Assalamualaikum.wr.wb. Jum'at
kali ini seperti biasa di Universitas Djuanda Bogor Mengadakan pengajian Majlis
Tasbih yang diadakan setiap Minggu sekali.
Pada kesempatan Jum’at ini
(12 sa’ban 1434 hijriah atau 21 Juni 2013 masehi ) Narasumber yang menyampaikan
materi adalah salah satu dosen Fakultas Keguran dan Ilmu pendidikan (FKIP)
yaitu Ustadz H. Mustholah Maufur, Lc, MA. Tema yang disampaikannya yaitu tentang
Fiqih Muamalah, materi yang disampaikannya adalah tentang Zuhud.
Zuhud secara bahasa artinya
lawan dari cinta dan semangat terhadap dunia.
Ibnul Qayyim, berkata,
“Saya mendengar Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata, ‘Zuhud adalah
meninggalkan apa-apa yang tidak bermanfaat di akhirat.
Ada satu kisah inspiratif
tentang zuhud ini yaitu kisah Sa’id bin Amir Negarawan yang Zuhud. Ini
Kisahnya:
Seorang pakar sejarah
pernah berkata, "Sa’id bin Amir adalah orang yang membeli akhirat dengan
dunia, dan ia lebih mementingkan Allah dan Rasul-Nya atas selain-Nya."
Sa’id bin Amir Al-Jumahi
adalah seorang anak muda, satu di antara ribuan orang yang tertarik untuk pergi
menuju daerah Tan’im di luar kota Makkah, dalam rangka menghadiri panggilan
pembesar-pembesar Quraisy.
Panggilan ini adalah untuk
menyaksikan hukuman mati yang akan ditimpakan kepada Khubaib bin Adiy, salah
seorang sahabat Rasulullah SAW yang diculik oleh mereka.
Kepiawaian dan postur
tubuhnya yang gagah membuat Sa'id mendapatkan kedudukan yang lebih daripada
orang-orang. Sehingga ia dapat duduk berdampingan dengan pembesar-pembesar
Quraisy seperti Abu Sufyan bin Harb, Shafwan bin Umayyah, dan orang-orang yang
mempunyai wibawa lainnya.
Ketika rombongan yang
garang ini datang dengan tawanannya di tempat yang telah disediakan, Sa’id bin
Amir berdiri tegak memandangi Khubaib yang sedang diarak menuju kayu
penyaliban. Dan ia mendengar suaranya yang teguh dan tenang di antara teriakan
wanita-wanita dan anak-anak. Khubaib berkata, “Izinkan aku untuk shalat dua
rakaat sebelum pembunuhanku ini, jika kalian berkenan.”
Kemudian Sa'id
memandanginya, sedangkan Khubaib menghadap kiblat dan shalat dua rakaat.
Alangkah bagusnya dan indahnya shalatnya itu. Kemudian ia melihat Khubaib
menghadap pembesar-pembesar kaum dan berkata, “Demi Allah, jika kalian tidak
menyangka bahwa aku memperpanjang shalat karena takut mati,
tentu aku telah
memperbanyak shalat.”
Kemudian ia melihat kaumnya
dengan mata kepalanya, memotong-motong Khubaib dalam keadaan hidup.
Kemudian Sa’id bin Amir
melihat Khubaib mengarahkan pandangannya ke langit dari atas kayu salib, dan
berkata, “Ya Allah ya Tuhan kami, hitunglah mereka dan bunuhlah mereka satu
persatu serta janganlah Engkau tinggalkan satu pun dari mereka."
Kemudian Khubaib bin Adiy
menghembuskan nafas terakhirnya, dan di badannya tidak terhitung lagi bekas
tebasan pedang dan tusukan tombak.
Orang-orang Quraisy kembali
ke Makkah, dan mereka telah melupakan kejadian Khubaib dan pembunuhannya karena
banyak kejadian-kejadian setelahnya. Namun, Sa’id bin Amir Al-Jumahi tidak bisa
menghilangkan bayangan Khubaib dari pandangannya walau sekejap mata.
