Siapa motor pengeritik utama dari tokoh sebelumnya yang pernah kita bahas “Imam al-Ghazali”? jawabanya ya dia adalah Ibnu Rusyd. Tidak hanya seorang pengeritik, ia sendiri menelorkan pandangan – pandangan filsafatnya yang diakui kehebatannya oleh banyak orang, baik kalangan Muslim, yahudi, maupun Kristiani.

Nama lengkap Ibnu Rusyd adalah Abu al-Wahd Muhammad bin Ahmad Ibnu Rusyd. Oleh para penulis barat ia dikenal dengan nama Averroes. Berbeda dengan al-Ghazali yang dilahirkan dari keluarga yang kurang mampu, maka Ibnu Rusyd dilahirkan dari keluarga yang terpandang di Kordova, Andalusia (sekarang termasuk negara spayol).
Tulisan ini merupakan salah satu tulisan ulama besar Islam Sayyid Sabiq dalam bukunya Anashirul Quwwah fil Islam (Unsur-Unsur Kekuatan Islam; Dasar terciptanya kemuliaan hidup & kokohnya kepemimpinan Umat). Saya pikir sangat bagus kalau tulisan ini disebarkan ke teman-teman generasi masa depan, sebagai refleksi dari tahun baru hijriah 1436 h. dari hijrahnya Nabi Muhammad saw dari Makkah ke Madinah.


Islam mengajarkan bahwa “harga diri” itu merupakan suatu hal yang paling utama dan paling baik. Hargadiri adalah hal terpentung dalam memperoleh kebajikan, dalam menyingkirkan kejahatan, dalam berpegang pada sifat –sifat mulia, dan dalam menelaah masalah-masalah yang bernilai tinggi, dlam menjauhi hawa nafsu, dalam membersihkan diri dari keinginannburuk dan perbuatan-perbuatan keji, dan dalam menghindarkan diri dari hal-hal yang tidak benar (bohong) serta akhlak yang rendah.
Hari sabtu ini merupakan hari ke-8 dari bulan Muharram, dan hari minggu – senin merupakan hari yang Rasulullah saw sunahkan untuk melaksanakan ibadah puasa sunah. Yaitu pada tanggal 9 dan 10 Muharran atau bertepatan dengan tanggal 2 dan 3 November 2014. Lalu bagaimana sejarah disunahkannya puasa pada hari tersebut, mari kita simak bersama.


SEJARAH PUASA ‘ASYURA (hari ke-10)

Hari ‘Asyura atau 10 Muharram adalah hari yang agung, pada hari tersebut Allah menyelamatkan nabi Musa dan Harun ‘alaihimas salam dan Bani Israil dari pengejaran Fir’aun dan bala tentaranya di Laut Merah. Untuk mensyukuri nikmat yang agung tersebut, kaum Yahudi diperintahkan untuk melaksanakan shaum ‘Asyura.