuk ke dalamkota dan menujukan
langkah mereka ke masjid Rasulullah dan tempat kediamannya.
Ternyata rombongan
itu tiada lain dari kabilah-kabilah Ghifar dan Aslam yang dikerahkan semuanya
oleh Abu Dzar dan tanpa kecuali telah masuk Islam; laki-laki, perempuan, orang
tua, remaja dan anak-anak.
Sudah
selayaknyalah Rasulullah semakin ta’jub dan kagum! Belum lama berselang, ia
ta’jub ada seorang Iaki-laki dari Ghifar yang menanyakan keislamannya di
hadapannya. Sabdanya menunjukkan keta’juban itu:
“Sungguh Allah
memberi hidayah kepada siapa yang dikehendaki-Nya”
Maka sekarang yang
datang itu adalah seluruh warga Ghifar yang menyatakan keIslaman mereka. Telah
beberapa tahun lamanya mereka menganut Agama itu, semenjak mereka diberi
hidayah Allah di tangan Abu Dar. Dan ikut pula bersama mereka suku Aslam.
Raksasa garong dan
komplotan syetan telah beralih rupa menjadi raksasa kebajikan dan pendukung
kebenaran ! Nah, tidaklah sesungguhnya Allah memberi petunjuk kepada siapa yang
dikehendaki-Nya ?
Rasulullah
melayangkan pandangannya kepada wajah-wajah yang berseri-seri, pandangan yang
diliputi rasa haru dan cinta kasih. Sambil menoleh kepada suku Ghifar, ia
bersabda:
” Suku Ghifar
telah di-ghafar — diampuni — oleh Allah.”
Kemudian sambil
menghadap kepada suku Aslam, sabdanya
” Suku Aslam telah
disalam – diterima dengan damai – oleh Allah.”
Dan mengenai Abu
Dzar, muballigh ulung yang berjiwa bebas dan bercita- cita mulia itu, tidakkah
Rasulullah akan menyampaikan ucapan istimewa kepadanya? Tidak pelak lagi,
pastilah ganjarannya tidak terhingga, serta ucapan kepadanya dipenuhi berkah!
Dan tentulah pada dadanya akan tersemat bintang terfinggi, begitu pun riwayat
hidupnya akan penuh dengan medali. Turunan demi turunan serta generasi demi
generasi akan berlalu pergi, tetapi manusia akan selalu mengulang-ulang apa
yang disabdakan oleh Rasulullah saw. mengenai Abu Dzar ini:·
Takhan pernah lagi
dijumpai di bawah langit ini, orang yang lebih benar ucapannya dari Abu Dzar …!
*******
Lebih benarkah
ucapannya dari Abu Dzar …?
Sungguh,
Rasulullah saw. bagai telah membaca hari depan shahabatnya itu, dan manyimpulkan
kesemuanya pada kalimat tersebut. Kebenaran yang disertai keberanian, itulah
prinsip hidup Abu Dzar secara keseluruhan!
Benar bathinnya,
benar pula lahirnya.
Benar ‘aqidahnya,
benar pula ucapannya.
Ia akan menjalani
hidupnya secara benar, tidak akan melakukan kekeliruan. Dan kebenarannya itu
bukanlah keutamaan yang bisu, karena bagi Abu Dzar, kebenaran yang
bisu bukanlah kebenaran! Yang dikatakan benar ialah menyatakan secara terbuka
dan terus terang, yakni menyatakan yang haq dan menentang yang bathil,
menyokong yang betul dan meniadakan yang salah.
Benar itu
kecintaan penuh terhadap yang haq, mengemukakannya secara berani dan melaksanakannya
secara terpuji.
Dengan
penglihatannya yang tajam, bagai menembus ke alam ghaib yang jauh tidak
terjangkau atau samudera yang tidak terselami, Rasulullah saw. menampakkan
segala kesusahan yang akan dialami oleh Abu Dzar sebagai akibat dari kebenaran
dan ketegasannya. Maka selalu dipesankan kepadanya agar melatih diri dengan
keshabaran dan tidak terburu nafsu.
Pada suatu hari
Rasulullah mengemukakan Irepadanya pertanyaan berikut ini:
“Wahai Abu Dzar,
bagaimana pendapatmu bila menjumpai para pembesar yang mengambil barang upeti
untuk diri mereka pribadi?” Jawab Abu Dzar: “Demi yang telah mengutus anda
dengan kebenaran, akan saya tebas mereka dengan pedangku!” Sabda Rasulullah
pula: Maukah kamu aku beri jalan yang lebih baik dari itu….? Ialah bershabar
samapai kamu menemuiku ”
Tahukah anda
kenapa Rasulullah mengajukan pertanyaan seperti itu? Itulah persoalan pembesar
dan harta …!
