Rasulullah telah memberikan
Suri Tauladan dalam setiap dimensi kehidupan beliau yang seharusnya dan
sepatutnya kita jadikan contoh dalam menjalankan kehidupan di dunia ini. Pada hadits
Arba’in ke-2 ini bercerita tentang percakapan Rasulullah saw dengan Malak
Jibril mengenai tiga pilar utama Islam yaitu IMAN, ISLAM, IKHSAN. Mari kita Simak haditsnya..
عَنْ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَيْضاً قَالَ :
بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوْسٌ عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
ذَاتَ يَوْمٍ إِذْ طَلَعَ عَلَيْنَا رَجُلٌ شَدِيْدُ بَيَاضِ الثِّيَابِ شَدِيْدُ
سَوَادِ الشَّعْرِ، لاَ يُرَى عَلَيْهِ أَثَرُ السَّفَرِ، وَلاَ يَعْرِفُهُ مِنَّا
أَحَدٌ، حَتَّى جَلَسَ إِلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَأَسْنَدَ رُكْبَتَيْهِ
إِلَى رُكْبَتَيْهِ وَوَضَعَ كَفَّيْهِ عَلَى فَخِذَيْهِ وَقَالَ: يَا مُحَمَّد
أَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِسْلاَمِ، فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم :
اْلإِسِلاَمُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا
رَسُوْلُ اللهِ وَتُقِيْمَ الصَّلاَةَ وَتُؤْتِيَ الزَّكاَةَ وَتَصُوْمَ
رَمَضَانَ وَتَحُجَّ الْبَيْتَ إِنِ
اسْتَطَعْتَ إِلَيْهِ سَبِيْلاً قَالَ : صَدَقْتَ، فَعَجِبْنَا لَهُ يَسْأَلُهُ
وَيُصَدِّقُهُ، قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِيْمَانِ قَالَ : أَنْ تُؤْمِنَ
بِاللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَتُؤْمِنَ
بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ. قَالَ صَدَقْتَ، قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنِ
اْلإِحْسَانِ، قَالَ: أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ
تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ . قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنِ السَّاعَةِ، قَالَ: مَا
الْمَسْؤُوْلُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ السَّائِلِ. قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنْ
أَمَارَاتِهَا، قَالَ أَنْ تَلِدَ اْلأَمَةُ رَبَّتَهَا وَأَنْ تَرَى الْحُفَاةَ
الْعُرَاةَ الْعَالَةَ رِعَاءَ الشَّاءِ يَتَطَاوَلُوْنَ فِي الْبُنْيَانِ، ثُمَّ
انْطَلَقَ فَلَبِثْتُ مَلِيًّا، ثُمَّ قَالَ : يَا عُمَرَ أَتَدْرِي مَنِ
السَّائِلِ ؟ قُلْتُ : اللهُ وَرَسُوْلُهُ أَعْلَمَ . قَالَ فَإِنَّهُ جِبْرِيْلُ
أَتـَاكُمْ يُعَلِّمُكُمْ دِيْنَكُمْ
[رواه مسلم]
"Dari Umar bin
Al-Khathab radhiallahu 'anh, dia berkata: ketika kami tengah berada di majelis
bersama Rasulullah pada suatu hari, tiba-tiba tampak dihadapan kami seorang
laki-laki yang berpakaian sangat putih, berambut sangat hitam, tidak terlihat padanya
tanda-tanda bekas perjalanan jauh dan tidak seorangpun diantara kami yang
mengenalnya. Lalu ia duduk di hadapan Rasulullah dan menyandarkan lututnya pada
lutut Rasulullah dan meletakkan tangannya diatas paha Rasulullah, selanjutnya
ia berkata," Hai Muhammad, beritahukan kepadaku tentang Islam "
Rasulullah menjawab,"Islam itu engkau bersaksi bahwa sesungguhnya tiada
Tuhan selain Alloh dan sesungguhnya Muhammad itu utusan Alloh, engkau
mendirikan sholat, mengeluarkan zakat, berpuasa pada bulan Romadhon dan mengerjakan
ibadah haji ke Baitullah jika engkau mampu melakukannya." Orang itu
berkata,"Engkau benar," kami pun heran, ia bertanya lalu
