Terdapat banyak ayat dalam Al
Qur'an yang mengabarkan akan diterimanya taubat orang-orang yang melakukan
taubat jika taubat mereka tulus, dengan banyak redaksi. Dengan berdalil pada
kemurahan karunia Allah SWT, ampunan dan rahmat-Nya, yang tidak merasa sempit
dengan perbuatan orang yang melakukan maksiat, meskipun kemaksiatan mereka
telah demikian besar.
![]() |
| Ilustrasi Gambar [Sumber:blog.innomuslim.com] |
Seperti dalam firman Allah SWT
dalam QS. At-Taubah[9] ayat 104:
أَلَمْ يَعْلَمُوا أَنَّ
اللَّهَ هُوَ يَقْبَلُ التَّوْبَةَ عَنْ عِبَادِهِ وَيَأْخُذُ الصَّدَقَاتِ
وَأَنَّ اللَّهَ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ
Artinya: "Tidakkah
mereka mengetahui, bahwasanya Allah menerima taubat dari hamba-hambaNya dan
menerima zakat, dan bahwasanya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang?
." (QS. At-Taubah: 104)
وَهُوَ الَّذِي يَقْبَلُ
التَّوْبَةَ عَنْ عِبَادِهِ وَيَعْفُو عَنِ السَّيِّئَاتِ وَيَعْلَمُ مَا
تَفْعَلُونَ
Artinya: "Dan
Dialah Yang menerima taubat dari hamba-hambaNya dan memaafkan
kesalahan-kesalahan." (QS. Asy-Syuuraa [42] 25)
غَافِرِ الذَّنْبِ وَقَابِلِ
التَّوْبِ شَدِيدِ الْعِقَابِ ذِي الطَّوْلِ لا إِلَهَ إِلا هُوَ إِلَيْهِ
الْمَصِيرُ
Artinya:
yang mengampuni dosa dan menerima taubat lagi keras hukuman-Nya. yang mempunyai
karunia. tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. hanya kepada-Nyalah
kembali (semua makhluk).
Terutama orang yang bertaubat
dan melakukan perbaikan. Atau dengan kata lain, orang yang bertaubat dan
melakukan amal yang saleh. Seperti dalam firman Allah SWT dalam masalah pria
dan wanita yang mencuri:
فَمَنْ تَابَ مِنْ بَعْدِ
ظُلْمِهِ وَأَصْلَحَ فَإِنَّ اللَّهَ يَتُوبُ عَلَيْهِ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ
رَحِيمٌ
Artinya: "Maka
barangsiapa yang bertaubat (di antara pencuri-pencuri itu) sesudah melakukan
kejahatan itu, dan memperbaiki diri, maka sesungguhnya Allah menerima
taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al
Maaidah [5] 39)
وَإِذَا جَاءَكَ الَّذِينَ
يُؤْمِنُونَ بِآيَاتِنَا فَقُلْ سَلامٌ عَلَيْكُمْ كَتَبَ رَبُّكُمْ عَلَى نَفْسِهِ
الرَّحْمَةَ أَنَّهُ مَنْ عَمِلَ مِنْكُمْ سُوءًا بِجَهَالَةٍ ثُمَّ تَابَ مِنْ
بَعْدِهِ وَأَصْلَحَ فَأَنَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
Artinya: "Tuhanmu
telah menetapkan atas diriNya kasih sayang, (yaitu) bahwasanya barangsiapa yang
berbuat kejahatan di antara kamu lantaran kejahilan, kemudian ia bertaubat
setelah mengerjakannya, dan mengadakan perbaikan, maka sesungguhnya Allah Maha
Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Al An'aam [6] 54)
ثُمَّ إِنَّ رَبَّكَ
لِلَّذِينَ عَمِلُوا السُّوءَ بِجَهَالَةٍ ثُمَّ تَابُوا مِنْ بَعْدِ ذَلِكَ
وَأَصْلَحُوا إِنَّ رَبَّكَ مِنْ بَعْدِهَا لَغَفُورٌ رَحِيمٌ
Artinya: "Kemudian,
sesungguhnya Tuhanmu (mengampuni) bagi orang-orang yang mengerjakan kesalahan
karena kebodohannya, kemudian mereka bertaubat setelah itu, dan memperbaiki (
dirinya) sesungguhnya Tuhanmu sesudah itu Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang." (QS. An-Nahl [16] ayat 119)
Puja-puji terhadap Allah SWT
dengan nama-Nya "at-Tawwab" (Maha Penerima Taubat) terdapat dalam al
Quran sebanyak sebelas tempat. Seperti dalam do'a Ibrahim dan Isma'il a.s.:
رَبَّنَا وَاجْعَلْنَا
مُسْلِمَيْنِ لَكَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِنَا أُمَّةً مُسْلِمَةً لَكَ وَأَرِنَا
مَنَاسِكَنَا وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ
Artinya: "Dan
terimalah taubat kami, sesungguhnya Engkaulah yang Maha penerima taubat lagi
Maha Penyayang." (QS. Al Baqarah [2] ayat 128).