Nah itulah
persoalan pokok bagi Abu Dzar dan untuk itu ia harus membaktikan hidupnya,
suatu kemusykilan menyangkut masyarakat ummat dan masa depan yang harus
dipecahkannya!
Hal itu telah
dimaklumi oleh Rasululiah, dan itulah sebabnya kepada beliau mengajukan
pertanyaan seperti demikian, yaitu untuk membekalinya dengan nasihat yang amat
berharga: “Bershabarlah sampai kamu menemuiku”
Maka Abu Dzar akan
selalu ingat kepada wasiat guru dan Rasul ini. Ia tiadalah akan menggunakan
ketajaman pedang terhadap para pembesar yang mengaut kekayaan dari harta rakyat
sebagai ancamannya dulu …,tetapi juga ia tidak akan bungkam atau berdiam diri
walau agak sesaat pun terhadap mereka!
Memang, seandainya
Rasulullah saw. melarangnya menggunakan senjata untuk menebas leher mereka,
tetapi beliau tidak melarangnya menggunakan lidah yang tajam demi membela kebenaran.
Dan wasiat itu akan dilaksanakannya …!
Masa Rasulullah
berlalulah sudah, disusul kemudian oleh masa Abu Bakar, kemudian masa Umar.
Dalam kedua Khilafah ini masih dapat dijinakkan sebaik-baiknya godaan hidup dan
unsur-unsur fitnah pemecah belah, hingga nafsu angkara yang haus dahaga tidak
beroleh angin atau mendapatkan jalan.
Ketika itu tidak
terdapat penyelewengan-penyelewengan yang akan mengakibatkan Abu Dzar bangkit
menentang dengan suaranya yang lantang dan kecamannya yang pedas. Telah lama
berlaku dalam pemerintahan Amirul Mu’minin Umar keharusan hidup sederhana dan
menjauhi kemewahan serta menegakkan keadilan bagi setiap pejabat dan pembesar
Islam. Begitu pun para hartawan di mana mereka berada, telah melaksanakan
disiplin ketat yang hampir saja tidak terpikul oleh kemampuan manusia.
Tiada seorang pun
di antara pejabatnya, baik di Irak, di Syria, Shan’a, atau di negeri yang jauh
letaknya sekalipun, yang memakan panganan mahal yang tidak terjangkau oleh
rakyat biasa, kecuali selang beberapa hari berita itu akan sampai kepada Umar
dan perintah keras pun akan memanggil pejabat yang bersangkutan menghadap
Khalifah di Madinah untuk menjalani pemeriksaan ketat.
Akan tenanglah Abu
Dzar kalau demikian …tenteram dan damai, selama al-Faruqul ‘adhim’) masih
menjabat Amirul Mu’minin …. Dan selama Abu Dzar dalam kehidupannya tidak
diganggu oleh kepincangan-kepincangan seperti penumpukan harta dan
penyalahgunaan kekuasaan, maka dengan pengawasan Umar ibnul Khatthab’ yang
ketat terhadap fihak penguasa dan pembagian yang merata terhadap harta, berarti
telah memberikan kepuasan dan kelegaan kepada dirinya …. Dan dengan demikian
dapatlah ia memusatkan perhatiannya dalam beribadat kepada Allah penciptanya
dan berjihad di jalan-Nya, tanpa sedikitpun hendak berdiam diri jika melihat
kesalahan-kesalahan di sana-sini, yang ketika itu memang jarang terjadi ….
Akan tetapi
setelah khalifah terbesar yang teramat adil dan paling mengagumkan di antara
tokoh kemanusiaan telah pergi, terasa adanya kehampaan dalam kepemimpinan.
Bahkan hal tersebut menimbulkan kemunduran yang tak dapat dikuasai dan dibatasi
oleh tenaga manusia. Sementara itu meluasnya ajaran al-Islam ke berbagai
pelosok dunia menumbuhkan kemakmuran hidup. Orang yang tidak dapat menahan
godaan dunia banyak yang terjerwmus ke daiam kemewahan yang melebihi batas.
Abu Dzar melihat
bahaya ini ….
Panji-panji
kepentingan pribadi hampir saja menyeret dan mendepak orang-orang yang tugasnya
sehari-hari menegakkan panji-panji Allah. Dan dunia, dengan daya tarik serta
tipu muslihatnya yang mempesona, hampir pula memperdayakan orang-orang yang
mengemban risalah untuk menpergunakannya sebagai wadah untuk menyemai dan
menanamkan kebajikan!