Ia memimpikannya ketika
sedang tidur, dan melihatnya dengan khayalan ketika matanya terbuka. Khubaib
senantiasa terbayang di hadapannya sedang melakukan shalat dua rakaat dengan
tenang di depan kayu salib. Dan ia mendengar rintihan suaranya di telinganya,
ketika Khubaib berdoa untuk kebinasaan orang-orang Quraisy, maka ia takut kalau
tersambar petir atau ketiban batu dari langit.
Khubaib telah mengajari
Sa’id sesuatu yang belum pernah ia ketahui sebelumnya. Ia mengajarinya bahwa
hidup yang sesungguhnya adalah akidah dan jihad di Allah hingga akhir hayat. Ia
mengajarinya juga bahwa iman yang kokoh akan membuat keajaiban dan
kemukjizatan.
Dan Khubaib mengajarinya
sesuatu yang lain, bahwa sesungguhnya seorang laki-laki yang dicintai oleh para
sahabatnya dengan kecintaan yang sedemikian rupa, tidak lain adalah nabi yang
mendapat mandat dari langit.
Semenjak itu, Allah
membukakan dada Sa’id bin Amir untuk Islam. Ia lalu berdiri di hadapan orang
banyak dan memproklamirkan kebebasannya dari dosa-dosa Quraisy, berhala-berhala
dan patung-patung mereka, dan menyatakan ikrarnya terhadap agama Allah.
Sa’id bin Amir berhijrah ke
Madinah, dan mengabdikan diri kepada Rasulullah, dan ikut serta dalam Perang
Khaibar dan peperangan-peperangan setelahnya. Dan ketika Nabi yang mulia
dipanggil menghadap Tuhannya, Sa'id mengabdikan diri dengan pedang terhunus di
zaman dua khalifah; Abu Bakar dan Umar.
Ia hidup bagaikan contoh
satu-satunya bagi orang Mukmin yang membeli akhirat dengan dunia, dan
mementingkan keridhaan Allah dan pahala-Nya atas segala keinginan hawa nafsu
dan syahwat badannya. Kedua khalifah itu telah mengetahui tentang kejujuran dan
ketakwaan Sa’id bin Amir. Keduanya mendengar nasihat-nasihatnya dan
memerhatikan pendapatnya.
Pada awal kekhilafahan
Umar, Sa'id menemuinya dan berkata, “Wahai Umar, aku berwasiat kepadamu, agar
kamu takut kepada Allah dalam urusan manusia. Dan janganlah kamu takut kepada
manusia dalam urusan Allah. Dan janganlah ucapanmu bertentangan dengan
perbuatanmu, karena sesungguhnya ucapan yang paling baik adalah yang sesuai
dengan perbuatan."
Maka Umar berkata,
"Siapakah yang mampu menjalankan itu, wahai Sa’id?”
Ia menjawab, “Orang
laki-laki sepertimu mampu melakukannya, yaitu di antara orang-orang yang Allah
serahkan urusan umat Muhammad kepadanya. Dan tidak ada seorang pun perantara
antara ia dan Allah.”
Setelah itu Umar mengajak
Sa’id untuk membantunya. “Wahai Sa’id, kami menugaskan kau sebagai gubernur
Himsh,” kata Umar.
Sa'id menjawab, "Wahai
Umar, aku ingatkan dirimu terhadap Allah. Janganlah kau menjerumuskanku ke
dalam fitnah."
Maka Umar pun marah dan
berkata, "Celaka kalian! Kalian menaruh urusan ini di atas pundakku, lalu
kalian berlepas diri dariku. Demi Allah, aku tidak akan melepasmu.”
Kemudian Umar mengangkat
Sa'id bin Amir menjadi gubernur di Himsh. “Kami akan memberimu gaji,” kata
Umar.
“Untuk apa gaji itu, wahai
Amirul Mukminin? Karena pemberian untukku dari Baitul Mal telah melebihi
kebutuhanku,” jawab Sa'id. Ia pun berangkat ke Himsh.
Tidak lama kemudian
datanglah beberapa utusan dari penduduk Himsh kepada Amirul Mukminin Umar bin
Khathab.
Umar berkata kepada mereka,
“Tuliskan nama-nama orang fakir kalian, supaya aku dapat menutup kebutuhan
mereka!”