membenarkannya Orang itu berkata lagi," Beritahukan kepadaku tentang
Iman" Rasulullah menjawab,"Engkau beriman kepada Alloh, kepada para
Malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, kepada utusan-utusan Nya, kepada hari Kiamat dan
kepada takdir yang baik maupun yang buruk" Orang tadi berkata,"
Engkau benar" Orang itu berkata lagi," Beritahukan kepadaku tentang
Ihsan" Rasulullah menjawab,"Engkau beribadah kepada Alloh seakan-akan
engkau melihat-Nya, jika engkau tidak melihatnya, sesungguhnya Dia pasti
melihatmu." Orang itu berkata lagi,"Beritahukan kepadaku tentang
kiamat" Rasulullah menjawab," Orang yang ditanya itu tidak lebih tahu
dari yang bertanya." selanjutnya orang itu berkata lagi,"beritahukan
kepadaku tentang tanda-tandanya" Rasulullah menjawab," Jika hamba
perempuan telah melahirkan tuan puterinya, jika engkau melihat orang-orang yang
tidak beralas kaki, tidak berbaju, miskin dan penggembala kambing,
berlomba-lomba mendirikan bangunan." Kemudian pergilah ia, aku tetap
tinggal beberapa lama kemudian Rasulullah berkata kepadaku, "Wahai Umar,
tahukah engkau siapa yang bertanya itu?" Saya menjawab," Alloh dan
Rosul-Nya lebih mengetahui" Rasulullah berkata," Ia adalah Jibril,
dia datang untuk mengajarkan kepadamu tentang agama kepadamu".[Muslim no.
8]
Penjelasan Hadits:
Hadits ini sangat berharga
karena mencakup semua fungsi perbuatan lahiriah dan bathiniah, serta menjadi
tempat merujuk bagi semua ilmu syari’at dan menjadi sumbernya. Oleh sebab itu
hadits ini menjadi induk ilmu sunnah.
Hadits ini menunjukkan
adanya contoh berpakaian yang bagus, berperilaku yang baik dan bersih ketika
datang kepada ulama, orang terhormat atau penguasa, karena jibril datang untuk
mengajarkan agama kepada manusia dalam keadaan seperti itu.
Kalimat “ Ia meletakkan
kedua telapak tangannya diatas kedua paha beliau, lalu ia berkata : Wahai
Muhammad…..” adalah riwayat yang masyhur. Nasa’i meriwayatkan dengan kalimat,
“Dan ia meletakkan kedua tangannya pada kedua lutut Rasulullah….” Dengan
demikian yang dimaksud kedua pahanya adalah kedua lututnya.
Dari hadits ini dipahami
bahwa islam dan iman adalah dua hal yang berbeda, baik secara bahasa maupun
syari’at. Namun terkadang, dalam pengertian syari’at, kata islam dipakai dengan
makna iman dan sebaliknya.
Kalimat, “Kami heran, dia
bertanya tetapi dia sendiri yang membenarkannya” mereka para shahabat
Rasulullah menjadi heran atas kejadian tersebut, karena orang yang datang
kepada Rasulullah hanya dikenal oleh beliau dan orang itu belum pernah mereka
ketahui bertemu dengan Rasulullah dan mendengarkan sabda beliau. Kemudian ia
mengajukan pertanyaan yang ia sendiri sudah tahu jawabannya bahkan
membenarkannya, sehingga orang-orang heran dengan kejadian itu.
Kalimat, “Engkau beriman
kepada Allah, kepada para malaikat-Nya, dan kepada kitab-kitab-Nya….” Iman
kepada Allah yaitu mengakui bahwa Allah itu ada dan mempunyai sifat-sifat Agung
serta sempurna, bersih dari sifat kekurangan,. Dia tunggal, benar, memenuhi
segala kebutuhan makhluk-Nya, tidak ada yang setara dengan Dia, pencipta segala
makhluk, bertindak sesuai kehendak-Nya dan melakukan segala kekuasaan-Nya
sesuai keinginan-Nya.