Dan harta yang
dijadikan Allah sebagai pelayan yang harus tunduk kepada manusia, cenderung
berubah mupa, menjadi tuan yang mengendalikan manusia.
Al-Faruqul ‘adhim,
yakni pemisah antara haq dan bathil yang perkssa. Al-Faruq, ialah gelar
kepahlawanan Umar ibnul Khatthab yang dianugerahkan oleh RasululIah saw.
Dan kepada siapa..
.?
Tiada lain kepada
shahabat-shahabat Muhammad saw., yang di waktu wafatnya baju besinya
sedang tergadai, sementara gundukan upeti dan harta rampasan perang bertumpuk
di bawah telapak kakinya!
Hasil kekayaan
bumi yang sengaja diperuntukkan Allah bagi semua ummat manusia, dengan
menjadikan mereka mempunyai hak yang sama, hampir berubah menjadi suatu
keistimewaan dan hak monopoli bagi mereka yang terbenam dalam kemewahan.
Dan jabatan, yang
merupakan amanat untuk dipertanggungjawabkan kelak di hadapan pengadilan ilahi,
beralih menjadi alat untuk merebut kekuasaan, kekayaan dan kemewahan yang
menghancur binasakan.
Abu Dzar melihat
semua ini. Ia tidak memikirkan apakah itu menjadi kewajiban dan tanggung
jawabnya. Hanya ia langsung menghunus pedang, meletakkannya ke udara dan
membedahnya.
Kemudian ia
bangkit berdiri dan menantang masyarakat yang telah menyimpang dari ajaran
islam dengan pedangnya yang tak pernah tumpul itu. Tetapi secepatnya bergemalah
dalam kalbunya bunyi wasiat yang telah disampaikan Rasulullah ke padanya dulu.
Maka dimasukkannya kembali pedang itu ke dalam sarungnya, karena tiada
sepantasnya ia akan mengacungkannya ke wajah seorang Muslim.
Dan tidak
ada haq bagi seorang Mu ‘min untuk membunuh Mu ‘min lainnya kecuali karena
keliru (tidak sengaja). (Q,S. an-Nisa : 92)
Bukankah dulu
Rasulullah telah menyatakan di hadapan para shakabatnya bahwa di bawah langit
ini takkan pernah lagi muncul orang yang lebih benar ucapannya dari Abu Dzar?
Orang yang
memiliki bemampuan seperti ini, berupa kata-kata tepat dan jitu, tidak
memerlukan lagi senjata lainnya. Satu kalimat yang diucapkannya, akan lebih
tajam dan banyak hasilnya daripada pedang walau sepenuh bumi.
Maka dengan
senjata kebenarannya ia akan pergi mendapatkan para pembesar, kaum hartawan;
pendeknya kepada dunia manusia yang cenderung menumpuk kekayaan yang
membahayakan Agama, yakni Agama yang sengaja datang untuk memberikan bimbingan
dan bukan untuk memungut upeti, sebab kenabian bukan suatu kerajaan, menjadi
rahmat karunia bukan adab sengsara, mengajarkan kerendahan hati bukan
kesombongan diri, persamaan bukan pengkastaan, kesahajaan bukan keserakahan,
kesederhanaan bukan keborosan, kedamaian dan kebijaksanaan dalam menghadapi hidup
bukan terpedaya dan mati-matian dalam mengejarnya…..!
Baiklah ia pergi
mendapatkan mereka semua, dan biarlah Allah menjadi hakim diantaranya dengan
mereka, dan dialah sebaik-baik hakim!.
******
Maka pergilah Abu
Dzar menemui pusat-pusat kekuasaan dan gudang harta, dan dengan lisannya yang
tajam dan benar merubah sikap mental mereka satu persatu. Dalam beberapa hari
saja tak ubahnya ia telah menjadi panji-panji yang di bawahnya bernaung rakyat
banyak dan golongan pekerja, bahkan sampai di negeri yang jauh yang penduduknya
selama itu belum pernah melihatnya.
Nama Abu Dzar
bagaikan terbang kesana…, dan tak satu daerah pun yang dilaluinya — bahkan
walau barn namanya yang sampai ke sans — menimbulkan rasa takut dan ngeri hati
fihak penguasa dan golongan berharta yang beulaku curang.