Juga seperti dalan sabda Nabi
Musa kepada Bani Israil setelah mereka menyembah anak sapi:
وَإِذْ قَالَ مُوسَى
لِقَوْمِهِ يَا قَوْمِ إِنَّكُمْ ظَلَمْتُمْ أَنْفُسَكُمْ بِاتِّخَاذِكُمُ
الْعِجْلَ فَتُوبُوا إِلَى بَارِئِكُمْ فَاقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ ذَلِكُمْ خَيْرٌ
لَكُمْ عِنْدَ بَارِئِكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ إِنَّهُ هُوَ التَّوَّابُ
الرَّحِيمُ
Artinya :"Maka
bertaubatlah kepada Tuhan Yang menjadikan kamu, dan bunuhlah dirimu. Hal itu
adalah lebih baik bagimu, pada sisi Tuhan Yang menjadikan kamu, maka Allah akan
menerima taubatmu. Sesungguhnya Dialah yang Maha Penerima taubat dan Maha
Penyayang ." (QS. Al Baqarah [2] 54)
Allah SWT berfirman kepada
Rasul-Nya:
وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ
رَسُولٍ إِلا لِيُطَاعَ بِإِذْنِ اللَّهِ وَلَوْ أَنَّهُمْ إِذْ ظَلَمُوا
أَنْفُسَهُمْ جَاءُوكَ فَاسْتَغْفَرُوا اللَّهَ وَاسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُولُ
لَوَجَدُوا اللَّهَ تَوَّابًا رَحِيمًا
Artinya: "Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya
dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasulpun memohon
ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima taubat lagi
Maha Penyayang. (QS. An-Nisa[4] ayat 64). Wallahu 'Alam
Sumber:
DR. Yusuf Al-Qardhawi [buku Tuntunan Bertaubat kepada Allah SWT Judul
Asli: at Taubat Ila Allah] - Penerjemah: Abdul Hayyie al Kattani.
Keutamaan-keutamaan bagi orang
yang bertaubat dalam al-Qur’an..Tentang dorongan dan anjuran
untuk bertobat al-Qur'an telah mencatatnya.
Allah swt telah berfirman dalam al-Qur'an surat al-baqarah [2]
ayat 222:
...إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ
التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ
Artinya: ... “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan
menyukai orang-orang yang mensucikan diri”.
Maka derajat apa yang lebih
tinggi dari pada mendapatkan kasih sayang Rabb semesta alam.
Dalam menceritakan tentang
ibadurrahman yang Allah SWT berikan kemuliaan dengan menisbahkan mereka
kepada-Nya, serta menjanjikan bagi mereka surga, di dalamnya mereka mendapatkan
ucapan selamat dan mereka kekal di sana, serta mendapatkan tempat yang baik.
Firman Allah SWT dalam QS. Al-Furqan [25] ayat 68-70:
وَالَّذِينَ لا يَدْعُونَ
مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ وَلا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ
إِلا بِالْحَقِّ وَلا يَزْنُونَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ يَلْقَ أَثَامًا (٦٨)
يُضَاعَفْ لَهُ الْعَذَابُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَيَخْلُدْ فِيهِ مُهَانًا (٦٩)
إِلا مَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ عَمَلا صَالِحًا فَأُولَئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ
سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا (٧٠)
Artinya: 68. Dan orang-orang yang tidak menyembah Tuhan yang lain beserta
Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali
dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan yang
demikian itu, niscaya Dia mendapat (pembalasan) dosa(nya), 69. (yakni) akan
dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan Dia akan kekal dalam azab
itu, dalam Keadaan terhina, 70. kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan
mengerjakan amal saleh; Maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan
kebajikan. dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Keutamaan apalagi yang lebih
besar dari pada orang yang bertaubat itu mendapatkan ampunan dari Allah SWT ,
hingga keburukan mereka digantikan dengan kebaikan?
Dan dalam penjelasan tentang
keluasan ampunan Allah SWT dan rahmat-Nya bagi orang-orang yang bertaubat.