Iman kepada Malaikat,
maksudnya mengakui bahwa para malaikat adalah hamba Allah yang mulia, tidak
mendahului sebelum ada perintah, dan selalu melaksanakan apa yang
diperintahkan-Nya.
Iman kepada Para Rasul
Allah, maksudnya mengakui bahwa mereka jujur dalam menyampaikan segala
keterangan yang diterima dari Allah dan mereka diberi mukjizat yang mengukuhkan
kebenarannya, menyampaikan semua ajaran yang diterimanya, menjelaskan kepada
orang-orang mukalaf apa-apa yang Allah perintahkan kepada mereka. Para Rasul
Allah wajib dimuliakan dan tidak boleh dibeda-bedakan.
Iman kepada hari Akhir,
maksudnya mengakui adanya kiamat, termasuk hidup setelah mati, berkumpul
dipadang Mahsyar, adanya perhitungan dan timbangan amal, menempuh jembatan
antara surga dan neraka, serta adanya Surga dan Neraka, dan juga mengakui hal-hal
lain yang tersebut dalam Qur’an dan Hadits Rosululloh.
Iman kepada taqdir yaitu
mengakui semua yang tersebut diatas, ringkasnya tersebut dalam firman Allah QS.
Ash-Shaffaat : 96, “Allah menciptakan kamu dan semua perbuatan kamu” dan dalam
QS. Al-Qamar : 49, “Sungguh segala sesuatu telah kami ciptakan dengan ukuran
tertentu” dan di ayat-ayat yang lain. Demikian juga dalam Hadits Rasulullah,
Dari Ibnu Abbas, “Ketahuilah, sekiranya semua umat berkumpul untuk memberikan
suatu keuntungan kepadamu, maka hal itu tidak akan kamu peroleh selain dari apa
yang Allah telah tetapkan pada dirimu. Sekiranya merekapun berkumpul untuk
melakukan suatu yang membahayakan dirimu, niscaya tidak akan membahayakan
dirimu kecuali apa yang telah Allah tetapkan untuk dirimu. Segenap pena
diangkat dan lembaran-lembaran telah kering”
Para Ulama mengatakan,
Barangsiapa membenarkan segala urusan dengan sungguh-sungguh lagi penuh
keyakinan tidak sedikitpun terbersit keraguan, maka dia adalah mukmin sejati.
Kalimat, “Engkau menyembah
Allah seolah-olah engkau melihat-Nya….” Pada pokoknya merujuk pada kekhusyu’an
dalam beribadah, memperhatikan hak Allah dan menyadari adanya pengawasan Allah
kepadanya serta keagungan dan kebesaran Allah selama menjalankan ibadah.
Kalimat, “Beritahukan kepadaku
tanda-tandanya ? sabda beliau : Budak perempuan melahirkan anak tuannya”
maksudnya kaum muslimin kelak akan menguasai negeri kafir, sehingga banyak
tawanan, maka budak-budak banyak melahirkan anak tuannya dan anak ini akan
menempati posisi majikan karena kedudukan bapaknya. Hal ini menjadi sebagian
tanda-tanda kiamat. Ada juga yang mengatakan bahwa itu menunjukkan kerusakan
umat manusia sehingga orang-orang terhormat menjual budak yang menjadi ibu dari
anak-anaknya, sehingga berpindah-pindah tangan yang mungkin sekali akan jatuh
ke tangan anak kandungnya tanpa disadarinya.
Hadits ini juga menyatakan
adanya larangan berlomba-lomba membangun bangunan yang sama sekali tidak
dibutuhkan. Sebagaimana sabda Rasulullah,” Anak adam diberi pahala untuk setiap
belanja yang dikeluarkannya kecuali belanja untuk mendirikan bangunan”
Kalimat, “Penggembala
Domba” secara khusus disebutkan karena merekalah yang merupakan golongan badui
yang paling lemah sehingga umumnya tidak mampu mendirikan bangunan, berbeda
dengan para pemilik onta yang umumnya orang terhormat.
Kalimat, “Saya tetap
tinggal beberapa lama” maksudnya Umar radhiallahu 'anh tetap tinggal ditempat
itu beberapa lama setelah orang yang bertanya pergi, dalam riwayat yang lain
yang dimaksud tetap tinggal adalah Rosululloh.