Seandainya
penggerak hidup sederhana ini hendak mengambil suatu panji bagi diri pribadi
dan gerakannya, maka lambang yang akan terpampang pada panji-panji itu tiada
lain dari sebuah seterika dengan baranya yang merah menyala. Sedang yang akan
menjadi semboyan dan lagi yang selalu diulang-ulangnya setiap waktu dan tempat,
dan diulang-ulang pula oleh para pengikutnya seolah-olah suatu lagu perjuangan,
ialah kalimat-kalimat ini:
“Beritakanlah
kepada para penumpuk harta, yang menumpuk emas dan perak, mereka akan diseterika
dengan seterika api neraka, menyeterika hening dan pinggang mereka di hari
qiamat”
Setiap ia mendaki
bukit, menuruni lembah memasuki kota; dan setiap ia berhadapan dengan seorang
pembesar, selalu kalimat itu yang menjadi buah mulutnya. Begitu pun setiap
orang melihatnya datang berkunjung, mereka akan menyambutnya dengan ucapan:
“Beritakan kepada para penumpuk harta…!”
Kalimat ini
benar-benar telah menjadi panji-panji suatu missi yang menjadi
tekad serta pendorong dalarfi membaktikan hidupnya, demi dilihatnya harta itu
telah ditumpuk dan dimonopoli, serta jabatan disalahgunakan untuk memupuk
kekuatan dan mengaut keuntungan; serta disaksikannya bahwa cinta dunia telah
merajalela dan hampir saja melumari hasil yang telah dicapai di tahun-tahun
kerasulan, berupa keutamaan dan keshalihan, kesungguhan dan keikhlasan.
Abu Dzar menujukan
sasarannya yang pertama terhadap poros utama kekuasaan dan gudang raksasa
kekayaan, yaitu Syria, tempat bercokolnya Mu’awiyah bin Abi Sufyan yang memerintah
wilayali Islam paling subur, paling banyak hasil bumi dan paling kaya dengan
barang upetinya. Mu’awiyah telah memberikan dan membagi-bagikan harta tanpa
perhitungan, dengan tujuan untuk mengambil hati orang-orang terpandang dan
berpengaruh, dan demi terjaminnya masa depan yang masih dirindukannya,
didambakan oleh keinginannya yang luas tidak terbatas ….
Di sana
tanah-tanah luas, gedung-gedung tinggi dan harta berlimpah telah menggoda
sisa-sisa yang tinggal dari pemikul da’wah, maka Abu Dzar cepat mengatasinya,
sebelum hal itu berlarut-larut, sebelum pertolongan datang terlambat hingga
nasi telah menjadi bubur.
Pemimpin gerakan
hidup sederhana ini pun berkemas-kemas, dan secepat kilat berangkat ke Syria.
Dan demi berita itu didengar oleh rakyat jelata, mereka pun menyambut
Kedatangannya dengan semangat menyala penuh kerinduan, dan mengikuti ke mana
perginya.
“Bicaralah, wahai
Abu Dzar!” kata mereka: “bicaralah, wahai shahabat Rasulullah!” Abu Dzar
melepaskan pandang menyelidik ke arah orang-orang yang berkerumun. Dilihatnya
kebanyakan mereka adalah orang-orang miskin yang dalam kebutuhan. Lalu
dilayangkan pandangnya ke arah tempat-tempat ketinggian yang tidak jauh
letaknya dari sana, maka tampaklah olehnya gedung-gedung dan mahligai tinggi.
Berserulah ia kepada orang-orang yang berhimpun sekelilingnya itu:
“Saya heran melihat orang yang tidak punya makanan di rumahnya,
kenapa ia tidak mendatangi orang-orang itu dengan menghunus pedangnya!”
Tetapi segera pula
teringat olehnya wasiat Rasulullah yang menyuruhnya memilih cara evolusi
daripada cara revolusi, menggunakan kata-kata tandas daripada senjata pedang.
Maka ditinggalkannyalah bahasa perang dan kembali menggunakan bahasa logika dan
kata-kata jitu. Diajarkannyalah kepada orang-orang itu bahwa mereka sama tak
ubah bagai gigi-gigi sisir …, bahwa semua mereka berserikat dalam rizqi …,
bahwa tak ada kelebihan seseorang dari lainnya kecuali dengan taqwa…, dan bahwa
pemimpin serta pembesar dari suatu golongan, haruslah yang pertama kali
menderita kelaparan sebelum anak buahnya, sebaliknya yang paling belakang
menikmati kekenyangan setelah mereka…!
Dengan ucapan
serta keberaniannya. Abu Dzar telah memutuskan untuk membentuk suatu pendapat
umum di setiap negeri Islam; hingga dengan kebenaran, kekuatan dan ketangguhannya
menjadi kekangan eerhadap para pembesar dan kaum hartawan, dan dapat mencegah
munculnya suatu golongan yang menyalahgunakan kekuasaan atau menumpuk harta
kekayaan.
Selanjutnya Klik,,, ABU DZAR AL-GHIFARI (2) Habis