Maka mereka menyodorkan
selembar tulisan, yang di dalamnya ada Fulan, Fulan dan Sa’id bin Amir. Umar
bertanya, Siapakah Sa’id bin Amir ini?”
Mereka menjawab, “Gubernur
kami.”
“Gubernurmu fakir?”
“Benar, dan demi Allah
sudah beberapa hari di rumahnya tidak ada api.”
Maka Umar menangis hingga
janggutnya basah oleh air mata. Kemudian ia mengambil 1.000 dinar dan
menaruhnya dalam kantong kecil dan berkata, "Sampaikan salamku, dan
katakan kepadanya, Amirul Mukminin memberi anda harta ini, supaya anda dapat
menutup kebutuhan anda!”
Saat para utusan itu
mendatangi Sa’id dengan membawa kantong. Sa’id membukanya, ternyata di dalamnya
ada uang dinar. Ia lalu meletakkannya jauh dari dirinya dan berkata, "Inna
lillahi wa inna ilaihi raji'un (Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan
sesungguhnya kami akan dikembalikan kepada-Nya)," seolah-olah ia tertimpa
musibah dari langit atau ada suatu bahaya di hadapannya.
Hingga keluarlah istrinya
dengan wajah kebingungan dan berkata, “Ada apa, wahai Sa’id? Apakah Amirul
Mukminin meninggal dunia?"
“Bahkan lebih besar dari
itu,” timpal Sa'id.
“Apakah orang-orang Muslim
dalam bahaya?”
“Bahkan lebih besar dari
itu.”
“Apa yang lebih besar dari
itu?”
“Dunia telah memasuki
diriku untuk merusak akhiratku, dan fitnah telah datang ke rumahku.”
Istrinya berkata,
“Bebaskanlah dirimu darinya.” Saat itu istrinya tidak mengetahui tentang
uang-uang dinar itu sama sekali.
“Apakah kamu mau membantu
aku untuk itu?” tanya Sa'id.
“Ya,” kata sang istri.
Sa'id lalu mengambil uang-uang dinar dan memasukkannya ke dalam kantong-kantong
kecil, kemudian menyuruh sang istri untuk membagikannya kepada orang-orang
Muslim yang fakir.
Tak lama kemudian Umar bin
Khathab datang ke negeri Syam untuk melihat keadaan. Dan ketika singgah di
Himsh, penduduk menyambut dan menyalaminya. Umar bertanya kepada mereka,
“Bagaimana pendapat kalian tentang gubernur kalian?”
Maka mereka mengadukan
kepadanya tentang empat hal, yang masing-masing lebih besar dari yang lainnya.
Umar kemudian memanggil Sa'id dan 'mengadilinya' di hadapan penduduk.
“Apa yang kalian keluhkan
dari gubernur kalian?” tanya Umar.
Mereka menjawab, “Ia tidak
keluar kepada kami kecuali jika hari telah siang.”
“Apa jawabmu tentang hal
itu, wahai Sa’id?” kata Umar.
Sa'id terdiam sebentar,
kemudian berkata, “Demi Allah, sesungguhnya aku tidak ingin mengucapkan hal
itu. Namun, kalau memang harus dijawab, sesungguhnya keluargaku tidak mempunyai
pembantu. Maka setiap aku pagi membuat adonan, kemudian menunggu sebentar
sehingga adonan itu mengembang. Kemudian aku buat adonan itu menjadi roti untuk
mereka, kemudian aku berwudhu dan keluar menemui orang-orang.”
"Apa lagi yang kalian
keluhkan darinya?” tanya Umar.
Mereka menjawab,
“Sesungguhnya, ia tidak menerima tamu pada malam hari.”
“Apa jawabmu tentang hal
itu, wahai Sa’id?”
“Sesungguhnya, Demi Allah,
aku tidak suka untuk mengumumkan ini juga. Aku telah menjadikan siang hari
untuk mereka dan malam hari untuk Allah Azza wa Jalla,” jawab Sa'id.
“Apa lagi yang kalian
keluhkan darinya?” tanya Umar lagi.
Mereka menjawab,
“Sesungguhnya ia tidak keluar menemui kami satu hari dalam sebulan.”