Allah SWT berfirman dalam QS. Az-Zumar [39] ayat 53:
قُلْ يَا عِبَادِيَ
الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ
إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
Artinya: "Katakanlah:
"Hai hamba-hambaKu yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri,
janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni
dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang." (QS. Az-Zumar: 53)
Ayat ini membukakan pintu
dengan seluas-luasnya bagi seluruh orang yang berdosa dan melakuan kesalahan.
Meskipun dosa mereka telah mencapai ujung langit sekalipun. Seperti sabda
Rasulullah Saw:
"Jika kalian melakukan
kesalahan-kesalahan (dosa) hingga kesalahan kalian itu sampai ke langit,
kemudian kalian bertaubat, niscaya Allah SWT akan memberikan taubat kepada
kalian." (Hadist diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari Abi Hurairah, dan ia
menghukumkannya sebagai hadits hasan dalam kitab sahih Jami' Shagir - 5235)
Di antara keutamaan
orang-orang yang bertaubat adalah: Allah SWT menugaskan para malaikat
muqarrabin untuk beristighfar bagi mereka serta berdo'a kepada Allah SWT agar
Allah SWT menyelamatkan mereka dari azab neraka. Serta memasukkan mereka ke
dalam surga. Dan menyelamatkan mereka dari keburukan. Mereka memikirkan urusan
mereka di dunia, sedangkan para malaikat sibuk dengan mereka di langit. Allah
SWT berfirman dalam QS.Ghaafir/al-mukmin [40] ayat 7-9:
الَّذِينَ يَحْمِلُونَ
الْعَرْشَ وَمَنْ حَوْلَهُ يُسَبِّحُونَ بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَيُؤْمِنُونَ بِهِ
وَيَسْتَغْفِرُونَ لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا وَسِعْتَ كُلَّ شَيْءٍ رَحْمَةً
وَعِلْمًا فَاغْفِرْ لِلَّذِينَ تَابُوا وَاتَّبَعُوا سَبِيلَكَ وَقِهِمْ عَذَابَ
الْجَحِيمِ (٧) رَبَّنَا وَأَدْخِلْهُمْ جَنَّاتِ عَدْنٍ الَّتِي وَعَدْتَهُمْ
وَمَنْ صَلَحَ مِنْ آبَائِهِمْ وَأَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ إِنَّكَ أَنْتَ
الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ (٨) وَقِهِمُ السَّيِّئَاتِ وَمَنْ تَقِ السَّيِّئَاتِ
يَوْمَئِذٍ فَقَدْ رَحِمْتَهُ وَذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ (٩)
Artinya: 7. (malaikat-malaikat) yang memikul 'Arsy dan Malaikat yang berada
di sekelilingnya bertasbih memuji Tuhannya dan mereka beriman kepada-Nya serta
memintakan ampun bagi orang-orang yang beriman (seraya mengucapkan): "Ya Tuhan
Kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu, Maka berilah ampunan
kepada orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalan Engkau dan peliharalah
mereka dari siksaan neraka yang menyala-nyala, 8. Ya Tuhan Kami, dan
masukkanlah mereka ke dalam syurga 'Adn yang telah Engkau janjikan kepada
mereka dan orang-orang yang saleh di antara bapak-bapak mereka, dan
isteri-isteri mereka, dan keturunan mereka semua. Sesungguhnya Engkaulah yang
Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana, 9. dan peliharalah mereka dari (balasan)
kejahatan. dan orang-orang yang Engkau pelihara dari (pembalasan) kejahatan
pada hari itu Maka Sesungguhnya telah Engkau anugerahkan rahmat kepadanya dan
Itulah kemenangan yang besar".
LANJUT BERIKUTNYA>> klik KEUTAMAAN DAN PERINTAH TAUBAT (2)
Syarah
Hadits Arba'in An-Nawawiyyah No. ke-13 tentang kewajiban seorang muslim terhadap saudara muslimnya yaitu
untuk saling mencintai satu sama lain karena Allah SWT...