Kalimat, “Ia datang kepada
kamu sekalian untuk mengajarkan agamamu” maksudnya mengajarkan pokok-pokok
agamamu, demikian kata Syaikh Muhyidin An Nawawi dalam syarah shahih muslim.
Isi hadits ini yang terpenting adalah penjelasan islam, iman dan ihsan, serta
kewajiban beriman kepada Taqdir Allah Ta'ala.
Sesungguhnya keimanan
seseorang dapat bertambah dan berkurang, QS. Al-Fath : 4, “Untuk menambah
keimanan mereka pada keimanan yang sudah ada sebelumnya”. Imam Bukhari
menyebutkan dalam kitab shahihnya bahwa ibnu Abu Mulaikah berkata, “Aku temukan
ada 30 orang shahabat Rasulullah yang khawatir ada sifat kemunafikan dalam
dirinya. Tidak ada seorangpun dari mereka yang berani mengatakan bahwa ia
memiliki keimanan seperti halnya keimanan Jibril dan Mikail ‘alaihimus salaam”
Kata iman mencakup
pengertian kata islam dan semua bentuk ketaatan yang tersebut dalam hadits ini,
karena semua hal tersebut merupakan perwujudan dari keyakinan yang ada dalam
bathin yang menjadi tempat keimanan. Oleh karena itu kata Mukmin secara mutlak
tidak dapat diterapkan pada orang-orang yang melakukan dosa-dosa besar atau
meninggalkan kewajiban agama, sebab suatu istilah harus menunjukkan pengertian
yang lengkap dan tidak boleh dikurangi, kecuali dengan maksud tertentu. Juga
dibolehkan menggunakan kata Tidak beriman sebagaimana pengertian hadits
Rasulullah, “Seseorang tidak berzina ketika dia beriman dan tidak mencuri
ketika dia beriman” maksudnya seseorang dikatakan tidak beriman ketika berzina
atau ketika dia mencuri.
Kata islam mencakup makna
iman dan makna ketaatan, syaikh Abu ‘Umar berkata, “kata iman dan islam
terkadang pengertiannya sama terkadang berbeda. Setiap mukmin adalah muslim dan
tidak setiap muslim adalah mukmin” ia berkata, “pernyataan seperti ini sesuai
dengan kebenaran” Keterangan-keterangan Al-Qur’an dan Assunnah berkenaan dengan
iman dan islam sering dipahami keliru oleh orang-orang awam. Apa yang telah
kami jelaskan diatas telah sesuai dengan pendirian jumhur ulama ahli hadits dan
lain-lain.
Pelajaran yang terdapat
dalam hadits
1. Disunnahkan untuk
memperhatikan kondisi pakaian,
penampilan dan kebersihan, khususnya jika menghadapi ulama, orang-orang mulia
dan penguasa.
2. Siapa yang menghadiri
majlis ilmu dan menangkap bahwa orang–orang yang hadir butuh untuk mengetahui
suatu masalah dan tidak ada seorangpun yang bertanya, maka wajib baginya
bertanya tentang hal tersebut meskipun dia mengetahuinya agar peserta yang
hadir dapat mengambil manfaat darinya.
3. Jika seseorang yang
ditanya tentang sesuatu maka tidak ada cela baginya untuk berkata: “Saya tidak
tahu“, dan hal tersebut tidak mengurangi
kedudukannya.
4. Kemungkinan malaikat
tampil dalam wujud manusia.
5. Termasuk tanda hari
kiamat adalah banyaknya pembangkangan terhadap kedua orang tua. Sehingga
anak-anak memperlakukan kedua orang tuanya sebagaimana seorang tuan
memperlakukan hambanya.
6. Tidak disukainya
mendirikan bangunan yang tinggi dan membaguskannya sepanjang tidak ada
kebutuhan.
7. Didalamnya terdapat
dalil bahwa perkara ghaib tidak ada yang mengetahuinya selain Allah ta’ala.