“Dan apa ini, wahai Sa’id?”
Sa'id menjawab, “Aku tidak
mempunyai pembantu, wahai Amirul Mukminin. Dan aku tidak mempunyai baju kecuali
yang aku pakai ini, dan aku mencucinya sekali dalam sebulan. Dan aku
menunggunya hingga baju itu kering, kemudian aku keluar menemui mereka pada
sore hari.”
“Apa lagi yang kalian
keluhkan darinya?”
Mereka menjawab, “Ia sering
pingsan, hingga ia tidak tahu orang-orang yang duduk di majelisnya.”
“Dan apa ini, wahai Sa’id?”
“Aku telah menyaksikan
pembunuhan Khubaib bin Adiy, kala itu aku masih musyrik. Dan aku melihat
orang-orang Quraisy memotong-motong badannya sambil berkata, 'Apakah kamu ingin
kalau Muhammad menjadi penggantimu?' Maka Khubaib berkata, 'Demi Allah, aku
tidak ingin merasa tenang dengan istri dan anak, sementara Muhammad tertusuk
duri.' Dan demi Allah, aku tidak mengingat hari itu dan bagaimana aku tidak
menolongnya, kecuali aku menyangka bahwa Allah tidak mengampuni aku, maka aku
pun jatuh pingsan,” tutur Sa'id.
Seketika itu Umar berkata,
“Segala puji bagi Allah yang tidak menyimpangkan dugaanku terhadapnya.”
Kemudian Umar memberikan
1.000 dinar kepada Sa'id. Dan ketika istrinya melihat uang itu, ia berkata
kepada Sa'id, “Segala puji bagi Allah yang telah membebaskan kami dari
pekerjaan berat untukmu. Belilah bahan makanan dan sewalah seorang
pembantu."
“Apakah kamu menginginkan
sesuatu yang lebih baik dari itu?” tanya Sa'id pada istrinya.
“Apa itu?”
“Kita berikan dinar itu
kepada yang mendatangkannya kepada kita, pada saat kita lebih membutuhkannya.”
“Bagaimana maksudnya?”
“Kita pinjamkan dinar itu
kepada Allah dengan pinjaman yang baik,” kata Sa'id.
Istrinya berkata, “Benar,
dan semoga kau mendapat balasan kebaikan.”
“Berikanlah ini kepada
jandanya fulan, kepada anak-anak yatimnya fulan, kepada orang-orang miskin
keluarga fulan, dan kepada fakirnya keluarga fulan," kata Sa'id.
Mudah-mudahan Allah
meridhai Sa’id bin Amir Al-Jumahi, karena ia termasuk orang-orang yang
mendahulukan orang lain atas dirinya, walaupun dirinya sangat membutuhkan. Wallahu
A'lam,,
Pada kesempatan ini marilah
kita simak sejenak wasiyat yang telah Rasulullah saw sampaikan kepada Sahabat
Ibnu Abas Ra yang diabadikan dalam Hadits rasulullah dalam kitab Arbain
An-Nawawiyah No. ke-19.
عَنْ أَبِي الْعَبَّاسِ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَبَّاسٍ
رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ : كُنْتُ خَلْفَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ يَوْماً، فَقَالَ : يَا غُلاَمُ إِنِّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ: اْحْفَظِ
اللهَ يَحْفَظْكَ، احْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ، إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ
اللهَ وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللهِ، وَاعْلَمْ أَنَّ اْلأُمَّةَ لَوْ
اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوْكَ
بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوْكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ لَكَ، وَإِنِ
اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوْكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوْكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ
قَدْ كَتَبَهُ اللهُ عَلَيْكَ، رُفِعَتِ اْلأَقْلاَمُ وَجَفَّتِ الصُّحُفِ [رواه الترمذي وقال :
حديث حسن صحيح وفي رواية غير الترمذي: احْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ أَمَامَكَ،
تَعَرَّفْ إِلَى اللهِ فِي الرَّخَاءِ يَعْرِفْكَ فِي الشِّدَّةِ، وَاعْلَمْ أَنَّ
مَا أَخْطَأَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيْبَكَ، وَمَا أَصَابَكَ لَمْ يَكُنْ
لِيُخْطِئَكَ، وَاعْلَمْ أَنَّ النَّصْرَ مَعَ الصَّبْرِ، وَأَنَّ الْفَرَجَ مَعَ
الْكَرْبِ وَأَنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْراً].