![]() |
| Perumpamaan kita adalah seorang saudara yang kembar, kita harus saling menyayangi (Gambar: edukasi.kompasiana.com) |
عَنْ أَبِي حَمْزَةَ أَنَسْ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، خَادِمُ
رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : لاَ يُؤْمِنُ
أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِه [رواه
البخاري ومسلم]
Dari Abu Hamzah,
Anas bin Malik radhiyallahu anhu, pelayan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
Sallam, dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Tidak beriman
seseorang di antara kamu sehingga ia mencintai milik saudaranya (sesama muslim)
seperti ia mencintai miliknya sendiri”. [Bukhari no. 13, Muslim no. 45]
Penjelasan Hadits
ke-13:
Demikianlah di dalam Shahih
Bukhari, digunakan kalimat “milik saudaranya” tanpa kata yang menunjukkan
keraguan. Di dalam Shahih Muslim disebutkan “milik saudaranya atau tetangganya”
dengan kata yang menunjukkan keraguan.
Para ulama berkata bahwa
“tidak beriman” yang dimaksudkan ialah imannya tidak sempurna karena bila tidak
dimaksudkan demikian, maka berarti seseorang tidak memiliki iman sama sekali
bila tidak mempunyai sifat seperti itu. Maksud kalimat “mencintai milik
saudaranya” adalah mencintai hal-hal kebajikan atau hal yang mubah. Hal ini
ditunjukkan oleh riwayat Nasa’i yang berbunyi:
“Sampai ia mencintai
kebaikan untuk saudaranya seperti mencintainya untuk dirinya sendiri”.
Abu ‘Amr bin Shalah berkata
: “ Perbuatan semacam ini terkadang dianggap sulit sehingga tidak mungkin
dilakukan seseorang. Padahal tidak demikian, karena yang dimaksudkan ialah
bahwa seseorang imannya tidak sempurna sampai ia mencintai kebaikan untuk
saudaranya sesama muslim seperti mencintai kebaikan untuk dirinya sendiri. Hal
tersebut dapat dilaksanakan dengan melakukan sesuatu hal yang baik bagi diriya,
misalnya tidak berdesak-desakkan di tempat ramai atau tidak mau mengurangi
kenikmatan yang menjadi milik orang lain. Hal-hal semacam itu sebenarnya
gampang dilakukan oleh orang yang berhati baik, tetapi sulit dilakukan orang
yang berhati jahat”. Semoga Allah memaafkan kami dan saudara kami semua.
Abu Zinad berkata : “Secara
tersurat Hadits ini menyatakan hak persaman, tetapi sebenarnya manusia itu
punya sifat mengutamakan dirinya, karena sifat manusia suka melebihkan dirinya.
Jika seseorang memperlakukan orang lain seperti memperlakukan dirinya sendiri,
maka ia merasa dirinya berada di bawah orang yang diperlakukannya demikian.
Bukankah sesungguhnya manusia itu senang haknya dipenuhi dan tidak dizhalimi?
Sesungguhnya iman yang dikatakan paling sempurna ketika seseorang berlaku
zhalim kepada orang lain atau ada hak orang lain pada dirinya, ia segera
menginsafi perbuatannya sekalipun hal itu berat dilakukan.
Diriwayatkan bahwa Fudhail
bin ‘Iyadz, berkata kepada Sufyan bin ‘Uyainah : “Jika anda menginginkan orang
lain menjadi baik seperti anda, mengapa anda tidak menasihati orang itu karena
Allah. Bagaimana lagi kalau anda menginginkan orang itu di bawah anda?”
(tentunya anda tidak akan menasihatinya).
Sebagian ulama berpendapat:
“Hadits ini mengandung makna bahwa seorang mukmin dengan mukmin lainnya laksana
satu tubuh. Oleh karena itu, ia harus mencintai saudaranya sendiri sebagai
tanda bahwa dua orang itu menyatu”.
Seperti tersebut pada Hadits lain:
Seperti tersebut pada Hadits lain:
“Orang-orang mukmin laksana
satu tubuh, bila satu dari anggotanya sakit, maka seluruh tubuh turut mengeluh
kesakitan dengan merasa demam dan tidak bisa tidur malam hari”.
Pelajaran dari Hadits
ke-13:
1. Seorang
mu’min dengan mu’min yang lainnya bagaikan satu jiwa, jika dia mencintai
saudaranya maka seakan-akan dia mencintai dirinya sendiri.
2. Menjauhkan
perbuatan hasad (dengki) dan bahwa hal tersebut bertentangan dengan
kesempurnaan iman.
3. Iman
dapat bertambah dan berkurang, bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan
kemaksiatan.
4. Anjuran
untuk menyatukan hati.
Itulah
bagaimana Islam mengatur kehidupan seorang manusia di dunia ini, manusia
diperintahkan untuk saling mencintai bahkan harus merasa bahwa seakan-akan ia
dalam mencintai orang lain itu adalah seperti mencintai dirinya sendiri. Wallahu
‘Alam...