8. Didalamnya terdapat
keterangan tentang adab dan cara duduk dalam majlis ilmu. Wallahu a’lam
Setiap manusia pasti
mempunyai tujuan dalam hidupnya, begitupun Islam memandang Niat sebagai sebuah
kekuatan dan keharusan yang akan membimbing hidup manusia kemana arah
perjalanannya, sebaagimana Rasulullah juga menyamapikan dalam haditsnya yang tetuang
dalam Kitab Hadits Arbai’in An-Nawawiyyah No.1 Pertama. Mari kita simak
Haditsnya.
عَنْ أَمِيْرِ الْمُؤْمِنِيْنَ أَبِيْ حَفْصٍ
عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى
الله عليه وسلم يَقُوْلُ : إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا
لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى . فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ
فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا
يُصِيْبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ [رواه إماما المحدثين
أبو عبد الله محمد بن إسماعيل بن إبراهيم بن المغيرة بن بردزبة البخاري وابو
الحسين مسلم بن الحجاج بن مسلم القشيري النيسابوري في صحيحيهما اللذين هما أصح
الكتب المصنفة]
"Dari Amirul Mukminin
Abu Hafsh, Umar bin Al-Khathab radhiyallahu 'anhu, ia berkata : “Aku mendengar
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Segala amal itu tergantung
niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Maka barang siapa
yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu kepada Allah dan
Rasul-Nya. Barang siapa yang hijrahnya itu Karena kesenangan dunia atau karena
seorang wanita yang akan dikawininya, maka hijrahnya itu kepada apa yang
ditujunya”.
[Diriwayatkan oleh dua
orang ahli hadits yaitu Abu Abdullah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin
Mughirah bin Bardizbah Al Bukhari (orang Bukhara) dan Abul Husain Muslim bin Al
Hajjaj bin Muslim Al Qusyairi An Naisaburi di dalam kedua kitabnya yang paling
shahih di antara semua kitab hadits. Bukhari no. 1 dan Muslim no. 1907]
Penjelasan Hadits:
Hadits ini adalah Hadits
shahih yang telah disepakati keshahihannya, ketinggian derajatnya dan
didalamnya banyak mengandung manfaat. Imam Bukhari telah meriwayatkannya pada
beberapa bab pada kitab shahihnya, juga Imam Muslim telah meriwayatkan hadits
ini pada akhir bab Jihad.
Hadits ini salah satu pokok
penting ajaran islam. Imam Ahmad dan Imam Syafi’I berkata : “Hadits tentang
niat ini mencakup sepertiga ilmu.” Begitu pula kata imam Baihaqi dll. Hal itu
karena perbuatan manusia terdiri dari niat didalam hati, ucapan dan tindakan.
Sedangkan niat merupakan salah satu dari tiga bagian itu. Diriwayatkan dari
Imam Syafi’i, “Hadits ini mencakup tujuh puluh bab fiqih”, sejumlah Ulama’
mengatakan hadits ini mencakup sepertiga ajaran islam.
Para ulama gemar memulai
karangan-karangannya dengan mengutip hadits ini. Di antara mereka yang memulai
dengan hadits ini pada kitabnya adalah Imam Bukhari. Abdurrahman bin Mahdi
berkata : “bagi setiap penulis buku hendaknya memulai tulisannya dengan hadits
ini, untuk mengingatkan para pembacanya agar meluruskan niatnya”.
Hadits ini dibanding
hadits-hadits yang lain adalah hadits yang sangat terkenal, tetapi dilihat dari
sumber sanadnya, hadits ini adalah hadits ahad, karena hanya diriwayatkan oleh
Umar bin Khaththab dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam. Dari Umar hanya diriwayatkan
oleh ‘Alqamah bin Abi Waqash, kemudian hanya diriwayatkan oleh Muhammad bin
Ibrahim At Taimi, dan selanjutnya hanya diriwayatkan oleh Yahya bin Sa’id Al
Anshari, kemudian barulah menjadi terkenal pada perawi selanjutnya. Lebih dari
200 orang rawi yang meriwayatkan dari Yahya bin Sa’id dan kebanyakan mereka
adalah para Imam.
Pertama : Kata “Innamaa”
bermakna “hanya/pengecualian” , yaitu menetapkan sesuatu yang disebut dan
mengingkari selain yang disebut itu. Kata “hanya” tersebut terkadang dimaksudkan
sebagai pengecualian secara mutlak dan terkadang dimaksudkan sebagai
pengecualian yang terbatas. Untuk membedakan antara dua pengertian ini dapat
diketahui dari susunan kalimatnya.