"Dari
Abu Al ‘Abbas, ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu anhu, ia berkata : Pada suatu
hari saya pernah berada di belakang Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, beliau
bersabda : "Wahai anak muda, aku akan mengajarkan kepadamu beberapa
kalimat : Jagalah Allah, niscaya Dia akan menjaga kamu. Jagalah Allah, niscaya
kamu akan mendapati Dia di hadapanmu. Jika kamu minta, mintalah kepada Allah.
Jika kamu minta tolong, mintalah tolong juga kepada Allah. Ketahuilah,
sekiranya semua umat berkumpul untuk memberikan kepadamu sesuatu keuntungan,
maka hal itu tidak akan kamu peroleh selain dari apa yang sudah Allah tetapkan
untuk dirimu. Sekiranya mereka pun berkumpul untuk melakukan sesuatu yang
membahayakan kamu, niscaya tidak akan membahayakan kamu kecuali apa yang telah
Allah tetapkan untuk dirimu. Segenap pena telah diangkat dan lembaran-lembaran
telah kering."
(HR. Tirmidzi, ia telah
berkata : Hadits ini hasan, pada lafazh lain hasan shahih. Dalam riwayat selain
Tirmidzi : “Hendaklah kamu selalu mengingat Allah, pasti kamu mendapati-Nya di
hadapanmu. Hendaklah kamu mengingat Allah di waktu lapang (senang), niscaya
Allah akan mengingat kamu di waktu sempit (susah). Ketahuilah bahwa apa yang
semestinya tidak menimpa kamu, tidak akan menimpamu, dan apa yang semestinya
menimpamu tidak akan terhindar darimu. Ketahuilah sesungguhnya kemenangan
menyertai kesabaran dan sesungguhnya kesenangan menyertai kesusahan dan
kesulitan”(HR. Tirmidzi No. 2516)
Riwayat hidup ‘Abdullah bin
‘Abbas sudah banyak dikenal. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam mendo’akannya
dengan sabdanya :
“Ya Allah, jadikanlah dia
paham tentang agamanya dan ajarkanlah kepadanya penafsiran Al Qur’an”. Nabi
juga mendo’akannya agar diberi hikmah dua kali. Ada riwayat yang sah dari
dirinya bahwa dia pernah melihat Jibril dua kali. Ia adalah ulama yang kaya
ilmu di kalangan umat Islam. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam melihatnya
sebagai seorang anak yang patut menerima pesan beliau.
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa
Sallam bersabda kepadanya : “Jagalah Allah, niscaya Dia akan menjaga kamu”,
maksudnya hendaklah kamu menjadi orang yang taat kepada Tuhanmu, melaksanakan
semua perintah-Nya, dan menjauhi semua larangan-Nya.
Sabda Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa Sallam : “Jagalah Allah, niscaya kamu akan mendapati Dia
di hadapanmu”, maksudnya hendaklah beramal karena-Nya dengan penuh ketaatan
sehingga Allah tidak memandangmu sebagai orang yang menyalahi perintah-Nya,
niscaya kamu akan mendapati Allah menjadi penolongmu di saat situasi sulit,
seperti yang pernah terjadi pada kisah tiga orang yang tertimpa hujan lebat
lalu mereka berlindung di dalam gua, kemudian pintu gua tertutup batu. Pada
saat itu mereka berkata kepada sesamanya : “Ingatlah kebaikan yang pernah kamu
lakukan, lalu mohonlah kepada Allah dengan kebaikan itu supaya kamu
diselamatkan”. Kemudian masing-masing menyebut kebaikan yang pernah dilakukan,
maka batu penutup gua itu kemudian terbuka lalu mereka dapat keluar. Kisah
mereka ini popular dan terdapat pada Hadits shahih.
Sabda Nabi Shallallahu
‘alaihi wa Sallam : “Jika kamu minta, mintalah kepada Allah. Jika kamu minta
tolong, mintalah tolong juga kepada Allah”, memberikan petunjuk supaya
bertawakkal kepada Allah, tidak bertuhan kepada selain-Nya, tidak
menggantungkan nasibnya kepada siapa pun baik sedikit ataupun banyak.
Allah berfirman :
“Dan barang siapa
bertawakkal kepada Allah maka Allah pasti akan memberinya kecukupan”. (QS. Ath
Thalaq : 3)
Berapa besar ketergantungan
seseorang kepada selain Allah baik dalam hatinya maupun dalam angan-angannya,
maka sebesar itu pula ia telah menjauhkan diri dari Allah untuk bergantung
kepada sesuatu yang tidak kuasa memberinya manfaat atau kerugian. Begitu juga
takut kepada selain Allah.
Dalam hal ini Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menegaskan dengan sabdanya : “Ketahuilah,
sekiranya semua umat berkumpul untuk memberikan kepadamu sesuatu keuntungan,
maka hal itu tidak akan kamu peroleh selain dari apa yang sudah Allah tetapkan
untuk dirimu”. Begitu pula dalam hal kerugian, “niscaya tidak akan membahayakan
kamu kecuali apa yang telah Allah tetapkan untuk dirimu”. Inilah yang disebut
iman kepada taqdir.
Iman kepada taqdir adalah
wajib, baik taqdir yang baik maupun yang buruk. Apabila seorang mukmin telah
yakin dengan hal ini, maka apa perlunya dia meminta kepada selain Allah atau
memohon pertolongan kepada yang lain. Begitu pula jawaban Nabi Muhammad
Shallallahu ‘alaihi wa Sallam kepada malaikat Jibril ketika ia bertanya kepada
beliau saat berada di langit (ketika mi’raj) : “Apakah engkau membutuhkan
pertolongan?” Beliau menjawab : “Kalau kepadamu tidak”.
Sabda Nabi Shallallahu
‘alaihi wa Sallam : “Segenap pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah
kering”, menguatkan keterangan tersebut diatas, maksudnya tidak berlawanan
dengan apa yang telah dijelaskan sebelumnya.
Kemudian sabda beliau :
“Ketahuilah sesungguhnya kemenangan menyertai kesabaran dan sesungguhnya
kesenangan menyertai kesusahan dan kesulitan”, maksudnya beliau mengingatkan
kepada manusia di dunia ini, terutama orang-orang shalih bahwa mereka itu
selalu dihadapkan kepada ujian dan cobaan sebagaimana firman Allah :
“Sungguh Kami pasti memberi
cobaan kepada kamu sekalian dengan sesuatu berupa rasa takut, kelaparan,
berkurangnya harta, jiwa dan buah-buahan. Dan gembirakanlah orang-orang yang
bersabar, yaitu mereka yang bila ditimpa musibah, mereka berkata : ‘Sungguh
kami semua adalah milik Allah dan sungguh hanya kepada-Nyalah kami kembali’.
Mereka itulah orang-orang yang mendapatkan limpahan karunia dan rahmat dari
Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang terpimpin”. (QS. 2 : 155-157)
Allah berfirman :
“Sesungguhnya orang-orang
yang bersabar itu pastilah dipenuhi pahala mereka tanpa batas”. (QS. Az Zumar :
10)
Penelitian Tindakan Kelas (PTK) adalah penelitian praktis yang dimaksudkan untuk memperbaiki pembelajaran di kelas. Penelitian ini merupakan salah satu upaya guru atau praktisi dalam bentuk berbagai kegiatan yang dilakukan untuk memperbaiki dan atau meningkatkan mutu pembelajaran di kelas.
TUJUAN PTK Tujuan PTK adalah memperbaiki dan meningkatkan kualitas pembelajaran serta membantu memberdayakan guru dalam memecahkan masalah pembelajaran di sekolah (Muslich, hal. 10). Menurut Suyanto (1997), tujuan PTK adalah meningkatkan dan/atau memperbaiki praktik pembelajaran di sekolah, meningkatkan relevansi pendidikan, meningkatkan mutu pendidikan, dan efisiensi pengelolaan pendidikan (Basrowi & Suwandi, hal. 54).