Misalnya, kalimat pada
firman Allah : “Innamaa anta mundzirun” (Engkau (Muhammad) hanyalah seorang
penyampai ancaman). (QS. Ar-Ra’d : 7)
Kalimat ini secara sepintas
menyatakan bahwa tugas Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam hanyalah menyampaikan
ancaman dari Allah, tidak mempunyai tugas-tugas lain. Padahal sebenarnya beliau
mempunyai banyak sekali tugas, seperti menyampaikan kabar gembira dan lain
sebagainya. Begitu juga kalimat pada firman Allah : “Innamal hayatud dunyaa
la’ibun walahwun” à “Kehidupan dunia itu hanyalah kesenangan dan permainan”.
(QS. Muhammad : 36)
Kalimat ini (wallahu a’lam)
menunjukkan pembatasan berkenaan dengan akibat atau dampaknya, apabila
dikaitkan dengan hakikat kehidupan dunia, maka kehidupan dapat menjadi wahana
berbuat kebaikan. Dengan demikian apabila disebutkan kata “hanya” dalam suatu kalimat,
hendaklah diperhatikan betul pengertian yang dimaksudkan.
Pada Hadits ini, kalimat
“Segala amal hanya menurut niatnya” yang dimaksud dengan amal disini adalah
semua amal yang dibenarkan syari’at, sehingga setiap amal yang dibenarkan
syari’at tanpa niat maka tidak berarti apa-apa menurut agama islam. Tentang
sabda Rasulullah, “semua amal itu tergantung niatnya” ada perbedaan pendapat
para ulama tentang maksud kalimat tersebut. Sebagian memahami niat sebagai
syarat sehingga amal tidak sah tanpa niat, sebagian yang lain memahami niat
sebagai penyempurna sehingga amal itu akan sempurna apabila ada niat.
Kedua : Kalimat “Dan setiap
orang hanya mendapatkan sesuai niatnya” oleh Khathabi dijelaskan bahwa kalimat
ini menunjukkan pengertian yang berbeda dari sebelumnya. Yaitu menegaskan sah
tidaknya amal bergantung pada niatnya. Juga Syaikh Muhyidin An-Nawawi
menerangkan bahwa niat menjadi syarat sahnya amal. Sehingga seseorang yang
meng-qadha sholat tanpa niat maka tidak sah Sholatnya, walahu a’lam
Ketiga : Kalimat “Dan
Barang siapa berhijrah kepada Allah dan Rosul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah
dan Rosul-Nya” menurut penetapan ahli bahasa Arab, bahwa kalimat syarat dan
jawabnya, begitu pula mubtada’ (subyek) dan khabar (predikatnya) haruslah
berbeda, sedangkan di kalimat ini sama. Karena itu kalimat syarat bermakna niat
atau maksud baik secara bahasa atau syari’at, maksudnya barangsiapa berhijrah
dengan niat karena Allah dan Rosul-Nya maka akan mendapat pahala dari hijrahnya
kepada Allah dan Rosul-Nya.
Hadits ini memang muncul
karena adanya seorang lelaki yang ikut hijrah dari Makkah ke Madinah untuk
mengawini perempuan bernama Ummu Qais. Dia berhijrah tidak untuk mendapatkan
pahala hijrah karena itu ia dijuluki Muhajir Ummu Qais.
Pelajaran yang terdapat dalam
Hadits Ke-1
1. Niat merupakan syarat
layak/diterima atau tidaknya amal perbuatan, dan amal ibadah tidak akan
mendatangkan pahala kecuali berdasarkan niat (karena Allah ta’ala).
2. Waktu pelaksanaan niat
dilakukan pada awal ibadah dan tempatnya di hati.
3. Ikhlas dan membebaskan
niat semata-mata karena Allah ta’ala dituntut pada semua amal shalih dan
ibadah.
4. Seorang mu’min akan
diberi ganjaran pahala berdasarkan kadar niatnya.