Ada beberapa kriteria Penilaian Karya Ilmiah Penelitian Tindakan Kelas yang perlu diperhatikan oleh Seorang Peneliti yaitu:
Kriteria Penilaian Karya Tulis Ilmiah (PTK)
TUJUAN PTK Tujuan PTK adalah memperbaiki dan meningkatkan kualitas pembelajaran serta membantu memberdayakan guru dalam memecahkan masalah pembelajaran di sekolah (Muslich, hal. 10). Menurut Suyanto (1997), tujuan PTK adalah meningkatkan dan/atau memperbaiki praktik pembelajaran di sekolah, meningkatkan relevansi pendidikan, meningkatkan mutu pendidikan, dan efisiensi pengelolaan pendidikan (Basrowi & Suwandi, hal. 54).
Ada beberapa kriteria Penilaian Karya Ilmiah Penelitian Tindakan Kelas yang perlu diperhatikan oleh Seorang Peneliti yaitu:
Kriteria Penilaian Karya Tulis Ilmiah (PTK)
No.
|
Kriteria
|
Aspek yang Dinilai
|
A
|
Abstrak
|
Abstrak harus menunjukkan tiga unsur:
1.
Latar
belakang dan tujuan penelitian
2.
Prosedur
atau metode penelitian
3.
Hasil
atau temuan penelitian
|
B
|
Pendahuluan
|
Pendahuluan
harus menunjukkan unsure-unsur sebagai berikut:
1.
Deskripsi
masalah, data awal, lokasi penelitian, identifikasi akar masalah, dan
pentingnya pemecahan masalah dengan segera
2.
Rumusan
masalah
3.
Tujuan
penelitian
4.
Manfaat
penelitian
|
C
|
Kajian Teori dan Tinjauan Pustaka
|
1. Adanya deskripsi
teori yang relevan serta mendukung tindakan yang dikenakan kepada siswa
2. Adanya kerangka
pikir pemecahan masalah atau ide orisinil peneliti untuk melakukan tindakan
guna mengatasi masalah yang dihadapi dan memungkinkan dapat meningkatkan
kualitas pembelajaran
3.
Hipotesis
tindakan (jika diperlukan)
|
D
|
Pelaksanaan
Penelitian
|
1. Deskripsi tahapan
dan siklus demi siklus sepanjang penelitian
2. Penggunaan
instrument, usaha validasi data, hipotesis tindakan, dan cara refleksi
3. Tindakan yang
dilakukan benar-benar nyata, riil, logis dan fleksibel
|
E
|
Hasil
Penelitian dan Pembahasan
|
Hasil penelitian dan pembahasan disajikan dengan mendeskripsikan secara
lengkap dan sistematis setiap tahapan dari siklus ke siklus.
Siklus I
1.
Perencanaan.
Dipaparkan mengenai tindakan yang dikenakan yang berbeda dari pembelajaran
biasanya
2.
Pelaksanaan.
Diuraikan cara dan langkah-langkah melakukan tindakan
3. Pengamatan. Diambil
dari dokumen-dokumen pengamatan atau data autentik
4. Refleksi. Berisi
hasil introspeksi diri atau renungan sejauh mana proses KBM dapat
ditingkatkan
Siklus II (idem), tetapi perlu ditambahkan hal-hal yang mnedasar
seperti berikut ini:
1. Disajikan proses
dan hasil perubahan yang dicapai siswa
2.
Tabel
atau grafik hasil analisis data kuantitatif
3.
Pembahasan
4.
Terdapat
ulasan yang dicapai dari siklus ke siklus
|
F
|
Kesimpulan dan
Rekomendasi
|
1.
Hasil
penelitian, telah sesuai atau belum dengan tujuan yang dicanangkan
2.
Terdapat
saran bagi penelitian selanjutnya agar lebih baik
3.
Ada
usulan dalam hal pemanfaatan hasil penelitian atau penggunaan temuan dalam
penelitian
|
G
|
Daftar Pustaka
dan Lampiran
|
1.
Berisi
sumber-sumber rujukan dengan penulisan daftar pustaka sesuai standar ilmiah
2.
Kelengkapan
lampiran
|