5. Semua perbuatan yang
bermanfaat dan mubah (boleh) jika diiringi niat karena mencari keridhoan Allah
maka dia akan bernilai ibadah.
6. Yang membedakan antara
ibadah dan adat (kebiasaan/rutinitas) adalah niat.
7. Hadits di atas
menunjukkan bahwa niat merupakan bagian dari iman karena dia merupakan
pekerjaan hati, dan iman menurut pemahaman Ahli Sunnah Wal Jamaah adalah
membenarkan dalam hati, diucapkan dengan lisan dan diamalkan dengan perbuatan. wallahu a'lam
BERKELANALAH ITULAH SALAH
SATU NASIHAT ULAMA BESAR ISLAM IMAM ASY-SYAFI'I
Menuntut ilmu dalam islam
merupakan sebuah fardu/ wajib. Sehingga Rasullah memberikan perintah kepada
para sahabatnya dan kepada umat muslim untuk menuntut ilmu kemanapun, walaupun
ketempat yang jauh. Sebagaimana sabdanya:
قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ: اُطْلُبُوْاالْعِلْمَ وَلَوْ بِالصِّيْنَ فَاِنَّ طَلَبَ الْعِلْمِ
فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ اِنَّ الْمَلاَئِكَةَ تَضَعُ اَجْنِحَتَهَا
لِطَالِبِ الْعِلْمِ رِضًابِمَا يَطْلُبُ
Artinya:
“Tuntutlah ilmu walaupun di negeri Cina, karena sesungguhnya menuntut ilmu itu
wajib bagi setiap muslim. Sesungguhnya para malaikat meletakkan sayap-sayap
mereka kepada para penuntut ilmu karena senang (rela) dengan yang ia tuntut.
(H.R. Ibnu Abdil Bar).
Imam Syafi’i menuliskan
sebuah syair tentang motivasi bergerak dan berkelana dalam mencari pengalaman hidup
dan ilmu pengetahuan.
ما في المقامِ لذي عقلٍ وذي أدبِ مِنْ رَاحَة ٍ
فَدعِ الأَوْطَانَ واغْتَرِبِ
سافر تجد عوضاً عمَّن تفارقهُ وَانْصِبْ فَإنَّ
لَذِيذَ الْعَيْشِ فِي النَّصَبِ
إني رأيتُ وقوفَ الماء يفسدهُ إِنْ سَاحَ طَابَ
وَإنْ لَمْ يَجْرِ لَمْ يَطِبِ
والأسدُ لولا فراقُ الأرض ما افترست
والسَّهمُ لولا فراقُ القوسِ لم يُصِبِ
والشمس لو وقفت في الفلكِ دائمة ً لَمَلَّهَا
النَّاسُ مِنْ عُجْمٍ وَمِنَ عَرَبِ
والتَّبْرَ كالتُّرْبَ مُلْقَىً في أَمَاكِنِهِ
والعودُ في أرضه نوعً من الحطب
فإن تغرَّب هذا عزَّ مطلبهُ وإنْ تَغَرَّبَ ذَاكَ
عَزَّ كالذَّهَبِ
Tidaklah
berdiam di tempatnya orang-orang berakal dan beradab, dari rehatnya dia
berpisah dan dari negerinya dia mengasingkan diri.
Berpergianlah,
akan kau temukan pengganti yang telah engkau tinggalkan, berusahalah, sungguh
kenikmatan hidup ada pada kerasnya usaha.
Sungguh
aku melihat diamnya air merusakkannya, bila bergerak ia jernih, bila tak
mengalir maka ia tak menyehatkan.
Dan
singa yang tak tinggalkan sarangnya takkan memangsa,
Dan
panah yang tak terlepas dari busurnya takkan mengena.
Dan
matahari yang bertetap pada peredarannya, tentu akan menjemukan manusia, baik
dari ajam maupun arab.
Dan biji emas tak ada bedanya dengan biji
tanah saat tercampur di tempatnya, kayu gaharu terserak di tanah pun serupa
dengan kayu bakar.
Bila kau pisahkan biji emas dari tanah, maka
mulia dia dan dicari, bila kau pisahkan kayu gaharu dari kayu bakar, ia akan
seharga emas.
wallahu a'lam.....



